
Kembali Bangkit Hancurkan Para Pengkhianat
Bab 2
Gunawan selalu memiliki cara untuk membuat segalanya terdengar begitu indah, bahkan ketika dia sedang berbohong. Dia bilang dia mencintaiku, bahwa dia berkorban untukku, bahwa pekerjaannya adalah untuk masa depan kami. Semua itu terdengar seperti racun manis yang dulu kuminum habis-habisan. Sekarang, setiap kata terasa seperti asam yang membakar tenggorokanku.
"Aku akan membantumu ke kamar mandi, sayang," katanya dengan suara lembut, tangannya terulur padaku. Aku menatap tangannya, jari-jarinya yang panjang dan ramping, jari-jari yang baru saja membelai tubuh Vivian. Rasa mual itu kembali menghantamku, lebih kuat dari sebelumnya. Perutku bergejolak. Aku merasa seperti akan muntah saat itu juga.
Aku mengabaikan tangannya, berjuang untuk berdiri sendiri. Kakiku masih terasa gemetar, bukan karena kelemahan fisik, tetapi karena jijik yang membakar dalam diriku. Aku tidak bisa membiarkannya menyentuhku. Tidak lagi. Sentuhannya kini terasa seperti kotoran yang membekas.
"Tidak perlu," kataku dingin, suaraku serak. "Aku bisa melakukannya sendiri." Aku melihat sekilas ekspresi terkejut di wajah Gunawan, namun dengan cepat dia menyembunyikannya di balik senyum palsu.
Saat Gunawan membantuku keluar dari kamar mandi, Vivian sudah duduk di meja makan, dengan santainya menyeruput kopinya. Keenan duduk di seberangnya, tersenyum dan mengobrol dengannya. Pemandangan itu menusuk hatiku. Adikku sendiri. Adik yang kubiayai kuliahnya, yang kubiayai hidupnya, kini bersekongkol dengan mereka. Keenan bahkan menawarkan roti panggang kepada Vivian, "Kakak ipar, mau roti panggang lagi?"
Apartemen kami, yang dulunya adalah sarang cinta kami, kini terasa seperti medan perang yang dingin. Tempatku di meja makan, di ujung, terasa terasing. Vivian duduk di sisi Gunawan, seolah dia adalah nyonya rumah. Dia bahkan mengatur piring dan gelas, memberikan Gunawan handuk basah untuk mengelap tangannya, seolah aku tidak ada di sana. Gunawan tersenyum padanya, senyum yang seharusnya ditujukan padaku.
Keenan, yang biasanya sibuk dengan ponselnya saat makan, kini fokus pada Vivian. Dia menawarkan Vivian jus, mengambilkan piring, bahkan membersihkan remah-remah di dekatnya. Hatiku berdarah. Aku melihat Vivian melirikku, senyum sinis tersungging di bibirnya. Ada kilatan kemenangan di matanya, dan sedikit rasa jijik. Seolah dia merendahkanku. Aku tidak bisa makan. Setiap suapan terasa seperti pasir. Perutku bergejolak.
Gunawan berbicara tentang proyek barunya, tentang bagaimana Vivian sangat membantunya. Vivian tertawa, suaranya melengking. Gunawan memegang tangannya di bawah meja, aku melihatnya. Tangan mereka menyatu, saling mengelus. Hatiku mencelos. Aku merasa mual. Mual yang tak tertahankan.
Aku berdiri tiba-tiba, kursi berderit keras. "Aku tidak bisa makan," kataku, suaraku nyaris tak terdengar. Aku merasakan isi perutku mendesak naik ke tenggorokan.
"Kinan, ada apa?" tanya Gunawan, pura-pura khawatir.
Aku tidak menjawab. Aku berlari menuju kamar mandi, tidak peduli dengan siapa pun. Aku membungkuk di atas kloset, isi perutku memuntah ruah. Rasanya pahit, asam, dan menjijikkan. Lebih menjijikkan daripada pemandangan yang kulihat di kamar tidur kami.
Keenan datang, menepuk punggungku dengan canggung. "Kak, kau baik-baik saja?" tanyanya. Suaranya terdengar ragu, seperti dia tidak yakin harus berpihak pada siapa.
Gunawan masuk, dengan wajah khawatir yang berlebihan. "Sayang, ada apa? Apa yang sakit?" Dia mencoba menyentuh keningku, tapi aku menyingkirkan tangannya dengan jijik.
"Jangan sentuh aku!" bentakku, suaraku tajam seperti pisau. Aku menatapnya dengan mata penuh kebencian. "Aku tidak mau kau menyentuhku!"
Gunawan terkejut. "Kinan, ada apa denganmu? Kau sakit?" Dia masih belum mengerti. Dia masih berpikir aku bodoh, buta, dan tuli.
"Aku hanya... tidak enak badan," kataku, suaraku kembali normal. Aku tidak akan membiarkan mereka melihat kemarahanku. Aku tidak akan membiarkan mereka tahu bahwa aku tahu. Aku akan membersihkan kekacauan ini sendiri. Aku tidak butuh bantuan mereka.
Aku membasuh mulutku, merasakan air dingin mengalir di kerongkonganku. Air itu tidak bisa memadamkan api di hatiku. Aku teringat beberapa hari yang lalu, saat aku mencoba bertanya pada Gunawan tentang Vivian.
"Gunawan, apa hubunganmu dengan Vivian?" tanyaku lembut saat itu, mencoba menjaga suaraku agar tidak bergetar.
Dia tertawa, senyumnya meremehkan. "Vivian? Dia hanya asisten bodohku. Kau tahu, dia selalu berusaha mendekatiku. Tapi aku hanya mencintaimu, Sayang." Dia memelukku erat, dan aku merasakan kebohongannya menembus kulitku.
Aku menatap pantulan diriku di cermin. Wajahku pucat, mataku cekung. Rambutku kusam. Sepuluh tahun di kursi roda telah merenggut pesonaku. Aku dulu seorang desainer interior yang aktif, bersemangat. Kini, aku hanyalah bayangan dari diriku yang dulu. Apakah itu alasannya? Apakah aku tidak cukup baik lagi?
Aku teringat janjinya. "Aku akan selalu mencintaimu, Kinan. Apa pun yang terjadi." Dia pernah mengucapkan kalimat itu di altar, di hari pertunangan kami. Dia pernah mengucapkannya saat aku terbaring tak berdaya di rumah sakit, setelah kebakaran.
Dia pernah merawatku dengan penuh kesabaran. Dia memijat kakiku yang mati rasa, menyuapiku makan, membacakan buku untukku. Dia adalah duniaku. Setiap malam, dia akan tidur di sofa di samping tempat tidurku, hanya untuk memastikan aku baik-baik saja. Dia akan terbangun setiap kali aku mengerang kesakitan, dan dia akan memberiku obat penenang, memelukku sampai aku tertidur lagi.
Apa yang terjadi dengan cinta itu? Apakah itu semua hanya sandiwara? Apakah dia hanya merasa terbebani, terperangkap oleh janjinya?
Kini aku tahu. Dia tidak pernah mencintaiku. Dia hanya merasa bertanggung jawab. Dan Vivian, dia mengambil keuntungan dari itu. Aku tidak akan membiarkan ini. Aku tidak akan membiarkan mereka lolos begitu saja.
Anda Mungkin Juga Suka





