
Kehormatan Keluarga & Cinta Sejati
Bab 3
Aku menatap surat di tanganku, jemariku bergetar saat membaca setiap kata yang tertulis di atas kertas itu. Damien kembali. Setelah berminggu-minggu aku menunggu kabar darinya, setelah aku menghabiskan malam demi malam berharap dia akan datang dan membawaku pergi-sekarang dia ada di sini. Tapi kenapa rasanya berbeda?
Hatiku seharusnya melompat girang. Seharusnya aku berlari ke arahnya tanpa ragu. Namun, kenyataannya... aku hanya merasa kosong.
Pintu kamar terbuka perlahan. Aku menoleh dan melihat Aldric berdiri di ambang pintu, tatapannya tajam, tapi ada sesuatu yang sulit aku baca di matanya. Dia melangkah mendekat, mengambil surat itu dari tanganku tanpa izin, membacanya dengan ekspresi yang tidak berubah.
"Jadi, dia akhirnya kembali," katanya datar.
Aku menggigit bibir. "Aku tidak tahu harus bagaimana."
Aldric menutup surat itu dan menatapku, ekspresinya tetap tenang. "Kau masih mencintainya, bukan?"
Aku ingin menjawab, ingin mengatakan bahwa ya, Damien masih menguasai hatiku. Tapi ada sesuatu dalam cara Aldric menatapku-cara dia tidak menunjukkan amarah, hanya kepasrahan yang tak bisa dijelaskan-yang membuat kata-kata itu terasa sulit diucapkan.
"Aku tidak tahu..." suara itu keluar lebih pelan dari yang aku inginkan.
Aldric menghela napas, lalu mengulurkan surat itu kembali kepadaku. "Aku tidak akan menghentikanmu jika kau ingin pergi."
Aku mendongak menatapnya, terkejut. "Apa?"
Dia bersandar pada meja di dekatnya, menyilangkan lengannya. "Jika kau ingin kembali padanya, katakan saja. Aku tidak ingin menghabiskan waktu dengan seseorang yang hatinya berada di tempat lain."
Kata-katanya seharusnya membuatku lega. Seharusnya ini yang aku inginkan-kebebasan. Tapi mengapa rasanya ada sesuatu yang menusuk dadaku?
Aku menunduk, menggenggam surat itu erat-erat. "Aku butuh waktu."
Aldric mengangguk, lalu tanpa mengatakan apa-apa lagi, dia berbalik dan meninggalkan kamar.
Aku menghela napas panjang, merasa beban di dadaku semakin berat. Ini seharusnya mudah. Aku mencintai Damien. Aku menginginkan Damien. Tapi kenapa... kenapa ada bagian dari diriku yang mulai mempertanyakan segalanya?
Aku memutuskan untuk menemui Damien.
Ketika aku tiba di kafe tempat kami berjanji bertemu, aku melihatnya duduk di sudut ruangan, mengenakan kemeja hitam seperti yang biasa dia pakai. Wajahnya masih sama seperti yang kuingat-tampan, tenang, tapi dengan sorot mata yang lebih tajam dari sebelumnya.
Saat aku duduk di hadapannya, Damien tersenyum. "Aku pikir kau tidak akan datang."
"Aku... aku hanya ingin mendengar apa yang ingin kau katakan."
Dia menghela napas, menatapku dengan intensitas yang membuat dadaku sesak. "Aku menyesal, Alina. Aku seharusnya tidak pergi begitu saja. Aku seharusnya memperjuangkanmu lebih keras."
Aku menggigit bibir, menahan emosi yang meluap. "Kenapa kau baru kembali sekarang?"
Damien terdiam beberapa detik sebelum akhirnya berkata, "Ada hal-hal yang harus kuselesaikan. Aku tidak bisa meninggalkan semuanya begitu saja. Tapi sekarang, aku kembali. Dan aku ingin kau kembali padaku."
Aku menatapnya, hatiku dipenuhi dengan kebingungan. Ini adalah kata-kata yang selalu ingin kudengar. Tapi... kenapa rasanya ada sesuatu yang tidak benar?
"Aku sudah menikah, Damien," kataku lirih.
Wajahnya menegang. "Aku tahu. Tapi pernikahan itu bukan pilihanmu, kan? Itu bukan yang kau inginkan."
Aku menelan ludah, merasa terguncang. Dia benar. Tapi itu tidak mengubah kenyataan bahwa aku sudah menjadi istri Aldric.
"Alina," Damien meraih tanganku, menggenggamnya erat. "Kita bisa memperbaiki semuanya. Aku tahu kau masih mencintaiku. Aku tahu hatimu masih milikku."
Aku tidak menarik tanganku. Aku membiarkan dia menggenggamnya, membiarkan kehangatan yang dulu aku rindukan kembali mengalir melalui jemariku. Tapi saat aku menutup mata, yang muncul di benakku bukan hanya kenangan tentang Damien-melainkan tatapan Aldric saat dia mengatakan bahwa dia tidak akan menghentikanku jika aku ingin pergi.
Dan saat itu, aku sadar... sesuatu dalam diriku telah berubah.
Aku tidak tahu apakah aku masih ingin kembali pada Damien.
Dan yang lebih menakutkan lagi, aku tidak tahu apakah aku bisa meninggalkan Aldric.
Anda Mungkin Juga Suka





