
Kau Menebar Dusta di Hatiku
Bab 2
Hujan turun deras sepanjang pagi itu. Liyana menatap derasnya air dari jendela dapur, mendengarkan gemuruh tetesan yang memukul atap rumah megah Rafly dan Nadya. Suasana rumah terasa berbeda; biasanya ramai dengan aktivitas pelayan, kini hanya terdengar suara rintik hujan dan langkahnya sendiri di lantai marmer yang dingin.
Ia menyiapkan sarapan, tapi tangannya gemetar. Pikiran Liyana masih melayang pada percakapan semalam dengan Alvin. Pria itu menekankan agar ia mempererat kedekatan dengan Rafly, tapi kali ini, pesan yang ia terima lebih menakutkan:
"Jangan biarkan perasaanmu mengganggu rencana. Rafly harus tergoda, dan jangan sampai Nadya tahu."
Liyana menarik napas panjang. Hutang yang menumpuk di rumah membuatnya tidak punya pilihan. Namun, setiap kali ia melihat Rafly, hatinya menolak untuk hanya menjadi boneka. Ada sesuatu tentang aura Rafly yang membuatnya merasa aman sekaligus takut.
Saat ia menata piring di ruang makan, Rafly masuk. Jas hitamnya basah sedikit karena hujan yang tidak ia antisipasi. Rambutnya sedikit menempel di dahi, dan tatapannya yang tajam langsung membuat Liyana menunduk.
"Kamu sudah sarapan?" tanya Rafly dengan suara rendah, matanya menelusuri gerakan Liyana.
"Sudah, Pak," jawabnya cepat, berusaha menutupi rasa gugup.
Rafly duduk di kursi, menatap cangkir kopi di tangannya. Ada jeda panjang sebelum ia berkata, "Hujan ini... membuat segala sesuatu terasa lebih berat."
Liyana mengangguk, meski tidak mengerti maksudnya. Rafly selalu bicara dengan nada yang membuat orang lain merasa kecil, seolah setiap kata adalah perintah terselubung.
Setelah Rafly pergi ke ruang kerjanya, Liyana menyeka keringat dingin di keningnya. Ia tahu hari ini akan menjadi sulit. Alvin menekannya, tapi hatinya mulai memberontak. Semakin ia dekat dengan Rafly, semakin sulit ia berpura-pura.
Siang itu, Nadya muncul di ruang kerja Rafly. Perempuan itu selalu tampil sempurna: rambut rapi, pakaian mahal, senyum tipis yang selalu menyembunyikan sesuatu. Liyana duduk di dekat meja, mengatur berkas Rafly, sambil merasakan mata Nadya menatapnya dari sisi ruang.
"Liyana," Nadya memulai, suaranya dingin tapi terdengar lembut. "Aku perhatikan kamu sering berada di dekat Rafly belakangan ini. Ada maksud tertentu?"
Liyana menelan ludah, mencoba tersenyum. "Hanya membantu Pak Rafly, Bu. Terkadang beliau sibuk dengan dokumen, jadi saya ikut memastikan semuanya rapi."
Nadya mengangkat alisnya, lalu tersenyum tipis. "Hm... baiklah. Tapi ingat, rumah ini penuh mata. Jangan sampai salah langkah."
Liyana mengangguk, tapi di dalam hatinya, rasa waspada semakin tumbuh. Nadya bukan tipe orang yang mudah ditipu. Setiap gerakan, setiap senyum, bisa dianalisis dengan cepat.
Hari berganti sore. Liyana berada di taman belakang, menata bunga-bunga yang baru ia siram. Rafly muncul, payung di tangan, tapi tidak menutupinya sepenuhnya. Hujan menetes di bahunya, dan aroma hujan bercampur tanah basah membuat Liyana terhenti sejenak.
"Kamu tidak takut kehujanan?" tanya Rafly, matanya menatapnya tajam.
"Saya... tidak terlalu, Pak," jawabnya cepat, mencoba tetap tenang.
Rafly tersenyum tipis, senyum yang membuat Liyana merasakan sesuatu yang aneh di dadanya. Pria itu melangkah lebih dekat, menatap bunga yang sedang ia siram. Tangan Rafly menyentuh batang bunga, gerakannya tegas tapi lembut. Liyana menahan napas, menyadari jarak antara mereka terlalu dekat.
"Kamu... pandai menjaga hal-hal kecil," kata Rafly. "Kadang hal kecil itu penting. Bahkan lebih penting daripada yang besar."
Liyana tersenyum tipis, tidak yakin bagaimana menanggapi. Setiap kata Rafly terasa seperti ujian, seperti menilai seberapa jauh ia bisa mengendalikan diri.
Malamnya, setelah semua aktivitas rumah selesai, Liyana duduk di kamarnya, ponselnya bergetar. Alvin menelpon lagi.
"Kamu sudah mendekatinya?" suara Alvin terdengar serak, penuh gairah tapi ada nada ancaman di baliknya.
"Sedikit... Pak Alvin," jawab Liyana, suaranya rendah. "Tapi dia berbeda. Sulit untuk dibaca."
Alvin tertawa pelan. "Bagus. Itu artinya kamu berada di jalur yang benar. Jangan biarkan rasa takut atau perasaanmu menghalangi misi ini. Ingat, Rafly harus jatuh hati, dan Nadya tidak boleh tahu."
Liyana menutup telepon, merasakan campuran ketakutan dan rasa bersalah. Setiap kali ia mendekati Rafly, hatinya tidak lagi netral. Ketertarikan itu tumbuh, lambat tapi pasti.
Beberapa hari kemudian, Liyana menemukan Rafly sedang bekerja lembur di ruang kerja. Lampu hangat menyorot wajahnya, membuat bayangan tegas di pipi dan rahangnya. Liyana menatapnya dari ambang pintu, merasa ada getaran aneh di dadanya.
Rafly menoleh. "Kamu di sana?" tanyanya, suaranya rendah tapi penuh perhatian.
"Iya, Pak. Hanya ingin memastikan... dokumen-dokumen ini tersusun rapi," jawab Liyana, mencoba terdengar profesional.
Rafly mengangguk, lalu melambaikan tangannya agar Liyana mendekat. "Duduklah. Aku ingin mendengarkan pendapatmu."
Liyana mendekat dengan langkah hati-hati. Jantungnya berdegup kencang. Ia tahu ini adalah momen penting: Rafly meminta perhatiannya, tapi ia juga sadar betapa bahayanya situasi ini.
"Menurutmu, mana proposal yang lebih tepat untuk klien besar minggu depan?" tanya Rafly, matanya menatap Liyana langsung.
Liyana mengambil napas panjang, mencoba fokus. "Yang ini, Pak. Karena lebih detail, dan menunjukkan kesiapan kita lebih baik," jawabnya mantap, menunjuk dokumen tertentu.
Rafly tersenyum tipis. "Bagus. Pandanganmu tajam. Aku suka itu."
Sekali lagi, senyum Rafly itu membuat Liyana merasa aneh. Ada ketertarikan, tapi juga dominasi. Ia tahu setiap pujian Rafly bukan sekadar pujian biasa; ada kekuatan di balik kata-katanya, sesuatu yang membuatnya ingin mematuhi sekaligus memberontak.
Malam itu, ketika Liyana berbaring di kamarnya, ia memikirkan semua yang terjadi. Setiap senyuman, setiap pandangan, setiap kata Rafly seolah menimbulkan badai di hatinya. Hutang yang menumpuk membuatnya tetap terikat dengan misi, tapi perasaan yang tumbuh membuatnya takut kehilangan kendali.
Dan ia tahu, badai ini baru saja dimulai.
Hari-hari berikutnya, Liyana semakin terbiasa berada di dekat Rafly. Ia belajar membaca gerakan kecil, nada bicara, hingga ekspresi wajahnya. Setiap sentuhan ringan, setiap tatapan tajam, membuatnya merasakan campuran takut dan penasaran yang belum pernah ia alami sebelumnya.
Namun, bahaya semakin dekat. Nadya mulai mencurigai kedekatan mereka. Senyumnya semakin tipis, pandangannya semakin tajam, seolah menembus setiap lapisan kepalsuan. Dan Alvin? Ia terus menekan Liyana, menuntut hasil, mengingatkan akan konsekuensi jika gagal.
Liyana berada di tengah pusaran konflik, godaan, dan intrik. Ia tahu semakin lama ia berada di dekat Rafly, semakin sulit untuk memisahkan perasaan dari misi. Hatinya mulai bertanya-tanya: apakah ia bisa tetap netral, atau akhirnya jatuh ke dalam jebakan yang lebih berbahaya dari sekadar uang dan hutang?
Dan satu hal pasti: setelah berada di dunia Rafly, tidak ada jalan untuk mundur. Setiap langkah membawa risiko, setiap senyuman membawa godaan, dan setiap detik bisa mengubah segalanya.
Matahari sore menembus celah jendela ruang keluarga dengan sinar keemasan, menyoroti permukaan lantai kayu yang mengilap. Liyana duduk di sofa, tangannya menggenggam secangkir teh hangat, tapi pikirannya jauh dari ketenangan. Hari ini bukan hanya tentang pekerjaan, tapi tentang rahasia yang semakin menumpuk di kepalanya.
Sejak beberapa minggu terakhir, dinamika di rumah Rafly dan Nadya mulai berubah drastis. Nadya semakin sering menatapnya dengan tajam, dan kata-kata yang terdengar manis pun kini terasa seperti peringatan. Liyana tahu, jika ia lengah sedikit saja, Nadya akan segera tahu bahwa ada sesuatu yang salah.
Belum lagi tekanan dari Alvin yang tak kunjung berhenti. Telepon dari pria itu datang beberapa kali sehari, mengingatkan bahwa Liyana harus terus memikat Rafly. Uang besar dan hutang yang menanti di luar membuatnya tetap terjebak, tapi setiap kali Rafly tersenyum padanya, hatinya memberontak.
Hari itu, Liyana diberi tugas tambahan: menyiapkan dokumen keuangan untuk rapat mendadak Rafly dengan klien penting. Ia sibuk menata dokumen di ruang kerja, ketika terdengar ketukan di pintu. Rafly masuk, jas hitamnya sedikit kusut, rambutnya menempel di dahi karena hujan yang baru saja reda.
"Liyana, aku butuh bantuanmu," ucapnya tanpa basa-basi, matanya langsung menatap layar laptop yang penuh angka.
"Ya, Pak," jawab Liyana, berusaha terdengar tenang meski jantungnya berdegup kencang. Ia menunduk, mulai menata dokumen, menyamakan catatan dengan layar laptop Rafly.
Rafly berdiri di belakangnya, jarak mereka terlalu dekat. Liyana merasakan hangat tubuhnya, aroma maskulin yang tidak bisa ia abaikan. Setiap kali Rafly menatapnya dengan mata tajam, ada sesuatu yang membuatnya merasa terancam sekaligus penasaran.
"Ada yang salah di laporan ini," Rafly tiba-tiba berbisik, suaranya rendah. Liyana menoleh, dan mata mereka bertemu. Ada intensitas yang membuat Liyana tersentak. "Coba periksa lagi."
Liyana mengangguk, tangannya sedikit gemetar. Ia fokus pada angka-angka, tapi pikirannya melayang pada rahasia yang semakin menumpuk di dadanya. Misi Alvin tidak pernah mudah, tapi sekarang, godaan Rafly mulai terasa nyata.
Beberapa jam kemudian, Liyana pergi ke dapur untuk menyiapkan minuman hangat. Tiba-tiba Nadya muncul, wajahnya tampak tegang.
"Kamu sering berada di dekat Rafly akhir-akhir ini," Nadya memulai dengan nada dingin. "Aku melihatmu di ruang kerja tadi. Ada sesuatu yang harus aku ketahui?"
Liyana menelan ludah, berusaha tersenyum manis. "Hanya membantu Pak Rafly dengan dokumen, Bu. Tidak lebih."
Nadya menatapnya lama, seperti sedang membaca pikirannya. "Hati-hati, Liyana. Aku tahu ada yang berubah. Jangan sampai rumah tangga ini terganggu karena seseorang yang tidak seharusnya ikut campur."
Liyana menunduk, merasakan tekanan di dadanya. Nadya bukan tipe orang yang mudah dibohongi. Kata-kata itu terasa seperti ancaman terselubung, tapi Liyana tidak punya pilihan. Hutang ayah dan kakaknya menunggu di luar sana.
Sore itu, ketika semua orang mulai berkumpul di ruang tamu, terdengar suara Alvin melalui telepon.
"Kamu harus lebih berani," ujar Alvin, suaranya serak. "Rafly harus merasa bahwa dia ingin bersamamu, bukan sekadar tertarik sesaat. Gunakan kesempatan itu sebelum Nadya mencurigai sesuatu."
Liyana menutup telepon, merasakan campuran ketakutan dan rasa bersalah. Setiap langkahnya kini terasa seperti berjalan di atas kaca.
Malam harinya, Rafly memanggilnya ke ruang kerja lagi. Kali ini suasana berbeda. Lampu meja menyorot wajah Rafly, bayangan tegas di rahangnya, membuat Liyana merasa seperti berada di dunia lain.
"Kamu tahu, Liyana," Rafly memulai, suaranya lembut tapi penuh kendali. "Aku menghargai ketelitianmu. Tapi kadang aku merasa... kamu terlalu berhati-hati."
Liyana menelan ludah, tidak tahu bagaimana harus menanggapi. Rafly duduk di kursi, tangannya menatap layar laptop sebentar sebelum menoleh padanya.
"Aku ingin kamu lebih berani. Jangan takut membuat kesalahan."
Kata-kata itu seperti pedang bermata dua. Di satu sisi, mereka mendorongnya untuk dekat dengan Rafly, tapi di sisi lain, hatinya mulai merespon. Ada sesuatu di mata Rafly yang membuatnya sulit menolak-suatu dominasi yang membuatnya merasa terikat.
Esoknya, konflik baru muncul. Nadya, yang sepertinya semakin curiga, menugaskan Liyana untuk mengurus persiapan pesta kecil di rumah. Sementara itu, Rafly sibuk dengan rapat penting. Liyana harus berpindah dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain, menjaga jarak dengan Rafly, sambil menahan godaan yang semakin kuat.
Saat menata meja, Rafly datang sebentar untuk memastikan semuanya berjalan lancar. Tangan mereka tanpa sengaja bersentuhan ketika ia memberikan gelas air. Liyana merasakan kejutan kecil, jantungnya berdegup kencang. Rafly tersenyum tipis, seolah menyadari reaksi Liyana.
Hari itu juga, Liyana menemukan amplop berisi uang tunai yang diselipkan di tasnya. Alvin selalu memastikan tekanan tetap ada. "Ingat, ini bukan hadiah. Ini tanggung jawabmu," begitu pesan yang ia terima. Liyana menatap amplop itu, campuran rasa bersalah dan lega memenuhi hatinya.
Malam menjelang, hujan turun lagi. Liyana duduk di balkon, menatap tetesan hujan yang menetes di tanah. Ia memikirkan semua yang terjadi: Rafly, Nadya, Alvin, dan dirinya sendiri. Ia mulai bertanya, apakah ia mampu menjaga jarak emosional, atau justru semakin jatuh ke dalam godaan yang menantang moralnya?
Ketika Rafly keluar dari ruang kerja, ia berdiri di dekat Liyana, jarak mereka terlalu dekat. "Liyana," suaranya rendah, "aku ingin kamu jujur padaku. Tentang perasaanmu."
Liyana tersentak. Ia menelan ludah, mencoba menenangkan diri. "Saya... saya hanya melakukan tugas, Pak," jawabnya cepat, tapi hatinya memberontak. Kata-kata itu terasa hampa dibanding intensitas pandangan Rafly.
Rafly menatapnya lama, seolah menelusuri isi hatinya. Liyana merasa tubuhnya panas, sulit bernafas. Ada ketegangan yang berbeda, sesuatu yang tidak bisa ia hindari.
Malam itu, Liyana tidak bisa tidur. Semua pikiran berkecamuk: Rafly yang dominan, Nadya yang curiga, Alvin yang menekan, dan dirinya sendiri yang mulai kehilangan kendali. Hutang membuatnya tetap terikat dengan misi, tapi hati dan perasaannya seolah memberontak.
Di sisi lain, konflik baru mulai muncul. Rafly mulai menunjukkan perhatian yang lebih intens-kadang terlalu dekat, kadang terlalu dominan, membuat Liyana merasa terombang-ambing antara ketakutan dan ketertarikan. Nadya mulai lebih sering menatapnya dengan mata tajam, dan Alvin selalu mengingatkan akan konsekuensi kegagalan.
Liyana sadar, badai ini semakin besar. Setiap langkahnya bisa menjadi jebakan, setiap senyuman bisa menjadi godaan, dan setiap detik bisa mengubah segalanya. Ia berada di tengah konflik yang semakin kompleks: bukan hanya antara Rafly, Nadya, dan Alvin, tapi juga antara hatinya sendiri dan misi yang harus ia jalankan.
Ia tahu satu hal pasti: setelah terlibat dalam kehidupan Rafly, tidak ada jalan untuk mundur. Dan badai yang datang ini baru permulaan dari perjalanan yang akan menguji ketahanan, moral, dan hati Liyana.
Anda Mungkin Juga Suka





