
Keluarga yang Mengkhianatiku Sendiri
Bab 3
Langit sore berwarna oranye pekat ketika Aluna memasuki gedung Hartawan Corp. Angin membawa aroma hujan yang baru saja reda, menempel di rambutnya yang masih basah. Ia menatap lift yang bergerak naik ke lantai delapan dengan langkah pasti. Di tangannya, sebuah map berisi dokumen-dokumen proyek baru yang akan menjadi pusat perhatian mereka minggu ini.
Di lantai yang sama, Reyhan menatap layar laptopnya dengan tatapan tegang. Kepala divisinya baru saja menekan target baru yang sangat ambisius. Semua angka dan laporan yang tersusun rapi di mejanya terasa menantang sekaligus menekan. Ia tahu bahwa proyek ini bukan sekadar proyek biasa-ada klien besar yang mengawasi setiap detail, dan kegagalan sedikit saja bisa berdampak besar.
Saat pintu lift terbuka, Aluna melangkah keluar dengan senyum khasnya. Reyhan menatap dari kursi kerjanya, rasanya seperti melihat badai tropis masuk ke kantornya-tanpa peringatan, penuh energi, dan sulit untuk diabaikan.
"Selamat sore, Reyhan," sapa Aluna dengan suara ringan. Senyumnya seolah bisa menembus lapisan ketegangan yang selama ini ia bangun.
Reyhan mengangkat alis, tetap menatap layar laptopnya. "Selamat sore," jawabnya datar. Suaranya singkat, tapi matanya tetap mencuri pandangannya.
Aluna menghela napas pelan, seakan bisa merasakan ketegangan Reyhan. "Kau terlihat serius sekali," katanya sambil mencondongkan tubuh, menatap layar laptop yang dipenuhi angka dan grafik.
Reyhan menatapnya sebentar, kemudian kembali menekuni laporan. "Target ini tidak main-main. Aku harus memastikan semuanya sempurna," jawabnya. Nada suaranya tegas, menunjukkan sisi perfeksionis yang jarang terbuka.
Aluna duduk di kursi di seberangnya. Ia membuka map dokumen dan mulai menata ide-idenya. "Aku mengerti. Tapi kita tidak bisa terus menatap risiko. Kadang, kita harus bergerak cepat, menyesuaikan diri dengan peluang yang ada."
Reyhan menatapnya. Ada ketegangan yang samar muncul-dua cara pandang yang berbeda, satu mengutamakan risiko, satu menekankan peluang. Namun ada rasa kagum yang perlahan muncul di dalam diri Reyhan. Wanita ini bukan sekadar cantik dan percaya diri, tapi ia juga tahu persis apa yang ia lakukan.
Mereka mulai membahas strategi, memecah setiap detail proyek menjadi langkah-langkah yang bisa dijalankan. Aluna menjelaskan ide kreatifnya dengan semangat, sementara Reyhan menganalisis risiko dan konsekuensi dari setiap langkah. Percakapan mereka berkembang menjadi diskusi intens yang memaksa keduanya mengakui kemampuan masing-masing.
"Reyhan, jika kita menunda langkah ini terlalu lama, peluang itu bisa hilang," kata Aluna, menatapnya penuh keyakinan.
Reyhan menutup laptopnya sejenak, menatapnya dengan pandangan tajam. "Aku tidak menunda. Aku hanya memastikan bahwa setiap langkah yang kita ambil benar-benar aman dan efektif."
Aluna tersenyum, tetapi senyum itu membawa tantangan. "Aku tidak minta aman. Aku minta hasil. Dan hasil besar tidak pernah datang dari zona nyaman."
Ketegangan antara mereka meningkat, tapi bukan ketegangan yang buruk. Ada sesuatu yang membuat Reyhan merasa hidupnya lebih berwarna, sekaligus membuatnya frustrasi. Ia jarang bertemu seseorang yang mampu menantang logikanya tanpa terlihat menyerang. Aluna melakukan itu dengan ringan, tetapi penuh tekad.
Beberapa jam kemudian, mereka memutuskan untuk turun ke lapangan, meninjau lokasi proyek secara langsung. Jakarta sore itu terasa lembap, dengan aroma hujan yang menempel di aspal dan beton. Aluna berjalan dengan langkah mantap, membawa tablet untuk menampilkan desain terbaru, sementara Reyhan mengikuti dengan pandangan kritis.
"Kau tahu," kata Aluna tiba-tiba, menatapnya sambil tersenyum, "aku selalu penasaran bagaimana kau bisa tetap tenang di tengah semua tekanan ini."
Reyhan menatapnya, sedikit kaget dengan pertanyaan itu. "Aku tidak selalu tenang. Aku hanya tahu bagaimana mengendalikan diri," jawabnya singkat.
Aluna mencondongkan tubuh, suaranya rendah dan penuh maksud. "Tapi aku bisa merasakan ada yang berbeda hari ini. Kau tidak sepenuhnya menahan diri, kan?"
Reyhan menghela napas. Ia tidak bisa menyangkal sepenuhnya. Ada rasa penasaran yang terus tumbuh, dan Aluna selalu tahu cara menyingkap sisi itu tanpa memaksa. "Mungkin," katanya akhirnya, mencoba tetap dingin.
Mereka berjalan di antara tumpukan material proyek, membahas logistik dan strategi implementasi. Namun, beberapa kali, Aluna berhasil menarik perhatian Reyhan ke arah yang lebih ringan-menunjukkan humor kecil, komentar spontan, bahkan sentuhan ringan pada tablet yang mereka pegang bersama. Reyhan merasakan denyut jantungnya sedikit meningkat, sesuatu yang jarang terjadi ketika ia bekerja.
Saat malam mulai turun, mereka kembali ke kantor. Lampu-lampu gedung memantulkan bayangan mereka di lantai kaca yang licin. Aluna tersenyum kecil. "Hari ini produktif, kan?" tanyanya.
Reyhan menatap layar tablet yang menampilkan laporan hari itu, kemudian menatapnya sebentar. "Ya. Produktif," jawabnya singkat. Namun ada nada yang samar dalam suaranya-ada rasa kagum dan sedikit kelelahan emosional yang tidak ia sadari.
Beberapa hari berikutnya, tekanan proyek semakin meningkat. Klien menuntut laporan cepat, perubahan desain, dan keputusan strategis yang lebih matang. Reyhan merasa stres, tetapi kehadiran Aluna justru menjadi semacam keseimbangan. Ia jarang mengakuinya, tapi wanita itu membuatnya tetap fokus dan-tanpa ia sadari-mulai menikmati interaksi mereka.
Suatu malam, ketika semua staf telah pulang, Reyhan masih di kantor, menatap laporan akhir proyek. Aluna mengetuk pintu ruangannya. "Reyhan, aku tahu kau lelah. Tapi aku perlu bicara tentang perubahan terbaru dari klien," katanya, membawa map yang penuh catatan.
Reyhan menatapnya, ada ketegangan yang samar di matanya. "Masuklah," katanya.
Aluna duduk di kursi di seberang, membuka map dan menatap Reyhan. "Kita harus memutuskan cepat. Aku ingin pendapatmu, tapi jangan biarkan emosimu mempengaruhi keputusan," katanya sambil menatap matanya.
Reyhan menatap balik, merasakan getaran aneh dalam dirinya. Emosi yang biasanya ia kendalikan kini sedikit goyah. "Aku akan objektif," jawabnya, berusaha mempertahankan profesionalismenya.
Mereka mulai membahas strategi terakhir, meninjau setiap angka, setiap risiko, dan peluang. Waktu terasa berjalan lambat, setiap kata dan tatapan membangun ketegangan yang tidak bisa dihindari. Aluna sesekali menatapnya, tersenyum tipis, membuat Reyhan sulit menahan diri untuk tidak menatapnya balik lebih lama dari yang seharusnya.
Ketika rapat berakhir, Aluna berdiri, menutup mapnya. "Terima kasih, Reyhan. Aku tahu kita bisa menyelesaikannya dengan baik."
Reyhan menatapnya sebentar, kemudian mengangguk. "Aku yakin kita bisa." Namun ada kata-kata yang tidak terucap: bahwa kehadiran Aluna bukan sekadar bantuan profesional, tapi juga sesuatu yang mulai mengubah dinamika emosionalnya.
Di malam yang sunyi itu, keduanya pulang dengan pikiran yang sama-sama kacau. Reyhan menyadari bahwa ia semakin sulit menahan jarak, sementara Aluna tahu bahwa ketertarikannya pada Reyhan bukan sekadar permainan. Ada rasa penasaran, tantangan, dan keinginan yang perlahan berkembang.
Badai kecil mereka terus bertambah intens-tanpa amarah, tanpa gemuruh, hanya ketegangan, tatapan, dan perasaan yang mulai menuntut untuk diakui. Dan tanpa sadar, kedua dunia mereka-yang selama ini begitu berbeda-perlahan mulai bertaut.
Malam itu, gedung Hartawan Corp tampak sepi. Hanya lampu-lampu di koridor yang menyala, memantulkan bayangan panjang di lantai marmer. Aluna menapaki tangga darurat dengan langkah cepat, membawa laptop dan beberapa dokumen penting. Pekerjaan yang biasanya bisa selesai dalam satu hari, kini berubah menjadi misi lembur karena klien tiba-tiba menambahkan permintaan baru yang cukup kompleks.
Reyhan sudah menunggu di ruang kerja utama. Ia berdiri di depan jendela besar, menatap kota Jakarta yang gemerlap di bawah hujan ringan yang mulai turun lagi. Jasnya sedikit basah di bahu akibat hujan sore tadi. Pandangannya tajam, fokus, tapi ada kelelahan yang samar terlihat di matanya. Ia jarang merasa letih secara emosional, tetapi malam ini terasa berbeda—ada ketegangan yang terus menghantui pikirannya.
“Maaf membuatmu menunggu,” kata Aluna saat masuk. Suaranya ringan, tapi matanya berbinar, penuh semangat yang kontras dengan suasana lembur yang tegang.
Reyhan menoleh sebentar. “Tidak apa-apa,” jawabnya. Nada suaranya singkat, tapi sorot matanya tetap menilai. Ia jarang membiarkan orang lain menembus dinding profesionalismenya, tapi Aluna selalu berhasil menemukan celah.
Aluna menaruh laptop di meja dan membuka dokumen. “Ini tambahan terbaru dari klien. Mereka ingin perubahan desain dan laporan risiko yang diperbarui—semuanya harus selesai sebelum besok pagi,” jelasnya sambil menatap Reyhan.
Reyhan mengangguk, menahan napas pelan. “Ini berarti kita harus bekerja sepanjang malam,” katanya, menatap dokumen dengan serius. Ia jarang mengeluh, tapi ada sedikit ketegangan dalam nada suaranya.
Aluna tersenyum tipis, mencondongkan tubuh ke arahnya. “Itu berarti kita punya waktu cukup untuk menyelesaikan semuanya. Aku akan bantu semaksimal mungkin.”
Mereka mulai bekerja. Suasana hening, hanya terdengar suara ketikan keyboard dan sesekali gumaman ketika salah satu dari mereka menemukan kesalahan atau peluang untuk memperbaiki. Semakin lama, Reyhan menyadari sesuatu yang tidak pernah ia sadari sebelumnya: kehadiran Aluna membuat pekerjaannya terasa lebih ringan, meski tekanan semakin tinggi.
“Aluna,” Reyhan tiba-tiba berkata, “kau harus lebih teliti di bagian ini. Data yang kau masukkan tidak sinkron dengan laporan awal.”
Aluna menoleh, menatap layar yang ia pegang. “Aku tahu. Aku baru ingin mencoba beberapa pendekatan berbeda,” katanya, nada suaranya santai tapi ada kilatan tegas di matanya.
Reyhan menatapnya, sedikit tergelitik. “Pendekatan berbeda boleh, tapi jangan sampai mengganggu keseluruhan proyek. Kita tidak bisa mengambil risiko di sini.”
Aluna tersenyum tipis, menatapnya sejenak sebelum kembali fokus ke layar. “Aku mengerti. Jangan khawatir, Reyhan. Aku akan perbaiki.”
Jam demi jam berlalu. Hujan di luar semakin deras, tapi mereka tidak memperhatikannya. Kedua dunia mereka—satu penuh disiplin dan ketelitian, satu lagi penuh energi dan improvisasi—bertemu di ruang kerja itu. Ketegangan profesional dan personal saling bercampur, menciptakan suasana yang aneh namun menarik.
Pada tengah malam, ketika mata mereka mulai lelah, Aluna berdiri sebentar, meregangkan tubuh. “Kau harus istirahat sebentar, Reyhan. Kau terlihat lelah,” katanya sambil menatapnya dengan perhatian yang tulus.
Reyhan menatapnya sebentar, menahan diri untuk tidak tersenyum. “Aku baik-baik saja,” jawabnya, tetapi matanya menunjukkan sebaliknya. Ia jarang membiarkan orang lain peduli padanya seperti ini, dan Aluna membuatnya merasa aneh.
Aluna mendekat, menaruh kopi panas di mejanya. “Kalau kau memaksa diri sendiri terlalu keras, kau akan membuat kesalahan yang bisa dihindari. Percayalah, aku tahu apa yang aku katakan,” katanya lembut.
Reyhan menatapnya, mendengar nada hangat yang jarang ia dengar dari siapapun. Ia menahan napas, merasa denyut jantungnya sedikit meningkat. Wanita ini—Aluna—tidak hanya menantang pikirannya, tetapi juga membuatnya kewalahan secara emosional.
Mereka kembali bekerja, membahas laporan risiko, menyusun grafik, dan mengedit dokumen. Di satu titik, tangan mereka secara tidak sengaja bersentuhan saat mereka mengambil tablet yang sama. Reyhan menatapnya sebentar, menahan diri agar tidak bereaksi berlebihan. Aluna hanya tersenyum tipis, tanpa berkata apa-apa, seolah momen itu normal bagi mereka.
Namun setelah sentuhan itu, ada sesuatu yang berubah. Ketegangan mereka bukan lagi hanya tentang proyek—ada ketertarikan yang samar mulai muncul, tidak diungkapkan tapi terasa nyata. Reyhan menatap layar, berusaha fokus, tetapi pikirannya sulit lepas dari Aluna. Ia sadar bahwa wanita ini berhasil menembus tembok yang selama ini ia pertahankan rapat-rapat.
Beberapa jam kemudian, mereka menyelesaikan sebagian besar pekerjaan. Laporan sudah hampir final, desain sudah diperbarui, dan semua risiko telah dianalisis dengan detail. Aluna menatap Reyhan dengan senyum puas. “Kita berhasil menyelesaikan sebagian besar, Reyhan. Aku pikir besok kita bisa menyerahkan laporan final tanpa masalah.”
Reyhan mengangguk, menatap layar. “Ya. Kerja yang baik, Aluna. Kau benar-benar membantu menjaga kualitas proyek ini.”
Aluna mencondongkan tubuh, menatapnya sekilas. “Dan kau… kau membuat segalanya terasa lebih terstruktur. Aku tidak akan bisa melakukan ini sendirian.”
Reyhan menatapnya diam, menyadari ada kata-kata yang sulit diungkapkan. Ia jarang membiarkan dirinya merasakan ketergantungan emosional pada seseorang, tapi Aluna telah membuatnya merasakannya. Denyut jantungnya meningkat sedikit, dan ia menatapnya lebih lama dari yang seharusnya.
Malam itu, ketika mereka meninggalkan kantor, hujan sudah reda. Lampu jalan memantulkan bayangan mereka di aspal basah. Aluna berjalan di samping Reyhan, matanya masih bersinar penuh energi, sementara Reyhan menatap ke depan, mencoba menenangkan perasaan yang baru muncul.
Di perjalanan pulang, mereka tidak banyak bicara. Namun ada pemahaman yang tak terucapkan: malam lembur ini telah mengubah dinamika mereka. Reyhan mulai menyadari bahwa ia tidak bisa lagi sepenuhnya menahan diri dari ketertarikan yang muncul, sementara Aluna tahu bahwa permainan mereka bukan sekadar profesional—ada rasa penasaran, tantangan, dan ketertarikan yang mulai berkembang pesat.
Sesampainya di apartemen Aluna, ia menoleh ke Reyhan. “Terima kasih, Reyhan. Tanpa bantuanmu, malam ini akan jauh lebih sulit.”
Reyhan menatapnya sebentar, kemudian mengangguk. “Kau juga membuat pekerjaannya lebih mudah untukku,” jawabnya singkat, nada suaranya lebih hangat dari biasanya.
Aluna tersenyum, sedikit nakal. “Itu berarti kita saling membutuhkan, kan?”
Reyhan menelan napas. Ia jarang membiarkan orang lain menyadari sisi ini darinya—sisi yang membutuhkan kehadiran orang lain, yang bisa tergoyahkan oleh energi dan keberanian seseorang. “Mungkin,” jawabnya, mencoba tetap profesional, meski hatinya sudah tidak bisa sepenuhnya tenang.
Saat Aluna masuk ke dalam apartemennya, Reyhan menatapnya sebentar, merasakan denyut jantungnya meningkat. Malam lembur itu, tanpa amarah, tanpa gemuruh, telah menimbulkan badai kecil—badai yang menggabungkan ketegangan, ketertarikan, dan emosi yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Di malam yang sunyi itu, kedua dunia mereka, yang selama ini begitu berbeda, perlahan mulai bertaut lebih erat. Dan keduanya tahu—entah disadari atau tidak—badai kecil ini baru saja dimulai.
Anda Mungkin Juga Suka





