
KECELAKAAN SEMPURNA
Bab 2
NEW YORK CITY 12.27; TAXI
TianaWiley : Semoga kau diterima di seleksimu, babe. Kau sudah berangkat sekarang?
Senyum Arlett mengembang seraya dia melihat sebuah pesan dari sahabatnya muncul di layar ponselnya.
Tiana Wiley, sahabat Arlett sejak lama sekaligus anak perempuan tunggal perusahaan kaya, Wiley Fashion.
Arlett bahkan bingung mengapa wanita kaya dan glamor seperti Tiana masih mau berbaur dengannya sampai sekarang.
Mereka jelas, berasal dari derajat yang berbeda.
ArlettAverly : I'm on my way. Tolong doakan aku. Dan babe.. itu sangat menjijikkan. Hentikan.
Arlett menekan tombol warna hijau, tanda mengirim di whatsappnya lalu menunggu balasan dari Tiana. Dan tidak lama, balasan itu datang.
TianaWiley : Tentu saja, anytime Dear. Make sure to call me if you have time tonight. Aku ingin membuat kue pandan dan aku ingin kau yang mencobanya paling pertama. P.s : kusangka kau sedang baik hati hari ini ternyata aku salah. Tetap galak saja. Hahahaha.
Arlett tersenyum semakin lebar. Dia kembali mengetik balasannya.
ArlettAverly : Semoga berhasil mengatasi saya.
Dan dengan begitu Arlett menaruh ponsel di sampingnya, di jok taksi. Dia kembali menatap ke arah jendela sembari perlahan demi perlahan muncul dari balik kaca mobil itu, bayangan gedung raksasa Heston Corporation.
Senyumannya yang tadi sudah sedikit mengembang, kembali mengerut. Jantungnya kembali berdegup sangat kencang, menunjukkan seberapa cemasnya Arlett merasa sekarang.
Semuanya terjadi 2 minggu yang lalu Perusahaan raksasa semacam Heston Corporation dengan ajaibnya mengeluarkan sebuah kompetisi mini untuk para fotografer di seluruh penjuru benua Amerika di mana mereka bisa mengunggah foto hasil jepretan mereka di instagram dengan hashtag #HestonPhotoContest dan berpartisipasi dalam perekrutan fotografer profesional Heston Corporation yang nantinya akan digaji dengan jumlah uang yang sangat-sangat banyak.
Dan bagi Arlett, tidak ada dan tidak akan pernah ada kesempatan lebih baik yang bisa didapatkannya untuk menjadi fotografer profesional selain ini. Dan benar saja, dia menang. Bersama dengan pacarnya dan 8 orang terpilih lainnya. Arlett benar-benar tidak percaya ketika instagramnya dimention dalam salah satu instagram story milik Heston Corporation. Bahkan hingga kini, semuanya masih terasa terlalu ajaib.
Karena itulah, di sinilah sekarang dia akhirnya datang ke Heston Corporation Skyscraper untuk mengikuti seleksi terakhirnya. Seleksi final dari 10 fotografer berbakat, untuk menentukan siapa yang pada akhirnya berhak untuk bekerja di perusahaan adidaya ini.
Arlett rasa dia tidak pernah merasa sekhawatir ini seumur hidupnya Khawatir akan dikecewakan oleh dirinya sendiri nanti.
Wanita itu turun dari taksi sesaat kendaraan tumpangannya sampai di lobby utama Heston Corporation. Dan tanpa basa basi, Arlett langsung berjalan ke arah resepsionis sembari membawa tas kameranya yang hari ini terasa sangat berat tanpa sebab.
"Excuse me, ma am!" panggil Arlett sembari menyandarkan tubuh di meja resepsionis. "Saya adalah salah satu pemenang kompetisi pencarian fotografi di instagram. Nama saya Arlett."
Resepsionis itu mengerutkan keningnya. bingung sembari menelaah layar komputernya. "Arlett? Maaf, kami tidak mendapatkan laporan ada pemenang kompetisi bernama itu, Miss."
Arlett meringis pelan menanggapi ketololannya sendiri. Dia bahkan lupa untuk mengucapkan nama aslinya karena degupan keras di jantungnya yang sangat mengganggu. "Pardon me, Qarletta Averly. That's me."
"Oh, Ms. Averly," kata perempuan itu sembari tersenyum lebar. Dia mengambil sebuah name tag dari dalam lacinya lalu memberikan kepada Arlett.
"Tempat seleksi ada di lantai 21 tepat di ujung lorong kanan dari lift. Silakan masuk ke dalam dan tunjukan name tag ini untuk tanda pengenalan. Dan juga, name tag ini bisa berguna jika Anda ingin keluar masuk dari Gedung Heston Skyscraper tanpa harus mengkonfirmasi kepada security di depan. Kalau ada pertanyaan lebih lanjut silakan hubungi setiap meja administrasi di setiap lantai."
Arlett mengangguk mengerti, lalu mengambil name tag itu dan mengalungkannya di lehernya.
"Thankyou," ucap Arlett seraya tersenyum lebar kepada wanita cantik pirang di hadapannya.
Wanita itu balas tersenyum dan akhirnya membiarkan Arlett pergi menuju ke lift yang dengan sangat kebetulan sedang terbuka. Hanya tersisa tempat untuk satu orang lagi masuk ke dalamnya.
Dengan sigap Arlett langsung memasukkan diri ke dalam lift penuh laki-laki itu sembari memeluk tas kameranya yang berat, erat-erat di depan dadanya. Dia berharap jangka waktu menaiki 21 lantai bisa memenangkan jantungnya sedikit saja. Sedikit saja, itu sudah lebih dari cukup.
Tapi ternyata, dia keliru Benar-benar keliru.
Karena setelah itu percakapan laki-laki di belakangnya mengusik Arlett.
"Gerah sekali hari ini. Rasanya aku benar benar bisa mati kepanasan," kata seorang laki-laki mengenakan jas, berbicara dari belakang Arlett.
Jantung Arlett tiba-tiba berdegup dua kali lebih cepat dari sebelumnya.
"Benar sekali, cuacanya buruk hari ini," balas temannya yang satu lagi
"Oh tidak, jangan lakukan apa yang kalian akan lakukan!" Batin Arlett.
Pelipis Arlett langsung mengeluarkan keringat bersamaan dengan tangan kedua laki-laki di belakangnya yang terulur memegang dasi mereka.
Arlett memiliki sebuah keunikan yang seumur hidupnya selalu disembunyikannya dari orang lain. Dia tidak tahan melihat dasi yang dikenakan acak-acakan. Sama dengan halnya orang yang langsung merasa jijik ketika melihat orang lain makan dengan mulut terbuka. Begitu pula Arlett yang akan langsung terpancing emosinya sesaat dia melihat ada seseorang yang membuka dasi mereka dan membiarkannya terhuyung sangat buruk rupa di dada mereka.
Benar benar marah hingga rasanya Arlett bisa mengamuk tepat di tempat itu juga.
Dan apa yang dua orang laki-laki di belakangnya sedang lakukan, seratus persen persis dengan apa yang bisa membuat Arlett sangat marah itu.
Keduanya mengangkat tangan mereka hingga ke dada dan dalam sekali gerakan langsung melonggarkan dasinya sebawah sedada dan membiarkannya terhuyung begitu saja dengan sangat-sangat menyebalkan. Arlett harus mengepalkan tangannya kuat-kuat agar dia tidak mengamuk sekarang juga tepat di dalam lift itu juga.
Benar-benar mengamuk.
Tapi tampaknya kesabarannya harus kembali dicoba ketika laki-laki yang berteman di sampingnya, bersamaan juga membuka dasinya dan membiarkannya longgar menghias dadanya. Begitu juga beberapa orang lain di dalam lift itu.
Rasa cemas Arlett tadi hilang sepenuhnya, digantikan dengan kekesalan murni yang mulai merayap memenuhi seluruh nafas dan isi rongga dadanya. Kepalanya terasa panas akan rasa kesal dan geli hingga tangannya mulai berkeringat sangat banyak. Dia benar-benar merasa dicobai, annoyed dan tak terkira marah
Dan sepertinya kesabarannya akhirnya harus berakhir di dalam lift itu juga.
Seorang laki-laki buncit di samping Arlett ikut juga membuka dasinya lalu melorotkannya jatuh hingga ke depan perutnya. Membiarkannya terbuka sampai hampir terlepas dari kalung lehernya. Dia bahkan membuka kancingnya teratas membiarkan dada berbulunya terlihat dari luar dan dia bersendawa. Sangat keras dan berbau sangat busuk.
Arlett tidak pernah merasa sejijik ini seumur hidupnya. Dan kesabarannya berakhir hanya sampai di sana saja.
Dia benar-benar sudah tidak tahan lagi.
Arlett langsung menekan tombol buka di dalam lift itu dan secepat kilat pergi keluar dari kotak besi pengap itu. Meninggalkan laki-laki yang berada di dalam menatap kepergian Arlett kebingungan sebelum akhirnya lift mereka kembali tertutup dan naik hingga ke lantai atas bersamaan, meninggalkan Arlett yang terdiam kaku di depan lift yang sudah tertutup itu.
Oh Tuhan, aku benar-benar telah hilang kendali!
Arlett menatap ke sana kemari. Sepertinya dia terdampar di sebuah lantai kosong tanpa penghuni. Atau semuanya sedang istirahat makan? Dia tidak tahu. Tapi yang terpenting, Arlett tidak tahu di lantai mana dia berada sekarang.
Arlett menghela nafasnya sangat dalam.
Ayo naik tangga.
Anda Mungkin Juga Suka





