Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Kasih Sayang Yang Dikhianati

Kasih Sayang Yang Dikhianati

Tiga tahun menikah, Althea baru menyadari cintanya dikhianati. Lucas, suaminya, ternyata hanya menjadikannya tameng untuk melindungi mantan sahabatnya yang telah menyebabkan kematian ibu Althea. Kebenaran pahit terungkap saat Althea tahu Lucas memberi nafkah lebih besar pada wanita itu, bahkan kado mewahnya hanyalah barang bekas penolakan sang selingkuhan. Meski hancur, Althea memilih bungkam demi menyusun rencana pembalasan yang setimpal atas segala kepalsuan Lucas.
Bab
Bagikan

Bab 2

Althea tidak lagi sama. Sejak mengetahui rahasia besar Lucas, pandangannya terhadap dunia berubah total. Ia tidak lagi melihat rumah besar mereka sebagai tempat perlindungan, melainkan sebagai sangkar emas yang mengekang.

Setiap langkah Lucas di dalam rumah itu membuatnya merasa terancam. Setiap senyuman yang pria itu berikan hanya menambah luka.

Namun, di balik kepura-puraannya, Althea semakin kuat. Ia tahu ia harus bermain hati-hati. Lucas bukan hanya suami yang berkhianat-ia adalah pria berbahaya dengan rahasia besar yang bisa menghancurkan siapa pun yang mencoba melawannya.

Suatu pagi, Althea sedang menyiapkan sarapan ketika Lucas masuk ke dapur dengan ekspresi serius. Tidak ada senyum hangat seperti biasanya.

"Thea," panggilnya datar.

Althea menoleh, berusaha tetap terlihat tenang. "Ya, sayang? Sarapan hampir siap."

Lucas menatapnya lama, seakan mencoba membaca isi pikirannya. "Kamu akhir-akhir ini sering keluar. Katanya belanja, katanya ketemu teman. Tapi aku nggak pernah lihat tas belanja atau barang baru. Kamu sebenarnya pergi ke mana?"

Jantung Althea berdegup kencang. Tangannya yang memegang spatula hampir gemetar. Tapi ia menegakkan bahu, lalu tersenyum samar. "Aku memang belanja, tapi lebih banyak untuk kebutuhan dapur. Kalau teman... aku cuma butuh udara segar, Lucas. Aku nggak mau terus-terusan di rumah."

Lucas tidak langsung menjawab. Ia melangkah mendekat, berdiri tepat di belakang Althea. Nafas hangatnya terasa di tengkuknya, membuat bulu kuduk meremang.

"Kamu nggak menyembunyikan sesuatu dari aku, kan?" bisiknya pelan, tapi nadanya tajam.

Althea menelan ludah. Ia menahan diri untuk tidak gemetar, lalu membalikkan badan dan menatap mata Lucas. "Kenapa aku harus menyembunyikan sesuatu? Aku istrimu, Lucas. Aku di sini, untuk kamu."

Mata Lucas tetap menelisik, tapi akhirnya ia tersenyum tipis dan mencium keningnya. "Bagus kalau begitu. Jangan pernah bohong sama aku, Thea."

Althea hanya mengangguk, meski dalam hati ia berkata: Kamu sudah berbohong selama tiga tahun, Lucas. Dan sebentar lagi... giliranmu yang akan merasakan rasanya.

Setelah Lucas pergi ke kantor, Althea duduk lama di ruang kerja. Tangan kirinya menggenggam flashdisk berisi semua bukti, sementara tangan kanannya memegang ponsel. Ia ingin sekali langsung menyerahkan semuanya ke polisi, tapi ia tahu itu terlalu berbahaya.

Ia butuh strategi.

Maka, ia kembali menghubungi Adrian.

"Adrian, aku butuh ketemu lagi. Malam ini, kalau bisa."

Suara Adrian terdengar tegas dari seberang. "Baik, Thea. Aku tunggu di tempat biasa."

Malam itu, Althea mengenakan mantel panjang untuk menyamarkan diri. Ia naik taksi, bukan mobil pribadinya, agar tidak meninggalkan jejak. Sesampainya di kafe, ia langsung melihat Adrian yang duduk di pojok, wajahnya serius.

"Althea," sambut Adrian, berdiri dan menarik kursi untuknya. "Aku senang kamu datang."

Althea tersenyum tipis, lalu menyerahkan flashdisk. "Ini semua bukti yang aku temukan di laptop Lucas. Transaksi, dokumen, semuanya. Aku nggak tahu harus diapakan."

Adrian menerima dengan hati-hati. "Aku akan cek ini lebih dalam. Tapi, Thea..." Ia menatapnya penuh khawatir. "Kamu harus sadar, semakin banyak bukti yang kamu kumpulkan, semakin besar risiko yang kamu hadapi. Kalau Lucas tahu-"

"Aku tahu," potong Althea, suaranya dingin. "Tapi aku nggak peduli lagi, Adrian. Dia sudah menghancurkan hidupku. Aku nggak mau terus jadi korban."

Adrian terdiam, menatap dalam ke mata Althea. "Kamu berubah. Dulu kamu lembut, mudah percaya. Sekarang... aku lihat ada api di mata kamu."

Althea tersenyum getir. "Api yang dia nyalakan sendiri."

Setelah pertemuan itu, Althea pulang dengan hati campur aduk. Ada ketakutan, tapi juga kekuatan baru. Ia tahu Adrian bisa dipercaya-setidaknya untuk saat ini.

Namun, malam itu ia hampir saja ketahuan.

Begitu ia masuk rumah, Lucas sudah menunggunya di ruang tamu dengan wajah datar.

"Kamu dari mana?" tanyanya tanpa basa-basi.

Althea tercekat, tapi segera menenangkan diri. "Aku jalan-jalan sebentar. Bosan di rumah."

Lucas menatapnya lama, lalu bangkit dan mendekat. "Jalan-jalan? Malam-malam begini?"

Althea berusaha tersenyum. "Aku butuh udara segar. Kamu kan tahu aku nggak betah kalau terus di dalam rumah."

Lucas menghela napas, lalu memeluknya erat. "Kamu jangan bikin aku khawatir, Thea. Aku nggak mau kehilangan kamu."

Kata-kata itu terdengar manis, tapi bagi Althea, pelukan itu lebih seperti belenggu. Ia menutup mata, menahan tangis. Dalam hati ia berbisik: Kamu sudah kehilangan aku sejak lama, Lucas.

Hari-hari berikutnya, kecurigaan Lucas makin terasa. Ia sering tiba-tiba menelepon Althea di siang hari, menanyakan keberadaannya. Kadang ia pulang lebih cepat dari biasanya, seolah ingin memergoki sesuatu.

Althea harus semakin hati-hati. Ia mulai menyembunyikan ponselnya dengan kode baru, menyimpan dokumen penting di tempat-tempat yang tidak mungkin Lucas curigai.

Namun, semakin ia menyembunyikan, semakin ia merasa tercekik. Hidupnya berubah menjadi permainan berbahaya-antara berpura-pura sebagai istri setia atau terbongkar dan hancur dalam sekejap.

Di sisi lain, hubungannya dengan Adrian semakin erat. Meski Althea tidak pernah berniat mencari pelarian, kehadiran Adrian memberi rasa aman yang tidak pernah ia dapatkan dari Lucas.

Suatu sore, mereka bertemu lagi di kantor Adrian. Kali ini, pria itu menunjukkan hasil analisis awal dari flashdisk.

"Thea, ini gawat. Transaksi ini bukan cuma soal uang untuk Selena. Ada jaringan besar di belakangnya. Kalau benar Lucas terlibat, dia bisa saja bagian dari kelompok yang mencuci uang melalui perusahaan-perusahaan fiktif."

Althea menutup mulutnya, tubuhnya bergetar. "Jadi aku selama ini hidup bersama... penjahat?"

Adrian menatapnya serius. "Lebih buruk. Kalau dia tahu kamu mengendus ini semua, kamu bisa dalam bahaya."

Air mata Althea menetes. Ia merasa terjebak, tapi juga semakin yakin ia tidak boleh mundur. "Aku nggak akan berhenti, Adrian. Aku harus keluar dari ini semua. Dan aku mau dia jatuh."

Adrian mendekat, menggenggam tangannya. "Kalau begitu, aku akan pastikan kamu nggak sendiri."

Sentuhan itu membuat dada Althea bergetar. Ia tahu ia seharusnya menjaga jarak, tapi ada sesuatu dalam tatapan Adrian yang membuatnya ingin percaya sepenuhnya.

Sementara itu, Lucas semakin gelisah. Suatu malam, ia membuka laptopnya dan menyadari ada folder yang tidak sama seperti biasanya. Meski tidak yakin, ada firasat buruk yang menghantuinya.

Ia menatap Althea yang sedang tidur di ranjang, wajahnya tenang. Tapi bagi Lucas, ketenangan itu justru mencurigakan.

"Thea..." gumamnya pelan. "Apa sebenarnya yang kamu sembunyikan dariku?"

Keesokan harinya, Lucas pulang lebih awal. Ia membawa setangkai mawar putih dan senyum manis di wajahnya. "Untuk istriku tercinta," katanya sambil menyerahkan bunga itu.

Althea menerimanya dengan hati-hati. Senyum Lucas terlalu manis, terlalu dibuat-buat.

"Apa ini?" tanyanya lembut.

Lucas menatapnya dalam. "Aku cuma mau bilang... aku sayang kamu, Thea. Dan aku harap kamu juga selalu sayang aku."

Althea tersenyum samar. "Tentu saja."

Namun dalam hatinya, ia tahu. Senyum itu bukan lagi sekadar senyum seorang suami. Itu adalah senyum penuh kecurigaan, senyum seseorang yang sudah mulai mencium adanya pengkhianatan.

Dan Althea sadar-permainan ini akan segera berubah menjadi lebih berbahaya.

Laura berdiri di depan cermin, menatap dirinya sendiri dengan tatapan kosong. Lingkaran hitam di bawah matanya makin jelas, menandakan betapa sedikit waktu yang ia gunakan untuk tidur belakangan ini. Setiap malam, pikirannya selalu dipenuhi bayangan tentang pengkhianatan Adrian, tentang segala kepalsuan yang selama ini ia anggap sebagai cinta sejati.

Ia menelusuri permukaan meja rias, jemarinya berhenti pada sebuah kalung berliontin kecil yang pernah diberikan Adrian padanya dua tahun lalu. Kala itu, ia merasa hadiah tersebut begitu romantis, begitu penuh cinta. Namun kini, setelah semua terbongkar, kalung itu hanyalah simbol dari kebohongan. Laura menggenggamnya, lalu meletakkannya kembali dengan kasar, seakan benda itu bisa melukai hatinya lebih dalam lagi.

Pagi itu, suara ketukan pintu membuatnya tersentak. "Laura? Kau sudah bangun?" suara ayahnya terdengar dari balik pintu.

"Sudah, Yah," jawabnya singkat, suaranya serak karena terlalu lama menangis malam sebelumnya.

Pintu terbuka perlahan, menampakkan sosok Pak Samuel dengan raut wajah penuh kekhawatiran. Pria paruh baya itu menghampiri putrinya dan duduk di sisi ranjang. "Kau terlihat sangat pucat, Nak. Apa kau masih memikirkan Adrian?" tanyanya lembut.

Laura tersenyum pahit. "Bagaimana aku bisa berhenti memikirkannya, Yah? Tiga tahun hidupku kuberikan padanya. Tiga tahun aku percaya setiap kata manisnya. Lalu kenyataannya... semua itu hanya topeng."

Samuel menghela napas berat, lalu menggenggam tangan putrinya erat. "Aku tahu ini berat. Tapi kau harus kuat. Jangan biarkan dia merusak sisa hidupmu."

Kata-kata itu membuat Laura sedikit menunduk. Ia tahu ayahnya benar, tapi hatinya masih terlalu sakit untuk benar-benar bisa melepaskan. Terlebih lagi, rasa dikhianati itu begitu menyesakkan, apalagi wanita yang selama ini Adrian cintai adalah sahabat masa kecilnya sendiri, Elena.

Siang harinya, Laura memutuskan keluar rumah. Ia butuh udara segar, sekaligus butuh menjernihkan pikiran. Ia memilih duduk di sebuah kafe kecil di pusat kota, tempat yang dulu sering ia datangi bersama Adrian. Namun kali ini, ia sendirian, dengan secangkir kopi hitam yang hampir dingin di hadapannya.

Matanya menerawang jauh ke luar jendela, memandang orang-orang berlalu-lalang. Semua tampak normal, seolah dunia tidak peduli pada luka yang ia rasakan. Laura menggigit bibirnya, berusaha menahan air mata. Ia tak ingin orang lain melihat kelemahannya.

Di tengah lamunannya, ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal.

"Kau tidak tahu semua tentang Adrian. Jika kau ingin kebenaran, temui aku malam ini di Taman Kota, jam delapan."

Laura terbelalak. Jantungnya berdegup kencang membaca pesan itu. Siapa orang ini? Dan apa maksudnya ia tidak tahu semua tentang Adrian? Bukankah semua rahasia sudah terbongkar ketika ia menemukan file di laptop suaminya?

Rasa penasaran bercampur cemas membuat Laura tak bisa duduk tenang. Ia menatap layar ponselnya lama sekali, hingga akhirnya ia mengetik balasan singkat: "Siapa kau?"

Namun, pesan itu tak kunjung mendapat jawaban.

Malam pun tiba. Meski sempat ragu, Laura memutuskan untuk pergi ke Taman Kota sesuai pesan misterius itu. Ia mengenakan jaket hitam panjang, mencoba menyamarkan dirinya. Sepanjang jalan, ia terus menoleh, memastikan tidak ada yang mengikutinya.

Taman Kota malam itu cukup sepi. Hanya ada beberapa pasangan muda yang duduk di bangku, serta beberapa orang tua yang berjalan santai. Laura melangkah pelan, matanya mencari-cari sosok yang mungkin menunggunya.

"Laura?" sebuah suara lirih terdengar dari belakang.

Laura menoleh, dan matanya langsung melebar. "Kau?!" serunya setengah terkejut, setengah marah.

Sosok itu adalah Dina, salah satu rekan kerjanya yang dulu sempat dekat dengan Adrian. Laura tidak pernah menyukai Dina sepenuhnya, karena entah kenapa ia selalu merasa wanita itu menyimpan sesuatu.

"Apa yang kau lakukan di sini? Kau yang mengirim pesan itu?" tanya Laura dengan nada tajam.

Dina mengangguk pelan. "Aku tahu ini mungkin membuatmu marah. Tapi ada hal yang harus kau ketahui tentang Adrian. Sesuatu yang lebih besar dari sekadar perselingkuhannya dengan Elena."

Laura menatapnya penuh curiga. "Apa maksudmu?"

Dina menelan ludah, lalu mendekat sedikit. "Adrian bukan hanya berselingkuh, Laura. Dia juga terlibat dalam beberapa transaksi gelap. Aku tidak punya semua buktinya, tapi aku pernah melihat dokumen yang ia sembunyikan di kantor. Dan jika kau menemukan file di laptopnya, aku yakin itu hanya sebagian kecil."

Laura merasa kepalanya berputar. "Transaksi gelap? Jangan bercanda, Dina. Adrian memang pengkhianat, tapi aku tak pernah berpikir dia... dia melakukan hal semacam itu."

"Aku juga ingin itu hanya lelucon," kata Dina, suaranya tegang. "Tapi percayalah, aku pernah melihatnya sendiri. Jika kau tidak percaya, aku bisa membantumu menemukan bukti."

Sepulang dari pertemuan itu, Laura kembali dilanda dilema. Kata-kata Dina terus berputar di kepalanya. Transaksi gelap. Itu bukan hal sepele. Jika benar Adrian terlibat dalam sesuatu yang berbahaya, berarti ia selama ini hidup bersama pria yang tak hanya mengkhianati cintanya, tapi juga menyimpan sisi gelap yang jauh lebih menyeramkan.

Laura duduk di ranjang, menatap laptop yang ada di meja. Ia sudah berulang kali membuka file-file yang sempat ia salin dari laptop Adrian sebelum pergi, tapi tak menemukan hal mencurigakan selain bukti transfer uang untuk Elena. Mungkinkah Dina benar? Atau ini hanya jebakan?

Air mata kembali jatuh tanpa bisa ia tahan. Laura merasa hidupnya hancur berkeping-keping. Namun di balik rasa sakit itu, muncul sebuah bara kecil di hatinya-keinginan untuk membalas, untuk membuka semua kedok Adrian, bahkan jika itu berarti ia harus menghadapi bahaya yang lebih besar.

Laura mengepalkan tangannya. Jika Adrian benar-benar bermain kotor, aku akan memastikan dia mendapat balasannya.

Dan malam itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Laura merasakan sesuatu yang berbeda: bukan sekadar kesedihan, tapi tekad yang perlahan tumbuh di dalam dirinya.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bound by Destiny
8.5
Kehidupan Elice Danurdara hancur seketika setelah ia dicampakkan dan dipermalukan secara kejam. Saat hampir menyerah pada keadaan, sebuah pertemuan tak terduga dengan Garettinus Hardiyata mengubah segalanya. Pria asing tersebut hadir untuk membuktikan bahwa Elice masih memiliki nilai yang tinggi. Lewat tatapan, tutur kata, hingga sentuhannya, Garettinus menunjukkan bahwa Elice sangat berharga, membawa sang wanita bangkit dari keterpurukan hidupnya.
Sampul Novel Gemintang
8.8
Gemintang Farhana hancur saat Bachdim, cinta pertamanya, memutuskan hubungan secara sepihak. Demi mengobati luka, ia pindah kerja namun justru terpikat oleh Amar Dwirangga, atasan sekaligus seniornya. Meski perhatian Amar menyembuhkan hati Gemintang, takdir berkata lain. Hubungan indah mereka terbentur restu semesta yang memaksa keduanya berpisah. Kini, mereka terjebak dalam kerinduan mendalam tanpa bisa bersatu, menyisakan kenangan manis yang tak selamanya berujung bahagia.
Sampul Novel ISTRI YANG DIRINDUKAN
8.3
Setelah malam pertama yang menyakitkan, Nevan Wiliam Adiguna mencampakkan Anin karena sebuah kesalahpahaman yang belum terbukti. Dua setengah tahun berlalu, takdir mempertemukan Evan dengan Albanna, bocah laki-laki di sebuah desa yang ternyata adalah darah dagingnya sendiri. Meski kini ia menyadari kesalahannya dan berusaha menjadi sosok ayah, mampukah Evan menebus luka masa lalu dan memenangkan kembali hati Anin yang pernah ia hancurkan begitu saja?
Sampul Novel LELAKI YANG TERKHIANATI
9.6
Lima tahun merantau ke luar negeri, Tarno pulang membawa kalung inisial khusus demi memberi kejutan manis bagi istrinya, Susanti. Namun, kepulangannya yang tanpa kabar justru mengungkap kenyataan pahit. Di atas ranjangnya sendiri, ia memergoki Susanti sedang bersama Joko, sahabat yang selama ini ia percayai untuk menjaga istrinya. Hancur oleh pengkhianatan dua orang terdekatnya, bagaimanakah langkah Tarno menjalani hidup setelah rahasia kelam ini terbongkar?
Sampul Novel Love Trap
8.2
Nasib malang menghampiri Melisa saat menghadiri perayaan ulang tahun sahabat lamanya. Di acara tersebut, ia terjerat dalam sebuah jebakan kelam yang meninggalkan trauma mendalam, hingga membuatnya kehilangan semangat untuk menghadapi hari. Namun, peristiwa pahit itu justru menjadi titik balik yang tak terduga. Seiring berjalannya waktu, Melisa mulai menyadari bahwa perasaan cintanya perlahan mengalami transformasi yang sangat signifikan.
Sampul Novel Pembuktian Cinta
7.9
Bram berjuang membuktikan cintanya pada gadis masa kecil yang ia temui saat keluarganya dibantai musuh sang ayah. Setelah bertahun-tahun terpisah demi bertahan hidup, takdir mempertemukan mereka kembali saat dewasa. Demi melindungi sang kekasih dari fitnah keji, Bram rela mendekam di penjara. Namun, pengorbanannya dibalas kehampaan karena sang pujaan hati tak pernah datang menjenguk. Akankah Bram menemukan kebahagiaan setelah bebas, atau justru melihat wanita itu bersama orang lain?