
Keluarga yang Mengkhianatiku Sendiri
Bab 2
Hujan deras mengguyur Jakarta pada sore itu. Jalanan basah dan lampu-lampu kota memantulkan cahaya kuningnya di genangan air. Aluna berdiri di depan gedung Hartawan Corp, menunggu valet parkir membawakan mobilnya. Rambutnya sedikit basah oleh rintik hujan, tapi senyumnya tidak luntur. Hujan seolah menambah dramatis momen ini-bukan karena kesedihan, tetapi karena ketegangan yang terasa di udara.
Aluna sedang menyiapkan presentasi terbaru untuk proyek yang akan dijalankan bersama Reyhan. Ia tahu pria itu bukan tipe yang suka basa-basi, tapi ia ingin proyek ini berjalan mulus-dan tentu saja, ia ingin mendapatkan perhatian Reyhan sedikit lebih dekat dari biasanya.
Di sisi lain, Reyhan baru saja meninggalkan kantor cabang lain, mengenakan jas basah yang menempel di bahunya. Hujan tidak pernah menjadi masalah bagi seseorang yang terbiasa menghadapi ketidakpastian, tapi pikiran Reyhan lebih sibuk dari biasanya. Aluna terus menghantui pikirannya-senyumannya, caranya berbicara, bahkan bagaimana ia selalu tampak yakin pada diri sendiri. Reyhan menghela napas panjang. Ia tidak suka mengakui, tapi ada satu hal yang membuatnya tidak bisa menghindar: Aluna membuatnya penasaran, dan itu sesuatu yang tidak pernah ia biarkan terjadi sebelumnya.
Pertemuan mereka dijadwalkan di salah satu ruang konferensi lantai atas, yang biasanya sepi dari gangguan. Saat Reyhan tiba, Aluna sudah menunggu di sana, laptop terbuka, catatan tertata rapi, dan senyum ceria yang seolah menantang.
"Reyhan, kau datang," Aluna menyapa dengan nada riang, berdiri dan memberi ruang untuknya duduk.
Reyhan meletakkan tasnya di kursi, menatapnya sebentar. "Aku datang tepat waktu," jawabnya. Nada suaranya datar, tapi matanya tetap mengamati setiap gerak-geriknya.
Aluna mengangguk sambil menutup laptopnya. "Bagus. Aku senang kau tidak terlambat. Ini penting, jadi aku harap kau fokus."
Reyhan mengangkat alis, nada seriusnya tidak berubah. "Fokus selalu menjadi keahlianku."
Mereka mulai meninjau proyek baru. Aluna menjelaskan ide-ide inovatifnya, sementara Reyhan menekankan sisi analisis dan risiko yang harus diperhatikan. Perbedaan cara pandang mereka membuat pertemuan itu menarik, bahkan sedikit memanas.
"Aluna, ide ini menarik, tapi kau harus realistis," kata Reyhan, menatap layar laptop. "Kau tidak bisa hanya mengandalkan kreativitas tanpa mempertimbangkan kemungkinan kegagalan."
Aluna menatapnya dengan mata berbinar. "Aku tahu, Reyhan. Tapi aku juga percaya, jika kita terlalu takut, kita tidak akan mencapai apa pun. Kreativitas tanpa keberanian bukanlah ide, tapi ketakutan yang dibungkus rapi."
Reyhan menghela napas. Wanita ini benar-benar berbeda. Semua orang di sekitarnya biasanya akan cepat menyerah ketika ia menunjukkan sisi tegasnya, tapi Aluna menatapnya balik dengan tatapan yang sama kuatnya. "Baiklah," katanya akhirnya. "Tunjukkan padaku bagaimana kau akan mengeksekusinya."
Aluna tersenyum, memulai penjelasan langkah demi langkah. Ia memaparkan strategi yang detail, termasuk pembagian tugas, estimasi biaya, dan potensi tantangan yang mungkin muncul. Reyhan mencatat setiap kata, sesekali mengajukan pertanyaan yang tajam, tapi tetap dengan ketenangan yang membuat Aluna semakin tertantang.
Setelah hampir satu jam, Reyhan menutup laptopnya. "Aku perlu waktu untuk menimbang semua ini," katanya. "Beberapa hal terdengar menjanjikan, tapi ada risiko yang harus diperhitungkan dengan hati-hati."
Aluna mencondongkan tubuh, menatapnya penuh harap. "Aku mengerti. Tapi aku percaya kau akan melihat sisi potensialnya, bukan hanya risikonya."
Reyhan menatap matanya sebentar, mencoba menahan diri untuk tidak tersenyum. "Aku selalu menimbang risiko dan potensi," jawabnya singkat.
Mereka berdua diam sejenak. Hujan di luar mulai reda, tapi ketegangan di antara mereka justru meningkat. Ada sesuatu yang tidak bisa dijelaskan, sesuatu yang membuat Reyhan merasa sedikit gelisah. Ia jarang merasakan hal seperti ini-tertarik dan penasaran pada seseorang sekaligus harus menjaga jarak.
Aluna menutup laptopnya. "Baiklah, aku akan menunggu keputusanmu," katanya, suara ringan tapi penuh makna. "Tapi ingat, Reyhan... ini bukan sekadar proyek. Ini tentang kepercayaan. Dan aku percaya padamu."
Reyhan menelan napas. Ia jarang menerima kata-kata seperti itu. Kepercayaan adalah sesuatu yang ia berikan dengan sangat selektif, dan Aluna tampaknya telah menembus pertahanan itu tanpa usaha berlebihan. "Aku akan mempertimbangkannya," jawabnya akhirnya, mencoba menjaga nada suaranya tetap profesional.
Setelah pertemuan selesai, mereka meninggalkan gedung bersama. Aluna berjalan di samping Reyhan, berbicara ringan tentang hal-hal yang tidak ada hubungannya dengan pekerjaan-sebuah kebiasaan yang selalu ia lakukan untuk mencairkan ketegangan. Reyhan mendengarkan, kadang menjawab dengan kata-kata singkat, tapi matanya tidak pernah meninggalkan Aluna sepenuhnya.
Ketika mereka tiba di tempat parkir, hujan baru saja berhenti. Aluna menatap genangan air di aspal, tersenyum kecil. "Jakarta selalu punya cara untuk membuat hari biasa terasa dramatis," gumamnya.
Reyhan mengangkat bahu. "Aku lebih suka situasi yang terkendali," katanya, menatapnya sekilas. "Drama bukan sesuatu yang aku cari."
Aluna menoleh, senyumannya merekah. "Aku tidak membicarakan drama. Aku membicarakan kesempatan. Kadang, hal-hal yang tidak terkendali justru membuat kita lebih hidup."
Reyhan menatapnya diam. Wanita ini memang pandai bermain dengan kata-kata-ringan, tapi menusuk tepat ke inti pikirannya. Ia menghela napas pelan. "Kau benar. Tapi ada batasan yang harus dijaga," katanya.
Aluna tersenyum tipis, seolah menantang. "Batasan itu fleksibel, Reyhan. Kau hanya belum menyadarinya."
Di hari-hari berikutnya, proyek mereka mulai berjalan. Aluna semakin sering berada di sekitar Reyhan, menghadiri rapat, memberikan ide baru, dan bahkan sesekali membawa makanan atau kopi untuknya. Reyhan tetap disiplin, tapi perlahan mulai membuka diri. Ada momen-momen ketika ia tanpa sadar tersenyum atau menahan tawa kecil terhadap tingkah laku Aluna.
Suatu sore, ketika mereka harus mengevaluasi hasil sementara proyek, ketegangan meningkat. Reyhan menemukan kesalahan kecil dalam laporan Aluna-sesuatu yang bisa berdampak besar jika tidak diperbaiki. Ia menatapnya serius. "Aluna, ini tidak bisa dibiarkan. Kalau kita lalai, hasilnya akan buruk."
Aluna menatapnya balik, tidak takut, justru sedikit menantang. "Aku tahu, Reyhan. Tapi kesalahan ini bisa diperbaiki. Kita belajar dari kesalahan, bukan?"
Reyhan menghela napas. Ia jarang bertemu orang yang berani menentangnya tanpa takut. "Benar. Tapi jangan anggap enteng. Aku tidak suka mengulang kesalahan yang sama."
Aluna tersenyum, mencondongkan tubuh sedikit. "Aku suka caramu tegas, Reyhan. Tapi jangan lupa, aku juga bukan orang yang mudah menyerah."
Percakapan itu memuncak dengan ketegangan yang samar-campuran profesionalisme dan ketertarikan yang sulit dijelaskan. Reyhan sadar, semakin ia menahan diri, semakin Aluna tampak ingin menembus pertahanannya. Dan itu membuatnya penasaran, sekaligus frustrasi.
Malam itu, ketika Reyhan pulang ke rumah, ia tidak bisa menghapus wajah Aluna dari pikirannya. Senyumannya, tatapannya, cara ia menantang dan membuat segalanya terasa hidup-semua itu menghantui pikirannya. Ia menghela napas panjang. Tidak pernah dalam hidupnya seseorang begitu cepat membuatnya kehilangan keseimbangan emosional.
Di sisi lain, Aluna pulang dengan semangat yang sama. Ia menatap langit malam dari balkon apartemennya, menyesap angin malam. "Ini baru permulaan," gumamnya. Ia tahu Reyhan bukan pria yang mudah ditaklukkan, tapi itu justru membuat permainan ini semakin menarik.
Hujan mungkin telah reda, tapi badai kecil mereka baru saja dimulai. Tanpa amarah, tanpa gemuruh, hanya ketegangan, pandangan, dan perasaan yang saling menantang-membangun sesuatu yang tidak bisa mereka hindari, tidak peduli seberapa keras mereka mencoba.
Dan di suatu titik, mereka berdua menyadari satu hal: permainan ini bukan sekadar proyek atau pekerjaan. Ini tentang dua orang yang berbeda, dengan dunia yang berbeda, yang perlahan mulai saling menembus pertahanan satu sama lain-tanpa ada yang tahu bagaimana akhirnya akan berakhir.
Anda Mungkin Juga Suka





