
Kebahagiaan Menanti
Bab 3
Arya mengetahui keraguanku, tetapi dia tidak memaksaku. Arya hanya mengatakan, "Cobalah dekat dengan kedua anakku. Kalau memang kamu merasa nggak cocok, aku juga nggak akan memaksa."
Putra Arya bernama Kevin Mahendra, CEO Grup Mahendra, sedangkan putri Arya bernama Laura Mahendra, dia adalah kepala rumah sakit besar.
Dulu kedua anaknya datang menemuiku untuk berterima kasih karena aku menyelamatkan ayah mereka.
Namun, kondisi dulu dengan sekarang berbeda.
Katanya, mereka berdua ingin makan bersamaku sore ini. Aku jadi merasa gugup.
Kedua anaknya mudah bergaul, mereka bahkan menyiapkan hadiah untukku.
Laura berkata, "Ibuku meninggal dunia setelah melahirkanku. Karena takut aku dan kakak mendapat ibu tiri yang jahat, akhirnya ayah memutuskan untuk nggak menikah lagi. Setelah kami berdua dewasa, ayah masih belum menemukan pasangan yang cocok sampai sekarang. Waktu ayah mengatakan akan menikah dan ingin memperkenalkan kekasihnya pada kami, kami merasa sangat bahagia."
Kevin menambahkan, "Kudengar, Tante Freya nggak punya pegangan uang. Jangan khawatirkan soal uang karena semua kebutuhan tante tercukupi di sini. Kami hanya ingin melihat tante dan ayah hidup bahagia setiap hari."
Setelah sebulan tinggal bersama mereka, semuanya terasa menyenangkan.
Pada hari aku resmi bercerai dengan Evan, aku menikah dengan Arya atas desakan Zayn dan Jihan.
Setelah misi kedua anakku berhasil, mereka berdua buru-buru meminta pujian ke wanita itu tanpa melihatku sama sekali.
Setelah sekian tahun, akhirnya Evan dan Anisa bisa bersama. Mereka memutuskan untuk segera menikah.
Mereka merencanakan untuk menikah, bahkan mereka memberiku undangan pernikahan.
Aku sangat merindukan cucu-cucuku. Meskipun aku malas bertemu dengan sekelompok orang licik itu, aku memutuskan tetap hadir ke pernikahan mereka.
Anisa mengejekku waktu melihatku, "Kamu hanya kasih angpao empat jutaan, apa kamu nggak malu?"
Zayn dan Jihan sangat patuh pada wanita itu.
Jihan mengomel. "Bu, sudah setua ini, kenapa ibu nggak mengerti juga? Di acara pernikahan ini, Presdir Grup Mahendra akan hadir. Kenapa ibu hanya kasih angpao empat jutaan? Setidaknya, ibu harus kasih angpao 40 juta!"
Aku berkata dengan kesal, "Kamu lupa kalau aku nggak punya uang?"
Semua uangku kuberikan untuk Jihan dan Zayn. Semenjak bercerai, uang 400 ribu saja aku tidak punya.
"Kalau nggak punya uang, pinjam saja. Nggak datang juga nggak masalah. Lagi pula, kedatanganmu justru membuatku malu. Lihat, Tante Anisa terlihat marah. Cepat pergi!" Zayn datang menghampiriku dan menyeretku.
Zayn menarikku dengan kasar. Ritsleting bajuku tersangkut di taplak meja.
"Zayn, lepaskan. Aku bisa pergi sendiri."
Diusir seperti ini, aku merasa malu. Aku tidak tahan terus berada di sini.
Zayn makin emosi, lalu berkata, "Kamu masih nggak mau pergi?"
Zayn menyeretku keluar dengan paksa.
Kakiku tersandung kursi, kemudian terjatuh ke lantai.
Brak!
Semua makanan di meja berjatuhan ke lantai. Sebagian besar makanan tumpah di tubuhku.
Tumpahan makanan yang masih panas itu membuatku mengerang kesakitan. Meskipun begitu, Zayn dan Jihan masih mengusirku.
Anisa juga menghampiriku dan menampar wajahku, bahkan dia menendangku beberapa kali.
Waktu aku berniat berdiri, kedua anakku menahanku.
Pada saat ini, aku tidak mampu melawan mereka. Aku merasa putus asa.
Anisa terlihat sangat marah. Dia mengambil piring, lalu memukul kepalaku dengan piring.
"Freya, apa kamu sengaja membuat keributan karena tahu Pak Arya akan datang? Kamu nggak pantas bertemu dengan pria sehebat Pak Arya. Aku sudah berbaik hati mengundangmu ke sini, kamu malah menghancurkan acaraku, kenapa kamu nggak mati saja?"
Kepalaku berlumuran darah setelah dipukul dengan piring.
Ketika Anisa hendak menendangku lagi, putranya datang sambil berteriak, "Bu, Pak Arya datang!"
Anda Mungkin Juga Suka





