
Kau Bukan Sahabatku-Kau Perusak Rumah Tanggaku
Bab 3
Dinginnya lantai marmer terasa menusuk kulit Putri, namun ia tidak peduli. Selimut tebal yang ia gunakan untuk membungkus diri tidak mampu menghangatkan hatinya yang membeku. Air mata yang sejak tadi mengalir deras kini hanya menyisakan jejak asin di pipinya yang sembab. Setiap tarikan napas terasa berat, nyeri di dada seolah tak kunjung reda. Di balik pintu kamar, suara Dimas masih terdengar samar, memohon, menjelaskan, namun bagi Putri, itu hanya deru angin kosong. Hatinya sudah terlalu hancur untuk menerima pembelaan apa pun.
Ia meringkuk di pojok tempat tidur, ponselnya tergeletak di sampingnya. Layar yang tadinya menampilkan video mengerikan itu kini gelap, namun bayangan adegan Dimas dan Rina berdiri di altar terus menari-nari di pelupuk matanya. Setiap detailnya begitu nyata, begitu menusuk. Gaun pengantin Rina, senyum bahagia Dimas, sorakan tamu... Semua itu adalah bukti tak terbantahkan dari sebuah pengkhianatan yang keji.
Putri memejamkan mata, mencoba mengusir bayangan itu, namun justru semakin jelas. Bagaimana mungkin ia tidak melihatnya? Bagaimana bisa ia begitu buta? Dimas adalah suaminya, pria yang tidur di sampingnya setiap malam, yang menciumnya setiap pagi. Rina adalah sepupunya, gadis yang ia anggap adik, yang sering makan dan tertawa bersama di rumah ini. Mereka berdua, orang-orang terdekatnya, telah bersekongkol menghancurkan hidupnya.
"Aku harus kuat," bisiknya pada dirinya sendiri. Suaranya serak dan parau, namun ada secercah tekad yang mulai tumbuh di balik rasa sakit. Ia tidak akan membiarkan dirinya hancur begitu saja. Ia adalah Putri Wijaya, bukan wanita lemah yang mudah menyerah.
Dengan tangan gemetar, ia meraih ponselnya lagi. Bukan untuk melihat video itu lagi, melainkan untuk mencari kekuatan. Ia membuka aplikasi kontak, mencari nama Maya, sahabat karibnya sejak SMA. Maya adalah sosok yang paling bisa dipercaya, paling rasional, dan paling bisa memberinya nasihat di saat-saat tersulit. Namun, keraguan menyelimuti Putri. Bagaimana ia akan menyampaikan kabar buruk ini pada Maya? Bagaimana ia akan menceritakan bahwa pernikahannya yang sempurna itu hanyalah sebuah ilusi?
Ia menunda niatnya, memutuskan untuk memikirkan langkah selanjutnya terlebih dahulu. Panic attack yang sempat melandanya perlahan mereda, digantikan oleh rasa mati rasa yang dingin. Ia butuh rencana. Ia butuh strategi. Tidak ada gunanya menangis dan meratap. Yang ia butuhkan adalah tindakan.
Putri mulai menyusuri ingatannya, mencari setiap detail, setiap petunjuk yang mungkin terlewatkan selama setahun terakhir. Ia mencoba menyusun kronologi pengkhianatan ini.
Enam Bulan Terakhir: Puzzle yang Terungkap
Pola Pulang Malam yang Aneh: Putri ingat, enam bulan yang lalu, frekuensi Dimas pulang malam mulai meningkat. Awalnya hanya seminggu sekali, lalu menjadi dua atau tiga kali. Dimas selalu punya alasan yang meyakinkan: "Rapat dengan investor dari luar kota," "Proyek A sedang dikejar deadline," "Ada masalah di server yang harus ku tangani sendiri." Putri, dengan sifatnya yang suportif, selalu memahami. Ia akan menyiapkan makanan hangat, menunggu Dimas pulang, terkadang sampai larut malam. Ia bahkan akan memijat kaki Dimas yang kelelahan dan mendengarkan keluh kesahnya tentang pekerjaan. Sungguh naif ia saat itu. Mungkin Dimas memang rapat, tapi bukan dengan investor, melainkan dengan istri keduanya.
Sikap Rina yang Berubah: Sekitar lima bulan yang lalu, Putri mulai menyadari Rina semakin sering berkunjung. Tidak hanya sekadar mampir, tapi juga menginap, terutama saat Dimas ada di rumah. Putri tidak curiga, malah merasa senang Rina semakin dekat dengan suaminya. "Kak Dimas asyik ya, Kak," Rina pernah berkata dengan mata berbinar, saat mereka bertiga sedang menonton film bersama. Putri hanya tersenyum, bangga dengan Dimas yang begitu dicintai oleh adiknya sendiri. Rina juga mulai terlihat lebih 'berani' dalam berinteraksi dengan Dimas. Pernah suatu kali, saat Dimas pulang kerja, Rina yang saat itu sedang di rumah, langsung menghampiri Dimas dan membantu membawakan tas kerjanya, lalu berbisik sesuatu yang membuat Dimas tersenyum. Putri mengira itu hanya candaan adik-kakak ipar. Sekarang ia tahu, itu adalah kemesraan yang tersembunyi.
Perjalanan Bisnis "Mendadak": Sekitar tiga bulan yang lalu, Dimas mulai sering melakukan perjalanan bisnis mendadak, biasanya ke luar kota. Bali, Surabaya, Medan. "Ada proyek besar di sana, Sayang," jelas Dimas. Putri akan membantu menyiapkan koper, membungkuskan bekal, dan memeluknya erat di bandara. Setiap kali Dimas pergi, Putri akan merasa kesepian, namun ia selalu berusaha positif, percaya bahwa Dimas berjuang untuk masa depan mereka. Ia tidak tahu bahwa di salah satu perjalanan "bisnis" itu, mungkin Dimas dan Rina sedang meresmikan ikatan mereka. Ia bahkan ingat Rina sempat sulit dihubungi di waktu yang bersamaan dengan salah satu perjalanan bisnis Dimas. "Maaf, Kak, aku lagi ada urusan keluarga di luar kota, sinyal susah," jawab Rina via chat yang lambat dibalas. Sebuah kebetulan yang kini terasa seperti skenario sempurna.
Ponsel yang Penuh Rahasia: Ini adalah tanda paling jelas yang Putri abaikan. Dulu, ponsel Dimas selalu terbuka. Putri tahu kata sandinya, dan Dimas tidak pernah keberatan jika Putri meminjam ponselnya. Namun, empat bulan terakhir, Dimas mengubah kata sandinya. Ia juga sering menelpon di luar ruangan, berbicara dengan suara sangat pelan, atau bahkan langsung memutuskan panggilan jika Putri mendekat. "Hanya telepon penting dari klien, Sayang, tidak bisa diganggu," dalih Dimas. Putri selalu mempercayainya, tanpa menyadari bahwa setiap bisikan rahasia itu mungkin adalah bisikan cinta untuk wanita lain.
Hadiah dan Perhatian Berlebihan: Ada periode di mana Dimas tiba-tiba menjadi sangat romantis. Ia akan membelikan Putri hadiah-hadiah mewah tanpa alasan, mengajak makan malam di restoran bintang lima, atau menghabiskan akhir pekan hanya berdua. Putri mengira itu adalah cara Dimas menebus waktu yang hilang karena kesibukan kerjanya. Sekarang ia tahu, itu adalah cara Dimas menutupi rasa bersalahnya, mencoba menenangkan Putri agar tidak curiga. Setiap mawar merah yang dulu terasa begitu manis, kini terasa seperti duri yang menusuk hatinya.
Setiap potongan puzzle itu kini terangkai dengan sempurna, membentuk gambaran mengerikan dari pengkhianatan yang telah lama terjadi. Putri merasa mual. Begitu banyak waktu yang ia habiskan dalam kebohongan. Begitu banyak cinta yang ia berikan pada orang yang tidak pantas.
Ia meraih ponselnya lagi, mencari informasi tentang pernikahan Dimas dan Rina. Meskipun video dari Lisa sudah cukup sebagai bukti, Putri ingin tahu lebih banyak. Ia mencoba mencari nama Dimas Satria dan Rina Adinda Putri di mesin pencarian, menambahkan kata kunci "pernikahan" atau "resepsi". Tidak ada hasil yang signifikan. Dimas jelas sangat berhati-hati.
Namun, ia teringat pada detail di video. Ada plakat nama di meja resepsi, di mana tertulis "The Wedding of Dimas & Rina". Di latar belakang, terlihat sebuah ballroom hotel yang mewah, dengan logo sebuah hotel bintang lima. Putri mencoba mencari tahu hotel tersebut. Ia membuka peta online, mencari hotel-hotel bintang lima di Jakarta dan sekitarnya. Lalu, ia mencoba mencocokkan desain interior ballroom di video dengan gambar-gambar yang ia temukan secara online.
Setelah beberapa kali mencoba, ia menemukan kecocokan yang mengejutkan. Itu adalah salah satu ballroom di Hotel Grand Emerald, hotel termewah di pusat kota Jakarta. Ia ingat, Dimas pernah mengajak Putri makan siang di sana beberapa bulan lalu, dengan alasan "mencicipi menu baru". Kini, ia tahu, mungkin saat itu Dimas sedang melakukan food tasting untuk pernikahannya dengan Rina. Rasa jijik dan sakit kembali membanjiri Putri.
Ia lalu mencari informasi tentang reservasi acara di Hotel Grand Emerald. Tentu saja, ia tidak bisa mendapatkan informasi pribadi tanpa identitas yang jelas. Namun, ia mencoba mencari berita atau postingan di media sosial yang terkait dengan acara di hotel itu sekitar beberapa bulan lalu. Mungkin ada tamu yang mengunggah foto atau video secara publik.
Setelah beberapa menit pencarian yang intens, ia menemukan beberapa akun Instagram yang memposting foto-foto dari sebuah acara pernikahan di Hotel Grand Emerald, pada tanggal yang ia perkirakan berdasarkan pakaian dan musim di video Lisa. Di salah satu postingan, sebuah akun wedding organizer terkenal mengunggah kolase foto-foto pernikahan, dengan caption yang berbunyi, "Sebuah kisah cinta yang indah, dirayakan dengan megah di Ballroom Emerald." Dan di antara kolase itu, ada foto Dimas dan Rina, tersenyum bahagia, berpelukan di pelaminan. Meskipun wajah mereka disensor tipis untuk privasi, Putri mengenali mereka dengan sangat jelas.
Napas Putri tertahan. Bukti ini lebih dari cukup. Ini bukan mimpi buruk. Ini adalah kenyataan. Dimas benar-benar menikahi Rina. Dan mereka melakukannya di salah satu hotel termewah di Jakarta, seolah tidak ada yang salah, tanpa sedikitpun rasa bersalah.
Amarah Putri kembali membuncah. Ia bangkit, melangkah mondar-mandir di kamar. Ia ingin menghancurkan sesuatu. Ia ingin berteriak sekuat tenaga. Ia ingin menuntut penjelasan, keadilan.
Suara ketukan di pintu kembali terdengar, kali ini lebih keras. "Putri, kumohon! Buka pintunya! Aku tidak akan pergi sampai kamu mau bicara denganku!" Suara Dimas terdengar frustrasi, putus asa.
Putri mengabaikannya. Ia tidak akan membuka pintu. Tidak sekarang. Ia butuh waktu untuk memproses semua ini, untuk merumuskan rencana.
Pikirannya mulai bekerja secara strategis, seperti seorang arsitek yang merancang sebuah bangunan kompleks. Setiap langkah harus diperhitungkan.
Langkah 1: Mengumpulkan Lebih Banyak Bukti.
Meskipun ia sudah memiliki video dan foto dari Lisa, serta postingan wedding organizer, Putri merasa ia membutuhkan lebih banyak. Ia harus membuktikan bahwa ini bukan sekadar pernikahan siri atau pura-pura. Ia membutuhkan bukti hukum, jika memungkinkan.
Langkah 2: Mencari Nasihat Hukum.
Putri tahu ia tidak bisa menghadapi ini sendirian. Ia membutuhkan pengacara perceraian terbaik. Seseorang yang bisa membimbingnya melalui proses yang rumit ini. Ia harus mencari tahu hak-haknya sebagai istri sah.
Langkah 3: Menyiapkan Diri Secara Finansial dan Mental.
Perceraian akan menjadi proses yang panjang dan menguras emosi, juga finansial. Putri memiliki karier yang stabil, namun ia harus memastikan ia memiliki cukup dana cadangan untuk menghadapi kemungkinan terburuk. Secara mental, ia harus mempersiapkan diri untuk menghadapi tatapan dan pertanyaan dari lingkungan sekitar, terutama keluarga.
Langkah 4: Menghadapi Dimas dan Rina (Pada Waktunya yang Tepat).
Putri tahu ia harus menghadapi mereka. Tapi tidak sekarang, bukan dalam keadaan emosinya yang masih labil. Ia akan menunggu hingga ia benar-benar siap, dengan semua bukti di tangannya, dan dengan bantuan hukum di sisinya. Ia ingin mereka merasakan dampak penuh dari tindakan mereka.
Putri berjalan menuju lemari pakaian Dimas. Ia membuka laci satu per satu, mencari dokumen, mungkin surat nikah kedua, atau bukti lain. Ia tahu ini mungkin tindakan yang salah, tapi ia tidak peduli. Ia berhak tahu. Ia berhak mendapatkan kebenaran.
Ia menemukan beberapa berkas kantor Dimas, laporan keuangan, dan beberapa dokumen lain yang tidak relevan. Kemudian, di laci paling bawah, tersembunyi di balik tumpukan kemeja, ia menemukan sebuah amplop tebal berwarna cokelat. Jantungnya berdegup kencang. Ini dia.
Dengan tangan gemetar, ia membuka amplop itu. Di dalamnya ada beberapa dokumen, termasuk salinan akta nikah. Bukan akta nikah dirinya dan Dimas, melainkan akta nikah Dimas Satria dan Rina Adinda Putri. Tertulis jelas tanggal pernikahan mereka, sekitar tiga bulan yang lalu. Dokumen itu tampak asli, lengkap dengan tanda tangan dan cap resmi.
Napas Putri tercekat. Ini bukan lagi sekadar video atau foto. Ini adalah bukti sah di mata hukum. Dimas benar-benar telah menikahi Rina secara sah, sebagai istri kedua, tanpa sepengetahuan Putri.
Kemarahan yang sebelumnya hanya mendidih, kini meledak. Ia ingin merobek-robek dokumen itu, membakar seluruh rumah ini. Ia ingin menjerit sekuat tenaga hingga pita suaranya putus. Pengkhianatan ini begitu sempurna, begitu keji.
Ia melihat sekeliling kamar, menatap semua barang yang merupakan simbol kehidupan pernikahannya dengan Dimas. Foto pernikahan mereka di meja nakas, hadiah ulang tahun dari Dimas, perhiasan yang ia kenakan di hari pernikahan mereka. Semuanya terasa menjijikkan.
Putri menelan ludah, berusaha keras mengendalikan emosinya. Ia tidak boleh bertindak impulsif. Bukti ini sangat penting. Ia harus menyimpannya baik-baik. Ia mengambil akta nikah itu, melipatnya dengan rapi, dan menyimpannya di dalam tas tangan kecil yang biasa ia bawa. Ia akan membawanya keluar dari rumah ini, menjauhkannya dari jangkauan Dimas.
Ia kemudian memeriksa ponsel Dimas, yang tergeletak di meja samping tempat tidur. Ponsel itu terkunci. Ia mencoba beberapa kombinasi angka yang mungkin ia tahu, termasuk tanggal ulang tahun Dimas, tanggal pernikahan mereka, bahkan tanggal ulang tahun Putri. Semuanya gagal. Dimas telah mengganti kata sandinya. Betapa liciknya dia.
Namun, Putri mengingat Dimas pernah mengatakan kata sandi untuk beberapa akun pentingnya adalah kombinasi nama depan mereka berdua dan angka keberuntungan. Putri mencoba menggabungkan nama Dimas dan Rina, dan menambahkan angka yang pernah Dimas sebutkan sebagai angka keberuntungan Rina. Ajaib, ponsel itu terbuka.
Di dalam ponsel Dimas, Putri menemukan folder tersembunyi yang berisi ratusan foto dan video Dimas dan Rina. Mereka sedang berlibur bersama, makan malam romantis, bahkan foto-foto mesra di ranjang. Mereka tidak hanya menikah, tapi juga menjalani kehidupan layaknya pasangan suami istri yang baru menikah, di balik punggung Putri.
Ada juga pesan-pesan singkat antara Dimas dan Rina yang menunjukkan betapa mesranya hubungan mereka. Rina memanggil Dimas "Sayangku" dan "Mas Dimas", dan Dimas membalasnya dengan panggilan "Cintaku" atau "Sayang". Mereka merencanakan pertemuan rahasia, liburan, bahkan mendiskusikan tentang bagaimana mereka akan menghadapi Putri jika suatu hari kebenaran terungkap.
Putri memutar sebuah video singkat. Rina sedang duduk di pangkuan Dimas, mencium pipinya, lalu tertawa manja. "Kapan kita bisa bersama selamanya, Mas?" tanya Rina. Dimas tersenyum, membelai rambut Rina. "Sebentar lagi, Sayang. Aku janji."
Rasa sakit Putri semakin menjadi-jadi. Janji. Janji yang Dimas ucapkan pada Rina. Janji yang Dimas khianati pada Putri. Ia merasa mual, ingin muntah. Semua ini adalah mimpi buruk terburuk yang pernah ia alami.
Dengan tangan gemetar, Putri mengambil beberapa foto dan video penting dari ponsel Dimas, mengirimkannya ke ponselnya sendiri sebagai cadangan bukti. Ia kemudian menghapus riwayat pesan dan panggilan yang mencurigakan di ponsel Dimas, dan mencoba menutup semua jejak yang mungkin bisa mengarah pada kecurigaan. Ia tidak ingin Dimas tahu bahwa ia sudah menemukan segalanya. Ia ingin bermain pintar.
Setelah selesai, ia mengembalikan ponsel Dimas ke tempat semula, seolah tidak ada yang terjadi. Ia tidak akan membiarkan Dimas tahu bahwa ia sudah tahu lebih banyak dari yang Dimas kira. Ia akan menggunakan informasi ini sebagai senjata tersembunyi.
Waktu menunjukkan pukul 1 dini hari. Sudah hampir tiga jam Putri mengunci diri di kamar. Dimas tidak lagi mengetuk pintu. Mungkin ia sudah menyerah, atau mungkin ia sedang memikirkan strategi untuk membela diri. Putri tidak peduli. Ia hanya ingin malam ini segera berakhir.
Ia akhirnya memutuskan untuk mengirim pesan pada Maya. "Maya, aku butuh bantuanmu. Bisakah kita bertemu besok? Ada hal yang sangat penting dan mendesak yang harus kuceritakan padamu."
Tak lama kemudian, Maya membalas, "Tentu, Put. Kamu baik-baik saja? Suaramu tadi pagi terdengar aneh. Di mana saja kamu?"
Putri mengetik balasan, "Tidak. Aku tidak baik-baik saja. Aku akan ceritakan besok. Aku butuh kamu. Sangat."
"Oke, Put. Aku akan datang ke apartemenmu besok pagi. Jam berapa?"
"Pagi sekali. Jam 8. Aku akan usahakan keluar rumah."
Putri tahu ini akan menjadi pertarungan berat. Tapi ia siap. Ia tidak akan membiarkan dirinya tenggelam dalam kesedihan. Ia akan bangkit. Ia akan melawan. Dan ia akan memastikan Dimas dan Rina mendapatkan balasan yang setimpal atas perbuatan keji mereka.
Malam itu, di dalam kamar yang gelap, Putri Wijaya merancang rencana. Sebuah rencana yang akan mengubah hidupnya secara drastis, sebuah rencana yang akan penuh dengan air mata dan amarah, namun juga penuh dengan tekad untuk memulihkan martabatnya yang telah diinjak-injak.
Anda Mungkin Juga Suka





