
Kembalinya Sang Mantan
Bab 3
"Gue itu orangnya mudah ketawa... "
"G*la dong?" sela Cica.
"Bukan sayang. Ada kelanjutannya, jangan di jeda makanya. Gak enak tau kalau gak dilanjutin," idih, maunya situ kali ah, batin Cica.
Soleh ... Soleh. Kenapa perkataannya terdengar ambigu di telinga Cica?
"Mudah ketawa, mudah sedih, mudah seneng, ngambek, marah dan mudah-mudahan satu Bapak sama elu, Ca,"
"Dih?!" Cica melirik sinis mantannya, "mau jadi Abang tiri gue? Ogah gue. Sana ah minggat, gue mau lanjut kerja,"
Tadinya Cica mau ajuin cuti tidak kerja selama tiga hari. Pengin temenin Bapak di rumah. Di cancel deh, soalnya beliau kukuh bisa makan juga minum obat sendiri. Kalau sudah begitu Cica bisa apa?
"Silahkan aja. Gue 'kan di sini sebagai pengunjung kalau elu lupa," wajah tengilnya itu loh. Ingin Caci remas-remas sampai gantengnya hilang, eh?
Sialan.
Soleh mampu membuat Cica mati kutu alias skakmat.
"Cepetan mau pesen apa?!"
"Tidak ramah. Gue kasih bintang satu," lelaki itu tersenyum miring seolah mukanya ingin di pukul dengan kepalan tangan punya Cica.
"Soleh?!" gregetnya tak sadar mencengkeram note book miliknya.
"Yes, darling," genit Soleh.
Idih, namanya aja yang Soleh tetapi kelakuannya ... bikin geleng-geleng kepala.
"Ca?"
Cica mengubah raut wajahnya secepat mungkin. Tadinya asem kek jeruk nipis kini menunjukkan senyum manisnya. Iya, soalnya Ibu bos yang manggil Cica.
"Ibu dengar Bapak kamu sakit, ya?" Teri--pemilik rumah makan tempat Cica bekerja.
Beliau terkenal ramah, baik, dan tidak segan memberi bonus untuk Cica ketika lembur. THR menjelang lebaran yang jumlahnya tidak terkira itu. Katanya sih apresiasi untuk dirinya sudah bertahan selama tiga tahun.
***
"Namamu itu seperti Ghunnah, selalu mendengung di hati gue," mulai lagi gombalan receh ala Soleh Nur Kholik.
Usai diberi izin pulang cepat oleh Teri, Cica pun pamitan. Sudah adzan dzuhur. Waktunya Bapak makan siang serta minum obat.
"Motor elo simpan aja di sini. Kita pulangnya bareng pake mobil gue,"
Soleh menelungkupkan topi Cica sampai menutupi seluruh wajah gadis itu.
"Ish, jail banget sih lu?" cetus Cica sembari menepis tangan Soleh.
"Jangan bikin gue khilaf sama elo, Ca," Soleh menatap lekat gadis di hadapannya.
"Ap--- "
"... Paan sih lo?" Soleh tertawa renyah, "gak ada kosa kata lain kah selain itu?"
"Minta di cip*k. Gemesnya di luar nurul," lirih Soleh masih menatap lekat Cica. Atau gagal fokus pada bibirnya yang berwarna pink itu?
Sedangkan si empu mulai risih. Ia masih mendengar jelas suara gumaman Soleh.
Plak
Cica menabok lengan Soleh, "Dasar mes*m,"
"Aw, sakit cintaku," rintih Soleh.
Deg. Jantung Cica berdetak dua kali lebih cepat. Sudah bodo amat ketika Soleh memanggil dirinya cinta, sayang. Ini di tambah tatapannya yang ... lembut, teduh, rambut depan sengaja di acak-acak, bicaranya apalagi. Walah, bisa-bisa Cica pingsan efek tatapan yang dilayangkan Soleh kepadanya.
"Minggir. Gue mau balik,"
Jalan menuju parkiran di halangin loh sama Soleh. Cica ke kiri dia ikutan. Geser ke kanan, ikut juga membuat kesabaran Cica yang setipis kertas mau meledak, meluapkan emosinya.
Nyebelin. Cica padahal mau beli sesuatu. Takutnya toko tersebut keburu tutup karena pembelinya dimana-mana.
Srek
Gerakan cepat, Soleh merampas kunci motor yang di genggam oleh Cica. Dia bersiul seraya berjalan meninggalkan Cica masih nge-lag.
"Kita pulang bareng. Motor elo biar anak buah gue yang urus,"
Anda Mungkin Juga Suka





