
Kembalinya Arsitek Hebat Bernama Diah
Bab 3
Diah (POV):
Senyumku, sebuah topeng sempurna yang kusulam dari serpihan kehancuran, membuat Bara terpana sesaat. Dia mendekat, tangannya refleks merengkuh pinggangku, menarikku mendekat. Aku membiarkannya, seperti boneka yang patuh.
"Kau terlihat sangat cantik, sayang," bisiknya di telingaku, suaranya sarat akan hasrat. "Ada apa dengan senyum itu? Kau membuatku gugup."
"Bara, kau ini," kataku, nada suaraku terdengar manja, bahkan aku sendiri terkejut dengan kemampuan aktingku. "Aku hanya berpikir, betapa beruntungnya aku memilikimu. Kau selalu tahu bagaimana membuatku merasa istimewa."
Aku harus memainkan peran ini dengan sempurna. Setiap sentuhan, setiap kata, harus meyakinkannya. Ini adalah pertunjukan terakhir Diah Darwis, sang istri sempurna.
Dia menatapku, matanya mencari kebenaran. Aku membiarkannya mencari. Tidak ada yang akan dia temukan kecuali apa yang ingin kutunjukkan padanya.
"Tentu saja," katanya, tatapannya melembut. "Kau wanitaku. Selalu." Dia mencium keningku, lalu turun ke bibir. Aku memejamkan mata, mencoba membayangkan bahwa bibir ini bukan bibir yang baru saja mencium Fathia.
"Aku tidak akan pernah melakukan apa pun yang bisa menyakitimu, Diah," bisiknya di antara ciuman. "Kau bisa percaya padaku."
Kata-kata itu terasa seperti pisau panas yang dihujamkan ke jantungku. Sebuah kebohongan yang begitu telanjang, begitu kejam.
"Aku tahu," kataku, menarik napas dalam, membalas ciumannya singkat. "Aku tidak pernah meragukanmu."
Bara tersenyum puas. Dia percaya. Dia benar-benar percaya bahwa dia telah memanipulasiku sepenuhnya, bahwa aku adalah miliknya, sebuah properti yang akan selalu ada di sana, tanpa pertanyaan.
"Bara, aku penasaran," kataku, memecah keheningan. "Bagaimana jika suatu hari, ada orang lain yang datang, dan dia bilang dia hamil anakmu? Apa yang akan kau lakukan?"
Dia menarik diri, ekspresinya berubah. Ada sedikit kekhawatiran di matanya, tapi cepat hilang, tergantikan oleh seringai angkuh.
"Diah, kau ini bicara apa? Tentu saja itu tidak mungkin. Aku tidak pernah tidur dengan wanita lain selain dirimu," katanya, suaranya tegas, terlalu tegas. "Kau adalah satu-satunya wanita di hidupku."
"Benarkah?" tanyaku, nadaku terdengar ragu.
"Dengar, Diah," katanya, memegang kedua tanganku, matanya menatap intens ke mataku. "Aku bersumpah. Demi nama baik keluargaku, demi semua yang kita miliki, aku tidak akan pernah mengkhianatimu. Kau adalah duniaku. Kau adalah ratu di istanaku."
Sumpahnya terdengar begitu kosong, begitu hampa. Dia tidak tahu bahwa aku telah mendengar Fathia terisak di telepon, mengaku hamil anaknya.
Aku menghela napas panjang, pura-pura lega. "Aku percaya padamu, Bara."
Dia tersenyum lagi, senyum kemenangan. Dia menarikku kembali ke pelukannya, memelukku erat, tangannya mengunci pinggangku. Aku bisa merasakan detak jantungnya yang cepat.
Dia terlalu yakin aku tidak akan pernah pergi. Terlalu yakin aku adalah miliknya.
'Kau tidak pernah tahu, Bara, betapa kejamnya takdir yang akan menanti orang-orang yang terlalu yakin,' pikirku.
Dia mencium leherku, mendesah. "Kau tahu, Diah. Aku tidak bisa hidup tanpamu. Kau adalah napasku. Kau adalah segalanya bagiku."
Aku merasa jijik. Kata-kata itu, dulu begitu berarti, kini terasa seperti sampah. Aku berusaha keras untuk tidak mendorongnya menjauh. Aku hanya ingin semua ini berakhir.
"Aku juga tidak bisa hidup tanpamu, Bara," kataku lirih. Kata-kata yang keluar dari mulutku terasa seperti duri yang menusuk lidahku sendiri.
Aku merasakan sentuhan tangannya di punggungku, mencoba menyeretku lebih dekat. Aku menegang. Sebuah penolakan tak kasat mata.
"Aku akan menyiapkan makan malam spesial untuk kita nanti. Kau pasti suka," kataku, sedikit mendorongnya. "Aku butuh waktu sebentar sendiri."
Dia melepaskan pelukannya, sedikit kecewa, tapi mengangguk. "Baiklah, sayang. Tapi jangan terlalu lama, ya. Aku merindukanmu."
Aku mengangguk, lalu berbalik, berjalan menuju pintu. Aku bisa merasakan tatapannya di punggungku. Terakhir kali. Mungkin ini yang terakhir kalinya dia melihatku sebagai istrinya.
Di balik pintu, aku menarik napas dalam. Pertunjukan harus terus berjalan. Sampai tirai terakhir diturunkan.
Anda Mungkin Juga Suka
![Sampul Novel Ayo Kencan Pura-Pura, Temanku [21+]](https://v.melolo.com/b1265344voduse1318177724/746474e05001834806828084334/3oYJytb4k58A.webp!15491.webp)




