
Kekasih Dari Dunia Lain
Bab 3
Rangga membelai rambut Vania pelan, tatapannya tertuju kepada bintang-bintang di langit. Vania merasa nyaman, dirinya merasa sedang berada di suatu tempat yang penuh kebahagiaan. Entah kata apa yang harus ia ucapkan saking bahagianya.
“Vania, kamu janji, ya, sama aku ...?” pinta Rangga.
Dahi Vania mengkerut. “Janji apa?” tanya Vania.
Rangga mengalihkan pandangannya, dia menatap Vamia. “Kamu harus nurut sama aku,” sahut Rangga.
“Selama aku mampu,” balas Vania.
“Ok. Sekarang udah malem, mendingan kamu pulang deh! Nanti ayah sama kakak kamu nyariin,” saran Rangga.
Vania cemberut. “Nggak ah! Aku masih pengin disini,” tolaknya.
Rangga berusaha mencari perhatian Vania. “Di sini? Di sini banyak nyamuk lho. Liat tuh nyamuknya ada di pipi kamu,” kata Rangga.
Vania terkejut dan mengalihkan pandangannya. “Mana?” Vania meraba pipinya.
“Itu. Sini coba,” ucap Rangga. Vania mendekat.
“Merem, ya?” perintah Rangga.
Vania mengangguk. Dia pun memejamkan matanya. Rangga tersenyum menatap Vania. Apa yang akan dilakukannya terhadap Vania?
Cup!
Pipi Vania dicium Rangga. Vania yang terekjut segera membuka matanya. Pipinya merah merona, dia tersipu malu.
“Ish! Rangga, kamu ngapain sih?” Vania menjauhkan wajahnya dari Rangga.
Rangga malah tertawa. “Hahaha ... itu akibatnya kalau kamu nggak nurut sama aku. Pulang yok. Aku juga mau pulang,” ajaknya.
Vania membuang napas, lalu memanyunkan bibir. “Tapi aku masih mau di sini, sama kamu,” kata Vania.
“Kamu bandel, ya? Besok kan kita bisa ketemu lagi. Sekarang kamu harus pulang. Besok kan sekolah. Apa perlu aku gendong?” Rangga tersenyum menggoda.
“Ish! Jangan dong, aku bukan anak kecil. Ya udah, aku pulang dulu.” Vania bangkit dan berdiri. Rangga pum berdiri. Keduanya saling bertatapan.
“Aku akan selalu menunggumu, di sini, Sayang,” ucap Rangga. Kedua tangannya memegang pipi sang kekasih.
Vania tersenyum. “Iya, Sayang. Aku pulang,” ucapnya.
Rangga mengangguk. “Selamat malam, Sayang. Semoga mimpi indah,” ucapnya.
Vania membalikkan badan, berjalan beberapa langkah, lalu menoleh. Rangga tersenyum manis dan melambaikan tangan, memberi tanda perpisahan. Vania pun melambaikan sebelum pergi.
“Aku mencintaimu sejak pertama kali kita bertemu, Vania,” kata Rangga, setelah Vania menjauh.
...
Vania pulang ke rumah dengan perasaan was-was. Dadanya berdebar-debar karena takut dimarahi ayah juga kakaknya. Akan tetapi, firasatnya salah.
Rendra dan ayahnya tidak menaruh curiga apa pun terhadap Vania. Begitu Vania sampai di depan, kedua lelaki pelindung itu menyuruhnya segera masuk.
Vania masuk dan bergegas ke kamarnya, tak lupa menutup pintu. Dia menarik napas, lalu menuju meja belajar.
[Hari/tanggal : 04 Agustus 2016
Masih belum bisa kupercaya, lelaki setampan dan sebaik Rangga menyukai aku. Padahal, aku hanya seorang gadis sederhana, tidak secantik gadis-gadis diluaran sana.
Tapi aku sangat mencintainya. Tak mau lagi sampai kehilangan dia. Biarlah aku kehilangan Kevin, asalkan tidak kehilangan Rangga. Apapun yang terjadi, aku mau terus bersama Rangga.
I Love You, Rangga ...]
Vania menutup buku diarynya. Dia membuang napas, lalu tersenyum mengingat kejadian saat akan bunuh diri sampai dengan mengenal Rangga. Dia berjalan menuju ranjang, lalu merebahkan diri di atasnya.
Rasa kantuk menghampiri Vania. Dia menguap. Matanya menutup perlahan, sampai akhirnya dunia mimpi menyambutnya.
Di balik jendela kamar Vania, ada segumpal cahaya putih. Cahaya itu perlahan membentuk sebuah sosok. Rangga!
“Aku menemanimu sementara waktu karena suatu saat aku akan pergi. Kuharap, kamu tidak bersedih kalau nanti kamu kehilangan aku. Nanti akan ada pengganti yang lebih baik dari aku,” kata Rangga, menatap Vania yang sudah terlelap. Ia tersenyum, lalu menghilang.
...
Vania keluar dari kamar dengan memakai seragam sekolah. Gadis itu bersemangat menyambut hari-hari barunya. Tak lama kemudian, dia berpamitan kepada sang ayah.
“Nggak sarapan dulu?” tanya ayah Vania.
“Nggak, Yah. Nanti aja beli roti di kantin,” jawab Vania.
Dia bergegas keluar rumah. Rendra sudah menunggunya di luar dengan menumpangi motor beat.
Seperti biasa, Vania selalu diantar Rendra ke sekolah. Rendra sendiri bekerja sebagai tukang ojek, sementara ayahnya bekerja di perkebunan karet.
Kedua lelaki itu rela banting tulang bekerja meskipun hasilnya tak seberapa hanya karena agar Vania tidak putus sekolah. Mereka berharap, Vania menjadi kebanggaan mereka suatu saat nanti. Itulah mengapa Vania banyak dikekang.
“Kakak kerja dulu, ya? Jaga dirimu baik-baik,” kata Rendra, begitu Vania turun dari motor.
“Iya, Kak. Vania juga mau ke kelas." Vania menyalami kakaknya.
Vania berjalan menyusuri koridor sekolah. Langkahnya dipercepat saat melihat kerumunan siswa-siswi di depan kelasnya. Dia penasaran.
Saat didekati, ternyata teman-teman Vania sedang melihat nilai hasil ulangan. Vania pun mencari namanya di daftar nilai siswa kelas XII IPA 3, Vania Lutfiani, berada di nomor urut ke-29. Dia mendapat nilai 87, nilai tertinggi di antara teman-temannya yang lain.
Tak lama kemudian, Vania masuk dan tidak keluar kelas sampai bel masuk berbunyi.
...
“Selamat pagi Anak-anak,” sapa Bu Nurul begitu masuk ke kelas.
“Pagi, Bu,” balas murid-murid.
“Hari ini kita akan ulangan harian matematika,” kata Bu Nurul. “Siapkan dua lembar kertas!”
Para siswa pun sibuk menyobek dua lembar kertas. Semuanya tampak tegang, kecuali Vania. Sejak masuk ke kelas dia sudah menghapal. Bu Nurul membacakan soal ulangan.
Di luar, Rangga menatap Vania yang masih sibuk dengan soal-soal ulangan. Kebetulan, pintu kelas terbuka lebar. Senyum mengembang di bibirnya yang pucat.
“Kamu memang berbakat, Vania. Aku yakin, suatu saat nanti, kamu pasti bisa menjadi kebanggaan orang-orang terdekat denganmu. Semangat, Sayang,” lirih Rangga.
BERSAMBUNG
Anda Mungkin Juga Suka





