Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Kembali Bangkit Hancurkan Para Pengkhianat

Kembali Bangkit Hancurkan Para Pengkhianat

Sepuluh tahun lumpuh demi Gunawan, aku justru dikhianati. Tunanganku berselingkuh dengan Vivian, sementara adikku, Keenan, menutupi aksi busuk itu demi uang. Mereka mengira aku tetap tak berdaya, namun faktanya aku sudah pulih dan menyaksikan semuanya. Kini, tujuh tahun setelah menghilang, aku bangkit kembali sebagai Alena Kusuma. Dengan identitas investor kaya, aku siap menghancurkan hidup para pengkhianat yang telah menghancurkan masa laluku.
Bab
Bagikan

Bab 2

Gunawan selalu memiliki cara untuk membuat segalanya terdengar begitu indah, bahkan ketika dia sedang berbohong. Dia bilang dia mencintaiku, bahwa dia berkorban untukku, bahwa pekerjaannya adalah untuk masa depan kami. Semua itu terdengar seperti racun manis yang dulu kuminum habis-habisan. Sekarang, setiap kata terasa seperti asam yang membakar tenggorokanku.

"Aku akan membantumu ke kamar mandi, sayang," katanya dengan suara lembut, tangannya terulur padaku. Aku menatap tangannya, jari-jarinya yang panjang dan ramping, jari-jari yang baru saja membelai tubuh Vivian. Rasa mual itu kembali menghantamku, lebih kuat dari sebelumnya. Perutku bergejolak. Aku merasa seperti akan muntah saat itu juga.

Aku mengabaikan tangannya, berjuang untuk berdiri sendiri. Kakiku masih terasa gemetar, bukan karena kelemahan fisik, tetapi karena jijik yang membakar dalam diriku. Aku tidak bisa membiarkannya menyentuhku. Tidak lagi. Sentuhannya kini terasa seperti kotoran yang membekas.

"Tidak perlu," kataku dingin, suaraku serak. "Aku bisa melakukannya sendiri." Aku melihat sekilas ekspresi terkejut di wajah Gunawan, namun dengan cepat dia menyembunyikannya di balik senyum palsu.

Saat Gunawan membantuku keluar dari kamar mandi, Vivian sudah duduk di meja makan, dengan santainya menyeruput kopinya. Keenan duduk di seberangnya, tersenyum dan mengobrol dengannya. Pemandangan itu menusuk hatiku. Adikku sendiri. Adik yang kubiayai kuliahnya, yang kubiayai hidupnya, kini bersekongkol dengan mereka. Keenan bahkan menawarkan roti panggang kepada Vivian, "Kakak ipar, mau roti panggang lagi?"

Apartemen kami, yang dulunya adalah sarang cinta kami, kini terasa seperti medan perang yang dingin. Tempatku di meja makan, di ujung, terasa terasing. Vivian duduk di sisi Gunawan, seolah dia adalah nyonya rumah. Dia bahkan mengatur piring dan gelas, memberikan Gunawan handuk basah untuk mengelap tangannya, seolah aku tidak ada di sana. Gunawan tersenyum padanya, senyum yang seharusnya ditujukan padaku.

Keenan, yang biasanya sibuk dengan ponselnya saat makan, kini fokus pada Vivian. Dia menawarkan Vivian jus, mengambilkan piring, bahkan membersihkan remah-remah di dekatnya. Hatiku berdarah. Aku melihat Vivian melirikku, senyum sinis tersungging di bibirnya. Ada kilatan kemenangan di matanya, dan sedikit rasa jijik. Seolah dia merendahkanku. Aku tidak bisa makan. Setiap suapan terasa seperti pasir. Perutku bergejolak.

Gunawan berbicara tentang proyek barunya, tentang bagaimana Vivian sangat membantunya. Vivian tertawa, suaranya melengking. Gunawan memegang tangannya di bawah meja, aku melihatnya. Tangan mereka menyatu, saling mengelus. Hatiku mencelos. Aku merasa mual. Mual yang tak tertahankan.

Aku berdiri tiba-tiba, kursi berderit keras. "Aku tidak bisa makan," kataku, suaraku nyaris tak terdengar. Aku merasakan isi perutku mendesak naik ke tenggorokan.

"Kinan, ada apa?" tanya Gunawan, pura-pura khawatir.

Aku tidak menjawab. Aku berlari menuju kamar mandi, tidak peduli dengan siapa pun. Aku membungkuk di atas kloset, isi perutku memuntah ruah. Rasanya pahit, asam, dan menjijikkan. Lebih menjijikkan daripada pemandangan yang kulihat di kamar tidur kami.

Keenan datang, menepuk punggungku dengan canggung. "Kak, kau baik-baik saja?" tanyanya. Suaranya terdengar ragu, seperti dia tidak yakin harus berpihak pada siapa.

Gunawan masuk, dengan wajah khawatir yang berlebihan. "Sayang, ada apa? Apa yang sakit?" Dia mencoba menyentuh keningku, tapi aku menyingkirkan tangannya dengan jijik.

"Jangan sentuh aku!" bentakku, suaraku tajam seperti pisau. Aku menatapnya dengan mata penuh kebencian. "Aku tidak mau kau menyentuhku!"

Gunawan terkejut. "Kinan, ada apa denganmu? Kau sakit?" Dia masih belum mengerti. Dia masih berpikir aku bodoh, buta, dan tuli.

"Aku hanya... tidak enak badan," kataku, suaraku kembali normal. Aku tidak akan membiarkan mereka melihat kemarahanku. Aku tidak akan membiarkan mereka tahu bahwa aku tahu. Aku akan membersihkan kekacauan ini sendiri. Aku tidak butuh bantuan mereka.

Aku membasuh mulutku, merasakan air dingin mengalir di kerongkonganku. Air itu tidak bisa memadamkan api di hatiku. Aku teringat beberapa hari yang lalu, saat aku mencoba bertanya pada Gunawan tentang Vivian.

"Gunawan, apa hubunganmu dengan Vivian?" tanyaku lembut saat itu, mencoba menjaga suaraku agar tidak bergetar.

Dia tertawa, senyumnya meremehkan. "Vivian? Dia hanya asisten bodohku. Kau tahu, dia selalu berusaha mendekatiku. Tapi aku hanya mencintaimu, Sayang." Dia memelukku erat, dan aku merasakan kebohongannya menembus kulitku.

Aku menatap pantulan diriku di cermin. Wajahku pucat, mataku cekung. Rambutku kusam. Sepuluh tahun di kursi roda telah merenggut pesonaku. Aku dulu seorang desainer interior yang aktif, bersemangat. Kini, aku hanyalah bayangan dari diriku yang dulu. Apakah itu alasannya? Apakah aku tidak cukup baik lagi?

Aku teringat janjinya. "Aku akan selalu mencintaimu, Kinan. Apa pun yang terjadi." Dia pernah mengucapkan kalimat itu di altar, di hari pertunangan kami. Dia pernah mengucapkannya saat aku terbaring tak berdaya di rumah sakit, setelah kebakaran.

Dia pernah merawatku dengan penuh kesabaran. Dia memijat kakiku yang mati rasa, menyuapiku makan, membacakan buku untukku. Dia adalah duniaku. Setiap malam, dia akan tidur di sofa di samping tempat tidurku, hanya untuk memastikan aku baik-baik saja. Dia akan terbangun setiap kali aku mengerang kesakitan, dan dia akan memberiku obat penenang, memelukku sampai aku tertidur lagi.

Apa yang terjadi dengan cinta itu? Apakah itu semua hanya sandiwara? Apakah dia hanya merasa terbebani, terperangkap oleh janjinya?

Kini aku tahu. Dia tidak pernah mencintaiku. Dia hanya merasa bertanggung jawab. Dan Vivian, dia mengambil keuntungan dari itu. Aku tidak akan membiarkan ini. Aku tidak akan membiarkan mereka lolos begitu saja.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Air Force Skadron7
7.9
Yudi Juliansyah, pemuda asal Bandung anak seorang dokter dan model Prancis, nekat mengejar mimpi menjadi tentara meski ditentang orang tuanya. Setelah terusir dari rumah, ia berjuang mandiri berjualan gorengan demi membiayai sekolah di AAU Yogyakarta. Kerja kerasnya membuahkan gelar Adi Makayasa sebagai lulusan terbaik Angkatan Udara. Kini, Yudi pulang berseragam untuk membuktikan baktinya. Akankah orang tuanya luluh dan mengakui pilihannya sebagai prajurit?
Sampul Novel Buku Harian Seorang Pengacara Muda
8.3
Edward Cicero adalah pemuda ambisius yang sedang menempuh pendidikan demi menjadi pengacara profesional. Namun, langkahnya di sekolah hukum langsung diuji saat ia harus menangani kasus perdana melawan perusahaan asuransi raksasa. Edward kini terjebak dalam dilema moral yang berbahaya. Ia wajib memenangkan gugatan itu dengan segala cara, termasuk menempuh jalur kriminal, atau ia akan menghadapi konsekuensi pahit berupa pengusiran dari kampusnya.
Sampul Novel BURONAN
9.5
Sammy, mantan perwira militer yang difitnah dan disiksa di penjara, berhasil melarikan diri sebagai buronan Interpol demi mencari adik angkatnya. Untuk bertahan hidup dalam pelarian, ia beralih profesi menjadi pembunuh bayaran yang dingin. Namun, hidupnya berubah saat ia jatuh cinta pada gadis jelita bernama Rheyna. Konflik batin memuncak ketika Sammy menyadari bahwa target pembunuhan berikutnya adalah orang terdekat dari wanita yang sangat ia cintai itu.
Sampul Novel Dewa Alkemis
8.9
Tian Fan adalah pemuda berbakat dari keluarga bangsawan rendah yang bermimpi menjadi seorang alkemis hebat. Namun, kejeniusannya justru memicu kebencian para tuan muda dari kalangan atas yang terus menekannya. Di tengah berbagai kesulitan dan intimidasi tersebut, sebuah peristiwa besar menimpa dirinya dan mengubah segalanya. Kejadian tak terduga ini membuka jalan baru yang memperbesar peluang Tian Fan untuk mewujudkan ambisinya menjadi Grandmaster Alkemis.
Sampul Novel Dilema Cinta Narkoboy
8.9
Andrean Kenzo, seorang gembong narkoba, terjebak dalam perjodohan dengan Tita Shanum yang menawan. Demi memenangkan hati gadis itu, Andrean harus bersaing sengit melawan musuh bebuyutannya sendiri. Namun, situasi semakin rumit saat Tita menyadari sebuah rahasia besar bahwa pria yang selama ini ia patuhi bukanlah ayah kandungnya. Di tengah konflik mafia dan asmara, siapakah yang akhirnya akan dipilih oleh Tita untuk mendampingi hidupnya?
Sampul Novel Menantu Pahlawan Negara
7.8
Dipaksa oleh keluarganya untuk maju ke medan perang tepat di malam pernikahan, seorang pria terpaksa meninggalkan istri tercintanya. Setelah tiga tahun bertempur dalam perang berdarah dan meraih prestasi luar biasa, ia kembali dalam kondisi mengenaskan akibat diracuni hingga kehilangan akal sehat. Beruntung, sang istri dengan setia menyelamatkannya. Di tengah tekanan bertubi-tubi dari pihak keluarga dan hinaan kejam dari dunia sekitar, malam ini kesadarannya akhirnya pulih sepenuhnya.