Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Kau Pilih Dia Saat Aku Mengandung Anakmu

Kau Pilih Dia Saat Aku Mengandung Anakmu

Hati Sarah hancur ketika Dimas, suaminya, justru lebih peduli pada Citra daripada dirinya yang tengah mengandung. Di tengah masa sulit itu, sang sahabat mulai menunjukkan ambisi licik untuk merebut posisi Sarah. Kini, Sarah berdiri di persimpangan jalan yang menyakitkan. Haruskah ia tetap bertahan dalam pernikahan yang retak demi calon bayinya, atau memilih pergi demi menjaga harga diri serta kedamaian hidupnya? Inilah perjuangan batin seorang istri.
Bab
Bagikan

Bab 3

Sarah menarik napas panjang saat melihat wajah Dimas di sampingnya, di dalam ruang tunggu klinik. Ia masih sulit mempercayai bahwa pria yang pernah membuatnya merasa tak berarti kini kembali duduk di sana, mencoba merajut keping-keping yang telah hancur.

"Kamu lapar?"

Dimas bertanya pelan sambil menoleh padanya.

Sarah mengangguk. "Sedikit. Tapi aku mau makan yang hangat, bukan nasi kotak kayak terakhir kali."

"Mau bubur ayam? Aku tahu tempat enak, deket sini."

Dimas tersenyum kecil.

Sarah tak menjawab langsung. Ia hanya berdiri, merapikan jaket tipisnya, lalu melangkah keluar klinik. Dimas mengikuti di belakang, seperti seorang murid yang sedang menunggu izin dari gurunya.

**

Mereka duduk di sebuah warung sederhana, di bawah tenda plastik dengan bangku panjang dari kayu. Aroma bubur mengepul, menambah kehangatan suasana.

Sarah makan perlahan. Dimas hanya menatap, lalu akhirnya berkata, "Sar, aku tahu ini gak akan mudah. Tapi setiap hari aku akan ada buat kamu. Bukan cuma karena aku merasa bersalah... tapi karena aku gak bisa bayangin hidup tanpa kamu dan anak kita."

Sarah mengangkat wajahnya. Matanya lelah, tapi tatapannya mulai terbuka.

"Aku gak butuh janji, Mas. Aku butuh bukti. Kalau kamu tetap setia bukan hanya saat aku terluka, tapi juga saat aku kuat dan bisa berjalan sendiri. Karena kalau nanti aku sembuh dan kamu malah berubah lagi... aku gak akan kasih kesempatan ketiga."

Dimas mengangguk. "Aku ngerti. Aku akan buktikan."

**

Minggu-minggu berikutnya berjalan pelan. Dimas mencoba berubah. Ia mulai bangun pagi, menyiapkan sarapan, mengantar Sarah ke kontrol, bahkan menuliskan jurnal tentang calon bayinya.

Namun, luka di hati Sarah belum benar-benar kering.

Kadang saat malam, saat Dimas tertidur, Sarah hanya bisa menatap langit-langit kamar sambil bergumam dalam hati:

"Bisakah aku percaya lagi? Atau aku hanya takut sendirian?"

**

Suatu sore, Sarah duduk di taman kecil dekat rumah ibunya. Ia membawa buku jurnal, menulis beberapa kalimat tentang usia kandungannya yang masuk minggu ke-33.

Tiba-tiba, ponselnya bergetar.

Pesan dari nomor tak dikenal.

"Sarah, ini Citra. Maaf aku ganggu lagi. Aku gak minta kamu balas. Aku cuma mau bilang aku beneran pergi dari Jakarta. Aku ikut komunitas relawan di Bali. Hidupku sekarang jauh dari hiruk pikuk. Tapi aku masih merasa bersalah. Kadang aku masih mimpiin kamu dan Dimas. Maaf ya... aku doakan kamu bahagia."

Sarah menatap layar lama. Emosinya bercampur. Benci, kecewa, sekaligus iba.

Ia tidak membalas.

Tapi malam itu, ia menulis di jurnalnya:

"Memaafkan bukan berarti melupakan. Tapi aku ingin tidur malam ini tanpa dendam di dadaku."

**

Saat kehamilannya masuk bulan ke-9, Sarah akhirnya memutuskan untuk pulang ke apartemen bersama Dimas.

Suasana canggung masih menyelimuti mereka, tapi ada kemajuan. Sarah mulai berbagi cerita, Dimas lebih banyak mendengar. Mereka bahkan mulai tertawa lagi meski masih canggung.

Suatu malam, saat mereka duduk berdua menonton film dokumenter kehamilan, Dimas tiba-tiba memegang tangan Sarah.

"Aku tahu aku belum sepenuhnya dimaafkan. Tapi aku merasa diberi kesempatan kedua itu seperti diberi hidup baru."

Sarah menoleh pelan. "Kamu gak akan punya kesempatan ketiga. Ingat itu."

"Aku tahu. Dan aku gak akan sia-siain yang ini."

**

Hari persalinan semakin dekat. Sarah mulai panik-bukan karena rasa sakit atau proses melahirkan, tapi karena pikirannya berkelana jauh.

Bagaimana kalau Dimas berubah setelah anak ini lahir? Bagaimana jika ia ditinggal lagi?

Apakah ia akan cukup kuat jika sendirian?

"Sar, kamu kenapa? Wajah kamu pucat banget."

Dimas bertanya cemas saat melihat Sarah terduduk diam di sofa.

"Aku takut, Mas. Aku takut kamu balik lagi jadi Dimas yang dulu. Aku takut kamu lelah dengan aku yang penuh luka."

Dimas jongkok di hadapannya, menatap mata istrinya.

"Aku juga takut. Tapi aku lebih takut kehilangan kesempatan jadi ayah yang baik. Suami yang benar. Aku udah lihat kamu berjuang. Kamu bahkan kuat di saat aku lemah. Sekarang gantian aku yang kuat. Untuk kamu. Untuk anak kita."

Sarah menangis. Tapi kali ini tangisnya bukan karena luka.

Tapi karena harapan.

**

Saat kontraksi pertama datang, Dimas mengantar Sarah ke rumah sakit dengan panik. Ia memegang tangan Sarah selama seluruh proses pembukaan. Bahkan saat dokter mengatakan harus dilakukan operasi karena posisi bayi melintang, Dimas menolak untuk meninggalkan ruang tunggu.

Jam demi jam berlalu.

Akhirnya, tangisan bayi terdengar.

Seorang bayi perempuan lahir ke dunia dengan sehat dan sempurna.

"Selamat ya, Pak. Putrinya cantik. Ibu dan bayinya dalam kondisi stabil."

Dimas mengusap air matanya. Untuk pertama kalinya dalam hidup, ia menangis bukan karena sedih. Tapi karena penuh.

**

Beberapa jam kemudian, saat Sarah sudah di ruang pemulihan, Dimas duduk di sisinya, membawa bayi mereka dalam selimut putih kecil.

"Dia mirip kamu. Tapi matanya kayak aku. Namanya siapa, Sayang?"

Sarah tersenyum lemah.

"Namanya Alya. Dari bahasa Arab, artinya 'yang mulia'. Karena dia lahir dari luka yang kita ubah jadi kekuatan."

Dimas mengecup kening Sarah. "Terima kasih sudah bertahan, Sar. Terima kasih masih mau jadi rumah buat aku dan Alya."

Sarah menatap wajah suaminya dan anak mereka. Untuk pertama kalinya, ia merasa utuh kembali. Bukan karena luka itu hilang, tapi karena ia memutuskan untuk hidup berdampingan dengan luka, lalu menumbuhkan cinta di atasnya.

**

Namun hidup tak selalu memberi jeda panjang.

Sebulan setelah kelahiran Alya, Sarah menerima surat panggilan kerja dari sebuah perusahaan media besar. Ia sempat melamar dulu saat masih hamil, dan tak menyangka akan dipanggil.

"Mas, kalau aku kerja lagi, kamu keberatan gak?"

Dimas menggeleng. "Sama sekali enggak. Aku bisa bantu jagain Alya kalau kamu kerja dari rumah dulu. Aku juga bisa cari pengasuh terpercaya. Tapi kalau kamu belum siap, gak usah dipaksain."

Sarah menatap bayinya yang tertidur lelap.

"Aku mau kerja bukan karena uang. Tapi karena aku gak mau kehilangan diriku sendiri lagi. Dulu aku terlalu larut dalam peran istri sampai lupa siapa aku. Kali ini, aku mau hidup sebagai perempuan utuh. Ibu, istri, dan juga Sarah yang punya impian."

Dimas memeluknya.

"Kamu punya hak atas semua itu. Dan aku akan dukung sepenuhnya."

**

Beberapa bulan kemudian, rumah mereka mulai terisi tawa. Alya tumbuh sehat, Sarah mulai bekerja dari rumah dan sesekali ke kantor, Dimas benar-benar berubah. Bukan sempurna, tapi nyata. Ia belajar memasak MPASI, mengganti popok, bahkan belajar tentang emosi pascamelahirkan yang dialami Sarah.

Namun, luka masa lalu tak benar-benar hilang. Kadang masih muncul dalam mimpi Sarah. Tapi kini, ia tahu, luka itu tak lagi berkuasa atasnya.

Suatu malam, saat mereka bertiga duduk di teras sambil mendengar suara jangkrik dan memandangi langit malam, Sarah berkata pelan,

"Mas, kalau waktu bisa diputar ulang, kamu tetap akan memilih aku?"

Dimas mencium jemari istrinya.

"Akan aku pilih seribu kali. Bahkan kalau hidup memberiku jalan lain, aku akan tetap cari jalan balik ke kamu."

Sarah mengangguk. Ia percaya bukan karena kata-kata itu indah, tapi karena kini Dimas membuktikannya setiap hari.

**

Dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, Sarah bisa mengatakan pada dirinya sendiri:

"Aku pernah hancur. Tapi aku bangkit. Aku pernah kehilangan, tapi aku menemukan lagi. Aku pernah terluka, tapi aku tidak membiarkan luka itu membusuk. Aku memilih sembuh. Aku memilih hidup."

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Cari "95KVV" di moboreader para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Moboreader untuk melanjutkan membaca.
95KVV
Salin
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cinta Beda Usia
9.0
Kisah dalam novel modern Cinta Beda Usia ini berpusat pada kehidupan seorang janda. Suatu malam, saat terbangun setengah sadar untuk ke kamar mandi, ia mendapati pintu kamar putranya yang berusia 18 tahun sedikit terbuka. Dari dalam kamar yang remang-remang itu, sayup-sayup terdengar suara napas terengah-engah yang misterius. Keberadaan suara asing tersebut seketika mengubah keheningan malam dan memicu rasa penasaran yang mendalam mengenai apa yang sebenarnya terjadi.
Sampul Novel Cinta Sedalam Doa
9.2
Penyesalan mendalam menghantui hidupku setelah mencampakkan Naira demi Qirani, yang justru mengkhianatiku usai lulus kuliah. Meski mencoba meniti karier di Pekanbaru untuk melupakan luka, hatiku tetap tertambat pada Naira. Saat mendengar pernikahan Naira batal, aku berjuang keras memperbaiki diri dan memohon doa agar hatinya melunak. Setelah setahun penuh perjuangan dan kesabaran, Naira akhirnya membuka hati. Kami pun menikah dan hidup bahagia bersama putri kecil kami.
Sampul Novel Gelora Panas Sekretaris Seksi
8.4
Pasca dikhianati dan ditinggal kekasihnya, Kayla bertekad membalas dendam kepada Miranda yang menjadi pemicu perpisahannya dengan Bisma. Di tengah luka hati, ia melamar sebagai sekretaris pribadi Jason, seorang pria tampan yang langsung terpikat oleh pesona fisik dan kecantikan Kayla. Demi ambisinya, Kayla berjanji memberikan kepuasan yang jauh melampaui apa pun yang pernah Jason dapatkan dari Miranda sebelumnya dalam hubungan profesional yang provokatif.
Sampul Novel Hubungan Gelap Sekretaris dan Suami Pembawa Petaka
7.8
Sebuah foto viral memperlihatkan Charlie bersama sekretarisnya di hotel. Saat dikonfirmasi, Charlie justru memarahi istrinya sebelum memblokir panggilannya. Tragedi mengerikan terjadi ketika sang putra ditemukan tewas dengan menggenggam kartu identitas sekretaris tersebut. Bukannya peduli, Charlie yang dibutakan oleh bisnis malah balik memarahi sang istri karena membawa pergi anak mereka yang dibutuhkan untuk penandatanganan kontrak. Kehilangan segalanya, sang istri kini bertekad menggunakan kekuasaannya untuk menghancurkan seluruh masa depan suaminya.
Sampul Novel Ibu Meninggal, Suami Sibuk dengan Mantan
9.5
Saat ibu mertunya mengalami serangan jantung, Nova panik menghubungi suaminya yang berprofesi sebagai dokter spesialis kardiologi. Namun, pria itu justru menuduh Nova berbohong dan memilih memasak untuk kucing sang mantan kekasih, Melda, lalu pergi menonton konser bersamanya. Akibat kelalaian tersebut, ibu mertua Nova meninggal di meja operasi. Ketika sang suami pulang keesokan harinya dan melihat Nova memeluk kotak abu, dia malah marah dan memuji perhatian Melda yang membelikan baju baru untuk ibunya.
Sampul Novel Janjinya, Penjaranya
9.6
Kebebasan yang dinanti justru menjadi awal derita baru bagi sang protagonis. Tujuh tahun mendekam di penjara demi menanggung dosa Keysha, kakak angkatnya, ia justru dibuang oleh orang tua kandung dan tunangannya, Dion. Alih-alih disambut hangat, ia diasingkan ke gudang berdebu demi kenyamanan Keysha. Namun, sebuah email rahasia berisi tawaran kerja dan identitas baru muncul sebagai penyelamat. Tanpa ragu, ia memilih pergi demi membalas segala pengkhianatan.