
Kebahagiaan Menanti
Bab 2
Namun, aku tidak punya penghasilan sekarang, tidak mungkin menang berdebat dengan mereka. Aku menolak permintaan mereka, lalu aku pergi beli sayur sambil berlinang air mata.
Setelah kembali dari pasar, aku menyadari ….
Kata sandi pintu sudah diganti sehingga aku tidak bisa masuk rumah.
Zayn menghubungiku dengan mengatakan, "Sekarang ibu nggak perlu kerja lagi. Aku malas berurusan dengan ibu. Ayah sudah menunggu di kantor capil, sekarang ibu pergilah ke sana untuk bercerai."
"Kalau nggak, aku akan menyebarkan rumor ibu selingkuh dengan banyak pria. Lagi pula, aku punya foto ibu bersama pria. Dasar nggak tahu malu, ibu nggak takut kami nggak mengakuimu sebagai ibu. Kalau ibu ingin sendirian sampai tua, terserah ibu saja!"
Aku merasa sangat marah hingga rasanya ingin pingsan.
Anak yang kukandung selama 10 bulan tega mempermalukan ibunya sendiri. Dia memutus telepon, lalu mengirimkan foto-foto kepadaku.
Dia sengaja mencari kesalahanku dengan mengirimkan foto-foto bersama pria.
Sejak kapan mereka merencanakan hal ini?
Aku merasa marah sekaligus sedih, tetapi aku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku membawa kartu identitasku, lalu pergi ke kantor capil.
Setelah mengurus perceraian, Evan dan Anisa pergi.
Jihan memegang tanganku dan tersenyum.
"Ini baru benar. Bu, aku dan kakak adalah anak kandungmu. Kami nggak mungkin mencelakaimu. Sebentar lagi perusahaan Tante Anisa bekerja sama dengan Grup Mahendra. Setelah kami menjadi pewaris perusahaan Tante Anisa, kita akan jadi kaya."
Aku merasa tidak nyaman, lalu aku menepis tangannya.
Jihan tidak tersinggung. "Bu, ibu sudah punya pacar, belum? Bagaimana kalau kujodohkan dengan laki-laki di desa ibu?"
"Aku bisa cari sendiri."
"Kalau begitu, ibu harus menikah setelah proses cerai selesai. Itulah permintaan Tante Anisa!"
Jihan masih terus bicara, sedangkan aku sudah malas mendengarnya, jadi segera meninggalkannya.
Namun, rumahku sudah dijual. Uangku juga sudah diambil putriku.
Sekarang mereka berdua melarangku tinggal di rumah mereka.
Aku tidak memegang uang sama sekali. Aku tidak tahu tinggal di mana malam ini.
Setelah bekerja keras selama bertahun-tahun, pada akhirnya keluargaku mencampakkan aku. Aku tiba-tiba merasa hidupku hancur.
Aku menangis sepanjang jalan ke jembatan. Sampai di jembatan, aku ingin bunuh diri. Namun, Arya Mahendra menghalangiku.
"Freya, tadi aku berpapasan denganmu. Aku kira salah orang, ternyata benar kamu. Apa … apa yang terjadi denganmu?"
10 tahun lalu Arya tenggelam dalam kolam, lalu aku menyelamatkannya. Sejak itu, dia selalu mengirimkan hadiah ke rumahku setiap tahun baru.
Kami pun menjadi sahabat.
Aku menceritakan semua yang kualami kepada Arya.
Aku bercerita, "Mereka memaksaku bercerai, mengusirku dari rumah, dan memaksaku mencari pasangan untuk menikah. Ke mana aku harus mencari?"
Bukankah ini artinya mereka ingin membunuhku?
Arya berpikir sejenak, lalu berkata, "Kedua anakku juga mendesakku untuk menikah selama ini, tapi belum ada yang cocok. Kalau kamu nggak keberatan, bagaimana kalau kamu menikah denganku dan tinggal di rumahku?"
Di usiaku yang tidak muda lagi, aku sudah tidak memikirkan cinta.
Aku hanya menginginkan tempat tinggal dan tidak sendirian di rumah.
Aku menyeka air mata, kemudian ikut Arya ke rumahnya.
Aku tidak menyangka rumah Arya berada di kompleks perumahan mewah.
"Freya, aku sudah cukup mengenalmu. Aku ingin kamu juga mengenalku lebih jauh. Aku adalah Presdir Grup Mahendra, sudah hidup sendiri selama 17 tahun dan nggak pernah melakukan hal macam-macam."
"Di waktu senggang, aku suka memancing, berkebun. Lalu, aku punya seorang anak laki-laki dan seorang anak perempuan. Usia mereka dengan kedua anakmu sebaya. Sementara itu saja. Kalau masih ada yang mau kamu tanyakan, tanyakan saja."
Meskipun aku sudah mengenalnya lama, aku baru sekarang tahu bahwa dia adalah Presdir Grup Mahendra.
Dengan kondisi seperti keluargaku, di mana kedua anakku memandang rendah aku dan menjebakku.
Jika aku menikah dengan keluarga konglomerat, kedua anakku pasti makin membenciku.
Di masa tua-ku ini, yang kuinginkan hanyalah menjalani hidup dengan tenang, tidak mau cari ribut. Seketika itu juga, aku merasa ingin menolak untuk menikah dengan Arya..
Anda Mungkin Juga Suka





