Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Kehadiran Orang Ketiga

Kehadiran Orang Ketiga

Keharmonisan rumah tangga Fahmi dan Hanum bersama kedua anak mereka, Arya dan Adiva, hancur seketika saat Hani hadir. Kakak kandung Hanum tersebut justru menjadi selingkuhan Fahmi. Saat Arya memergoki mereka, Fahmi malah mengancamnya agar bungkam. Hanum yang mencoba mengungkap kebenaran justru disalahkan oleh ibu mertuanya. Di tengah pengkhianatan lama yang terkuak, Hanum harus tetap tegar demi anak-anaknya. Akankah pernikahan ini bertahan atau berakhir cerai?
Bab
Bagikan

Bab 2

"Bu, aku izin mau menikah lagi. Jangan khawatir, nanti aku pasti akan bersikap adil," kata Mas Fahmi, membuatku bagai disambar petir.

"Apa salahku, Mas, sampai kamu mau menikah lagi?" sahutku dengan menangis tersedu-sedu.

"Kamu nggak salah kok. Aku yang salah, tidak bisa menahan nafsu…."

Aku menangis dengan keras, duniaku terasa runtuh.

"Bu…Ibu.…" Kudengar suara memanggilku.

Aku langsung membuka mataku, ternyata hanya mimpi. Aku langsung menangis.

"Alhamdulillah, Ibu sudah sadar. Tadi Ibu pingsan," kata Mas Fahmi.

Aku mencoba mengingat-ingat apa yang sedang terjadi. Oh, iya tadi aku bangun dari tempat tidur, tahu-tahu langsung gelap. Aku pun menangis lagi.

"Kenapa menangis? Ada apa?" tanya Mas Fahmi, seperti khawatir denganku.

"Aku mimpi, Mas mau menikah lagi." Aku berkata dengan sesenggukan. Sempat kulihat wajah Mas Fahmi tampak kaget dan pucat.

"Ah, itu kan hanya mimpi," ucap Mas Fahmi untuk menghilangkan keterkejutannya.

"Ayah, ini tehnya," kata Adiva anak keduaku sambil membawa teh.

"Ibu sudah sadar? Alhamdulillah," kata Adiva lagi. Ia menyerahkan teh pada Mas Fahmi dan kemudian memelukku.

"Ibu kenapa? Ibu sakit ya? Mana yang sakit, Bu?" cecar Adiva.

"Ibu hanya pusing kok," sahutku. Aku terharu dengan perhatian anak perempuanku ini.

"Ini tehnya diminum, Bu. Biar perutnya hangat," kata Mas Fahmi sambil menyendokkan teh padaku.

Aku meminum teh yang disodorkan Mas Fahmi.

"Diva, tolong buatkan roti bakar untuk sarapan kalian ya?" pintaku pada Adiva.

"Iya, Bu," sahut Adiva sambil berjalan keluar dari kamar.

Aku segera bangkit dari tempat tidur.

"Ibu mau kemana? Tiduran saja," kata Mas Fahmi.

"Mau mandi dan siap-siap berangkat kerja," sahutku.

"Nggak usah kerja dulu. Istirahat di rumah saja."

"Di rumah sendirian nggak enak."

Aku berjalan perlahan, tiba-tiba seperti gempa bumi. Aku langsung memegang pundak Mas Fahmi yang masih duduk di tempat tidur.

"Kenapa, Bu?" tanya Mas Fahmi.

"Rasanya muter-muter."

"Sudah dibilang tidur saja, nggak usah kemana-mana. Libur saja dulu."

"Tapi Mas temenin aku di rumah ya?" kataku pada Mas Fahmi.

Ia tampak ragu-ragu. Aku baru ingat, hari ini ia ada janji dengan seseorang di telepon tadi malam. Aku harus menggagalkan rencana mereka.

"Kalau Mas nggak mau nemenin, ya aku kerja saja. Kalau di tempat kerja, aku pingsan ada yang menolong. Kalau di rumah sendirian, mati pun nggak ada yang tahu."

Aku kesal dengan Mas Fahmi. Segera aku berjalan walaupun sempoyongan.

Brukk.

"Aduh," teriakku. Karena terlalu pusing, dan dunia terasa berputar, akhirnya aku menabrak pintu.

"Makanya hati-hati kalau berjalan." Mas Fahmi malah menyalahkanku.

"Aku sudah hati-hati. Tapi kepalaku terasa pusing dan semua terlihat berputar. Jadi nggak kelihatan kalau ada pintu." Aku berteriak kesal.

Aku memaksa berjalan lagi dengan merambat, memegang apa yang terlihat. Aku sangat kesal dengan Mas Fahmi, sepertinya ia tidak mempedulikanku. Alhasil aku terjatuh, keningku terbentur meja makan.

"Ibu, Ibu kenapa?" tanya Arya yang baru keluar dari kamar mandi.

Mas Fahmi langsung muncul di depanku.

"Ibu memang ngeyel." Mas Fahmi berkata dengan kesal.

"Arya ambil betadin dulu ya Bu. Kening Ibu berdarah," kata Arya. Arya berjalan mencari kotak P3K, kemudian muncul dihadapanku lagi dengan betadin di tangannya. Ia mengoleskan betadin itu ke keningku. Aku merasa terharu.

"Terima kasih ya, Nak?" ucapku.

"Sama-sama, Bu."

"Arya, kamu nggak usah sekolah ya? Temani ibu di rumah. Ayahmu sibuk banyak urusan, nggak bisa menemani Ibu. Kalau Ibu sendirian di rumah dengan kondisi seperti ini, kalau terjadi apa-apa, gimana." Aku memancing reaksi Mas Fahmi.

"Iya, Bu. Arya nggak sekolah nggak apa-apa. Tapi Ibu yang meminta izin sama wali kelas Arya ya, Bu," sahut Arya.

Ini kesempatanku untuk menyelidiki apa yang terjadi antara Arya dan ayahnya. Aku akan menggunakan segala taktik, biar Arya mau buka suara.

"Arya sekolah saja, biar Ayah yang menemani Ibu di rumah. Hari ini Ayah izin dari kantor dulu," kata Mas Fahmi.

Ternyata pancinganku mengena. Pasti Mas Fahmi takut rahasianya terbongkar kalau seharian aku dan Arya ada di rumah. Aku tersenyum penuh kemenangan. Berarti aku bisa menggagalkan pertemuannya dengan seseorang.

***

Arya dan Adiva sudah berangkat ke sekolah. Aku segera mandi, tapi pintu kamar mandi tidak ditutup rapat. Kata Mas Fahmi, takut kalau nanti tiba-tiba aku pingsan di kamar mandi.

"Mas, nanti jam sembilan anterin aku ke rumah sakit, ya? Mau periksa ke dokter. Tadi sudah janjian dengan Opik," pintaku pada Mas Fahmi.

Aku sedang sarapan roti panggang yang dibuat Adiva tadi. Mas Fahmi ada di depan televisi sambil memegang hpnya. Pasti ia tidak mendengar pintaku tadi, karena sangat asyik dengan gawainya. Mungkin sedang membatalkan janji dengan seseorang.

"Mas, dengar nggak?" kataku dengan setengah berteriak.

Mas Fahmi kaget.

"Iya, Sayang eh Bu?" jawab Mas Fahmi dengan spontan.

Sayang? Tumben memanggilku sayang. Jangan-jangan karena sedang berbalas pesan dengan seseorang dan memanggilnya sayang. Kemudian nggak sengaja nyeletuk sayang juga padaku.

"Lagi ngapain sih. Asyik sekali dengan hp. Istri ngomong dicuekin," ucapku dengan kesal.

"Maaf, Bu. Sedang meminta izin tidak masuk kerja. Ibu tadi ngomong apa?" tanya Mas Fahmi.

"Jam sembilan anterin aku ke rumah sakit. Tadi sudah janjian dengan Opik."

Opik adalah dokter di sebuah rumah sakit, dan ia adalah teman baikku. Namanya Olivia Putri, panggilannya Opik.

"Iya." Jawaban yang singkat, padat dan jelas. Aku tahu kalau ia kesal, karena aku paksa ia tidak masuk kerja untuk menemaniku.

***

Sampai dirumah sakit, aku segera menuju keruangan Opik. Aku biasa seperti ini, tanpa ke pendaftaran dulu. Karena semua sudah diurus asistennya Opik.

"Assalamualaikum, Opik cantik," aku mengucapkan salam.

"Waalaikumsalam, Hanum. Kamu pucat sekali. Dengan siapa kamu kesini?" tanya Opik menyambutku.

"Sama Mas Fahmi," ucapku dengan nada yang kesal.

"Hei, ada apa?" tanya Opik dengan heran.

"Kenapa?" tanyaku.

"Kamu ini ditanya malah bertanya. Kamu lagi ada masalah ya?" selidik Opik.

"Ada sesuatu yang mengganjal hati dan pikiranku. Tapi masih sebatas kecurigaan saja."

"Orang ketiga?"

Aku mengangguk. Opik memang teman baikku, kalau aku ada masalah, pasti ia bisa merasakannya. Begitu juga sebaliknya.

"Sabar ya. Jangan bertindak gegabah. Kapan pun kamu siap berbicara, aku selalu siap mendengarkan."

"Terima kasih," ucapku.

"Hei, kok malah menangis. Jangan gitu lah. Nanti aku ikutan sedih."

Aku mengusap air mataku. Kemudian Opik memeriksaku dengan seksama. Tak lama kemudian, Mas Fahmi masuk ke ruangan.

"Sakit apa, istriku ini, Bu Dokter," kata Mas Fahmi menggoda Opik. Opik hanya tersenyum.

"Tekanan darahnya rendah sekali dan juga Vertigo. Makanya Hanum merasa kalau seperti berputar-putar terus. Kalau sedang berjalan terus merasa berputar-putar, harus berhenti. Takutnya nanti malah nabrak-nabrak. Seperti ini, keningnya terluka karena menabrak meja."

Mas Fahmi hanya mengangguk-angguk saja.

"Ini aku kasih obat, tapi nggak ditanggung BPJS. Cari di apotek Sehat saja, disana harga obat agak miring. Kalau kamu banyak pikiran, stress, atau migrain, biasanya vertigo akan kambuh. Vertigo bisa dicegah dengan beberapa cara, antara lain: tidur dengan posisi kepala lebih tinggi, duduk diam sejenak saat bangun tidur, gerakkan kepala secara perlahan, hindari posisi membungkuk, agar vertigo tidak kambuh. Kurangi konsumsi kafein," kata Opik dengan menjelaskan panjang lebar.

"Terima kasih, Opik."

Pulang dari rumah sakit, aku mengajak Mas Fahmi beli makanan.

"Mas beli kue dulu ya? Di toko roti Queen. Pengen beli kue sus," kataku pada Mas Fahmi.

Kulihat Mas Fahmi ogah-ogahan, aku tersenyum. Akhirnya ia menuruti keinginanku.

"Banyak sekali yang kamu beli, katanya hanya kue sus saja," kata Mas Fahmi ketika melihatku membawa nampan berisi bermacam-macam kue.

Mas Fahmi menemaniku masuk ke toko kue, takut kalau aku nanti tiba-tiba jatuh karena pusing.

"Yang makan kue kan bukan aku saja, Mas. Ini kan kue kesukaan anak-anak. Tahu dan risoles pedas ini kesukaan, Mas kan?" jawabku.

"Terserah kamu saja," sahut Mas Fahmi. Hatiku terasa sakit mendengar ucapannya. Seperti tidak ikhlas mengantarku berobat dan mampir ke toko ini.

Akhirnya kami masuk ke mobil. Tiba-tiba ada laki-laki yang aku kenal, keluar dari mobil bersama dengan perempuan cantik. Mereka bergandengan tangan sambil melangkah masuk ke dalam toko kue.

"Mas, lihat itu! Itu Pak Budi, tapi perempuan yang bersamanya itu bukan istrinya," ucapku.

"Jangan ngomong gitu, Bu. Nanti bisa timbul fitnah. Siapa tahu itu anaknya," sahut Mas Fahmi.

"Masa sama anak jalannya kayak gitu. Bergelayut manja di tangan laki-laki. Mas kalau jalan sama Adiva, mau nggak seperti itu. Aku kenal dengan istrinya dan anak-anaknya. Itu bukan anaknya."

"Sudah lah, Bu. Itu urusan mereka, nggak usah ikut campur."

Mas Fahmi segera menghidupkan mesin mobil dan mulai berjalan perlahan. Aku masih belum puas dengan jawaban Mas Fahmi.

"Pak Budi itu nggak mikir ya? Padahal ia punya anak perempuan yang sudah gadis. Bayangkan kalau melihat anak gadisnya selingkuh dengan suami orang? Pasti shock dan marah besar. Laki-laki memang suka seperti itu. Sering membiayai perempuan lain biar terlihat cantik. Istri sendiri malah diabaikan. Coba modalin istrinya, pasti bisa secantik selingkuhannya."

Mas Fahmi hanya diam saja, dengan mata fokus menyetir.

"Bu, apa nggak capek ngoceh nggak karuan gitu," celetuk Mas Fahmi.

"Kesel aja lihat laki-laki seperti itu. Semoga kena batunya," sungutku dengan kesal. Entah kenapa aku merasa kesal sekali.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel AKAN KUBUAT KAU MENYESAL, MAS!
7.8
Selama ini aku rela menyokong finansial Mas Arya, bahkan menghidupi ibu dan adiknya saat gajinya tak mencukupi. Namun, pengkhianatannya dengan menikah lagi menjadi titik balik bagiku untuk berhenti peduli. Kini, biarlah ia memikul beban keluarga itu sendirian agar menyadari peranku yang selama ini ia remehkan. Aku enggan terus terjebak dalam pernikahan beracun ini. Masa depanku masih panjang, dan aku berhak mencari kebahagiaan tanpa dirinya lagi.
Sampul Novel Cinta yang Telah Menjadi Masa Lalu
9.0
Amukan pasien di rumah sakit berujung tragis bagi seorang istri. Berniat menyelamatkan suaminya, Elvano Wiratama, dari sabetan pisau, ia justru ditarik menjadi tameng hidup demi melindungi adik junior suaminya. Tusukan fatal itu merenggut nyawa janin di rahimnya. Alih-alih peduli pada kondisi istrinya yang sekarat, Elvano malah menurunkan paksa tubuhnya dari brankar ICU demi menyelamatkan sang junior terlebih dahulu. Di ambang maut, sang istri akhirnya menyerah dan memutuskan.
Sampul Novel Gadis Yang Terjamah
8.7
Marlina kehilangan segalanya demi ambisi pendidikan, termasuk kehormatan dan status sosialnya. Terbuang dari masyarakat, ia terjerumus ke dunia gelap narkoba di kota besar sebagai pengedar cantik yang diperebutkan para bandar. Meski berniat tobat dan berhijrah, jebakan rival mengirimnya ke penjara. Setelah mendalami agama di balik jeruji, Marlina justru kembali menghadapi penolakan keras saat bebas. Kini ia harus memilih: kembali ke jalan haram atau teguh berhijrah.
Sampul Novel Gairah Liar Masa Puber
8.0
Berlatar di sebuah kota kecil, kisah ini mengikuti perjalanan Kino dalam mengarungi gejolak masa remaja hingga menjadi pria dewasa. Sebagai pemuda biasa, ia mengalami fase pendewasaan yang sarat akan sensualitas dan drama emosional. Meski pengalaman kehilangan keperjakaan serta pembentukan seksualitasnya adalah hal yang lumrah dialami banyak orang, Kino memiliki sisi unik yang sering kali disembunyikan. Sebuah narasi tentang rahasia di balik kedewasaan.
Sampul Novel Gairah Liar Sang Mantan
8.2
Kejadian tak terduga menimpaku saat kakek melakukan tindakan nekat di dalam kamar. Di bawah ancaman agar tidak membangunkan adik, aku terjebak dalam situasi yang membingungkan sekaligus menggelisahkan. Sentuhan dan bisikannya membuatku kehilangan kendali hingga tubuhku terasa lemas tak berdaya. Saat kakek melancarkan aksinya lebih jauh dengan melucuti pakaianku, tiba-tiba lampu kamar menyala. Sebuah rahasia besar terancam terbongkar dalam keheningan malam itu.
Sampul Novel Mahligai yang Ternodai
8.3
Kehidupan rumah tangga Nazwa yang semula terasa begitu sempurna mendadak hancur saat ia mengetahui perselingkuhan suaminya. Meski dikhianati, Nazwa memilih bersabar dan bertahan hanya demi ibadahnya kepada Allah. Namun, luka lama kembali terbuka ketika sang suami justru mengulangi kesalahan fatal yang sama. Di tengah rasa sakit yang mendalam, mampukah Nazwa tetap mempertahankan mahligai pernikahannya ataukah ia akhirnya menyerah pada keadaan?