
Kau Pilih Dia Saat Aku Mengandung Anakmu
Bab 3
Sarah menarik napas panjang saat melihat wajah Dimas di sampingnya, di dalam ruang tunggu klinik. Ia masih sulit mempercayai bahwa pria yang pernah membuatnya merasa tak berarti kini kembali duduk di sana, mencoba merajut keping-keping yang telah hancur.
"Kamu lapar?"
Dimas bertanya pelan sambil menoleh padanya.
Sarah mengangguk. "Sedikit. Tapi aku mau makan yang hangat, bukan nasi kotak kayak terakhir kali."
"Mau bubur ayam? Aku tahu tempat enak, deket sini."
Dimas tersenyum kecil.
Sarah tak menjawab langsung. Ia hanya berdiri, merapikan jaket tipisnya, lalu melangkah keluar klinik. Dimas mengikuti di belakang, seperti seorang murid yang sedang menunggu izin dari gurunya.
**
Mereka duduk di sebuah warung sederhana, di bawah tenda plastik dengan bangku panjang dari kayu. Aroma bubur mengepul, menambah kehangatan suasana.
Sarah makan perlahan. Dimas hanya menatap, lalu akhirnya berkata, "Sar, aku tahu ini gak akan mudah. Tapi setiap hari aku akan ada buat kamu. Bukan cuma karena aku merasa bersalah... tapi karena aku gak bisa bayangin hidup tanpa kamu dan anak kita."
Sarah mengangkat wajahnya. Matanya lelah, tapi tatapannya mulai terbuka.
"Aku gak butuh janji, Mas. Aku butuh bukti. Kalau kamu tetap setia bukan hanya saat aku terluka, tapi juga saat aku kuat dan bisa berjalan sendiri. Karena kalau nanti aku sembuh dan kamu malah berubah lagi... aku gak akan kasih kesempatan ketiga."
Dimas mengangguk. "Aku ngerti. Aku akan buktikan."
**
Minggu-minggu berikutnya berjalan pelan. Dimas mencoba berubah. Ia mulai bangun pagi, menyiapkan sarapan, mengantar Sarah ke kontrol, bahkan menuliskan jurnal tentang calon bayinya.
Namun, luka di hati Sarah belum benar-benar kering.
Kadang saat malam, saat Dimas tertidur, Sarah hanya bisa menatap langit-langit kamar sambil bergumam dalam hati:
"Bisakah aku percaya lagi? Atau aku hanya takut sendirian?"
**
Suatu sore, Sarah duduk di taman kecil dekat rumah ibunya. Ia membawa buku jurnal, menulis beberapa kalimat tentang usia kandungannya yang masuk minggu ke-33.
Tiba-tiba, ponselnya bergetar.
Pesan dari nomor tak dikenal.
"Sarah, ini Citra. Maaf aku ganggu lagi. Aku gak minta kamu balas. Aku cuma mau bilang aku beneran pergi dari Jakarta. Aku ikut komunitas relawan di Bali. Hidupku sekarang jauh dari hiruk pikuk. Tapi aku masih merasa bersalah. Kadang aku masih mimpiin kamu dan Dimas. Maaf ya... aku doakan kamu bahagia."
Sarah menatap layar lama. Emosinya bercampur. Benci, kecewa, sekaligus iba.
Ia tidak membalas.
Tapi malam itu, ia menulis di jurnalnya:
"Memaafkan bukan berarti melupakan. Tapi aku ingin tidur malam ini tanpa dendam di dadaku."
**
Saat kehamilannya masuk bulan ke-9, Sarah akhirnya memutuskan untuk pulang ke apartemen bersama Dimas.
Suasana canggung masih menyelimuti mereka, tapi ada kemajuan. Sarah mulai berbagi cerita, Dimas lebih banyak mendengar. Mereka bahkan mulai tertawa lagi meski masih canggung.
Suatu malam, saat mereka duduk berdua menonton film dokumenter kehamilan, Dimas tiba-tiba memegang tangan Sarah.
"Aku tahu aku belum sepenuhnya dimaafkan. Tapi aku merasa diberi kesempatan kedua itu seperti diberi hidup baru."
Sarah menoleh pelan. "Kamu gak akan punya kesempatan ketiga. Ingat itu."
"Aku tahu. Dan aku gak akan sia-siain yang ini."
**
Hari persalinan semakin dekat. Sarah mulai panik-bukan karena rasa sakit atau proses melahirkan, tapi karena pikirannya berkelana jauh.
Bagaimana kalau Dimas berubah setelah anak ini lahir? Bagaimana jika ia ditinggal lagi?
Apakah ia akan cukup kuat jika sendirian?
"Sar, kamu kenapa? Wajah kamu pucat banget."
Dimas bertanya cemas saat melihat Sarah terduduk diam di sofa.
"Aku takut, Mas. Aku takut kamu balik lagi jadi Dimas yang dulu. Aku takut kamu lelah dengan aku yang penuh luka."
Dimas jongkok di hadapannya, menatap mata istrinya.
"Aku juga takut. Tapi aku lebih takut kehilangan kesempatan jadi ayah yang baik. Suami yang benar. Aku udah lihat kamu berjuang. Kamu bahkan kuat di saat aku lemah. Sekarang gantian aku yang kuat. Untuk kamu. Untuk anak kita."
Sarah menangis. Tapi kali ini tangisnya bukan karena luka.
Tapi karena harapan.
**
Saat kontraksi pertama datang, Dimas mengantar Sarah ke rumah sakit dengan panik. Ia memegang tangan Sarah selama seluruh proses pembukaan. Bahkan saat dokter mengatakan harus dilakukan operasi karena posisi bayi melintang, Dimas menolak untuk meninggalkan ruang tunggu.
Jam demi jam berlalu.
Akhirnya, tangisan bayi terdengar.
Seorang bayi perempuan lahir ke dunia dengan sehat dan sempurna.
"Selamat ya, Pak. Putrinya cantik. Ibu dan bayinya dalam kondisi stabil."
Dimas mengusap air matanya. Untuk pertama kalinya dalam hidup, ia menangis bukan karena sedih. Tapi karena penuh.
**
Beberapa jam kemudian, saat Sarah sudah di ruang pemulihan, Dimas duduk di sisinya, membawa bayi mereka dalam selimut putih kecil.
"Dia mirip kamu. Tapi matanya kayak aku. Namanya siapa, Sayang?"
Sarah tersenyum lemah.
"Namanya Alya. Dari bahasa Arab, artinya 'yang mulia'. Karena dia lahir dari luka yang kita ubah jadi kekuatan."
Dimas mengecup kening Sarah. "Terima kasih sudah bertahan, Sar. Terima kasih masih mau jadi rumah buat aku dan Alya."
Sarah menatap wajah suaminya dan anak mereka. Untuk pertama kalinya, ia merasa utuh kembali. Bukan karena luka itu hilang, tapi karena ia memutuskan untuk hidup berdampingan dengan luka, lalu menumbuhkan cinta di atasnya.
**
Namun hidup tak selalu memberi jeda panjang.
Sebulan setelah kelahiran Alya, Sarah menerima surat panggilan kerja dari sebuah perusahaan media besar. Ia sempat melamar dulu saat masih hamil, dan tak menyangka akan dipanggil.
"Mas, kalau aku kerja lagi, kamu keberatan gak?"
Dimas menggeleng. "Sama sekali enggak. Aku bisa bantu jagain Alya kalau kamu kerja dari rumah dulu. Aku juga bisa cari pengasuh terpercaya. Tapi kalau kamu belum siap, gak usah dipaksain."
Sarah menatap bayinya yang tertidur lelap.
"Aku mau kerja bukan karena uang. Tapi karena aku gak mau kehilangan diriku sendiri lagi. Dulu aku terlalu larut dalam peran istri sampai lupa siapa aku. Kali ini, aku mau hidup sebagai perempuan utuh. Ibu, istri, dan juga Sarah yang punya impian."
Dimas memeluknya.
"Kamu punya hak atas semua itu. Dan aku akan dukung sepenuhnya."
**
Beberapa bulan kemudian, rumah mereka mulai terisi tawa. Alya tumbuh sehat, Sarah mulai bekerja dari rumah dan sesekali ke kantor, Dimas benar-benar berubah. Bukan sempurna, tapi nyata. Ia belajar memasak MPASI, mengganti popok, bahkan belajar tentang emosi pascamelahirkan yang dialami Sarah.
Namun, luka masa lalu tak benar-benar hilang. Kadang masih muncul dalam mimpi Sarah. Tapi kini, ia tahu, luka itu tak lagi berkuasa atasnya.
Suatu malam, saat mereka bertiga duduk di teras sambil mendengar suara jangkrik dan memandangi langit malam, Sarah berkata pelan,
"Mas, kalau waktu bisa diputar ulang, kamu tetap akan memilih aku?"
Dimas mencium jemari istrinya.
"Akan aku pilih seribu kali. Bahkan kalau hidup memberiku jalan lain, aku akan tetap cari jalan balik ke kamu."
Sarah mengangguk. Ia percaya bukan karena kata-kata itu indah, tapi karena kini Dimas membuktikannya setiap hari.
**
Dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, Sarah bisa mengatakan pada dirinya sendiri:
"Aku pernah hancur. Tapi aku bangkit. Aku pernah kehilangan, tapi aku menemukan lagi. Aku pernah terluka, tapi aku tidak membiarkan luka itu membusuk. Aku memilih sembuh. Aku memilih hidup."
Anda Mungkin Juga Suka





