
Kau Hancurkan Lipstikku
Bab 3
Minggu pagi biasanya menjadi waktu yang ditunggu Luna dan Rama. Setelah seminggu bekerja, mereka bisa menikmati sarapan bersama, nonton serial kesukaan, atau sekadar bersantai di balkon. Tapi pagi ini berbeda. Hujan turun sejak subuh, dan suasana rumah terasa lebih sunyi dari biasanya.
Luna berdiri di dapur, membuatkan kopi untuk Rama. Di wajahnya terpancar keraguan. Sudah dua minggu sejak insiden lipstik itu, hubungan mereka membaik-lebih lembut, lebih komunikatif. Tapi hari ini, entah mengapa, Luna merasa gelisah. Seperti ada sesuatu yang akan pecah.
"Ra, kamu mau kopi hitam atau cappuccino?" tanya Luna dari balik dapur.
"Hitam aja, tanpa gula," jawab Rama dari ruang tamu.
Luna mengangguk pelan, lalu mengaduk dua cangkir kopi. Saat ia berjalan ke arah suaminya, ponsel Rama yang tergeletak di meja tamu bergetar.
1 Pesan Baru dari: Nia (mantan pacar)
Luna spontan berhenti melangkah. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat. Bukan karena ia tak percaya Rama, tapi... nama itu.
Nia.
Nama yang tidak asing. Nama dari masa lalu Rama. Wanita yang pernah hampir dinikahi Rama sebelum ia akhirnya memilih Luna.
Luna menaruh dua cangkir di meja dengan tenang. Tapi pikirannya ribut.
"Kopi panas, pelan-pelan ya," katanya, mencoba terdengar biasa.
"Thanks." Rama tersenyum kecil.
Luna duduk. Matanya melirik ponsel di meja. Layar sudah mati, tapi nama itu masih tersimpan jelas di kepala.
"Ra... kamu masih komunikasi sama Nia?" tanyanya hati-hati.
Rama tampak terkejut. "Hah? Dari mana kamu tahu?"
"Barusan ponselmu nyala. Ada pesan masuk."
Rama mengambil ponselnya, memeriksa layar, lalu menarik napas panjang. "Dia cuma nanya kabar. Katanya kebetulan lihat fotoku di akun teman lama."
"Dan kamu bales?"
"Belum." Rama meletakkan ponselnya kembali. "Tapi kayaknya aku bakal bales."
Luna mengerutkan kening. "Kenapa?"
"Karena... aku nggak ada niat apa-apa. Dan aku nggak mau kamu curiga cuma karena aku diam-diam. Lebih baik aku terbuka."
Luna terdiam. Ia menghargai kejujuran Rama. Tapi tetap saja, hatinya tidak nyaman.
Siang Hari
Rama pergi keluar rumah untuk menjemput laundry dan beli bahan makanan. Luna diam di rumah, mencoba fokus pada pekerjaannya yang menumpuk. Tapi pikirannya terus melayang ke satu nama: Nia.
Ia tahu kisah itu sudah lama berlalu. Tapi ada sesuatu dalam cara Rama menanggapi pesan itu-tenang, terbuka, bahkan terlalu tenang-yang membuatnya khawatir. Seolah kehadiran Nia tidak mengguncang apa pun dalam dirinya.
Dan mungkin itulah yang menakutkan.
Saat sedang menyetrika baju, ponsel Luna bergetar. Sebuah pesan dari Maya, sahabat kantornya.
Maya: "Lun, tadi aku lihat Rama di cafe depan jalan Ahmad Yani. Sama cewek. Duduknya deket banget. Kamu bareng dia?"
Luna merasa perutnya kosong seketika. Ia meletakkan setrika pelan, lalu membalas cepat.
Luna: "Nggak. Cewek seperti apa?"
Maya: "Rambut pendek, kulit putih, bajunya formal. Cantik. Gaya lama."
Dada Luna makin sesak. Ia tahu siapa yang dimaksud.
Nia.
Sore Hari – Konfrontasi
Rama pulang sore dengan plastik belanjaan. Seolah semuanya biasa. Ia bahkan sempat bercanda soal harga bawang yang naik.
"Kamu nggak bilang tadi ketemu Nia?" tanya Luna tanpa basa-basi, matanya menatap langsung.
Rama tampak terhenti. "Oh. Kamu tahu."
"Kamu nggak cerita. Tapi teman kantorku lihat kalian di cafe. Duduknya deket. Senyum-senyum."
Rama meletakkan kantong belanja, duduk, dan menghela napas panjang. "Lun, aku nggak bohong. Memang tadi aku ketemu dia. Dia ngajak ngobrol soal proyek barunya. Dia lagi buka agensi digital, dan tahu aku kerja di bidang pemasaran. Cuma ngobrol kerjaan. Itu aja."
"Dan kamu pikir nggak penting buat cerita itu ke aku?"
"Karena aku takut kamu salah paham."
Luna tertawa pahit. "Lucu ya. Waktu aku beli lipstik tanpa izin kamu, kamu marah besar, coret wajahku, bilang aku nggak bisa diajak kerja sama. Tapi kamu? Ketemu mantan, ngobrol di cafe, diam-diam. Dan kamu pikir kamu orang yang lebih baik dari aku?"
Rama mengatupkan rahangnya. "Aku bukan orang sempurna, Luna. Tapi aku nggak ngapa-ngapain. Aku jaga batas. Aku cuma... pengin bantu dia."
"Kenapa kamu merasa harus bantu dia?"
"Karena dulu aku pernah ninggalin dia. Aku merasa ada utang moral."
Luna berdiri. "Dan kamu pikir menikahi aku menebus itu semua?"
"Bukan gitu maksudku..."
"Rama, aku bukan tempat kamu bayar rasa bersalah. Aku istri kamu. Bukan pengganti. Bukan pelampiasan."
Malam yang Dingin
Luna duduk di balkon sendirian. Hujan turun lagi. Ia memandangi jalanan basah di depan rumah, sesekali menyeruput teh yang sudah mulai dingin.
Kenapa hubungan bisa berubah secepat ini? Dua minggu lalu mereka saling mendekap. Sekarang... ia merasa seperti kembali ke titik nol.
Rama muncul di belakangnya, membawa jaket.
"Kamu kedinginan," katanya sambil menyampirkan jaket di bahu istrinya.
"Aku lebih kedinginan di hati, Ra," jawab Luna datar.
Rama duduk di sampingnya. Lama mereka diam.
"Aku pengen kita baik-baik aja, Lun."
"Tapi kamu masih nyimpen masa lalu di saku jaketmu."
"Aku nggak bisa pura-pura masa lalu itu nggak ada. Tapi aku milih kamu. Setiap hari. Bahkan hari ini pun, aku milih pulang ke kamu, bukan ke dia."
Luna menoleh.
"Buktikan. Kalau aku yang kamu pilih, buktikan. Jangan pakai kata-kata."
Hari Berikutnya
Rama memutuskan memblokir kontak Nia. Ia kirim satu pesan terakhir, menjelaskan bahwa ia ingin menjaga rumah tangganya dan tidak ingin menciptakan ruang abu-abu.
"Terima kasih sudah mengingat aku. Tapi sekarang hidupku bersama istriku. Dan aku ingin fokus di sana. Maaf kalau ini terdengar keras, tapi ini yang terbaik."
Luna membaca pesan itu di layar ponsel Rama saat Rama sengaja menunjukkannya.
Dan untuk pertama kalinya setelah hari itu, Luna tersenyum tulus.
Hujan mulai mereda. Matahari muncul dari balik awan abu-abu. Sama seperti hubungan mereka. Tak sepenuhnya cerah, tapi cukup hangat untuk bertahan.
Di meja riasnya, Luna menyimpan kembali semua lipstik warna-warni itu ke dalam kotaknya. Kali ini, bukan karena ia dilarang, tapi karena ia merasa tak perlu menutupi kesedihan dengan warna mencolok.
Yang ia butuhkan sekarang adalah kejujuran. Dan keberanian untuk mencintai... meski bayangan masa lalu masih menyelinap diam-diam.
Anda Mungkin Juga Suka





