Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Kencan Buta Salah Alamat

Kencan Buta Salah Alamat

Cinta terjebak dalam friendzone selama tujuh tahun demi menjaga perasaannya pada Raka. Saat hatinya hancur karena Raka memilih wanita lain, ia terpaksa menggantikan sahabatnya dalam sebuah kencan buta. Namun, rencana itu berantakan saat Cinta salah menemui orang. Bukannya pasangan kencan yang dimaksud, ia justru berhadapan dengan calon bosnya sendiri. Meski berawal dari insiden memalukan, takdir tampaknya punya cara unik untuk mempertemukan jodoh yang sebenarnya.
Bab
Bagikan

Bab 3

Pagi itu, Jakarta terasa lebih bising dari biasanya. Atau mungkin itu hanya suara debar jantung Cinta yang berdetak tak karuan, bersaing dengan raungan klakson di jalan raya.

Cinta menatap pantulan dirinya di kaca taksi, memastikan blazer krem dan rok pensil hitamnya sudah sempurna. Rambutnya diikat rapi, make up minimalis, dan yang paling penting: kacamata tebal Bulan sudah tersimpan aman di laci kamar. Kenan Pramudita sudah memperingatkan, bukan? "Jangan pakai kacamata itu. Anda jauh lebih cantik tanpa penyamaran."

Mengingat pesan WhatsApp itu membuat pipi Cinta memanas. Pesan itu ia baca ulang setidaknya dua puluh kali sejak semalam, bergantian dengan pesan-pesan grup WhatsApp dari Bulan yang menanyakan kabar ibunya (yang alhamdulillah sudah stabil) dan kabar Dio (yang ternyata memang cancel karena ada urusan mendadak-jadi, chaos-nya Dio di meja sebelah itu cuma drama pribadi si cowok kaku).

Intinya: kencan buta itu adalah bencana yang diselamatkan oleh takdir.

Sekarang, takdir itu membawanya ke depan lobi Bima Sena Tower. Sebuah gedung pencakar langit dengan fasad kaca gelap yang menjulang angkuh, seolah menatap rendah semua bangunan di bawahnya. Gedung itu memancarkan aura kekayaan yang tak terjangkau.

Cinta merasa kakinya gemetar saat melangkah keluar dari taksi. Ini bukan cuma kantor, ini markas besar calon suaminya (eh, tunggu, calon bos-nya!).

"Semangat, Cin! Ini rezeki anak baik!" bisiknya pada diri sendiri. Ini adalah kesempatan yang ia dapatkan bukan karena link atau koneksi, melainkan karena... salah alamat di kencan buta. Realitas memang lebih aneh dari fiksi.

Cinta melangkah masuk. Interior lobinya didominasi marmer putih bersih dan ukiran kayu jati gelap. Di tengah lobi, terukir logo Bima Sena Group: dua sayap yang saling berhadapan, gagah dan elegan.

Ia segera menuju resepsionis. "Selamat pagi. Saya Cinta Adelia. Saya ada janji dengan Bapak Kenan Pramudita pukul sembilan untuk penandatanganan kontrak."

Resepsionis itu, seorang wanita muda dengan seragam abu-abu perak yang super chic, tersenyum sopan. "Ah, Nona Cinta. Tentu saja. Silakan duduk sebentar. Saya akan menghubungi Sekretaris Tuan Kenan."

Beberapa menit kemudian, seorang pria paruh baya dengan vest dan dasi kupu-kupu menghampiri Cinta. Dia memperkenalkan diri sebagai Pak Hadi, Kepala HRD.

"Selamat pagi, Nona Cinta. Mari ikut saya. Semua sudah disiapkan. Tuan Kenan meminta agar proses Anda dipercepat dan langsung ditangani oleh saya," ujar Pak Hadi dengan nada sangat profesional, namun matanya memancarkan kebingungan yang samar-samar. Jelas, Pak Hadi pasti bertanya-tanya, siapa gadis ini yang tiba-tiba muncul tanpa melewati interview berdarah-darah.

Cinta hanya tersenyum gugup dan mengikuti Pak Hadi menuju lift privat yang hanya digunakan untuk lantai eksekutif.

Di lantai 35, kantor Bima Sena Group terasa hening dan efisien. Tidak ada obrolan receh atau suara telepon berisik. Semua orang tampak fokus pada layar mereka, seolah waktu di sana bergerak lebih cepat dan berharga.

Mereka tiba di ruang HRD. Dalam waktu kurang dari satu jam, Cinta sudah menandatangani belasan lembar dokumen. Kontrak kerja, kerahasiaan, kode etik, dan tetek bengek lainnya. Gajinya? Jauh lebih tinggi dari yang ia bayangkan. Blind date nyasar ini benar-benar rezeki nomplok.

Saat proses administrasi selesai, Pak Hadi menjelaskan, "Nona Cinta, Anda akan ditempatkan di Divisi Komunikasi Korporat, langsung di bawah pengawasan Ibu Winda, Vice President kami. Ruangan Anda ada di sebelah kanan, di antara tim Public Relations."

"Baik, Pak Hadi. Terima kasih banyak," kata Cinta, merasa lega. Setidaknya, ia tidak akan berhadapan langsung dengan Kenan setiap menit.

Pak Hadi mengantar Cinta ke divisinya. Ia memperkenalkan Cinta pada Ibu Winda, seorang wanita berusia awal empat puluhan yang terlihat tegas, cerdas, dan langsung to-the-point.

"Selamat datang, Cinta. Saya Winda. Jangan canggung, tim kita ramah, tapi saya minta kamu harus cepat beradaptasi. Jabatan kamu strategis, jadi saya harap kamu bisa bekerja secara mandiri," ujar Ibu Winda, menjabat tangan Cinta dengan erat.

Cinta diperkenalkan pada timnya: Mira, si social media specialist yang langsung memberinya senyum paling ramah (dan paling penasaran), dan Dion, si content writer yang terlihat lebih fokus pada monitornya daripada pada Cinta.

Mira langsung menarik Cinta ke meja kerjanya. Meja itu bersih, modern, dan dilengkapi pemandangan kota yang menakjubkan.

"Gila! Pemandangannya keren banget, Cin!" bisik Mira, matanya berbinar. "Aku nggak nyangka kamu langsung dapat posisi ini. Biasanya, seleksi di sini itu kayak Hunger Games. Kamu kenal orang dalam, ya?"

Cinta panik. Haruskah aku bilang aku kencan buta sama bos besar? Tentu saja tidak!

"Nggak, kok. Mungkin aku beruntung aja, Mira. Aku lulusan Komunikasi dan magang di startup besar selama setahun," jawab Cinta, berusaha tenang.

"Oh ya? Tapi ini super cepat. Bahkan surat lamaranmu baru masuk dua minggu. Ah, sudahlah. Anyway, selamat datang! Kalau ada apa-apa, tanya aku aja. Aku di sini udah tiga tahun, tahu semua gosip!" Mira menyenggol lengan Cinta, ekspresinya penuh rahasia.

Cinta tersenyum, berterima kasih dalam hati karena Mira cukup terbuka. Setidaknya, ada satu orang yang bisa ia ajak bicara.

Saat Cinta mulai menyusun alat tulis di mejanya dan mencoba memahami sistem server kantor, tiba-tiba interkom berbunyi di meja Mira.

"Mbak Mira, tolong beritahu Nona Cinta Adelia. Tuan Kenan minta dia segera menghadap di kantor beliau. Sekarang," kata suara wanita, yang Cinta yakini adalah Sekretaris Kenan.

Wajah Mira langsung berubah. Dari ceria menjadi tercengang, lalu sedikit ketakutan. Dion yang dari tadi diam langsung menoleh. Ibu Winda yang sedang menelepon pun mengangkat alisnya.

Kantor yang tadinya sunyi mendadak terasa tegang.

Mira membisik, "Tuan Kenan? Ini hari pertamamu, Cin. Kenapa dia langsung minta kamu menghadap? Ini... ini aneh. Biasanya Direktur Utama baru mau ketemu karyawan baru setelah tiga bulan."

Cinta merasakan semua darah mengalir dari wajahnya. Jantungnya kini berdetak bukan hanya karena bising Jakarta, tapi karena nervous yang tak tertahankan.

"Aku nggak tahu," jawab Cinta, suaranya tercekat. Ia meraih tasnya dan berjalan menuju area lift eksekutif.

Perjalanan ke lantai 38 terasa seperti berjalan di atas tali.

Ini dia. Babak kedua. Kenan Pramudita, si Direktur Utama yang mengintimidasi, dalam mode profesional.

Cinta melangkah keluar dari lift. Koridor lantai 38 sunyi senyap, karpet tebal meredam setiap bunyi. Tiba di depan pintu ganda kayu mahoni yang besar, ia disambut oleh Sekretaris Kenan, seorang wanita anggun bernama Dinda.

"Silakan masuk, Nona Cinta. Tuan Kenan sudah menunggu," kata Dinda, senyumnya ramah tapi tetap formal.

Cinta menarik napas dalam-dalam, mengencangkan cengkeramannya pada clutch kecilnya, dan melangkah masuk.

Kantor Kenan benar-benar mencerminkan kekuasaannya. Jendela kaca dari lantai ke langit-langit menyuguhkan pemandangan 360 derajat kota Jakarta yang menakjubkan. Meja kerjanya terbuat dari kayu solid, sangat minimalis, tanpa ada tumpukan kertas, hanya sebuah laptop dan notepad kulit yang mewah.

Dan di tengah ruangan, berdiri menghadap pemandangan, adalah Kenan Pramudita.

Dia masih memakai setelan jas, tapi kali ini berwarna biru tua, yang membuat auranya semakin tajam dan dominan. Postur tubuhnya tegak, tangannya dimasukkan ke dalam saku celana.

Saat Kenan berbalik, Cinta langsung terpaku. Tatapannya sama tajamnya dengan malam sebelumnya, tapi kini ada lapisan profesionalitas yang kaku, seolah malam di Il Cielo tidak pernah terjadi.

"Selamat pagi, Tuan Kenan," sapa Cinta, mencoba menjaga suaranya tetap stabil dan formal.

"Selamat pagi, Cinta," balas Kenan. Ia tidak tersenyum. Nada suaranya datar, resmi, dan terdengar dingin. "Silakan duduk."

Cinta duduk di sofa kulit di depan Kenan, yang kini juga duduk di kursi tunggal di seberangnya. Ada meja kopi bundar di antara mereka. Jarak itu terasa jauh sekali. Jauh dari keintiman palsu yang mereka ciptakan semalam.

"Saya meminta Anda datang ke sini bukan untuk hal personal, melainkan untuk membahas beberapa hal krusial terkait posisi Anda," Kenan memulai, suaranya berat dan serius.

Cinta mengangguk. "Tentu, Tuan Kenan."

"Pertama, selamat datang di Bima Sena Group. Saya telah membaca riwayat karier dan latar belakang pendidikan Anda. Meskipun proses interview Anda tidak konvensional, saya yakin dengan penilaian saya bahwa Anda adalah orang yang tepat untuk posisi Spesialis Komunikasi Korporat."

Kenan menjeda, mengambil napas. Matanya menatap tepat ke mata Cinta.

"Posisi ini sangat sensitif. Anda akan menjadi penghubung antara perusahaan, media, dan para investor. Jadi, ada satu hal yang harus Anda pahami, Cinta."

Ia mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan. "Saya adalah atasan Anda. Anda adalah karyawan saya. Malam di Il Cielo adalah insiden yang sudah lewat, sebuah kesalahan teknis. Mulai hari ini, hanya ada hubungan profesional di antara kita. Tidak ada blind date, tidak ada obrolan patah hati, dan tidak ada lelucon tentang takdir."

Cinta merasakan darahnya berdesir. Kata-kata Kenan terasa dingin, seolah menamparnya kembali ke realitas. Dia benar. Ini kantor.

"Saya mengerti, Tuan Kenan. Saya jamin saya akan menjaga profesionalitas. Malam itu hanyalah kebetulan," jawab Cinta, berusaha terdengar seyakinkan mungkin.

"Bagus. Saya menghargai itu. Karena di lingkungan kantor, gosip bergerak lebih cepat daripada kontrak properti. Saya tidak mau ada rumor tidak benar yang bisa mengganggu kinerja Anda, apalagi reputasi saya," Kenan menambahkan.

Cinta merasa sedikit sakit hati dengan penekanan Kenan. Apakah dia takut reputasinya tercemar karena berinteraksi dengan karyawan baru seperti dirinya?

"Saya akan pastikan itu tidak terjadi, Tuan Kenan," kata Cinta, nadanya kini tegas.

Kenan mengangguk, puas. "Baiklah. Sekarang, mari kita bahas pekerjaan Anda. Proyek utama Anda dalam tiga bulan ke depan adalah mengelola citra publik kami untuk proyek resor di Bali. Bulan dari CreativeSpark akan datang minggu depan untuk presentasi desain. Saat itu, Anda akan bertugas sebagai perwakilan Komunikasi Korporat kami. Saya harap Anda dan Bulan-teman Anda yang asli-bisa bekerja sama dengan baik."

Mendengar nama Bulan, Cinta merasa sedikit lega. Setidaknya, ada satu rahasia lagi yang harus ia jaga di kantor ini.

"Saya sudah tahu detailnya dari Bulan. Kami akan bersikap profesional," ujar Cinta.

Kenan mengambil notepad kulitnya. "Cinta, ada satu hal lagi. Ini adalah kode etik pribadi saya."

Ia menuliskan sesuatu di notepad itu.

"Jika Anda punya masalah dengan pekerjaan atau butuh panduan, Anda harus menghubungi Ibu Winda terlebih dahulu. Jika Ibu Winda tidak bisa menyelesaikannya, baru Anda boleh menghubungi saya."

Kenan merobek selembar kertas dari notepad itu, lalu mendorongnya perlahan di atas meja kopi.

Di kertas itu tertulis dua nomor:

Ibu Winda (0812-XXXX-XXXX)

Tuan Kenan (0811-XXXX-XXXX)

Di bawah nomornya sendiri, Kenan menambahkan sebuah catatan kecil dengan tulisan tangan miring, yang membuat jantung Cinta langsung berdetak kencang:

Khusus darurat, atau jika Anda butuh seseorang untuk mengingatkan Anda bahwa Anda terlalu berharga untuk ditangisi.

Cinta menatap tulisan itu. Dingin Kenan barusan, ketegasan Kenan yang resmi, semuanya luruh hanya dengan satu kalimat itu. Itu adalah sentuhan pribadi yang ia kenal dari malam sebelumnya. Sebuah pengakuan bahwa, di balik setelan jas mahal dan jabatan Direktur Utama, Kenan masih ingat percakapan mereka.

Ia mendongak. Kenan hanya menatapnya dengan ekspresi netral. "Itu adalah telepon kantor saya. Silakan simpan," ujarnya, seolah kalimat manis di bawahnya hanyalah instruksi standar.

"Terima kasih, Tuan Kenan," kata Cinta, suaranya sedikit bergetar. Ia melipat kertas itu dengan hati-hati dan menyimpannya di dalam clutch.

Kenan berdiri, mengakhiri pertemuan. "Baik. Anda bisa kembali ke meja Anda. Dan pastikan jam kerja Anda efektif. Selamat bekerja, Cinta."

"Selamat bekerja, Tuan Kenan," balas Cinta, berdiri dan membungkuk sedikit sebelum keluar dari kantor itu.

Saat pintu ditutup di belakangnya, Cinta bersandar pada dinding koridor yang dingin. Ia bisa merasakan degup jantungnya sendiri. Dia telah lolos. Dia mendapat pekerjaan ini, dan dia berhasil menjaga profesionalitas (setidaknya di mulut).

Tapi, di dalam tasnya, ada secarik kertas dengan tulisan tangan Kenan, pengingat bahwa di antara semua formalitas dan kode etik, ada koneksi tak terduga yang mereka bagi.

Cinta kembali ke mejanya di lantai 35. Suasana di sana langsung berubah. Mira dan Dion pura-pura sibuk, tapi mata mereka jelas-jelas menunggu.

Saat Cinta duduk, Mira langsung menyerbu.

"Gimana? Gimana? Kamu diomelin? Kenapa Direktur Utama manggil kamu? Ada apa, Cin?" bisik Mira, matanya penasaran setengah mati.

Cinta menatap Mira. Ia punya dua pilihan: berbohong total, atau memanipulasi kebenaran.

"Nggak diomelin, kok," kata Cinta santai, sambil menyalakan komputernya. "Tuan Kenan cuma mau memastikan aku cepat beradaptasi karena proyek resor Bali itu mendesak. Aku harus jadi kontak utama untuk komunikasi dengan agensi iklan. Beliau sangat fokus pada efisiensi."

"Oh, cuma itu?" Mira tampak kecewa. "Aku kira dia mau personal training kamu gitu. Dia kan terkenal dingin dan sulit ditemui. Kamu hebat, Cin, hari pertama langsung ketemu! Kamu pasti anak emas, deh."

Anak emas? Cinta hampir tertawa. Anak emas karena dia adalah 'korban salah alamat' paling beruntung di Jakarta.

Sisa hari itu dihabiskan Cinta untuk membaca berkas-berkas lama perusahaan dan memahami guidelines komunikasi mereka. Meskipun otaknya bekerja keras, hatinya masih sibuk memproses Kenan.

Kenan yang dingin, resmi, dan dikelilingi kekuasaan.

Kenan yang hangat, jenaka, dan ingat bahwa dia sedang patah hati.

Bagaimana mungkin dua versi pria itu bisa eksis dalam satu tubuh?

Saat jam kantor berakhir, Cinta segera berkemas. Dia ingin keluar dari gedung itu sebelum bertemu Kenan lagi.

Tepat saat ia menekan tombol lift, ponselnya bergetar. Pesan dari nomor tak dikenal.

[Nomor Baru]: Jangan lupakan kode etik.

Cinta menautkan alisnya. Itu pasti Kenan.

Ia mengetik balasan:

Cinta: Tentu, Tuan Kenan. Saya ingat semua instruksinya.

Balasan datang hampir instan:

[Nomor Baru]: Bagus. Tapi, sekarang jam 18.00. Di luar jam kerja, Anda tidak perlu memanggil saya 'Tuan Kenan'. Panggil saja... Raka.

Cinta terdiam. Tangannya nyaris menjatuhkan ponsel. Raka? Kenan tahu nama sahabat yang mematahkannya itu. Itu adalah bagian dari obrolan personal mereka semalam.

Ia mengetik, bingung:

Cinta: Maksud Anda?

[Nomor Baru]: Itu hanya lelucon. Tapi, begini. Mulai besok, jam kerja, Anda panggil saya Tuan Kenan. Di luar jam kerja, Anda boleh panggil saya Kenan. Saya tidak mau insiden malam itu membuat Anda canggung atau takut untuk bekerja. Kita mulai dari nol. Sebagai bos dan karyawan. Tapi, di luar itu... anggap saja kita pernah minum anggur bersama. Saya akan antar Anda pulang. Tunggu di lobi.

Cinta membaca pesan itu tiga kali. Dia mau mengantar aku pulang? Ini jelas melanggar kode etik profesional yang baru dia tetapkan lima menit yang lalu. Tapi, godaannya terlalu kuat.

Ia tahu harus menolak. Ini bahaya. Ini bisa jadi awal dari gosip, awal dari keambiguan yang tidak perlu. Tapi, setelah sebulan terpuruk karena Raka, tiba-tiba ada pria yang berkuasa, misterius, dan sedikit tertarik padanya.

Ia menarik napas panjang. Sial. Aku butuh tumpangan, dan aku butuh distraksi.

Cinta: Tuan Kenan... maksud saya, Kenan. Itu tidak perlu. Saya bisa naik taksi.

Kenan: Tidak ada penolakan, Cinta. Itu adalah perintah. Anggap saja ini bagian dari kode etik saya yang baru: Karyawan baru harus dijamin keselamatannya setelah bekerja di hari pertama. Lima menit.

Kenan Pramudita. Pria itu tahu persis bagaimana cara mencampurkan otoritas dengan pesona.

Cinta tersenyum, senyum yang sangat jarang ia tunjukkan sejak Raka memperkenalkan Luna. Patah hati memang mengajarkannya untuk berhati-hati, tapi juga mengajarkannya untuk berani mengambil risiko.

Lima menit kemudian, sebuah mobil sedan hitam panjang, super mewah, berhenti di depan lobi. Jendela mobil terbuka, dan wajah Kenan muncul, matanya memancarkan sedikit senyum yang ia tahan.

"Ayo, Cinta. Jangan sampai saya harus melanggar kode etik saya sendiri dengan turun dan menjemput Anda," katanya.

Cinta tersenyum lebar, mengangkat bahu, dan melangkah menuju mobil. Aku tidak tahu apa yang aku lakukan. Tapi, ini jauh lebih menarik daripada menangisi Raka.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Tidak Akan Memaafkanmu
9.1
Alea diadopsi oleh pasangan konglomerat, Reynald dan Marina, sejak kecil. Namun di usia dewasa, ketenangan rumah mereka terusik saat Reynald mulai menaruh perasaan terlarang pada putri angkatnya itu. Di tengah ketidaktahuan Marina yang fokus pada terapinya, Alea merasa tertekan oleh obsesi sang ayah. Segalanya berubah saat rekaman rahasia mengungkap skandal yang mengancam keutuhan keluarga mereka. Haruskah Alea bicara atau tetap diam demi membalas budi?
Sampul Novel AMARAH DALAM SELUBUNG
9.5
Riana terjebak dalam pernikahan dengan pria beristri yang memanfaatkan dirinya melalui kekuatan gaib. Muak akan kebohongan tersebut, ia melawan hingga sang suami jatuh hati, namun Riana tetap menolaknya. Setelah mengusir pria itu, ia membesarkan putranya sendirian hingga sukses. Kini sebagai wanita kaya, Riana membalas dendam secara sistematis. Ia menggunakan ilmu gaibnya untuk menghancurkan kejayaan mantan suaminya hingga tak berdaya tanpa pria itu sadari.
Sampul Novel FWB Between Love and Lust
8.9
Lima tahun di Milan tak cukup bagi Satria untuk menghapus bayang-bayang Syera dari ingatannya. Sekembalinya ke tanah air, setiap sudut kota justru memicu kenangan pahit yang menghambatnya melangkah maju. Namun, segalanya berubah setelah malam pernikahan Bima. Satria terjerat dalam gairah semalam dengan wanita asing yang memikat. Terjebak dalam hubungan tanpa status, dia malah jatuh hati terlalu dalam pada sosok misterius yang kini memenuhi hidupnya.
Sampul Novel Gigolo
8.2
Frans, mahasiswa kedokteran cerdas, terpaksa berhenti kuliah demi menghidupi dua adiknya setelah orang tua mereka wafat. Ia bekerja sebagai penyanyi sebelum akhirnya direkrut oleh Mamih Mega menjadi pria penghibur. Petualangannya berpindah pelukan wanita pun dimulai hingga ia bertemu Fira, gadis yang menyewa jasanya demi melepas kesucian. Meski keduanya saling jatuh cinta, kerumitan muncul saat Frans justru berakhir menikahi wanita lain bernama Anjani.
Sampul Novel Impian untuk Rian
9.5
Anara adalah sosok gadis ceria yang selalu hadir dengan senyum lebar dan binar mata tulus untuk Rian. Bagi Anara, Rian adalah pusat kebahagiaan terbesarnya, sementara Rian sendiri merasa hidupnya kini sangat bergantung pada kehadiran gadis itu. Namun, sebuah tanda tanya besar muncul mengenai masa depan mereka. Jika suatu saat Anara pergi meninggalkannya, mampukah Rian melanjutkan hidup dengan normal atau justru selamanya terjebak dalam bayang-bayang kenangan Anara?
Sampul Novel Istri Kontrak Sang CEO Dingin
9.4
Demi melunasi utang keluarga yang menghimpit, Hana terpaksa menyetujui pernikahan kontrak dengan Ray, CEO berhati dingin yang butuh menjaga citra publiknya. Meski awalnya sepakat untuk tidak saling melibatkan perasaan, benih cinta perlahan muncul di tengah kepura-puraan mereka. Namun, saat masa lalu kelam Ray terungkap dan ancaman rival bisnis mulai menyerang, hubungan mereka pun diuji. Sanggupkah cinta sejati tumbuh dari sebuah kebohongan yang rumit?