
Kekasihku Menikahi Saudaraku Disaat Aku Lumpuh
Bab 2
Mentari membawa angin segar ke dalam rumah megah Dirgantara. Kehadirannya bagaikan warna cerah yang disisipkan ke dalam palet yang selama ini hanya diisi nuansa kelabu. Ia tak peduli dengan kemewahan yang mengelilingi Arjuna, atau dengan tatapan sinis dari beberapa staf yang menganggapnya aneh. Mentari hanya peduli pada tugasnya: membantu Arjuna, entah itu secara fisik atau, yang lebih penting, secara emosional. Ia datang bukan sebagai perawat, bukan sebagai terapis, melainkan sebagai seorang yang tulus ingin membantu, dengan caranya sendiri yang unik.
Pagi itu, mentari pagi menyusup malu-malu dari balik tirai jendela kamar Arjuna, menerangi debu-debu yang menari di udara. Arjuna masih enggan bangun. Ia memejamkan mata, berharap semua yang terjadi hanyalah mimpi buruk. Namun, suara riuh dari luar kamarnya membuyarkan lamunannya.
"Pak Arjuna! Bangun! Matahari sudah di ubun-ubun nih! Nanti rezeki dipatok ayam!" Suara Mentari, nyaring dan ceria, menembus dinding tebal kamar Arjuna.
Arjuna mendengus. Sejak kapan wanita ini punya akses bebas ke kamarnya? Ia melirik jam. Pukul tujuh pagi. Masih terlalu pagi baginya. Ia terbiasa bangun pukul sembilan sejak kecelakaan itu.
Tak lama kemudian, pintu kamarnya terbuka. Mentari muncul dengan nampan berisi sarapan. Wajahnya berseri, seolah tak ada beban sama sekali. Aroma nasi goreng mengepul, bercampur dengan aroma kopi.
"Ayo sarapan, Pak! Kata Bu Dewi, kamu harus banyak makan biar cepat pulih!" Mentari meletakkan nampan itu di meja samping tempat tidur Arjuna.
Arjuna menatapnya dengan malas. "Aku tidak lapar."
"Halah, bohong!" Mentari menyeringai. "Wajahmu itu wajah lapar. Kamu harus makan, Pak. Nanti kalau sakit, kan jadi merepotkan. Saya juga ikut pusing nanti."
Arjuna terdiam. Wanita ini, dengan segala kelugasannya, selalu bisa membuatnya kehilangan kata-kata. Ia akhirnya menyerah, mengambil sendok, dan mulai menyantap sarapannya. Rasanya lumayan. Jauh lebih baik dari masakan koki rumahnya yang hambar.
"Ini kamu yang masak?" tanya Arjuna, tanpa sadar.
"Iyalah! Siapa lagi? Koki kamu? Duh, masakan dia mana ada rasanya," jawab Mentari jujur, membuat Arjuna tersenyum tipis, sesuatu yang jarang terjadi belakangan ini.
Sejak itu, Mentari menjadi "alarm" dan "koki" pribadi dadakan untuk Arjuna. Ia memastikan Arjuna bangun pagi, makan teratur, dan bahkan menemaninya menjalani terapi fisik. Awalnya, Arjuna menolak keras. Ia tidak ingin orang lain melihatnya dalam kondisi rentan. Namun, Mentari punya seribu cara untuk membujuk, atau lebih tepatnya, "memaksa."
"Ayo, Pak! Nanti ototnya kaku kalau nggak digerakin! Mau jadi patung pahlawan di depan menara Dirgantara?" celetuk Mentari suatu hari, saat Arjuna mogok terapi.
Arjuna hanya mendengus, tetapi akhirnya menurut. Di ruang terapi, Mentari tidak hanya duduk diam. Ia akan berceloteh tentang hari-harinya, tentang rencana usahanya, tentang anak-anak panti. Terkadang, ia akan menyanyi dengan suara sumbang, membuat fisioterapis dan Arjuna tertawa kecil. Kehadirannya membuat suasana terapi yang biasanya tegang dan menyakitkan, menjadi sedikit lebih ringan.
"Kamu ini tidak punya rasa malu, ya?" tanya Arjuna suatu kali, setelah Mentari selesai menyanyi lagu dangdut dengan penuh semangat.
Mentari mengangkat bahu. "Ngapain malu? Nyanyi kan menyenangkan. Daripada murung terus, nanti cepat tua loh, Pak."
Arjuna menatapnya. Wanita ini benar-benar misterius. Di satu sisi, ia sangat materialistis, selalu membahas uang. Di sisi lain, ia memiliki hati yang tulus dan tidak pernah menghakimi. Ia melihat Arjuna apa adanya, tanpa filter belas kasihan atau ketakutan.
Hubungan Arjuna dan Mentari berkembang bukan hanya di ranah fisik, tetapi juga emosional. Mentari adalah pendengar yang baik. Perlahan, Arjuna mulai membuka diri. Ia bercerita tentang Kirana, tentang pengkhianatan Bima, tentang bagaimana perasaannya hancur berkeping-keping.
Mentari mendengarkan dengan serius, sesekali mengangguk atau mengumpat pelan. "Dasar wanita ular! Tidak tahu diri!" atau "Bima itu banci! Berani-beraninya mengambil milik kakaknya sendiri!"
Arjuna sedikit terkejut dengan reaksi Mentari yang blak-blakan. "Kamu tidak jijik mendengarnya?"
"Jijik kenapa?" Mentari menatapnya aneh. "Kamu korban, kan? Dia yang salah. Kamu itu bukan cacat, Pak. Cuma lagi liburan dari kaki, pakai kursi roda. Nanti juga jalan lagi."
Kata-kata sederhana itu, yang diucapkan dengan keyakinan penuh oleh Mentari, terasa lebih menenangkan daripada ribuan kata motivasi dari psikolog. Ia tidak memandang kecacatan Arjuna sebagai akhir dari segalanya, melainkan sebagai fase sementara.
Suatu malam, Arjuna tak bisa tidur. Pikirannya kalut memikirkan perusahaan. Ia tahu Bima dan Indra sedang berebut kekuasaan, dan ia tidak bisa melakukan apa-apa. Ia merasa tak berdaya. Ia membuka pintu kamarnya, berniat mencari udara segar di balkon. Di ruang keluarga, ia melihat cahaya lampu menyala. Mentari.
Gadis itu duduk di sofa, dengan selimut melilit tubuhnya, fokus menjahit. Suara mesin jahit manualnya mengisi keheningan malam. Di depannya tergeletak tumpukan kain perca dan benang warna-warni.
"Belum tidur?" tanya Arjuna, suaranya sedikit serak.
Mentari menoleh, terkejut. "Eh, Pak Arjuna. Belum ngantuk. Tanggung ini, mau nyelesaiin pesanan seragam anak panti."
Arjuna mengamati Mentari bekerja. Jarinya lincah menggerakkan kain, matanya fokus, raut wajahnya serius. Jauh berbeda dari Mentari yang ceria dan penuh canda di siang hari.
"Kamu sangat menyukai pekerjaanmu," komentar Arjuna.
Mentari tersenyum. "Tentu saja! Ini bukan cuma kerja, Pak. Ini seni. Dari kain biasa, jadi sesuatu yang bisa dipakai. Apalagi kalau dipakai anak-anak panti, mereka senang. Bahagia itu menular, Pak."
Mereka terdiam beberapa saat, hanya suara mesin jahit yang mengisi ruangan.
"Aku merasa tidak berguna," kata Arjuna tiba-tiba, suaranya bergetar. "Perusahaan sedang bergejolak, dan aku hanya bisa duduk diam di sini."
Mentari menghentikan jahitan tangannya. Ia menoleh ke arah Arjuna, tatapan matanya serius. "Tidak berguna? Siapa bilang? Pak Arjuna itu otaknya masih jalan, kan? Tangan masih bisa gerak? Mulut masih bisa bicara? Apa yang bikin kamu tidak berguna?"
Arjuna menghela napas. "Kakiku..."
"Kaki cuma alat bantu, Pak. Yang penting itu di sini," Mentari mengetuk pelan kepala Arjuna. "Dan di sini," ia menyentuh dada Arjuna, tepat di atas jantungnya. "Kalau pikiran dan hati kamu kuat, apa sih yang tidak bisa kamu lakukan?"
Arjuna menatapnya. Mentari melanjutkan, "Orang-orang di luar sana mungkin melihatmu lumpuh. Tapi aku melihatmu sebagai Pak Arjuna yang sama. Yang cerdas, yang kadang nyebelin, yang sekarang lagi sedih. Aku nggak peduli kamu bisa jalan atau nggak. Yang penting kamu bangkit. Kamu harus tunjukin sama Kirana itu, sama adik-adikmu yang serakah itu, kalau Pak Arjuna yang ini jauh lebih hebat dari Pak Arjuna yang dulu!"
Kata-kata Mentari menusuk tepat ke inti masalah Arjuna. Bukan hanya fisik, tetapi mentalnya. Perkataannya yang jujur, tanpa tedeng aling-aling, membangkitkan sedikit semangat yang mulai padam dalam diri Arjuna. Wanita ini, entah bagaimana, berhasil menembus tembok pertahanannya yang kokoh.
"Kamu tahu, aku pernah dengar pepatah," lanjut Mentari, "kalau Tuhan mengambil satu hal dari kita, Dia akan memberikan hal lain yang lebih baik. Mungkin Tuhan sedang mengambil kakimu untuk sementara, biar kamu fokus sama hal lain yang selama ini kamu lupakan. Keluarga, misalnya. Atau... diri sendiri."
Arjuna tertegun. Kata-kata itu, yang terucap dari bibir Mentari dengan begitu polos, terdengar begitu dalam. Selama ini, ia terlalu fokus pada pekerjaan, pada ambisi, hingga melupakan banyak hal.
Sejak percakapan malam itu, sesuatu dalam diri Arjuna mulai berubah. Ia tidak lagi sepenuhnya tenggelam dalam keputusasaan. Ia mulai aktif mengikuti terapi, bukan lagi karena paksaan, melainkan karena ia ingin sembuh. Ia mulai membaca laporan perusahaan lagi, mencoba mengikuti perkembangan meskipun sulit. Ia bahkan mulai berinteraksi lebih banyak dengan staf di rumahnya, sesuatu yang dulu jarang ia lakukan.
Namun, tantangan terbesar masih di depan mata: perebutan kekuasaan di Dirgantara Group. Bima dan Indra semakin berani. Mereka bahkan berani mengabaikan panggilan telepon dari Arjuna, atau jika terpaksa menjawab, mereka akan memberikan jawaban yang berbelit-belit.
Suatu siang, Ibu Dewi datang ke kamar Arjuna dengan wajah khawatir. "Arjuna, proyek pembangunan resort di Bali terancam batal. Investornya menarik diri karena mendengar gosip tentang ketidakstabilan manajemen kita."
Arjuna mengepalkan tangannya. Proyek itu adalah salah satu proyek impiannya, yang telah ia rencanakan sejak lama. "Sudah sejauh mana?"
"Bima dan Indra saling menyalahkan. Mereka tidak ada yang berani mengambil keputusan. Investornya sudah mengirimkan surat pembatalan," jelas Dewi, suaranya getir.
Darah Arjuna mendidih. Ia tidak bisa membiarkan ini terjadi. Dirgantara Group adalah warisan ayahnya, dan ia tidak akan membiarkannya hancur di tangan adik-adiknya yang serakah.
"Siapkan rapat direksi besok pagi," perintah Arjuna, suaranya tegas. "Dan pastikan semua direktur hadir, termasuk Bima dan Indra."
Dewi menatap putranya, terkejut namun bangga. Ada kilatan di mata Arjuna yang sudah lama tidak ia lihat. Kilatan seorang pemimpin.
"Tapi, Nak, apakah kamu yakin? Kondisimu..."
"Aku CEO perusahaan ini, Bu. Dan aku akan mempertahankannya," kata Arjuna, rahangnya mengeras.
Mentari, yang saat itu sedang merapikan buku-buku di rak, mendengar percakapan itu. Ia tersenyum tipis. Ini dia, Arjuna yang dulu. Semangatnya mulai kembali.
Keesokan paginya, ruang rapat utama Dirgantara Tower dipenuhi ketegangan. Para direktur duduk di tempat masing-masing, berbisik-bisik. Bima dan Indra terlihat gugup, namun berusaha mempertahankan ekspresi datar. Mereka tidak menyangka Arjuna akan berani muncul dalam rapat sepenting ini.
Saat pintu ruang rapat terbuka, semua mata tertuju pada Arjuna yang didorong masuk oleh asistennya. Arjuna duduk di ujung meja, dengan tatapan tajam menyapu seisi ruangan. Ia tidak mengucapkan sepatah kata pun. Kehadirannya saja sudah cukup untuk menciptakan keheningan yang mencekam.
"Selamat pagi, semuanya," suara Arjuna memecah keheningan. "Terima kasih sudah hadir."
Ia menghela napas, lalu melanjutkan. "Saya dengar proyek resort di Bali terancam batal. Ada yang bisa menjelaskan kronologinya?"
Para direktur saling pandang. Bima, sebagai direktur utama, harusnya yang pertama bicara. Namun, ia hanya terdiam, wajahnya pucat.
"Bima? Indra? Kalian yang mengurus proyek ini. Kenapa bisa jadi begini?" tanya Arjuna, suaranya dingin.
Bima akhirnya angkat bicara, tergagap. "I-itu... ada masalah komunikasi, Kak. Investornya mendadak berubah pikiran..."
"Berubah pikiran, atau kalian yang tidak kompeten mengurusnya?" potong Arjuna tajam. "Investor tidak akan menarik diri tanpa alasan yang kuat. Saya sudah mendengar semua gosip tentang ketidakstabilan di dalam perusahaan ini. Gosip yang kalian sendiri sebarkan karena berebut kekuasaan!"
Semua direktur menunduk. Bima dan Indra terdiam seribu bahasa.
"Proyek ini, dan seluruh masa depan Dirgantara Group, tidak bisa saya serahkan pada orang-orang yang hanya memikirkan ambisi pribadi. Kalian berdua, Bima, Indra, telah gagal membuktikan kemampuan kalian. Kalian telah membahayakan perusahaan yang sudah dibangun dengan susah payah oleh ayah kita."
Suasana semakin tegang. Arjuna menghela napas panjang.
"Saya tidak akan membiarkan Dirgantara Group hancur di tangan kalian. Mulai hari ini, saya akan kembali mengambil alih kendali penuh. Saya akan memimpin rapat, saya akan membuat keputusan, dan saya akan memastikan perusahaan ini kembali stabil."
Mata Bima melotot. "Tapi, Kak! Kondisimu..."
"Kondisiku tidak ada hubungannya dengan otakku," potong Arjuna, suaranya menggelegar. "Dan keputusanku mutlak. Siapapun yang tidak setuju, silakan ajukan surat pengunduran diri. Saya tidak butuh pengkhianat di tim saya."
Para direktur terdiam. Tidak ada yang berani membantah. Aura kepemimpinan Arjuna, yang dulu selalu memancar, kini kembali. Meskipun duduk di kursi roda, ia tetaplah CEO yang disegani.
Arjuna kemudian melanjutkan dengan memaparkan rencana-rencana daruratnya untuk menyelamatkan proyek Bali, memberikan instruksi tegas kepada setiap direktur, dan menuntut laporan harian. Ia bahkan meminta asistennya untuk mengatur jadwal video conference dengan investor, untuk menjelaskan langsung situasi dan meyakinkan mereka.
Mentari tidak ada di ruang rapat. Namun, dari balik pintu kantor Arjuna yang setengah terbuka, ia bisa mendengar semua yang terjadi. Ia tersenyum bangga. Ini dia, Arjuna yang sesungguhnya. Arjuna yang kuat, yang tak akan menyerah pada keadaan.
Sejak hari itu, Arjuna benar-benar kembali ke medan perang. Ia menghabiskan sebagian besar waktunya di kantor, meskipun harus dilakukan dari kursi rodanya. Ia memimpin rapat, meninjau laporan, dan membuat keputusan penting. Ia memanggil para direktur satu per satu, mengaudit kinerja mereka, dan memberikan arahan yang jelas.
Bima dan Indra tidak punya pilihan selain tunduk. Mereka terpaksa kembali ke posisi semula, dengan pengawasan ketat dari Arjuna. Meskipun masih menyimpan dendam, mereka tidak berani melawan Arjuna yang kini kembali menunjukkan taringnya.
Proyek resort di Bali berhasil diselamatkan. Investor yang tadinya ragu, akhirnya kembali setelah Arjuna melakukan presentasi yang meyakinkan, menjelaskan visinya, dan menjamin stabilitas perusahaan. Ia membuktikan bahwa meskipun cacat fisik, otaknya masih berfungsi prima, bahkan lebih tajam dari sebelumnya.
Di tengah kesibukannya yang luar biasa, Arjuna tidak melupakan Mentari. Gadis itu masih setia menemaninya, membawa bekal makan siang, mengingatkan jadwal terapi, dan sesekali menyanyikan lagu-lagu aneh untuk menghilangkan stres Arjuna.
"Kamu hebat, Pak!" puji Mentari suatu sore, saat Arjuna baru saja menyelesaikan video conference yang panjang.
Arjuna tersenyum tipis. "Tidak seberapa. Ini semua berkat... motivasi darimu."
Mentari terkekeh. "Saya kan cuma memotivasi. Kamu yang kerja keras."
Mereka terdiam. Ada keheningan yang nyaman di antara mereka. Arjuna menyadari, kehadiran Mentari telah menjadi penopang yang tak terduga. Ia tidak tahu bagaimana caranya, tetapi Mentari berhasil menembus benteng pertahanannya, membuat ia kembali percaya pada dirinya sendiri.
Namun, Arjuna tahu, ini hanyalah permulaan. Perjalanan menuju pemulihan total masih panjang, baik secara fisik maupun mental. Ia masih harus menghadapi bayangan masa lalu yang menghantuinya, dan ia masih harus membuktikan kepada dirinya sendiri bahwa ia bisa berjalan kembali. Namun, setidaknya, sekarang ia tidak sendirian. Ia memiliki secercah harapan, yang bernama Mentari, seorang wanita "barbar" yang telah menjadi mentari sesungguhnya dalam hidupnya.
Anda Mungkin Juga Suka





