Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Kau Akan Mencariku, Saat Dia Menghilang

Kau Akan Mencariku, Saat Dia Menghilang

Cantika Putri menjalani kehidupan pernikahan yang harmonis bersama Ardi Permana. Hubungan mereka dibangun di atas fondasi cinta yang tulus, di mana Ardi sangat mengagumi pesona fisik dan kesempurnaan sang istri. Sementara itu, narasi lain mengikuti sosok miliarder ternama, Reza Dirgantara. Sang konglomerat tengah menjalin hubungan asmara dengan Luna Amara, seorang gadis desa yang memiliki paras cantik namun tetap mempertahankan kesederhanaan dalam dirinya.
Bab
Bagikan

Bab 2

Mentari pagi menyusup malu-malu dari tirai sutra yang tebal, menerangi kamar tidur mewah yang sunyi. Ardi Permana menggeliat pelan, lengannya merangkul erat tubuh Cantika yang masih terlelap. Sebuah senyum tipis terukir di bibirnya saat ia menatap wajah damai istrinya. Bagi Ardi, setiap pagi yang dimulai dengan Cantika di sisinya adalah sebuah anugerah. Ia mencium lembut puncak kepala Cantika, menghirup aroma shamponya yang samar. Ia merasa seperti pria paling beruntung di dunia.

Ardi bangkit dari tempat tidur, melangkah menuju kamar mandi marmer yang luas. Setelah membersihkan diri, ia mengenakan bathrobe sutra dan keluar ke balkon kamar. Pemandangan kota Jakarta yang mulai menggeliat dengan kesibukannya terhampar di hadapannya. Gedung-gedung pencakar langit menjulang tinggi, jalanan mulai dipadati kendaraan, dan suara klakson samar-samar terdengar dari kejauhan. Ardi menyesap kopi panasnya, otaknya sudah mulai memikirkan agenda rapat hari ini di kantor. Sebagai pimpinan Permana Group, tanggung jawabnya begitu besar. Namun, semua tekanan pekerjaan itu terasa lebih ringan sejak ia memiliki Cantika. Istrinya adalah jangkar yang menenangkannya, oasis di tengah padang gurun bisnis yang penuh intrik.

Saat Ardi kembali ke kamar, Cantika sudah terjaga. Ia sedang duduk di tepi tempat tidur, rambutnya sedikit berantakan, namun tetap terlihat cantik. "Pagi, Ardi," sapanya lembut, suaranya sedikit serak khas bangun tidur.

"Pagi, Sayang," jawab Ardi, mendekat dan mencium kening Cantika. "Tidurmu nyenyak?"

Cantika mengangguk. "Lumayan." Ia sebenarnya tidak tidur terlalu nyenyak. Pikiran-pikiran semalam masih berputar di kepalanya. Namun, ia tidak ingin Ardi mengetahuinya. Ia harus menjaga citra sebagai istri yang bahagia dan sempurna. "Kau mau sarapan apa?"

"Apapun yang ada di meja makan," Ardi tersenyum, mengusap pipi Cantika. "Aku akan mandi dulu. Jangan kemana-mana, ya. Nanti kita sarapan bersama."

Cantika mengangguk, melihat Ardi kembali masuk ke kamar mandi. Ia menarik napas dalam-dalam, menghembuskannya perlahan. Rutinitas baru ini masih terasa asing baginya. Setiap pagi, Ardi akan memanjakannya, menanyakan keinginannya, dan memastikan ia nyaman. Terkadang, Cantika merasa seperti boneka porselen yang hanya dipajang, tanpa kehendak sendiri.

Setelah mandi dan berpakaian rapi, Cantika turun ke ruang makan. Meja makan sudah terisi penuh dengan berbagai hidangan sarapan, mulai dari roti bakar, sereal, buah-buahan segar, hingga hidangan tradisional Indonesia. Dua orang pelayan berdiri di samping meja, siap melayani. Tak lama kemudian, Ardi datang bergabung, mengenakan setelan jas bisnis yang elegan.

"Ayah dan Ibu sudah berangkat ke luar kota pagi-pagi sekali," ujar Ardi saat mereka mulai sarapan. "Ada proyek baru di Surabaya yang harus mereka tangani langsung."

"Oh, begitu," Cantika mengangguk. Ia tidak terlalu terkejut. Kedua mertuanya memang sangat sibuk dengan bisnis mereka. Sejak menikah, ia jarang sekali bertemu dengan mereka.

"Jadi, hari ini kau mau melakukan apa?" tanya Ardi, menatap Cantika penuh perhatian. "Mau jalan-jalan? Atau bersantai di rumah?"

Cantika ragu sejenak. Ia sebenarnya ingin pergi ke suatu tempat, melakukan sesuatu yang membuatnya merasa memiliki kendali atas hidupnya. Namun, ia tahu Ardi pasti akan mengirimkan pengawal untuk menemaninya. "Aku ingin ke galeri seni di pusat kota," jawab Cantika, mencoba terdengar antusias. "Ada pameran lukisan baru."

Ardi tersenyum. "Ide bagus. Aku akan meminta Pak Doni untuk mengantarmu. Dan jangan lupa, bawa beberapa pengawal."

Cantika menghela napas dalam hati. Ia tahu ini akan terjadi. "Baiklah," jawabnya, berusaha menyembunyikan kekecewaannya. Ia sudah terbiasa dengan ini. Sejak menikah, ia tak pernah bisa bepergian sendirian. Ardi terlalu posesif, terlalu khawatir akan keselamatannya. Terkadang, ia merasa seperti tahanan di rumahnya sendiri.

Sementara itu, di apartemen Reza Dirgantara, suasana pagi terasa lebih santai. Reza mengenakan kaos oblong dan celana training, sedang memanggang roti di dapur. Aroma kopi hitam dan roti panggang memenuhi ruangan. Ia bersenandung pelan mengikuti irama lagu jazz yang diputar dari speaker. Reza suka memulai hari dengan tenang, tanpa terburu-buru, meskipun jadwalnya hari ini cukup padat.

Ponselnya berdering, menampilkan nama Luna. Reza langsung mengangkatnya, senyumnya merekah. "Halo, Cantik," sapanya ceria.

"Halo, Mas Reza," jawab Luna dari seberang, suaranya terdengar bahagia. "Aku sudah di jalan. Sebentar lagi sampai."

"Wah, cepat sekali," Reza tertawa. "Aku sudah menyiapkan sarapan. Kau pasti lapar."

"Tentu saja," Luna ikut tertawa. "Jangan buat aku menunggu lama, ya."

"Tidak akan," janji Reza. "Hati-hati di jalan, ya."

Luna menaiki taksi online yang dipesan Reza untuknya. Sepanjang perjalanan, ia menatap keluar jendela, mengamati bangunan-bangunan tinggi dan lalu lintas kota yang padat. Sudah beberapa kali ia datang ke Jakarta, namun kota ini tetap membuatnya merasa kecil dan kagum. Dibandingkan desanya yang tenang, Jakarta adalah raksasa yang tidak pernah tidur.

Taksi berhenti di depan sebuah gedung apartemen modern. Luna turun, menatap takjub. Ini kali pertama ia datang ke apartemen Reza. Pikirnya, ia akan datang ke rumah mewah seperti di sinetron-sinetron, namun ternyata apartemen ini terlihat lebih minimalis namun tetap mewah. Ia sudah diberitahu Reza tentang jati dirinya, namun terkadang Luna masih merasa seperti bermimpi. Pria yang ia cintai adalah seorang konglomerat yang sangat kaya dan berkuasa.

Ketika pintu lift terbuka, Reza sudah berdiri di depan pintu apartemennya, tersenyum lebar menyambut Luna. "Akhirnya sampai juga," ujarnya, merentangkan tangan.

Luna langsung memeluk Reza erat, menenggelamkan wajahnya di dada bidang pria itu. "Mas Reza," bisiknya, merasakan kehangatan dan kenyamanan.

Reza membalas pelukan Luna tak kalah erat, mencium puncak kepalanya. "Aku merindukanmu, Luna."

Mereka masuk ke dalam apartemen. Luna mengamati setiap sudut ruangan dengan mata berbinar. Apartemen itu luas dan modern, dengan sentuhan desain minimalis yang elegan. Tidak ada perabot yang terlalu berlebihan, namun setiap barang terlihat mahal dan berkualitas tinggi.

"Kau suka?" tanya Reza, melihat Luna mengagumi ruang tamunya.

"Suka sekali, Mas Reza," jawab Luna, berbalik menatap Reza. "Ini sangat indah."

"Ayolah, kita sarapan," ajak Reza, menuntun Luna ke dapur. "Aku sudah menyiapkan semuanya."

Luna membantu Reza menyiapkan meja makan. Mereka sarapan bersama sambil bercerita tentang kegiatan masing-masing. Luna bercerita tentang panen di desanya, tentang tetangga-tetangganya, dan tentang rencana ke depan untuk membuka usaha kerajinan tangan. Reza mendengarkan dengan penuh perhatian, sesekali melontarkan pertanyaan yang menunjukkan ketertarikannya. Ia merasa begitu nyaman dan tenang berada di dekat Luna. Gadis itu tidak pernah meminta apapun, tidak pernah mengeluh, dan selalu memancarkan energi positif.

Setelah sarapan, Reza mengajak Luna ke balkon apartemen. Mereka duduk berdua di kursi rotan, menikmati pemandangan kota. Angin sepoi-sepoi menerpa wajah Luna, membuat rambutnya sedikit berantakan. Reza meraih tangan Luna, menggenggamnya erat.

"Aku punya kejutan untukmu, Luna," ujar Reza, matanya berbinar.

Luna menatapnya penasaran. "Kejutan apa, Mas Reza?"

Reza tersenyum misterius. "Aku sudah mendaftarkanmu ke kursus kerajinan tangan profesional di Jakarta. Kau bisa belajar lebih banyak, mengembangkan bakatmu, dan nanti aku akan membantumu membuka toko di sini."

Mata Luna membelalak. Ia tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. "Benarkah, Mas Reza? Ya Tuhan, Mas Reza! Aku tidak tahu harus berkata apa. Terima kasih banyak!" Ia langsung memeluk Reza erat.

"Sama-sama, Sayang," Reza membalas pelukannya. "Aku ingin kau mengembangkan bakatmu. Aku tahu kau punya potensi besar."

Luna melepaskan pelukannya, menatap Reza dengan mata berkaca-kaca. "Mas Reza selalu saja membuatku kagum. Aku tidak tahu bagaimana harus membalas semua kebaikan Mas Reza."

"Kau tidak perlu membalas apapun, Luna," Reza mengusap air mata yang mengalir di pipi Luna. "Cukup dengan kau berada di sisiku, itu sudah cukup."

Mereka menghabiskan waktu bersama di apartemen Reza, membicarakan masa depan, impian, dan rencana-rencana kecil mereka. Reza juga membantu Luna mencari informasi tentang kampus terbaik untuk kuliah di Jakarta, karena Luna juga memiliki keinginan untuk melanjutkan pendidikannya. Ia ingin menjadi seorang guru. Reza sangat mendukung impian Luna. Baginya, pendidikan adalah investasi terbaik.

Di sisi lain, Cantika sedang berada di galeri seni. Ia ditemani oleh Pak Doni, sopir pribadinya, dan dua orang pengawal yang selalu mengikuti setiap langkahnya. Galeri itu tidak terlalu ramai, namun Cantika merasa risih dengan kehadiran para pengawal yang mencolok. Ia merasa seperti selebriti yang sedang diamati, padahal ia hanya ingin menikmati lukisan-lukisan dengan tenang.

Ia mencoba fokus pada setiap goresan kuas di kanvas, mencoba memahami makna di balik setiap karya seni. Namun, pikirannya terus melayang. Ia teringat kembali pada masa lalunya, masa-masa ketika ia masih seorang mahasiswi seni yang idealis, penuh semangat, dan bermimpi menjadi seorang pelukis terkenal. Ia sering menghabiskan berjam-jam di galeri seni, larut dalam keindahan setiap lukisan, tanpa ada yang mengawasi atau mengintervensi.

Cantika muda adalah seorang gadis yang sederhana namun memiliki ambisi besar. Ia terlahir dari keluarga biasa, dengan penghasilan pas-pasan. Namun, ia memiliki bakat seni yang luar biasa. Sejak kecil, ia sudah menunjukkan ketertarikan pada lukisan dan warna. Orang tuanya, meskipun tidak terlalu memahami dunia seni, selalu mendukung impiannya. Mereka bekerja keras, menabung sekuat tenaga agar Cantika bisa melanjutkan pendidikan seni di universitas ternama.

Di kampus, Cantika adalah mahasiswi yang berprestasi. Karya-karyanya selalu mendapat pujian dari dosen dan teman-temannya. Ia bermimpi untuk mengadakan pameran tunggal, memiliki galeri sendiri, dan diakui sebagai seorang seniman. Namun, setelah lulus, kenyataan menghantamnya. Mencari pekerjaan di dunia seni tidak semudah yang ia bayangkan. Ia bekerja di sebuah perusahaan desain interior kecil, yang jauh dari impiannya sebagai pelukis. Gaji pas-pasan, tekanan kerja yang tinggi, dan persaingan yang ketat membuatnya merasa lelah.

Saat itulah, Ardi Permana datang. Ia adalah salah satu klien perusahaan tempat Cantika bekerja. Ardi langsung terpikat pada kecantikan dan bakat Cantika. Ia melimpahi Cantika dengan perhatian, hadiah, dan janji-janji manis. Ardi menawarkan Cantika sebuah kehidupan yang selama ini hanya bisa ia impikan. Hidup dalam kemewahan, tanpa perlu lagi memikirkan masalah finansial, dan ia bisa memiliki waktu luang untuk mengembangkan bakat seninya.

Awalnya, Cantika ragu. Ia tahu bahwa menerima Ardi berarti ia harus mengorbankan sebagian dari kebebasannya, dan mungkin, ambisinya sebagai seniman murni. Namun, godaan hidup nyaman terlalu besar untuk ditolak. Ia lelah berjuang, lelah hidup dalam keterbatasan. Ia melihat Ardi sebagai jembatan menuju masa depan yang lebih cerah, masa depan yang penuh dengan kemewahan dan keamanan. Dan, tentu saja, ada ketertarikan pada Ardi. Pria itu tampan, karismatik, dan sangat perhatian. Cinta tumbuh seiring berjalannya waktu, meskipun mungkin tidak sekuat cinta Ardi kepadanya.

Kini, setelah semua kemewahan ini, Cantika menyadari bahwa apa yang ia dapatkan bukanlah kebebasan seutuhnya. Ia tidak lagi bisa melukis dengan bebas, tanpa beban, tanpa ekspektasi. Setiap kali ia ingin melukis, ia merasa ada mata-mata yang mengawasinya, menilai setiap goresannya. Ardi ingin ia melukis hal-hal yang 'cantik' dan 'menarik', yang cocok untuk dipajang di dinding rumah-rumah mewah atau dijadikan koleksi. Ia tidak lagi bisa mengekspresikan jiwanya yang bergejolak, melukis hal-hal yang 'gelap' atau 'abstrak' yang mungkin tidak dimengerti oleh Ardi. Ia merasa seperti senimannya mati, terperangkap dalam sangkar emas yang indah.

"Nyonya Cantika, apakah ada lukisan yang menarik perhatian Anda?" tanya Pak Doni, membuyarkan lamunan Cantika.

Cantika tersenyum tipis. "Ada beberapa, Pak. Lumayan." Ia tidak ingin menunjukkan kekecewaannya. Ia harus selalu terlihat baik-baik saja, selalu bahagia.

Setelah berkeliling galeri, Cantika memutuskan untuk membeli sebuah lukisan abstrak yang menarik perhatiannya. Lukisan itu berwarna gelap, dengan goresan kuas yang kuat dan ekspresif. Entah mengapa, lukisan itu mengingatkannya pada dirinya sendiri, pada jiwanya yang tersembunyi di balik senyum dan kemewahan.

Ketika mereka kembali ke rumah, Ardi sudah menunggu. "Bagaimana pamerannya, Sayang?" tanyanya, mendekat dan memeluk Cantika.

"Bagus, Ardi," jawab Cantika. "Aku membeli satu lukisan."

Ardi menatap lukisan yang dipegang salah satu pengawal. Alisnya sedikit terangkat. "Lukisan abstrak? Kenapa tidak membeli lukisan pemandangan atau bunga saja? Itu lebih cocok untuk dipajang di ruang tamu."

Cantika merasakan hatinya mencelos. Ia tahu Ardi tidak akan menyukai lukisan itu. "Aku hanya suka," jawabnya singkat.

Ardi menghela napas. "Baiklah, kalau kau suka. Tapi mungkin lebih baik diletakkan di ruang kerjamu saja, ya? Ruang tamu sudah terlalu banyak lukisan yang warnanya cerah."

Cantika hanya mengangguk, tanpa berkata apa-apa lagi. Ia merasa seolah-olah jiwanya semakin terenggut. Bahkan dalam hal sekecil ini pun, ia tidak memiliki kebebasan.

Malam itu, setelah Ardi tidur, Cantika diam-diam masuk ke ruang kerjanya. Ia menatap lukisan abstrak yang baru saja ia beli. Di bawah cahaya lampu yang redup, lukisan itu terlihat semakin gelap dan misterius. Cantika menyentuh permukaan lukisan, merasakan tekstur kasar catnya. Ia merasa seperti menemukan cerminan dirinya di sana.

Ia mengeluarkan kanvas kosong dan peralatan melukisnya dari lemari. Sudah lama ia tidak melukis. Tangan Cantika bergetar saat ia memegang kuas. Ia mencampurkan warna-warna gelap, mulai dari hitam pekat, biru tua, hingga merah marun. Ia membiarkan kuasnya bergerak bebas di atas kanvas, mengekspresikan segala emosi yang selama ini terpendam di dalam dirinya. Amarah, kekecewaan, kesepian, dan kerinduan akan kebebasan.

Cantika melukis hingga larut malam, hingga punggungnya terasa pegal dan matanya terasa pedih. Ia tidak peduli. Ia merasa seperti hidup kembali. Setiap goresan kuas adalah jeritan jiwanya yang terbungkam. Ia melukis seorang wanita dengan wajah yang samar, terkurung di dalam sangkar emas, matanya memancarkan kesedihan yang mendalam. Di luar sangkar, ada cahaya terang yang seolah-olah memanggilnya, namun ia tidak bisa meraihnya.

Ketika lukisan itu selesai, Cantika menatapnya dengan napas terengah-engah. Ia merasa lega, sekaligus sedih. Lukisan ini adalah dirinya, gambaran nyata dari perasaannya. Ia tahu Ardi tidak akan pernah memahami lukisan ini, apalagi menyukainya. Ia tidak peduli. Ini adalah karyanya, jeritannya, dan ia tidak akan membiarkan siapa pun merebutnya. Cantika menyembunyikan lukisan itu di balik lukisan-lukisan lain di ruang kerjanya, memastikan tidak ada yang akan menemukannya. Setidaknya, untuk saat ini.

Di pagi hari berikutnya, Luna membantu Reza menyiapkan sarapan. Aroma nasi goreng yang gurih memenuhi apartemen. Luna terlihat sangat bahagia, senyumnya tak pernah pudar. Reza memandangnya dengan penuh kasih sayang.

"Setelah sarapan, kita akan pergi mencari perlengkapan untuk kursusmu," ujar Reza, menyeruput kopi. "Dan setelah itu, kita bisa jalan-jalan sebentar. Kau mau kemana?"

Luna berpikir sejenak. "Bagaimana kalau kita ke museum? Aku suka melihat benda-benda bersejarah."

Reza tersenyum. "Ide bagus. Aku juga suka museum. Kalau begitu, mari kita habiskan hari ini dengan bersenang-senang."

Mereka menghabiskan hari bersama, mulai dari berbelanja perlengkapan kursus, mengunjungi museum, hingga makan siang di sebuah restoran sederhana yang disukai Luna. Reza menikmati setiap momen bersama Luna. Ia tidak perlu berpura-pura menjadi siapa pun. Ia bisa menjadi dirinya sendiri. Luna tidak pernah menghakiminya, tidak pernah menuntutnya, dan selalu membuatnya merasa dicintai apa adanya.

Saat mereka pulang, hari sudah menjelang sore. Matahari mulai terbenam, mewarnai langit dengan gradasi jingga dan ungu. Luna menyandarkan kepalanya di bahu Reza di dalam mobil. "Aku tidak menyangka akan sebahagia ini, Mas Reza," bisiknya.

Reza mengusap rambut Luna. "Aku juga, Luna. Aku tidak pernah membayangkan akan menemukan kebahagiaan seperti ini bersamamu."

Ia tahu bahwa perjalanannya dengan Luna tidak akan selalu mulus. Ada banyak rintangan yang harus mereka hadapi, terutama dari keluarganya dan juga pandangan masyarakat. Namun, ia tidak gentar. Cinta Luna adalah kekuatannya. Ia akan menghadapi semua itu demi Luna, demi masa depan mereka berdua. Ia sudah merencanakan untuk memperkenalkan Luna secara resmi kepada orang tuanya dalam waktu dekat. Ia tahu ini akan menjadi pertemuan yang sulit, namun ia harus melakukannya. Ia tidak ingin menyembunyikan Luna lagi. Luna berhak mendapatkan pengakuan.

Sementara itu, di rumah mewah keluarga Permana, Cantika sedang mencoba gaun baru yang baru saja ia beli. Gaun pesta berwarna merah maroon, dengan potongan elegan yang memamerkan lekuk tubuhnya. Ia menatap pantulan dirinya di cermin, mencoba tersenyum, namun senyum itu terasa hambar.

Ardi akan mengadakan pesta makan malam di rumah untuk merayakan kesuksesan proyek baru mereka. Cantika harus tampil sempurna, menjadi nyonya rumah yang anggun dan berkelas. Ia harus menghadapi tamu-tamu Ardi, tersenyum, berbasa-basi, dan berpura-pura menikmati setiap momen.

"Nyonya Cantika, ada kiriman bunga untuk Anda," ujar seorang pelayan, mengetuk pintu kamar.

Cantika keluar, melihat seikat besar bunga mawar merah yang indah. Ia membaca kartu ucapan yang terselip di antaranya. Dari Ardi, dengan tulisan tangan yang rapi: "Untuk istriku yang paling cantik. Aku mencintaimu."

Cantika tersenyum tipis. Ardi selalu romantis, selalu memanjakannya. Ia tahu Ardi sangat mencintainya. Tapi mengapa ia merasa begitu kosong? Mengapa semua kemewahan ini terasa seperti belenggu?

Ia mengingat lukisan yang ia sembunyikan di ruang kerjanya. Lukisan itu adalah cerminan jiwanya yang terkurung. Ia ingin bebas, ia ingin melukis apa yang ia rasakan, tanpa batasan, tanpa tuntutan. Namun, ia tahu itu adalah hal yang mustahil. Ia sudah memilih jalan ini, dan ia harus menjalaninya.

Cantika mengambil vas bunga, menata mawar merah itu dengan hati-hati. Aroma mawar yang semerbak memenuhi ruangan. Ia memejamkan mata sejenak, mencoba menenangkan pikirannya. Ia harus kuat. Ia harus tampil sempurna di hadapan semua orang. Ini adalah perannya sebagai Nyonya Ardi Permana, dan ia harus memainkannya dengan baik.

Ia membuka matanya, menatap pantulan dirinya di cermin lagi. Wanita cantik bergaun mewah, dikelilingi kemewahan, namun dengan mata yang menyimpan kesedihan yang mendalam. Ia adalah ratu di sangkar emasnya sendiri, terperangkap dalam kemegahan yang ia pilih.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Balas Dendam Sang CEO
8.8
Dahulu Adnan dicampakkan oleh kekasihnya karena kemiskinan yang ia derita. Wanita itu memilih pergi demi mengejar pria kaya. Sepuluh tahun berlalu, Adnan kembali dengan kekayaan melimpah untuk membalas rasa sakit hatinya. Namun, ia terkejut saat menemukan sang mantan kini justru menjadi wanita panggilan demi menyambung hidup. Rahasia apa yang sebenarnya tersembunyi? Akankah Adnan tetap menjalankan dendamnya saat melihat kondisi tragis wanita itu?
Sampul Novel Ceo suamiku (season 2)
9.7
Hidup Tasya mendadak berubah menjadi penuh gangguan sejak kehadiran Revan dalam kesehariannya. Sebagai CEO baru yang mengambil alih takhta kepemimpinan perusahaan dari sang ayah, Revan kerap bertindak menyebalkan dan mengusik ketenangan Tasya secara konstan. Hubungan profesional antara atasan dan bawahan ini pun diwarnai dengan berbagai momen menjengkelkan yang membuat Tasya sulit bernapas lega karena ulah bosnya yang terus mengejar dan mengganggunya.
Sampul Novel contract merriage with the ceo
9.0
Faza terkejut saat Demian, CEO muda yang baru saja resmi menjadi suaminya, langsung menyodorkan surat perjanjian di hari pertama pernikahan mereka. Demian menegaskan bahwa hubungan ini hanyalah formalitas demi kepentingan keluarga. Dengan ketus, ia menyatakan sudah memiliki kekasih dan melarang Faza berharap lebih. Tanpa ruang untuk membantah, Faza terjebak dalam pernikahan kontrak yang dingin tanpa cinta. Akankah hubungan tanpa kontak ini bertahan?
Sampul Novel Kekasih Bersama: Penghinaan Seorang Istri
9.5
Kehidupan rumah tanggaku hancur saat suamiku membawa selingkuhannya ke rumah. Namun, kejutan sebenarnya muncul ketika ayah mertuaku, Julio James, justru membela wanita itu dengan amarah besar. Pertikaian hebat antara ayah dan anak demi satu wanita yang sama terjadi di hadapanku. Skandal memuakkan ini pun meledak hingga menjadi berita utama nasional. Kini, aku terjebak sebagai istri sah yang dikasihani sekaligus menjadi bahan tertawaan publik akibat drama gila keluarga kaya ini.
Sampul Novel Kekayaan Setelah Pengkhianatan
7.9
Tepat di usia ke-20, Tristan dikhianati oleh kekasihnya hingga hancur secara emosional. Namun, tetesan darahnya tanpa sengaja mengaktifkan detektor garis keturunan kuno pada cincinnya yang telah lama mati. Rahasia besar terungkap, mengubah nasibnya dari mahasiswa miskin menjadi miliarder penguasa berbagai bisnis global. Kini, sang pemuda terkaya di dunia menghadapi mereka yang dulu menghina dan mengkhianatinya saat mereka datang bersujud memohon ampun padanya.
Sampul Novel Menyukai Bos Pengusaha
8.4
Maya baru saja memulai perjalanannya sebagai asisten eksekutif di sebuah perusahaan besar. Sebagai wanita muda yang penuh talenta dan dedikasi, ia melihat posisi ini sebagai peluang emas demi membuktikan keahlian profesionalnya. Meski harus menghadapi ritme kerja yang sangat padat dan sempat didera rasa cemas di awal, Maya tetap teguh pada pendiriannya. Ia bertekad memberikan performa terbaik dalam menjalankan setiap tugas demi meraih kesuksesan di lingkungan baru.