Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Kau Menebar Dusta di Hatiku

Kau Menebar Dusta di Hatiku

Liyana bekerja sebagai ART di rumah Rafly dan Nadya yang dilanda krisis. Setelah memergoki Nadya selingkuh, ia dijebak misi rahasia oleh Alvin untuk menggoda Rafly demi uang pelunasan hutang keluarga. Meski awalnya terpaksa, keluguan Liyana justru menjerat Rafly dalam gairah tersembunyi. Kini, hidupnya penuh ketegangan saat rahasia mulai terkuak. Di tengah dominasi Rafly yang misterius, Liyana harus berjuang menahan perasaan agar tidak hancur dalam dunia pria itu.
Bab
Bagikan

Bab 3

Langit malam tampak kelam dan berat, seolah menahan hujan yang tak kunjung turun. Liyana duduk di tepi tangga di taman belakang rumah, tangannya menelusuri rumput basah yang menempel di jari. Ia merasa lelah, tapi tidak hanya lelah secara fisik. Tekanan dari minggu-minggu terakhir membuat hatinya penat. Rafly, Nadya, Alvin, dan dirinya sendiri-semua terasa seperti pusaran yang tidak bisa ia kendalikan.

Hari ini berbeda. Nadya tiba-tiba memerintahkannya menata ruang kerja Rafly sebelum pesta amal yang akan digelar keluarga mereka. Bukan sekadar menata dokumen, tapi juga memastikan setiap detail: kursi rapi, lampu menyala, hingga parfum yang dipakai Rafly harus tercium samar di udara. Liyana menghela napas panjang. Ia tahu ini ujian, bukan hanya kemampuan bekerja, tapi juga kesabarannya menghadapi tekanan Nadya yang semakin tajam.

Ketika ia mulai menyusun dokumen di ruang kerja Rafly, Rafly datang tanpa mengetuk. Pintu terbuka, aroma maskulinnya langsung menusuk hidung Liyana. Pria itu berdiri di ambang pintu, matanya menatap lurus ke arahnya, seperti ingin menembus pikirannya.

"Liyana, jangan terlalu fokus pada hal-hal kecil. Terkadang, kesalahan kecil membuat perbedaan besar," ucap Rafly, suaranya rendah tapi mengandung kekuatan.

Liyana tersentak, tapi berusaha menenangkan diri. "Iya, Pak," jawabnya, meski jantungnya berdegup kencang. Setiap kata Rafly seolah memerintah sekaligus menggoda.

Rafly melangkah lebih dekat, tangannya menyentuh dokumen yang dipegang Liyana. Sentuhan itu singkat, tapi cukup membuat seluruh tubuh Liyana bereaksi. Ia menunduk, mencoba menahan diri dari getaran yang mengalir di sepanjang tangannya.

"Kamu... berbeda dari orang lain di rumah ini," Rafly melanjutkan, matanya menelusuri ekspresi Liyana. "Ada sesuatu di dalam dirimu yang membuatku penasaran."

Liyana menelan ludah, merasa campuran takut dan penasaran. Ia tahu ini adalah bagian dari godaan yang Alvin minta, tapi hatinya menolak untuk hanya berpura-pura. Ada sesuatu di Rafly yang membuatnya sulit mengendalikan diri.

Tak lama kemudian, Nadya muncul. Rambutnya disisir rapi, wajahnya memancarkan kesempurnaan yang menakutkan. Tatapannya jatuh pada Liyana, tajam dan penuh curiga.

"Kamu sering terlihat terlalu dekat dengan Rafly akhir-akhir ini," Nadya mulai, suaranya dingin tapi terkendali. "Aku harap tidak ada maksud lain selain pekerjaan."

Liyana menunduk, berusaha tersenyum. "Hanya memastikan semuanya siap untuk pesta, Bu. Tidak lebih."

Nadya menatapnya lama, kemudian melangkah pergi. Tapi senyum tipisnya tidak sampai ke mata. Liyana tahu, itu adalah ancaman terselubung. Ia kembali menata dokumen, namun hatinya tidak tenang. Nadya semakin curiga, dan ia tahu, jika sampai Nadya menyadari kedekatannya dengan Rafly, situasi akan sangat berbahaya.

Malam itu, Liyana berdiam di balkon, menatap kota yang dipenuhi lampu-lampu kecil. Ponselnya bergetar, pesan dari Alvin muncul:

"Hari ini adalah titik penting. Rafly harus mulai merasa ingin mendekatimu, lebih dari sekadar ketertarikan sesaat. Jangan gagal."

Liyana menutup ponsel, menarik napas panjang. Ia merasa seperti terjepit di antara dua dunia: tugasnya untuk menipu Rafly demi uang dan hutang keluarga, dan perasaan yang tumbuh seiring waktu. Hatinya mulai berontak, tapi tanggung jawab membuatnya tetap berada di jalur berbahaya ini.

Hari berikutnya, pesta amal dimulai. Rumah megah itu dipenuhi tamu-tamu penting, cahaya kristal dari lampu gantung menyorot wajah-wajah tersenyum tapi penuh kepura-puraan. Liyana sibuk melayani tamu, menyiapkan minuman, dan memastikan setiap detail berjalan sempurna. Namun, matanya selalu mencari Rafly.

Rafly berdiri di ujung ruangan, mengenakan setelan gelap yang menegaskan postur tubuhnya. Pandangannya beberapa kali bertemu dengan Liyana. Ada intensitas di mata itu-campuran dominasi, ketertarikan, dan misteri. Liyana merasakan jantungnya berdebar.

Di tengah pesta, Nadya menghampiri Liyana. "Pastikan Rafly tidak terlalu dekat denganmu malam ini," Nadya berbisik, suara dingin seperti es. "Aku tidak ingin ada rumor."

Liyana menelan ludah, merasa tekanan meningkat. Nadya mulai menunjukkan sikap protektif yang lebih intens, seolah membaca pergerakan Liyana dengan presisi.

Ketika pesta berlangsung, Rafly datang menghampiri Liyana. "Kamu terlihat berbeda malam ini," katanya, senyum tipis menghiasi wajahnya. "Lebih... menawan."

Liyana tersentak. Kata-kata itu membuat darahnya panas. Ia sadar, semakin lama ia berada dekat Rafly, semakin sulit menahan diri. Setiap senyum, setiap pandangan, terasa seperti jebakan yang manis tapi berbahaya.

Beberapa menit kemudian, sebuah konflik baru muncul. Salah satu tamu yang memiliki hubungan bisnis dengan Rafly mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan sulit tentang proyek baru. Rafly sibuk menjawab, tapi tangannya sesekali menyentuh lengan Liyana, bukan secara sengaja, tapi cukup untuk membuatnya sadar akan kedekatan mereka.

Setelah pesta selesai, Liyana membantu membersihkan ruang keluarga. Rafly menghampirinya lagi, kali ini di ruang tamu yang hampir kosong. "Liyana, kamu tahu... aku menghargai ketelitianmu. Tapi ada sesuatu yang membuatku ingin lebih mengenalmu," kata Rafly, matanya menatap langsung ke arahnya.

Liyana merasa campuran takut dan penasaran. Kata-kata itu bukan sekadar pujian. Ada dominasi, ada godaan, dan ada misteri yang membuatnya tidak bisa menolak.

Keesokan harinya, Liyana menerima surat dari Alvin yang diselipkan di tasnya. Uang tunai tidak ada, tapi isi surat itu menekankan tekanan:

"Rafly mulai merasa tertarik padamu. Jangan biarkan Nadya atau orang lain mengganggu. Pastikan semuanya sesuai rencana."

Liyana menatap surat itu lama. Ia tahu, badai yang sedang ia hadapi semakin besar. Setiap langkah yang ia ambil bisa berakibat fatal, baik untuk karir, hati, maupun keselamatannya sendiri.

Hari-hari berikutnya, konflik semakin meningkat. Rafly mulai menunjukkan sisi dominan yang lebih jelas-menyentuh tangan Liyana saat memberikan dokumen, memanggil namanya dengan nada rendah yang membuat seluruh tubuhnya bereaksi, dan menatapnya dengan intensitas yang tidak bisa ia abaikan.

Nadya semakin curiga. Ia menanyai Liyana tentang setiap gerakannya, menyadari adanya jarak yang semakin dekat antara Liyana dan Rafly. Liyana harus berpikir cepat, menjaga keseimbangan antara misi, moral, dan perasaannya sendiri.

Sementara itu, Liyana mulai menyadari sesuatu yang lebih berbahaya: ia tidak lagi bisa membedakan antara misi dan perasaan. Setiap kali Rafly menatapnya, ada perasaan yang tumbuh, perasaan yang membuatnya takut sekaligus penasaran.

Malam itu, Liyana berdiri di balkon, menatap kota yang berkilau di bawah lampu jalan. Angin malam menyentuh wajahnya, dan ia menutup mata sejenak, mencoba menenangkan diri. Tapi hatinya memberontak. Rafly, Nadya, Alvin-semuanya membuatnya terjebak dalam pusaran konflik yang semakin kompleks.

Ia tahu satu hal pasti: semakin ia terlibat dalam dunia Rafly, semakin sulit baginya untuk mundur. Setiap langkah membawa risiko, setiap senyum membawa godaan, dan setiap detik bisa mengubah semuanya.

Dan badai itu, badai yang menguji moral, hati, dan keberaniannya, baru saja mulai.

Langit pagi tampak kelabu, seolah menandakan badai akan datang, bukan di luar rumah, tapi di dalam kehidupan Liyana. Ia berdiri di depan jendela dapur, menatap jalanan yang basah karena hujan semalam. Di tangannya, secangkir kopi hampir dingin, tapi pikirannya tidak tentang rasa kopi. Ia memikirkan Rafly, Nadya, Alvin, dan keputusan-keputusan yang harus ia ambil—keputusan yang bisa mengubah hidupnya selamanya.

Hari ini, rumah itu terasa berbeda. Ada ketegangan yang tidak bisa ia abaikan, dari sudut mata Rafly yang tajam, dari senyum Nadya yang dingin, dan dari telepon bergetar yang selalu mengingatkan kehadiran Alvin di balik layar.

Pagi itu, Liyana mendapatkan tugas baru: Nadya meminta ia menata seluruh lemari pakaian Rafly, memeriksa setiap setelan dan dasi, memastikan semuanya sesuai dengan standar rumah tangga mereka yang sempurna. Liyana tahu ini bukan sekadar pekerjaan rumah tangga. Nadya selalu menggunakan tugas-tugas kecil ini untuk mengamati, menilai, dan terkadang menguji batas kesabaran.

Saat Liyana menata jas jasraf Rafly di lemari, terdengar suara langkahnya. Rafly masuk tanpa mengetuk, aroma maskulinnya menyusup ke ruangan. Liyana menahan napas, berusaha tetap fokus.

“Kamu teliti, Liyana,” ucap Rafly, suaranya rendah tapi tegas. “Tapi aku ingin melihat sisi lain dari dirimu.”

Liyana tersentak. Sisi lain? Ia menatap Rafly bingung, tapi pria itu hanya tersenyum tipis, pandangannya menembus pikirannya. Ada sesuatu dalam sorot matanya yang membuat seluruh tubuh Liyana tegang, tapi sekaligus penasaran.

“Kalau begitu, tolong bantu aku memilih pakaian untuk rapat hari ini,” Rafly melanjutkan, menaruh jas dan dasi di sampingnya. “Aku ingin melihat perspektifmu.”

Liyana menghela napas, mencoba tetap profesional. Ia memilihkan setelan gelap, dasi biru tua, sambil merasakan sentuhan Rafly yang tidak disengaja saat ia menaruh jas di bahunya. Jantungnya berdegup lebih cepat. Rafly menatapnya lama, seolah mencoba membaca pikirannya.

“Terima kasih, Liyana. Pandanganmu membantu,” kata Rafly, matanya menyala dengan intensitas yang sulit ia jelaskan.

Saat Rafly keluar dari lemari, Nadya muncul di ambang pintu, tatapannya tajam. “Liyana, pastikan semua siap sebelum aku kembali,” katanya singkat, lalu pergi. Senyum tipisnya tidak menutupi mata yang penuh kecurigaan. Liyana menelan ludah. Ia tahu, Nadya semakin waspada.

Beberapa jam kemudian, Liyana berada di ruang tamu, menata buku dan dokumen ketika ponselnya bergetar. Pesan dari Alvin muncul:

"Hari ini adalah ujianmu. Rafly harus mulai merasakan ketertarikan yang lebih nyata. Jangan gagal."

Liyana menutup ponsel, menarik napas panjang. Hutang yang menumpuk membuatnya tetap berada di jalur berbahaya ini, tapi perasaannya mulai memberontak. Setiap kali Rafly menatapnya, ada sesuatu yang tidak bisa ia abaikan.

Siang itu, tamu tak terduga datang: seorang kolega bisnis Rafly, pria bernama Aditya, yang terkenal dengan ketajamannya dalam negosiasi. Kehadiran Aditya membuat atmosfer rumah lebih tegang. Rafly sibuk menyambut tamu, sementara Liyana harus memastikan segalanya berjalan lancar tanpa terlihat canggung.

Ketika Liyana menyajikan minuman, Aditya menatapnya singkat. “Kamu baru di sini, ya?” tanyanya santai, tapi matanya menelusuri setiap gerakan Liyana.

“Ya, Pak,” jawab Liyana sopan, menunduk. Ada ketegangan baru yang muncul—Aditya memberikan aura yang berbeda, dan Liyana menyadari bahwa tidak hanya Rafly yang bisa memengaruhi dirinya.

Rafly menghampirinya, tangannya menyentuh bahunya sekilas saat meminta gelas minum. “Jangan terlalu tegang,” ucapnya rendah, membuat Liyana tersentak. Aroma maskulinnya memenuhi ruang kecil di antara mereka.

Setelah tamu pergi, Rafly mengajak Liyana ke ruang kerja untuk mengevaluasi dokumen. Lampu meja menyorot wajahnya yang tegas. “Liyana, aku ingin jujur padamu,” kata Rafly. “Ada sesuatu tentangmu yang membuatku penasaran. Aku tidak tahu harus bagaimana menanganinya.”

Liyana menahan napas. Kata-kata itu tidak hanya membuatnya takut, tapi juga membuat hatinya bergetar. Ia tahu, setiap kali Rafly berbicara dengan nada seperti itu, ada dominasi yang tidak bisa ia hindari.

Malam harinya, Nadya memanggil Liyana ke ruang tamu. “Aku perhatikan sesuatu,” kata Nadya, suaranya dingin. “Ada kedekatan antara kamu dan Rafly yang tidak biasa. Aku ingin kamu berhati-hati. Jangan sampai ada orang lain yang menggunakannya untuk tujuan mereka sendiri.”

Liyana menelan ludah. Nadya semakin waspada. Kata-kata itu bukan ancaman kosong; ada makna tersembunyi yang mengingatkan Liyana bahwa setiap langkahnya diawasi.

Saat ia kembali ke kamarnya, ponsel bergetar lagi. Alvin mengirim pesan:

"Rafly mulai merasakan ketertarikan. Jangan biarkan Nadya mengetahui. Gunakan semua peluang."

Liyana duduk di tepi tempat tidur, menarik napas panjang. Ia berada di tengah pusaran konflik yang semakin kompleks: tekanan Nadya, godaan Rafly, dan tuntutan Alvin. Ia tahu, semakin lama ia menunda keputusan, semakin sulit untuk mengendalikan situasi.

Beberapa hari kemudian, konflik baru muncul. Rafly meminta Liyana membantunya menyiapkan presentasi untuk klien besar. Ia bekerja lebih dekat dari biasanya, duduk di kursi di sebelah Liyana. Tangan mereka sering bersentuhan, sekadar untuk menunjuk dokumen, tapi setiap sentuhan membuat Liyana merasakan panas di tubuhnya.

“Liyana,” ucap Rafly tiba-tiba, matanya menatapnya langsung. “Aku ingin melihat bagaimana kamu berpikir. Aku ingin tahu apa yang ada di dalam kepalamu.”

Liyana tersentak, menelan ludah. Kata-kata itu bukan sekadar permintaan profesional; ada intensitas, ada dominasi, ada misteri yang membuatnya tidak bisa mengabaikan.

Malam itu, ia berdiri di balkon, menatap langit yang gelap. Angin malam menyentuh wajahnya, tapi ia tidak merasakan ketenangan. Hatanya penuh pertanyaan dan kebingungan. Rafly, Nadya, Alvin—semuanya membuatnya terjebak dalam pusaran konflik yang semakin rumit.

Ia tahu satu hal pasti: badai yang datang ini bukan hanya tentang hutang atau misi. Ini tentang hatinya sendiri, tentang godaan yang semakin nyata, dan tentang risiko yang bisa menghancurkan hidupnya jika ia salah langkah.

Dan ia sadar, perjalanan ini baru saja mulai. Setiap senyum Rafly, setiap tatapan Nadya, setiap pesan Alvin, membawa Liyana lebih dekat ke titik kritis yang bisa mengubah segalanya.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Another Choice Mr. Wijaya
8.5
Kisah ini menelusuri masa muda Wijaya jauh sebelum pertemuannya dengan Tania. Terikat dalam perjodohan tanpa cinta, Wijaya harus menjalani pernikahan yang hanya berlandaskan komitmen sebagai sahabat hidup. Berbagai peristiwa tak terduga mulai menguji hubungan mereka, membawa dampak besar bagi masa depan yang tidak pernah mereka bayangkan. Inilah perjalanan panjang Wijaya dalam mencari makna hubungan hingga akhirnya ia menemukan belahan jiwa sejatinya.
Sampul Novel Cinta Terlarang Sang Janda
8.7
Rio Darmawan adalah CEO muda sukses yang jenuh dengan tekanan perjodohan dari orang tuanya. Selama ini ia selalu menolak setiap calon pilihan keluarga karena merasa tidak ada yang serasi. Namun, pendiriannya goyah setelah bertemu Denanda Kusuma, seorang ibu tunggal yang tangguh dan memikat. Meski mendapat tentangan keras dari keluarganya, Rio bertekad memperjuangkan cintanya pada Denanda. Kini ia terjebak dalam dilema antara mengikuti kata hati atau patuh pada kewajiban keluarga.
Sampul Novel December to January
7.9
Mengapa sebuah perpisahan menyakitkan yang terjadi pada bulan Desember mampu meninggalkan jejak yang begitu mendalam? Saat kalender berganti menuju Januari, bayang-bayang masa lalu itu tetap bertahan dan memberikan dampak besar yang mengubah seluruh tatanan hidup. Kisah ini menelusuri bagaimana duka dan kenangan dari akhir tahun terus menghantui setiap langkah di awal yang baru, menciptakan dilema emosional yang sulit untuk dilepaskan begitu saja.
Sampul Novel DIONESA
8.9
Kehidupan Sasa berubah total saat pindah ke sekolah baru dan harus duduk sebangku dengan Dion, siswa dingin yang anti-sosial. Di saat yang sama, Sasa terpukul mengetahui ayahnya memiliki kekasih baru. Melihat Sasa yang terus murung, Dion yang semula tertutup perlahan mulai peduli dan membuka diri. Kedekatan ini menumbuhkan rasa nyaman di antara mereka hingga rahasia pribadi Dion terungkap, memicu benih cinta yang mulai terpendam di hati masing-masing.
Sampul Novel Moonlight and Mr. CEO
8.2
Nicholas Liu adalah CEO furnitur sukses di Hong Kong yang masih melajang hingga muncul rumor miring tentang orientasinya. Hidupnya yang tenang terusik saat ia terpaksa merawat kucing putih milik sahabatnya, Hanna. Karena enggan, Nic membiarkan hewan itu di teras. Namun, di bawah cahaya bulan purnama yang menyilaukan, kucing itu lenyap secara misterius. Sebagai gantinya, muncul seorang gadis cantik tanpa busana yang mengubah takdir Nic selamanya.
Sampul Novel Satu-PD176
9.5
Sinta dan putrinya terjebak dalam serangan senjata oleh musuh suaminya, Leo. Tragisnya, pengawal kiriman Leo malah kabur saat maut mengancam. Di ambang kematian, Sinta gagal menghubungi Leo berkali-kali hingga kakaknya, Yosan, datang menolong. Saat panggilan ke-99 tersambung, Leo justru memaafkan sang pengawal meski anak mereka tewas. Hancur karena pengkhianatan itu, Sinta sang pengusaha senjata terbesar memutuskan untuk bercerai dan menghentikan seluruh pasokan untuk Leo.