
Kehancuran Reputasi Raelynn Harper
Bab 2
Raelynn melangkah keluar dari ruang kerja Tristan Blackwood dengan tubuh yang terasa seperti terkunci dalam jebakan, dengan kaki yang begitu berat, seakan-akan tanah di bawahnya sedang menahan setiap gerakan. Pikiran-pikirannya berputar tak menentu, tidak bisa melarikan diri dari kenyataan baru yang tiba-tiba terbentuk begitu cepat-Tristan Blackwood, pria yang tak pernah ia bayangkan akan ada dalam hidupnya, kini menjadi bagian dari jalan yang harus ia tempuh.
Langkahnya terhenti ketika dia berada di luar pintu kantor yang besar itu, di ruang lobi yang megah dan penuh dengan kemewahan. Tiba-tiba, suara ketukan lembut di belakangnya membuatnya menoleh dengan cepat.
"Aku tidak ingat memberi izin untuk pergi begitu saja."
Suara Tristan mengalun dengan dingin, tetapi ada ketegasan yang membuat setiap kata terasa menembus. Raelynn menatapnya, tak bisa menyembunyikan kekesalan yang meluap dalam dirinya. "Aku tidak perlu izin darimu untuk pergi," jawabnya, berusaha menjaga keteguhan hati. Namun, hatinya berdebar dengan cara yang tak ia inginkan. Mengapa dia merasa seperti terperangkap dalam jaring yang semakin sempit?
Tristan mendekat, langkahnya tenang namun penuh dengan tekanan yang bisa dirasakan hingga ke dasar hati. "Kamu sudah membuat keputusan besar, Raelynn. Menikah denganku bukanlah hal yang bisa kamu anggap enteng begitu saja."
Raelynn berusaha tetap tegak, meskipun dalam hatinya ada keraguan yang tumbuh semakin besar. Dia sudah memutuskan untuk melakukan ini-untuk membuat Kyle Blackwood, adik Tristan, membayar segala pengkhianatannya. Namun, Tristan, dengan segala pesona dan ketenangannya yang menakutkan, membuatnya merasa seperti tak lebih dari sekadar pion dalam permainan ini. Dia tidak tahu apakah keputusan yang ia ambil adalah keputusan yang benar atau justru langkah menuju kehancuran.
"Aku tidak pernah menganggap ini enteng," jawab Raelynn, mencoba untuk menjaga jarak dalam suaranya. "Tapi ini adalah satu-satunya cara agar aku bisa mendapatkan apa yang aku inginkan."
Tristan tersenyum tipis, senyum yang tidak membawa kenyamanan sedikit pun. "Apa yang kamu inginkan, Raelynn?" tanyanya dengan nada yang penuh teka-teki. "Apakah kamu ingin melihat Kyle menderita? Ataukah kamu ingin lebih dari itu?"
Raelynn merasa terperangkap. Tidak, dia tidak hanya ingin melihat Kyle menderita. Itu bukan tujuan utamanya. Dia ingin menghancurkan harga dirinya, ingin mengajarkan pria itu pelajaran yang tidak akan dia lupakan. Tetapi sekarang, berdiri di depan Tristan, dia merasakan perasaan yang lebih besar daripada sekadar dendam-sebuah perasaan yang sulit dijelaskan, sesuatu yang menggoda namun menakutkan.
"Tidak ada yang lebih dari itu," jawab Raelynn dengan tegas, meskipun suaranya sedikit bergetar. "Aku hanya ingin keadilan."
Tristan mendekat lebih dekat, dan kali ini, dia berhenti hanya beberapa inci dari Raelynn. Suara napasnya terdengar berat, terengah-engah. "Keadilan, hmm?" kata Tristan, hampir seperti menyuarakan sebuah tantangan. "Lalu, apa yang akan kamu lakukan dengan keadilan itu, Raelynn? Apa yang kamu harapkan setelah itu? Apakah kamu benar-benar berpikir ini akan membebaskanmu?"
Raelynn menelan ludah. Pertanyaan itu menggoyahkan dirinya lebih dari yang dia akui. Apa yang dia harapkan setelah semua ini? Apakah dia akan merasa puas dengan balas dendamnya? Apakah harga dirinya akan pulih begitu saja setelah semua yang telah terjadi?
Dia teringat saat pertama kali Kyle berjanji untuk menikahinya, dengan kata-kata manis yang memeluk hatinya, meyakinkan bahwa semua impian mereka akan menjadi kenyataan. Namun itu semua hanyalah kebohongan. Saat Kyle menghilang, Raelynn merasa seperti dunia runtuh di atasnya. Dia dibiarkan dalam kehancuran yang tak terukur. Dan sekarang, setelah semua yang dia hadapi, dia ingin memastikan bahwa pengkhianatan itu akan dibayar-bahkan jika itu berarti menikahi pria yang lebih tampan, lebih kaya, dan lebih berkuasa daripada yang bisa dia bayangkan.
"Aku tidak tahu," Raelynn akhirnya mengaku, suara itu hampir tak terdengar. "Aku hanya tahu ini adalah cara untuk memperbaiki segalanya."
Tiba-tiba, Tristan tertawa, tetapi bukan tawa yang terdengar ringan. Itu adalah tawa yang mengandung rasa penuh perhitungan, seperti dia sedang membaca pikiran Raelynn lebih dalam dari yang dia kira. "Kamu tahu, Raelynn... kamu bisa saja tidak menikah denganku dan hanya terus berjuang untuk balas dendam itu. Tapi kamu memilih cara yang lebih sulit." Tristan melangkah mundur, menatapnya dengan penuh arti. "Apakah kamu benar-benar siap untuk itu? Menjadi bagian dari dunia ini? Dunia yang mungkin akan menghancurkanmu lebih jauh daripada yang bisa kamu bayangkan?"
Raelynn menatapnya, berusaha untuk tidak menunjukkan kelemahannya. "Aku sudah siap."
Namun, di dalam dirinya, keraguan itu tetap menghantui. Tidak ada yang mudah dalam permainan ini. Menikahi Tristan berarti terikat pada dunia yang tidak dia mengerti sepenuhnya. Dunia yang penuh dengan manipulasi, kekuasaan, dan kebohongan yang bisa menghancurkan siapa pun yang terlibat. Namun, Raelynn tahu satu hal dengan pasti-dia sudah terjebak dalam permainan ini. Dan dia tidak bisa mundur lagi.
Beberapa hari berlalu setelah percakapan itu, dan Raelynn merasa dirinya semakin terperangkap dalam dunia yang bukan miliknya. Ia duduk di ruang tamu apartemennya, memandangi jari-jarinya yang kini mengenakan cincin pernikahan yang didapatkan dengan cara yang tidak pernah ia bayangkan. Cincin itu bukan simbol cinta, tetapi lebih kepada simbol dari permainan yang baru saja dimulai-permainan yang tidak akan pernah bisa ia menangkan tanpa mengorbankan sesuatu yang lebih besar dari yang ia kira.
Saat Tristan datang ke apartemennya pada malam itu, wajahnya tetap tenang dan tak terbaca. Raelynn tahu bahwa ia tidak hanya datang untuk berbicara. Ada sesuatu yang lebih besar yang sedang mengancam mereka berdua.
"Kita akan menikah besok," kata Tristan, memecah keheningan yang mendalam antara mereka.
Raelynn menatapnya, perasaan terperangkap dan tertekan semakin menghimpitnya. "Kamu pikir ini akan menyelesaikan masalah?" tanyanya, dengan suara yang hampir terdengar putus asa.
Tristan mengangkat alis, seolah tidak terkejut dengan pertanyaan itu. "Tidak," jawabnya singkat. "Tapi ini akan membuat kita lebih kuat dalam permainan ini. Dan siapa tahu, mungkin kita berdua akan mendapatkan lebih dari yang kita harapkan."
Raelynn merasakan perasaan aneh menyelimuti dadanya. Dendam yang ia bawa dalam hatinya mulai bergeser menjadi sesuatu yang lebih rumit, lebih berbahaya. Tristan Blackwood adalah pria yang tidak bisa diramalkan, namun satu hal yang pasti-apapun yang terjadi setelah pernikahan ini, hidupnya tidak akan pernah sama lagi.
Dan saat malam itu berlalu, Raelynn tahu bahwa dia akan menyusuri jalan yang penuh dengan jebakan, dengan Tristan Blackwood sebagai suaminya, dan dengan satu tujuan-mendapatkan balas dendam, meskipun dengan harga yang lebih tinggi dari yang dia bayangkan.
Anda Mungkin Juga Suka





