
Kebangkitan Wanita Cacat Yang Dikhianati
Bab 3
Silvia POV:
Dion menyadari piringku masih penuh. Ia menoleh padaku, ekspresi khawatir terukir di wajahnya.
"Silvia, kenapa tidak makan?" ia bertanya, suaranya terdengar lembut di telingaku. Tangannya dengan cepat membentuk isyarat tangan, mengulang pertanyaannya dalam bahasa isyarat.
Aku memaksakan senyum tipis, menggelengkan kepala. Aku harus tetap berpura-pura. "Tidak apa-apa," bisikku serak, suara yang sama yang telah menjebakku selama berbulan-bulan. "Aku hanya tidak terlalu lapar."
Aku menunjuk ke arah teman-temannya yang masih berbincang-bincang. "Apa yang mereka bicarakan?" tanyaku, berharap bisa mengalihkan perhatiannya.
Dion tersenyum, mengusap puncak kepalaku dengan lembut, seperti ia biasa melakukannya. Sentuhan itu kini terasa menjijikkan. "Mereka hanya membicarakan betapa beruntungnya aku memiliki tunangan sepertimu," ia berbisik di telingaku, isyarat tangannya menyertai setiap kata. "Mereka bilang, cinta kita adalah inspirasi bagi banyak orang."
Ia menggenggam tanganku, lalu mencium punggung tanganku. Sebuah adegan romantis yang dulu bisa membuat hatiku meleleh, kini hanya memicu mual. Aku bisa melihat tatapan sinis dari beberapa tamu yang melihat adegan ini. Mereka tahu apa yang sebenarnya terjadi, dan aku adalah bahan tertawaan mereka.
Dadaku terasa nyeri, seperti terbakar. Aku ingin berteriak, ingin meludahinya. Bagaimana ia bisa mengucapkan kebohongan seperti ini, setelah semua yang ia katakan tentang Arini? Setelah ia memamerkan perselingkuhannya di depanku? Bagaimana bisa ia begitu pandai berbohong dengan wajah tanpa dosa seperti itu?
Aku merasa lelah. Sangat lelah. Aku hanya ingin pergi dari sini, dari tempat menjijikkan ini. Aku ingin menjauh dari tatapan meremehkan mereka, dari senyum palsu Dion. Aku ingin menghilang.
Tanpa menunggu lebih lama, aku memutar kursi rodaku, berniat untuk meninggalkan pesta. Aku tidak peduli dengan apa yang akan Dion katakan. Aku tidak peduli dengan tatapan mata orang-orang. Aku hanya ingin pergi. Aku mengeluarkan ponsel dari saku dan mengirim pesan kepada sopirku.
Tolong jemput aku sekarang.
Aku merasa terjebak dalam jaring kebohongan dan ejekan ini. Citra publik Dion sebagai tunangan yang setia, yang penuh kasih, sangat bertolak belakang dengan dirinya yang sebenarnya. Beban pengkhianatan itu menimpaku dengan begitu berat, seolah ingin menghancurkanku.
---
Anda Mungkin Juga Suka





