
Kau Bukan Sahabatku-Kau Perusak Rumah Tanggaku
Bab 2
Suara isakan Putri semakin keras, memenuhi keheningan pagi yang kelam di ruang makan mereka. Ponselnya tergeletak di lantai, layarnya masih menyala, menampilkan potret kebahagiaan palsu Dimas dan Rina. Setiap jengkal ruangan yang dulu terasa hangat dan penuh cinta, kini seolah mencekik, dipenuhi aura pengkhianatan yang dingin. Putri tidak bisa bernapas. Paru-parunya terasa sesak, seolah ada beban ribuan ton menindih dadanya.
Dimas, yang selama ini selalu ia pandang dengan penuh kekaguman, kini berdiri di sana dengan wajah pucat pasi, matanya penuh kepanikan. Ia mencoba mendekat, tangannya terulur seolah ingin membantu Putri bangkit, namun Putri menepisnya dengan kekuatan yang mengejutkan. Kekuatan yang muncul dari rasa sakit, marah, dan jijik yang mendalam.
"Jangan sentuh aku!" suara Putri bergetar, nyaris tak dikenali. Ia merangkak mundur, menjauhi Dimas seolah pria itu adalah wabah penyakit. "Bagaimana bisa kau melakukan ini, Dimas? Bagaimana? Aku... aku istri sahmu! Aku... aku mencintaimu lebih dari segalanya!"
Dimas akhirnya berhasil mengeluarkan suara, meski terdengar serak. "Putri, tolong dengarkan penjelasanku. Ini tidak seperti yang kamu pikirkan. Aku... aku bisa jelaskan semuanya."
"Jelaskan apa?! Apa yang bisa kau jelaskan dari video itu?! Dari pernikahan itu?!" Putri menunjuk ponselnya yang tergeletak di lantai. "Apakah kau akan bilang itu hanya akting? Sebuah lelucon? Kau pikir aku sebodoh itu, Dimas?!"
Air mata terus membanjiri wajah Putri, bercampur dengan make-up tipis yang ia kenakan pagi itu. Pemandangan Dimas yang selama ini ia puja, kini terlihat menjijikkan di matanya. Rasa cinta yang selama ini memenuhi setiap pori-pori tubuhnya, kini berubah menjadi kebencian yang membara.
Kilasan memori tentang bagaimana Rina masuk ke dalam hidup mereka kembali berputar di benak Putri, menambah rasa sakit yang tiada tara. Rina Adinda Putri. Putri mengingat dengan jelas saat pertama kali ia mengenalkan Rina kepada Dimas. Itu sekitar setahun yang lalu, di acara ulang tahun pernikahan kakek dan nenek mereka. Rina, yang setahun lebih muda dari Putri, baru saja lulus kuliah dan sedang mencari pekerjaan. Putri, sebagai sepupu tertua yang paling dekat dengan Rina, merasa bertanggung jawab untuk membimbingnya.
"Dimas, kenalkan ini Rina, adik sepupuku. Rina, ini suamiku, Dimas," kenang Putri saat ia tersenyum lebar, memperkenalkan dua orang yang paling penting dalam hidupnya.
Rina saat itu terlihat sedikit canggung, namun senyum manisnya segera terpancar. "Halo, Kak Dimas. Salam kenal."
Dimas menjabat tangan Rina dengan ramah, senyumnya hangat. "Halo, Rina. Senang akhirnya bisa bertemu. Putri sering cerita banyak tentangmu."
Saat itu, Putri merasa bangga. Dimas terlihat menyukai Rina, dan Rina pun tampak nyaman dengan Dimas. Ia tidak pernah sedikit pun menduga bahwa pertemuan sederhana itu adalah awal dari kehancuran yang akan datang.
Setelah pertemuan itu, Rina mulai sering datang ke rumah mereka. Awalnya, dengan alasan mencari pekerjaan, Rina sering bertanya pada Putri tentang berbagai lowongan di bidang arsitektur, karena minatnya memang di bidang desain. Putri dengan senang hati membantu, memberinya masukan, bahkan kadang mengajaknya makan siang bersama di kantornya. Lalu, tanpa disadari Putri, frekuensi kunjungan Rina semakin intens.
"Kak Putri, boleh aku main ke rumah? Aku bosan di apartemen," Rina akan mengirim pesan, atau menelepon dengan suara manja.
"Tentu, Rina. Datang saja. Kak Dimas juga baru pulang," jawab Putri selalu, dengan hati tulus.
Putri tak pernah curiga. Baginya, kehadiran Rina di rumah mereka adalah hal yang wajar. Mereka bertiga sering makan malam bersama, menonton film, atau sekadar berbincang di ruang keluarga. Rina bahkan pernah menginap beberapa kali saat Putri harus lembur dan Dimas sedang dinas luar kota. Putri percaya penuh pada Rina. Ia selalu menganggap Rina sebagai bagian dari keluarganya sendiri, bahkan lebih dari sekadar sepupu, layaknya adik kandung. Ia berbagi cerita tentang kebahagiaannya dengan Dimas, tentang mimpi-mimpi mereka, tentang bagaimana Dimas adalah suami yang sempurna. Dan Rina akan mendengarkan dengan penuh perhatian, sesekali tersenyum atau memberikan komentar positif, seolah ia benar-benar ikut berbahagia.
"Kak Dimas memang baik sekali, Kak Putri beruntung punya suami seperti dia," Rina pernah berkata dengan senyum polos, membuat Putri semakin yakin bahwa Rina adalah gadis yang tulus.
Mungkin, terlalu tulus hingga ia tidak melihat serigala berbulu domba yang bersembunyi di balik senyum manis itu.
Putri mencoba mengingat kembali, mencari setiap potongan puzzle yang mungkin ia lewatkan. Ada beberapa hal kecil yang kini terasa janggal.
Perubahan dalam Rutinitas Dimas:
Pulang Terlambat: Awalnya, Dimas jarang sekali pulang terlambat. Tapi dalam enam bulan terakhir, frekuensinya meningkat drastis. Alasannya selalu sama: "Meeting mendadak," "Proyek penting," "Harus mengurus klien di luar kota." Putri selalu percaya, bahkan kadang membawakan bekal makan malam ke kantor Dimas untuk memastikan suaminya tidak kelaparan.
Ponsel yang Terlalu Privasi: Dimas yang dulu sangat terbuka dengan ponselnya, belakangan ini menjadi lebih tertutup. Ponselnya selalu dikunci, dan ia seringkali menerima telepon di luar kamar atau di balkon, berbicara dengan suara pelan. Jika Putri bertanya, ia akan menjawab, "Hanya masalah pekerjaan, Sayang. Tidak perlu khawatir."
Perjalanan Dinas Mendadak: Beberapa kali Dimas pergi dinas ke luar kota tanpa pemberitahuan jauh-jauh hari, terkadang hanya sehari sebelumnya. "Ada urusan mendesak," katanya. Putri selalu mengiyakan, membantunya menyiapkan koper, bahkan menciumnya di ambang pintu dengan penuh cinta. Ia tidak tahu bahwa mungkin di salah satu "perjalanan dinas" itu, Dimas sedang membangun sarang baru.
Perubahan pada Rina:
Penampilan yang Lebih Terawat: Rina, yang dulunya lebih sering tampil sederhana, tiba-tiba mulai mengubah gaya busananya menjadi lebih modis dan dewasa. Ia juga mulai memakai make-up, sesuatu yang jarang ia lakukan sebelumnya. Putri sempat memujinya, "Wah, Rina, kamu semakin cantik sekarang!" Dan Rina hanya tersipu malu.
Sering Menghilang: Ada beberapa waktu di mana Rina sulit dihubungi. Ia akan membalas pesan Putri berjam-jam kemudian, atau mengatakan sedang sibuk dengan urusan keluarga. Putri tidak terlalu memikirkannya, mengira Rina memang sedang disibukkan dengan hal lain.
Perubahan Bahasa Tubuh: Sekarang Putri berpikir kembali, ada beberapa kali Dimas dan Rina menunjukkan bahasa tubuh yang terlalu akrab, namun ia mengabaikannya. Misalnya, sentuhan tangan yang sedikit terlalu lama saat menyerahkan sesuatu, atau pandangan mata yang lebih intens dari sekadar hubungan kakak-adik ipar. Putri selalu menganggapnya sebagai bentuk keakraban keluarga, tanpa sedikitpun curiga.
Rasa bodoh dan ditipu membakar hati Putri. Bagaimana bisa ia begitu buta? Begitu naif? Ia mencintai Dimas dengan sepenuh hati, ia mempercayai Rina dengan segenap jiwa, namun keduanya, bersama-sama, telah mengkhianatinya dengan cara yang paling keji.
"Aku... aku tidak menyangka ini bisa terjadi," bisik Putri, air mata masih mengalir deras. Ia mencoba bangkit, berpegangan pada meja makan yang dingin. "Kau... kau adalah segalanya bagiku, Dimas. Segalanya. Bagaimana kau bisa menghancurkan semuanya seperti ini?"
Dimas akhirnya berhasil mendekat, berlutut di hadapan Putri. Ia mencoba meraih tangan Putri, namun Putri menariknya menjauh. "Putri, kumohon, beri aku kesempatan. Aku tahu ini salah, aku tahu aku brengsek. Tapi ada alasannya, Sayang. Ada alasannya."
"Alasan? Alasan apa yang bisa membenarkan pengkhianatan ini?!" raung Putri, suaranya dipenuhi amarah. "Kau bersumpah di hadapan Tuhan, di hadapan orang tua kita, di hadapan semua orang, Dimas! Kau bersumpah akan setia! Lalu kau pergi dan menikahi sepupuku sendiri?! Di mana otakmu, Dimas?! Di mana hatimu?!"
Melihat Putri yang begitu hancur, Dimas tertunduk. Rasa bersalah tergambar jelas di wajahnya, namun Putri terlalu sakit untuk melihatnya. Yang ia lihat hanyalah seorang pengkhianat, seorang pembohong, seorang pria yang telah menghancurkan seluruh kehidupannya.
"Aku... aku minta maaf, Putri. Aku sangat minta maaf," ujar Dimas, suaranya juga bergetar. "Aku tahu ini tidak ada maafnya. Tapi kumohon, jangan menyerah pada kita. Beri aku satu kesempatan lagi. Aku akan jelaskan semuanya, apa pun yang kamu mau tahu."
Putri menatap Dimas dengan mata merah dan bengkak. Penyesalan di mata Dimas terlihat tulus, namun itu tidak cukup. Tidak akan pernah cukup untuk menutupi rasa sakit yang ia rasakan. Luka ini terlalu dalam, terlalu lebar.
"Kesempatan?" Putri tertawa hampa, tawa yang terdengar seperti tangisan. "Kesempatan apa, Dimas? Apakah kau ingin aku menjadi istri pertama yang hidup berdampingan dengan istri keduamu, yang notabene adalah adik sepupuku sendiri? Apakah itu yang kau inginkan?"
Dimas mengangkat kepalanya, matanya dipenuhi permohonan. "Bukan itu maksudku, Putri. Aku... aku akan mengurusnya. Aku akan menyelesaikan semuanya dengan Rina. Aku hanya ingin kamu tahu, kamu satu-satunya istriku. Kamu satu-satunya cintaku."
Kata-kata "satu-satunya" itu terasa seperti pisau yang mengiris telinga Putri. Jika ia adalah "satu-satunya", lalu mengapa ada pernikahan lain? Mengapa ada wanita lain di pelukan suaminya? Apalagi wanita itu adalah Rina.
"Jangan bercanda, Dimas," desis Putri. "Aku sudah melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. Video itu. Foto-foto itu. Apakah itu semua tipuan? Apakah aku gila? Atau kau yang gila?!"
Ia kembali merosot ke lantai, menyandarkan punggungnya ke lemari pajangan. Tangisnya kembali pecah, lebih hebat dari sebelumnya. Rasa sakit itu terlalu besar untuk ditanggung sendiri. Ia ingin menjerit, merobek-robek semua kenangan indah yang ternyata hanya kebohongan belaka.
"Kenapa, Rina? Kenapa?" bisiknya lagi, nama Rina kini keluar dari bibirnya. "Aku selalu menyayangimu, Rina. Aku menganggapmu seperti adik kandungku sendiri. Aku tidak pernah menyakitimu. Lalu kenapa kau tega menusukku dari belakang seperti ini?!"
Otaknya berputar cepat, mencari-cari alasan. Apakah ada yang salah dengan dirinya? Apakah ia kurang cantik? Kurang perhatian? Kurang baik sebagai istri? Namun, setiap kali pertanyaan itu muncul, ia segera menepisnya. Ia tahu ia telah memberikan segalanya untuk Dimas. Ia adalah istri yang setia, penuh cinta, dan selalu mendukung. Jika ada yang salah, itu bukan pada dirinya. Itu pada Dimas dan Rina, pada pengkhianatan keji mereka.
Rasa marah kini mulai mengalahkan kesedihan. Kemarahan yang membara, yang ingin ia luapkan. Ia menatap Dimas dengan tatapan nyalang.
"Kapan ini terjadi, Dimas?" tanyanya dengan suara serak, namun kini lebih tegas. "Kapan kau menikahinya? Sejak kapan kau mengkhianatiku seperti ini?"
Dimas tampak ragu, matanya melarikan diri dari tatapan Putri. "Beberapa bulan yang lalu, Putri. Aku... aku tidak bermaksud... Ini semua salah paham."
"Salah paham?! Kau menikahinya, Dimas! Itu bukan salah paham, itu pengkhianatan!" Putri bangkit lagi, berdiri tegak meskipun tubuhnya masih gemetar. "Kau pikir aku bisa menerima ini? Kau pikir aku akan pura-pura tidak tahu dan melanjutkan hidup sebagai istrimu yang bodoh?!"
Dimas juga bangkit, mencoba menahan Putri. "Aku akan menceraikan Rina, Putri. Aku bersumpah. Aku akan mengurusnya segera. Beri aku waktu, Sayang. Beri aku kesempatan untuk memperbaiki ini."
Mendengar kata "menceraikan Rina", ada secercah harapan yang sempat melintas di benak Putri. Namun, harapan itu segera padam, tergantikan oleh rasa pahit yang lebih kuat. Bahkan jika Dimas menceraikan Rina, luka ini sudah terukir. Pengkhianatan ini sudah terjadi. Kepercayaan yang ia berikan seumur hidup telah dihancurkan dalam sekejap. Dan fakta bahwa Rina adalah sepupunya, membuat ini semakin menjijikkan.
"Terlalu terlambat, Dimas," kata Putri dengan suara datar, yang justru lebih menakutkan daripada teriakannya sebelumnya. "Kepercayaan itu sudah hancur. Cinta itu sudah mati. Kau membunuhnya, Dimas. Kalian berdua membunuhnya."
Ia berjalan menuju kamar tidur mereka, langkahnya gontai namun mantap. Dimas mencoba menghentikannya. "Putri, kamu mau ke mana? Jangan pergi, Sayang!"
"Aku butuh waktu," jawab Putri dingin, tanpa menoleh. "Aku butuh sendiri. Aku tidak bisa melihat wajahmu sekarang."
Di dalam kamar, Putri mengunci pintu. Ia terhuyung-huyung ke ranjang, ranjang yang selama ini menjadi saksi bisu cinta mereka, kini terasa dingin dan asing. Ia meraih bantal, membenamkan wajahnya di sana, dan membiarkan air mata mengalir tanpa henti.
Semua kenangan indah yang dulu sangat berharga, kini terasa seperti racun. Ciuman hangat Dimas di pagi hari, pelukan eratnya di malam hari, bisikan cintanya, semua itu kini terasa seperti kebohongan yang manis. Bagaimana ia bisa begitu buta? Bagaimana ia bisa tidak melihat tanda-tanda yang jelas?
Putri menarik napas dalam, mencoba menenangkan diri. Ia harus berpikir jernih. Ia harus kuat. Ia bukan wanita lemah yang akan hancur begitu saja. Ia adalah Putri Wijaya, arsitek cerdas, wanita mandiri, yang selama ini selalu menghadapi tantangan dengan kepala tegak.
Ia mengambil ponselnya kembali. Video itu masih ada di sana, bukti yang tak terbantahkan. Ia membuka galeri, melihat foto-foto yang Lisa kirimkan. Foto Dimas dan Rina tersenyum bahagia, berpegangan tangan, memotong kue pernikahan. Foto-foto yang menusuk hatinya berulang kali.
Kembali ke pesan Lisa. Ia melihat ada beberapa pesan lagi dari Lisa.
"Putri, aku tahu ini pasti menyakitkan. Aku sudah mencoba mencari tahu, dan sepertinya mereka memang menikah. Aku sangat minta maaf harus memberitahumu begini, tapi aku tidak ingin kamu terus dibodohi."
"Aku tidak tahu bagaimana cara mengatakannya padamu. Aku melihat mereka secara tidak sengaja di sebuah restoran di luar kota beberapa minggu lalu. Awalnya aku kira itu bukan Dimas, tapi kemudian aku yakin. Mereka terlihat sangat akrab, bahkan... berciuman. Aku mencoba mencari tahu lebih lanjut, dan aku menemukan ini."
Lisa adalah teman yang setia. Putri tahu Lisa pasti merasa berat saat mengirimkan semua ini. Tapi Putri bersyukur. Setidaknya ia tahu kebenarannya, seburuk apa pun itu. Daripada terus hidup dalam kebohongan yang manis.
Kini, pertanyaan yang lebih besar muncul di benaknya: Apa yang harus ia lakukan selanjutnya?
Haruskah ia menghadapi Dimas dan Rina secara langsung? Haruskah ia membuat perhitungan dengan mereka? Atau haruskah ia diam dan merencanakan langkah selanjutnya dengan tenang?
Putri menatap cermin di kamar mandi. Wajahnya sembab, matanya bengkak, dan rambutnya berantakan. Ia terlihat seperti seseorang yang baru saja melewati badai dahsyat. Dan memang begitu. Badai ini telah menerjang jiwanya, meninggalkan kehancuran yang tak terbayangkan.
Ia menyalakan keran air dingin, membasuh wajahnya berulang kali, berharap air itu bisa membasuh rasa sakit di hatinya. Tapi tidak. Rasa sakit itu masih ada, menggerogoti setiap sel tubuhnya.
Pikiran tentang perceraian mulai muncul. Sebuah kata yang menakutkan, yang tak pernah terlintas dalam kamus pernikahannya. Tapi apa lagi yang bisa ia lakukan? Bagaimana ia bisa hidup dengan seorang pria yang telah menghianatinya begitu dalam, dengan seorang wanita yang ia anggap adik sendiri?
Ia mengambil napas dalam, mencoba mengumpulkan sisa-sisa kekuatannya. Ia harus bangkit. Ia tidak boleh hancur. Dimas dan Rina tidak pantas melihatnya lemah.
"Aku tidak akan membiarkan kalian menang," bisiknya pada bayangan dirinya di cermin. Tekad mulai muncul di mata Putri, menggantikan air mata kesedihan. "Kalian tidak akan bisa menghancurkanku."
Namun, di balik tekad itu, ada keraguan yang mengintai. Bagaimana ia akan menghadapi dunia? Bagaimana ia akan menjelaskan ini kepada orang tua dan keluarga besarnya? Bagaimana ia akan menghadapi tatapan kasihan atau cemoohan dari orang-orang?
Perlahan, Putri mulai merancang skenario dalam benaknya. Ia tidak akan gegabah. Ia akan menggunakan otaknya. Ia akan mencari tahu lebih banyak, mengumpulkan bukti, sebelum mengambil keputusan besar yang akan mengubah seluruh hidupnya.
Pintu kamar mereka diketuk pelan. "Putri... Kumohon, buka pintunya. Mari kita bicara." Suara Dimas terdengar serak, penuh penyesalan.
Putri tidak menjawab. Ia tahu, berbicara dengan Dimas saat ini hanya akan memperkeruh suasana. Hatinya terlalu sakit, pikirannya terlalu kacau. Ia butuh waktu. Waktu untuk menenangkan diri, waktu untuk mencerna semua ini, dan waktu untuk merencanakan pembalasan yang setimpal.
Ia menarik selimut tebal, meringkuk di bawahnya, mencoba mencari kehangatan yang tak lagi ia temukan di hati suaminya. Malam itu akan terasa panjang, penuh air mata, dan pertanyaan-pertanyaan tanpa jawaban. Malam itu adalah awal dari babak baru dalam hidup Putri Wijaya, babak yang akan penuh perjuangan, rasa sakit, namun juga tekad untuk bangkit dari puing-puing kehancuran.
Anda Mungkin Juga Suka





