
Kehancuran Yang Direncanakan
Bab 2
Nayla-atau Dinda, seperti yang kini ia sebut dirinya-mencoba mengumpulkan kesadarannya. Matanya masih berat, pikirannya berantakan, tetapi satu hal yang pasti: ia tidak boleh kehilangan kewaspadaan.
Pria di depannya tidak mengatakan apa pun selama beberapa saat. Ia hanya menatapnya dengan sorot tajam, seolah sedang menilai apakah ia pantas dipercaya.
"Aku menemukanku pingsan di jalan." Suara pria itu dalam dan berat, tanpa emosi. "Apa yang terjadi?"
Nayla menelan ludah, otaknya berputar cepat mencari alasan. "Aku... hanya kelelahan. Aku tidak punya tempat tinggal."
Pria itu menyandarkan punggungnya pada kursi, ekspresinya tetap tak terbaca. "Lalu kenapa kau berbohong tentang namamu?"
Jantung Nayla berdegup kencang. Apakah ia sudah ketahuan? Namun, ia menegakkan tubuhnya dan mencoba bertahan. "Aku tidak bohong. Namaku Dinda."
"Dinda apa?"
Mulutnya sedikit terbuka, tapi ia tidak punya jawaban. Ia tidak memikirkan nama belakang.
Pria itu tersenyum tipis, tapi bukan senyuman hangat-lebih seperti ekspresi seseorang yang baru saja menemukan sesuatu yang menarik.
"Kau sangat buruk dalam berbohong."
Nayla mengepalkan jemarinya di atas selimut. Jika pria ini berniat mencurigainya, ia harus pergi. Tetapi tubuhnya masih lemah, dan yang lebih penting, ia tidak punya tujuan.
"Kau mau membunuhku?" Nayla akhirnya bertanya.
Pria itu menaikkan alis, seolah tersinggung. "Jika aku ingin membunuhmu, kau tidak akan bangun di tempat tidur ini."
Nayla menggigit bibirnya. Ia tidak tahu apakah harus merasa lega atau justru semakin khawatir.
"Aku Nathan," pria itu akhirnya memperkenalkan diri. "Dan kau ada di rumahku."
Rumah. Itu berarti mereka tidak di rumah sakit. Tapi kenapa pria ini membawanya ke sini?
"Kenapa kau menolongku?" tanyanya curiga.
Nathan mengangkat bahu. "Mungkin aku sedang ingin berbuat baik."
Nayla tidak mempercayainya. Orang seperti Nathan-dengan cara berbicara yang dingin dan ekspresi yang sulit dibaca-tidak mungkin seseorang yang menolong tanpa alasan.
Tetapi untuk saat ini, ia tidak punya pilihan selain tetap di sini.
Beberapa hari berlalu, dan Nayla tetap tinggal di rumah Nathan. Ia tidak bertanya banyak, dan pria itu pun tidak memaksanya untuk bicara. Namun, setiap kali ia menatap pria itu, ia tahu bahwa Nathan menyimpan sesuatu.
Dia bukan orang biasa. Rumah ini terlalu besar dan mewah, pria itu tidak terlihat seperti seseorang yang bekerja kantoran, dan yang lebih mencurigakan, setiap malam ia sering menerima panggilan telepon dengan suara rendah.
Pada malam ketiga, rasa penasaran Nayla mencapai puncaknya. Ia tidak bisa tidur dan berjalan ke luar kamar, berniat mencari air minum. Namun, saat ia melewati ruang kerja Nathan, ia mendengar sesuatu yang membuat tubuhnya menegang.
"Selesaikan pekerjaannya. Aku tidak mau ada saksi yang tersisa."
Jantung Nayla mencelos. Ia menahan napas, tubuhnya membeku di tempat.
Saksi? Pekerjaan?
Apakah Nathan... seorang pembunuh?
Ia mundur perlahan, tetapi tepat saat itu, pintu terbuka.
Nathan berdiri di ambang pintu, matanya yang tajam langsung menatap lurus ke arahnya.
Nayla terjebak.
Dan di saat itu, ia tahu bahwa ia telah masuk ke dalam dunia yang jauh lebih berbahaya daripada yang pernah ia bayangkan.
Anda Mungkin Juga Suka





