Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Kehidupan Edo yang Menakjubkan

Kehidupan Edo yang Menakjubkan

Novel modern Kehidupan Edo yang Menakjubkan menyoroti perjuangan emosional dalam sebuah keluarga. Kakak ipar sang protagonis sangat mendambakan kehadiran seorang anak dalam hidupnya, namun impian tersebut tak kunjung terwujud karena ia kesulitan untuk hamil. Didorong oleh rasa kepedulian yang mendalam, sang protagonis merasa terpanggil dan sangat ingin membantu mengatasi kesulitan yang dihadapi kakak iparnya tersebut. Kisah romansa ini berfokus pada dinamika hubungan dan keputusan besar demi mewujudkan harapan baru.
Bab
Bagikan

Bab 4

Celana dalam ini lembut dan halus dan sepertinya masih ada sisa aroma Kak Nia di dalamnya.

Merasakan pakaian dalam di tanganku, mau tak mau aku memikirkan tentang apa yang kudengar di pagi hari.

Hal ini membuat aku semakin antusias dan bersemangat.

Aku tidak bisa benar-benar terjadi apa-apa dengan Kak Nia, tapi aku bisa saja berfantasi dengan barangnya 'kan?

Berpikir seperti ini, aku melepaskan ikat pinggangku dan memasukkan celana dalamku ke dalamnya.

Tepat ketika aku hendak menggunakan kelima jariku untuk melampiaskan hasratku, tiba-tiba ada ketukan di pintu.

Aku ketakutan sampai rohku hampir melayang dan aku hampir muncrat.

Di rumah hanya ada dua orang, Kak Nia dan aku.

Aku segera mengeluarkan celana dalam itu dan menaruhnya di rak handuk.

Lalu berkata dengan perasaan bersalah, "Kak Nia, ada apa?"

"Edo, apa kamu berbuat jahat di dalam sana?" tanya Kak Nia.

"Hah? Aku, aku nggak." Aku merasa sangat bersalah.

"Lalu kenapa suaramu bergetar?"

Kak Nia membuatku takut hanya dengan satu kalimat.

Aku merasa berkeringat dingin.

Biarpun Kak Nia berpikiran terbuka, dia dengan jelas mengatakan kepadaku bahwa aku tidak boleh mengincar dia.

Kalau dia mengetahui apa yang aku lakukan dengan celana dalamnya tadi, dia pasti akan beranggapan aku tidak patuh dan akan mengusir aku.

Tapi, aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya, jadi aku hanya bisa berkata tanpa daya, "Benaran nggak, aku hanya sakit perut dan berkeringat ...."

"Kenapa berkeringat? Apa kamu sakit?" Suara Kak Nia menjadi khawatir.

Aku berkata, "Aku nggak tahu, aku hanya merasa nggak nyaman."

"Buka pintunya, biar kulihat."

"Ini, ini nggak pantas."

"Apa yang nggak pantas? Kamu hanya anak kecil bagiku. Cepat buka pintunya."

Aku merasa kecewa. Ternyata aku hanya anak kecil di mata Kak Nia. Pantas saja Kak Nia berpikiran terbuka di hadapanku.

Mungkin dia tidak pernah berpikir untuk memintaku melakukan hal semacam itu.

Aku membungkuk dan membuka pintu kamar mandi. Saat Kak Nia masuk, dia tidak langsung menatapku, melainkan melihat ke rak handuk.

Aku panik, apakah Kak Nia menemukan sesuatu?

Aku merasa sangat bersalah hingga tidak berani menatap mata Kak Nia.

Sedangkan Kak Nia berjalan menuju rak handuk dan bertanya padaku sambil tersenyum, "Apakah kamu menyentuh celana dalamku?"

"Nggak, nggak ada." Aku terus menggelengkan kepalaku.

"Benaran nggak? Lalu kenapa wajahmu memerah? Katakan sejujurnya, apakah kamu tadi berencana melakukan sesuatu yang buruk dengan celana dalamku? Tapi, aku menyela kamu, kamu merasa bersalah dan takut, jadi nggak berani membiarkan aku masuk?"

Aku sangat meragukan kalau Kak Nia itu waskita. Kenapa dia tahu semua yang aku lakukan dan pikirkan?

Kak Nia menatapku dari atas ke bawah, saat melihat aku membungkuk dan tak berani berdiri tegak, kecurigaan di matanya semakin kentara.

"Berdiri tegak." Kak Nia menatapku dan berkata.

Aku tidak berani membangkang Kak Nia.

Ketika aku berdiri tegak, bagian di bawah tubuhku yang memalukan langsung terlihat.

Aku tahu, aku ketahuan oleh Kak Nia.

Aku memejamkan mata, tidak berani menghadapi Kak Nia.

Lalu, aku merasakan Kak Nia perlahan berjongkok di depanku.

Jantungku hampir copot.

Terutama karena aku tidak tahu apa yang ingin Kak Nia lakukan?

Apalagi posisi Kak Nia yang berjongkok saat ini terlalu ambigu sehingga membuatku berpikir lebih jauh.

Aku diam-diam membuka mataku.

Aku melihat Kak Nia memandangi tempatku dengan tergila-gila dan dengan tulus menghela napas, "Alangkah baiknya kalau kakakmu bisa sekuat kamu!"

Saat dia berbicara, ada hasrat tiada tara di matanya.

Pikiranku kosong saat ini dan hatiku merasa tidak tenang. Aku sama sekali tidak tahu harus berkata apa.

Kak Nia memandanginya sebentar, lalu bangkit kembali.

Aku pun menutupinya dengan tanganku.

"Simpan keinginanmu, agar kamu punya motivasi untuk menghadapi Lina."

Ucap Kak Nia tiba-tiba menghampiriku, "Sebenarnya aku sengaja merangsangmu. Kak Nia tahu itu salah, tapi demi kakakmu, Kak Nia terpaksa melakukan ini."

"Kamu terlalu pemalu, Kak Nia terpaksa mencari cara untuk membuka pikiranmu dulu."

"Singkirkan tanganmu, Kak Nia adalah orang yang berpengalaman. Apa yang belum pernah Kak Nia lihat?"

Aku berpikir dalam hati bahwa cara kamu membuka pikiranku begitu istimewa, rasanya bisa membunuhku seketika itu juga.

"Keluarlah, aku akan menelepon Lina, kita pergi jalan-jalan, aku akan membantu mendekatkan kalian."

"Mari kita lihat apakah dia akan mengizinkanmu pergi ke rumahnya pada siang hari ini, biar kita bisa menyelesaikan masalah ini secepat mungkin. Perusahaan kakakmu juga bisa pulih secepatnya."

Setelah Kak Nia selesai berbicara, dia memutar pinggangnya dan pergi.

Aku mengikutinya dengan patuh keluar dari kamar mandi, telapak tanganku sudah berkeringat.

Kutahan.

Digoda Kak Nia berulang kali, tapi belum bisa melampiaskannya, hasratku hampir meledak.

Tapi, demi kakakku, aku hanya bisa menahannya untuk saat ini.

Kak Nia duduk di sofa dan menghubungi nomor telepon Lina, ".... Nggak mau keluar? Kenapa? Nggak bisa, aku mau kamu menemaniku. Kalau kamu nggak pergi, aku akan meminta adikku untuk menggendongmu turun."

"Hah? Apa aku keterlaluan? Aku memang keterlaluan. Apa yang bisa kamu lakukan padaku?"

"Kalau begitu beres, kutunggu di pintu lima menit lagi."

Kak Nia menutup panggilan teleponnya, lalu tersenyum dan berkata padaku, "Beres. Kamu ganti baju, nanti kamu bawa mobil."

"Ingat, lihatlah lebih jauh, akan ada kejutan menunggumu."

Aku berkata "Oh" dan pergi berganti pakaian.

Aku sangat menantikannya dan penasaran dengan kejutan yang Kak Nia bicarakan?

Segera, aku mengganti pakaianku.

Aku dan Kak Nia menunggu di depan pintu sebentar, lalu Lina pun datang.

Lina berganti gaun merah, yang membuat kulitnya terlihat lebih cerah.

Apalagi gaun ini memiliki leher V yang memperlihatkan bagian dada Lina.

Aku langsung tercengang.

Di luar dugaan, bodi Lina ternyata lebih bagus dari yang aku bayangkan.

Mata Lina sepertinya sengaja menghindariku, dia tidak mau menatap langsung ke arahku.

Dia merangkul lengan Kak Nia dan berjalan lewat di depanku.

Aku sangat bingung dan agak sedih.

Saat aku memijatnya tadi, dia jelas-jelas berkesan baik terhadapku. Kenapa dia begitu dingin sekarang? Bahkan tidak menatapku.

Apa aku bertindak keterlaluan? Membuatnya tidak senang?

Kami turun dari lantai atas.

Sepanjang proses, Lina berbincang dan tertawa dengan Kak Nia, tapi aku seperti udara.

Awalnya aku sangat tertekan, tapi setelah masuk ke dalam mobil, tiba-tiba aku teringat perkataan Kak Nia yang memintaku untuk memperhatikan bagian belakang setelah masuk ke dalam mobil, ada kejutan yang menungguku.

Aku penasaran apa kejutannya?

Jadi aku terus melihat ke kaca spion.

Kak Nia dan Lina sedang mengobrol dan tertawa, aku tidak melihat ada kejutan apa pun.

"Kak Nia, kita mau ke mana?" Aku menanyakan arah dan sengaja menoleh ke belakang, tapi tetap tidak menemukan kejutan apa pun.

Tapi, mataku dan mata Lina secara tidak sengaja bertatapan. Wajah Lina tiba-tiba memerah, lalu dia membuang muka dengan salah tingkah.

Aku menangkap tatapan bingung, gelisah dan canggungnya.

Jantungku pun "berdebar" satu kali.

Aku curiga Lina tidak marah, tapi ragu-ragu dan bingung apakah dia harus bersikap ambigu padaku, jadi dia terus mengabaikanku.

Aku sangat senang.

Karena ini menunjukkan bahwa dia tertarik padaku.

"Ke Wanda Plaza," ujar Kak Nia.

Aku mengiyakan, lalu menggunakan ponsel untuk mencari rute, menyalakan mobil dan menuju ke Wanda Plaza.

Sepanjang perjalanan aku masih sesekali melihat ke kaca spion.

Aku hanya ingin tahu kejutan apa yang Kak Nia bicarakan.

Saat mobil sampai di jalan yang padat, mobil melaju sangat lambat. Aku melihat ke kaca spion lagi.

Ini pemandangan yang luar biasa, kebetulan aku melihat Lina melepas celana dalamnya.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel CANDU CINTA CEO AROGAN
9.7
Erlan Levin adalah CEO sukses di Jakarta yang terus menghindar dari desakan menikah keluarganya. Namun, hidupnya berubah total saat ia tertangkap basah berada di satu kamar dengan gadis asing. Terjepit situasi memalukan ini, ia terpaksa menikahi wanita yang sangat disukai keluarganya itu. Kini, sang istri harus berjuang memenangkan hati Erlan yang dingin. Akankah cinta tumbuh di antara mereka, atau ia hanya akan menjadi sosok yang terabaikan?
Sampul Novel Cinta Terhalang Restu Abi
8.2
Aisyah Putri Rasyid terkejut saat Malik Putra Narendra, mantan kekasih masa SMA, muncul kembali setelah tujuh tahun berpisah. Dulu, Aisyah terpaksa memutuskan Malik tepat di hari kelulusan demi mematuhi perintah ayahnya. Ia bahkan mengembalikan tasbih pemberian Malik sebagai tanda berakhirnya hubungan mereka. Kini, tasbih itu mendadak muncul di depan pintu rumahnya, membangkitkan kenangan manis masa lalu. Akankah cinta lama mereka bersemi kembali?
Sampul Novel Di Balik Topeng Bodyguard
9.1
Alice hamil anak Leo, bodyguard yang dianggap rendah oleh ayahnya. Meski ditentang, mereka menikah hingga Alice menyadari sifat asli Leo yang keji. Di tengah penderitaan, Alice mencurigai ibu tirinya, Deborah, sebagai pembunuh ibunya. Dibantu bodyguard lain bernama Deny, Alice berjuang mengungkap kebenaran kelam ini. Di balik misi tersebut, identitas asli Deny dan rahasia cinta masa lalu mulai terkuak. Akankah Alice berhasil membongkar topeng mereka?
Sampul Novel Kalau Cinta, Pasti Sayang
8.3
Lima tahun pernikahan tanpa cinta membuat sang istri menderita karena diabaikan suaminya. Begitu sang istri meninggal, sang suami justru segera menemui cinta pertamanya. Ketika istrinya menghilang, dia hanya mencemooh dan menganggapnya sebagai taktik mencari perhatian. Demi membuktikan kebohongan tersebut, ia berniat memastikan kabar kematian istrinya secara langsung. Namun, dia sama sekali tidak menyadari bahwa wanita yang diabaikannya itu memang telah tiada sejak beberapa hari yang lalu.
Sampul Novel Kasih Tak Sampai
8.2
Selama sepuluh tahun, Zed menginginkan kematian seluruh keluarga mantan kekasihnya. Dendam ini membara karena kakak sang protagonis terbukti menyiksa dan membunuh saudara perempuan Zed. Akibat masa lalu kelam itu, sang kakak kini kehilangan akal sehat di rumah sakit jiwa, sementara sang protagonis terjebak menderita di sisi Zed hingga mengalami keguguran, depresi, dan tumor. Ketika sumpah kematian itu akhirnya terwujud, sebuah gundukan makam baru yang misterius justru muncul tepat di sebelah batu nisannya.
Sampul Novel Modal Dusta
9.4
Kecewa atas sikap suami yang kasar dan abai dalam menafkahi, seorang wanita terjebak dalam kehampaan. Di tengah luka itu, ia tak sengaja mengenal sosok pria tampan melalui temannya. Komunikasi yang awalnya biasa berubah menjadi pelarian emosional saat pria itu dengan tulus mendengarkan keluh kesahnya. Getaran cinta mulai muncul lewat pesan singkat yang intens. Kini, ia terjebak dalam romansa terlarang dengan pria yang jauh lebih muda. Akankah hubungan penuh dusta ini bertahan?