
Kelahiranku, Kematian Ibuku, Dan Kebencian Ayahku
Bab 3
Keesokan hari, Ayah pergi ke kantor polisi. Begitu masuk, dia langsung bertanya kepada asistennya, "Apa sudah ada keluarga yang datang untuk mengambil jenazah?"
Ketika mendengar jawaban asisten, Ayah sontak murka. "Keluarga macam apa ini? Anaknya disiksa sampai mati, tapi mereka diam saja? Nggak bertanggung jawab sekali. Kalau mereka datang nanti, kamu harus membantuku memarahi mereka."
Asisten hanya bisa mengangguk. Ayah bertanya lagi, "DNA sudah selesai diperiksa? Suruh mereka cepat sedikit."
Tiba-tiba, ponselnya berdering. Setelah menjawab panggilan, wajahnya menjadi sangat masam. Tidak berselang lama, Bibi datang lagi.
Bibi bertanya dengan cemas, apa aku sempat menghubungi Ayah atau tidak. Ayah menyahut dengan marah, "Ngapain kamu masih peduli pada anak nggak berguna itu? Kamu tahu wali kelasnya bilang apa?"
"Bilang dia bolos! Dia sudah nggak pergi sekolah selama tiga hari! Aku kerja keras supaya dia bisa belajar, tapi dia malah membalasku dengan cara seperti ini! Sebaiknya dia jangan pulang lagi atau aku nggak bakal mengampuninya!"
Ayah, kamu seharusnya senang karena aku memang tidak bisa pulang lagi ....
Begitu mendengarnya, Bibi pun menyergah, "Cukup! Candice sudah tiga hari nggak ke sekolah dan nggak bisa dihubungi! Masa kamu nggak cemas anakmu ke mana?"
"Dia darah dagingmu dan kakakku! Sebelum kakakku meninggal, bukannya dia menyuruhmu untuk menjaga Candice? Gimana bisa kamu setega ini? Anakmu hilang tiga hari, tapi kamu nggak peduli! Ayah macam apa kamu ini?"
Saking emosinya, bibiku sampai meneteskan air mata. Ayah pun tidak bisa berkata-kata lagi karena melihat bibiku begitu emosional. Dia hanya mendengus, lalu duduk dan membaca laporan.
Saat ini, asisten berlari masuk. "Pak, ada penemuan baru! Cepat kemari!"
Ayah bergegas bangkit. "Cepat, di mana?" Sebelum pergi, dia berkata kepada Bibi, "Biarkan saja anak itu. Terserah dia mau ngapain."
Kemudian, dia menutup pintu dan meninggalkan bibiku yang menangis tersedu-sedu. Aku ingin menghibur Bibi, tetapi tanganku malah menembus tubuhnya. Karena tidak berdaya, aku hanya bisa menghela napas dan melayang keluar.
Di ruang otopsi, aku melihat ayahku memegang laporan dengan ekspresi serius. Aku mendekat, lalu melihat isi laporan yang bertuliskan bahwa ditemukan sudut kartu remi di perut korban, Q.
Aku yang menaruhnya. Aku tahu aku tidak akan selamat, jadi diam-diam merobek kartu remi selagi tidak ada yang memperhatikan. Kemudian, aku menelannya untuk meninggalkan bukti.
Ayahku menatap sobekan kartu remi itu dengan tatapan yang berangsur dingin. Dia bergumam, "Q."
Tiba-tiba, dia teringat bahwa metode pembunuhan ini sangat mirip dengan kasus yang ditanganinya lima tahun lalu.
Setelah membunuh seseorang, pembunuh gila itu akan merobek sudut kartu remi dan memasukkannya ke mulut korban. Kalau tidak ada ayahku, pembunuh itu pasti masih berkeliaran di luar.
Saat ini, Ayah melihat beberapa partikel hitam di atas kartu remi lagi. Ternyata itu adalah batu bara. Aku juga sengaja menelannya supaya mereka dapat petunjuk.
Asisten yang kebingungan pun bertanya, "Kenapa ada batu bara di kartu remi?"
Ayahku mengelus dagu. Setelah merenung sejenak, dia terpikir akan sesuatu. "Beri tahu tim untuk menyelidiki tambang batu bara di sekitar."
Asisten itu sontak memahaminya. "Ya, kamu benar, Pak. Kita mungkin bisa menemukan TKP dengan cara ini!"
Akhirnya ada perkembangan pada kasus ini. Semua orang memuji ayahku hebat. Ayahku tersenyum dan menunjuk jasadku. "Gadis ini yang cerdas. Sepertinya dia diam-diam membantu kita."
Ini pertama kalinya Ayah memujiku. Aku yang berdiri di samping sampai merasa tersanjung.
Siang harinya, polisi menelepon ayahku. Katanya, mereka menemukan lokasi yang diduga sebagai lokasi pembunuhan, yaitu tambang batu bara terbengkalai yang terletak 10 kilometer dari pinggiran timur Kota Zeno. Di sana, ditemukan noda darah.
Ayah langsung membawa orang-orangnya ke tambang batu bara itu. Setelah tiba, mereka memulai penyelidikan.
Tiba-tiba, sebuah rumah kecil di sekitar menarik perhatian ayahku. Dia perlahan-lahan mendekat. Hatiku menegang. Ini karena aku dimutilasi di rumah kecil itu.
Begitu masuk, ayahku langsung menutup hidungnya karena bau amis yang tak tertahankan. Di dalam sana dipenuhi darah.
Dua ekor tikus sedang menggerogoti tali karena ada darahku di sana. Di atas ranjang besar, tampak sebilah pisau yang menancap. Itu adalah senjata yang digunakan untuk membelah perutku!
Saat ini, aku bisa melihat ekspresi ayahku berubah. Aku mengikuti arah pandang ayahku. Ternyata tatapannya tertuju pada sesuatu di bawah ranjang.
Setelah melihat dengan saksama, aku pun terkejut. Bukankah itu kartu pelajarku? Ada namaku di atasnya! Sepertinya ayahku akan segera mengetahui kebenarannya!
Ayah perlahan-lahan mendekat. Setiap langkah kakinya membuat jantungku berdetak makin kencang. Aku menahan napasku.
Tiba-tiba, tikus yang ketakutan berlari ke bawah ranjang dan menggigit kartu pelajarku, lalu membawanya keluar.
Pemandangan ini pun membuat ayahku termangu. Dia sontak menghentikan langkah kakinya, lalu menggeleng dan menghela napas. Aku pun tidak tahu harus merasa sedih atau lucu.
Saat ini, bibiku tiba-tiba menerobos masuk. Dengan wajah pucat dan emosional, dia memekik, "Kak! Ada seragam Candice di luar!"
Aku dan ayahku sama-sama terkejut. Saat melihat seragamku, ekspresi ayahku agak berubah, tetapi segera kembali normal.
"Nggak mungkin. Dia nggak mungkin kenapa-napa. Korbannya bukan dia." Usai berbicara, Ayah maju dan mengambil seragam itu. Sebuah jepit rambut kecil terjatuh.
Begitu melihatnya, bibiku langsung mengenali jepit rambut itu. Dia berseru dengan kaget, "Itu punya Candice! Aku yang kasih dia waktu dia ulang tahun tahun lalu. Jangan-jangan korbannya adalah ...."
Anda Mungkin Juga Suka





