
Kasih Sayang Yang Dikhianati
Bab 3
Laura duduk di meja kerjanya malam itu, menatap layar laptop dengan tatapan kosong. Lampu meja menyinari wajahnya yang pucat, sementara matanya terasa berat akibat terlalu sering menangis dan begadang. Sejak pertemuan dengan Dina di Taman Kota, pikirannya tak bisa berhenti memutar ulang kata-kata yang terdengar seperti mimpi buruk itu.
"Adrian bukan hanya berselingkuh, dia juga terlibat dalam transaksi gelap."
Kata-kata itu menusuk lebih dalam daripada pengkhianatan cintanya. Jika benar, berarti hidup yang ia jalani selama tiga tahun terakhir benar-benar hanyalah sebuah kebohongan besar. Adrian bukan sekadar suami yang tak setia-ia bisa jadi seorang pria yang berbahaya.
Laura menghela napas berat. Jemarinya menari di atas keyboard, mencoba membuka kembali folder salinan data Adrian yang sempat ia ambil sebelum meninggalkan rumah. File demi file dibuka, diperiksa dengan saksama. Ada beberapa dokumen transfer, email dengan nama-nama asing, juga catatan pengeluaran yang tak masuk akal.
Namun, semuanya tampak samar. Tidak ada bukti yang benar-benar jelas. Seperti potongan puzzle yang terpisah, tanpa gambar utuh.
Ponselnya tiba-tiba bergetar. Sebuah pesan masuk dari Dina.
"Kau masih bangun? Aku punya ide. Kita harus ketemu lagi. Ada tempat di mana aku bisa tunjukkan sesuatu padamu."
Laura menatap layar ponselnya lama, sebelum akhirnya membalas singkat. "Di mana?"
Balasan datang cepat. "Besok sore, gudang kosong dekat kantor lama Adrian. Jangan bilang siapa pun. Bawa file yang kau punya."
Keesokan harinya, Laura bangun dengan perasaan campur aduk. Ketakutan, kemarahan, dan rasa penasaran bercampur menjadi satu. Ia tahu, apa yang akan ia lakukan bukan hal kecil. Jika benar Adrian terlibat dalam sesuatu yang ilegal, maka ia sedang melangkah ke wilayah yang sangat berbahaya.
Namun, tekadnya bulat. Ia sudah terlalu banyak dirugikan. Harga dirinya hancur, hatinya hancur, bahkan keluarganya ikut terkena dampak. Ibunya meninggal karena tekanan batin setelah tahu Adrian berselingkuh dengan Elena. Dan kini, Laura tidak akan tinggal diam.
Ia berusaha tampil biasa sepanjang hari, agar ayahnya tidak curiga. Tapi ketika sore tiba, ia diam-diam meninggalkan rumah dengan alasan ingin menemui teman lama. Mobil kecilnya melaju pelan menuju lokasi yang disebut Dina.
Gudang itu tampak tua dan terbengkalai, terletak di pinggir kota. Cat dindingnya mengelupas, pintunya berkarat, dan rumput liar tumbuh di sekitarnya. Laura sempat ragu untuk masuk, tapi ia melihat sosok Dina berdiri di dekat pintu, melambai padanya.
"Syukurlah kau datang," ucap Dina ketika Laura menghampirinya.
"Apa sebenarnya yang kau sembunyikan dariku?" tanya Laura dengan nada tegang.
Dina menoleh ke kanan-kiri, memastikan tak ada yang mengikuti mereka, lalu menarik Laura masuk. Di dalam, gudang itu dipenuhi debu dan cahaya redup dari jendela yang pecah. Dina membuka tasnya, mengeluarkan sebuah map tebal.
"Ini beberapa salinan dokumen yang pernah kutemukan di kantor Adrian," katanya sambil menyerahkan map itu. "Aku tidak berani menyimpannya di rumah. Kalau dia tahu, aku bisa celaka."
Laura membuka map itu. Ada print-out email dengan bahasa kode, daftar transaksi ke beberapa rekening luar negeri, serta nama-nama perusahaan fiktif. Ia menelan ludah, tangannya sedikit gemetar.
"Ini... ini benar-benar nyata," bisiknya.
Dina mengangguk. "Aku yakin Adrian menggunakan perusahaan-perusahaan itu sebagai kedok. Dia menyalurkan uang entah untuk apa. Bisa jadi pencucian uang, bisa jadi lebih buruk. Aku tidak tahu pasti. Tapi aku yakin Elena juga tahu sebagian dari ini."
Nama Elena kembali disebut, membuat hati Laura bergejolak. Jadi selain merebut Adrian, sahabat yang sudah mengkhianatinya itu juga terlibat dalam rahasia kotornya? Rasanya darah Laura mendidih.
"Kenapa kau memberitahuku semua ini?" tanya Laura, menatap Dina dengan curiga.
Dina terdiam sejenak sebelum menjawab. "Karena aku juga muak dengan Adrian. Dia memperalat semua orang, termasuk aku. Aku tidak sekuat dirimu untuk meninggalkannya. Tapi kalau ada seseorang yang bisa menjatuhkannya, itu kau, Laura."
Kata-kata itu membuat Laura terdiam. Ia tidak tahu apakah harus percaya sepenuhnya pada Dina atau tidak, tapi satu hal pasti: dokumen-dokumen ini nyata.
Malam itu, Laura kembali ke rumah dengan map tebal itu dalam genggaman. Ia duduk di kamarnya, membaca satu per satu isi dokumen dengan hati berdebar. Potongan puzzle itu mulai menyatu, membentuk gambaran yang lebih jelas.
Adrian telah menyalurkan uang dalam jumlah besar ke rekening luar negeri melalui beberapa perusahaan cangkang. Ada pola dalam transfer itu, yang jika diperhatikan, selalu berhubungan dengan tanggal-tanggal tertentu. Dan yang paling mengejutkan, sebagian dari uang itu digunakan untuk membeli aset mewah atas nama orang lain-salah satunya Elena.
Laura menutup map itu dengan napas terengah. Hatinya sakit sekaligus marah. Jadi selama ini, barang-barang mewah yang diberikan Adrian padanya hanyalah 'sisa', sementara Elena yang mendapatkan bagian paling besar.
Matanya memerah. Air mata menetes, tapi kali ini bukan karena kelemahan. "Kau pikir aku hanya boneka yang bisa kau permainkan, Adrian? Kau salah besar," bisiknya.
Hari-hari berikutnya, Laura mulai menyusun rencana. Ia tak bisa gegabah, karena Adrian bukan orang biasa. Ia punya kekuasaan, uang, dan jaringan luas. Jika ia langsung melawan, bisa jadi dirinya yang akan terseret masalah.
Ia memutuskan untuk merahasiakan semua ini dari ayahnya. Samuel sudah terlalu tua untuk menanggung beban sebesar ini. Biarlah ia memendam semua luka sendirian, demi melindungi ayahnya dari ancaman Adrian.
Laura juga mulai sering bertemu dengan Dina secara diam-diam. Mereka membagi tugas: Dina mencari tahu lebih banyak informasi di lingkaran kerja Adrian, sementara Laura meneliti pola transaksi dan mencari celah untuk mengungkapkannya.
Namun, bukan berarti semua berjalan mulus. Suatu malam, saat Laura baru saja pulang dari pertemuan dengan Dina, ia menemukan sesuatu yang membuat darahnya berhenti mengalir seketika.
Di depan rumahnya, sebuah mobil hitam asing terparkir. Lampunya mati, tapi bayangan seseorang terlihat jelas di dalamnya.
Jantung Laura berdegup kencang. Nalurinya mengatakan itu bukan kebetulan. Ia buru-buru masuk ke dalam rumah, menutup pintu rapat-rapat, dan mengintip dari balik tirai. Mobil itu masih di sana, diam tak bergerak.
"Adrian..." gumamnya lirih.
Ia sadar, Adrian mungkin mulai curiga.
Keesokan harinya, Laura menerima panggilan dari nomor yang sangat dikenalnya. Nomor Adrian.
Ia terdiam beberapa detik sebelum akhirnya mengangkat. "Halo."
"Laura," suara Adrian terdengar tenang tapi dingin. "Kita perlu bicara. Aku akan menjemputmu malam ini. Jangan bilang siapa pun."
Laura menggenggam ponselnya erat, keringat dingin membasahi telapak tangannya. Suara Adrian itu seperti ancaman terselubung.
"Malam ini?" suaranya bergetar.
"Ya. Ada hal yang perlu kau dengar langsung dariku. Jangan coba-coba menghindar." Klik. Sambungan terputus.
Laura terduduk lemas. Ia tahu, permainan ini baru saja naik ke level yang lebih berbahaya.
Jika Adrian sudah tahu ia menyelidiki, maka segalanya bisa berubah kapan saja. Namun, di sisi lain, inilah kesempatan untuk mendengar langsung pengakuan dari pria yang telah menghancurkan hidupnya.
Hatinya berdegup kencang. Ia menatap map berisi dokumen-dokumen gelap Adrian, lalu menarik napas panjang.
"Aku tidak akan kalah, Adrian. Kali ini aku yang akan menghadapimu," bisiknya dengan mata penuh tekad.
Malam itu, udara terasa lebih dingin dari biasanya. Angin berhembus menusuk tulang, membawa aroma lembab dari hujan yang baru saja reda. Laura duduk di ruang tamu dengan tubuh menegang. Kedua tangannya saling menggenggam erat, jemarinya bergetar tanpa bisa ia kendalikan. Sejak panggilan telepon sore tadi, pikirannya tak pernah berhenti memutar kemungkinan terburuk.
Adrian akan datang.
Mungkin pria itu hanya ingin berbicara. Mungkin juga ia sudah tahu Laura menemukan sesuatu. Atau lebih buruk lagi, ia datang untuk menyingkirkan Laura karena dianggap ancaman. Semua kemungkinan menari di kepalanya seperti bayangan gelap yang tak bisa ia halau.
Jam dinding berdetak keras, seakan mengiringi detak jantung Laura yang semakin kacau. Jarum pendek menunjuk angka sembilan ketika suara deru mesin mobil berhenti di depan rumah. Laura menelan ludah, dadanya sesak. Ia berdiri perlahan, tubuhnya seakan kehilangan tenaga.
Ketukan keras terdengar di pintu. Dug... dug... dug...
"Laura, buka pintunya." Suara berat Adrian terdengar dari luar. Tenang, tapi penuh tekanan.
Laura menarik napas dalam-dalam, mencoba menguatkan diri. Ia melangkah mendekati pintu, tangannya gemetar saat memutar gagang. Pintu terbuka, menampakkan sosok yang selama tiga tahun menjadi suaminya-pria tampan dengan setelan hitam rapi, wajahnya tetap karismatik, tapi mata itu... mata yang dulu hangat, kini hanya menyimpan kegelapan.
"Adrian," suara Laura bergetar.
"Boleh aku masuk?" tanyanya, tapi nada suaranya bukan permintaan, melainkan perintah terselubung.
Laura menyingkir, membiarkannya masuk. Aroma parfum mahal langsung memenuhi ruangan, membuat Laura semakin muak. Betapa ia dulu mencintai aroma itu, padahal kini tercium seperti racun.
Adrian duduk di sofa seolah ia masih pemilik rumah itu. Laura tetap berdiri, menatapnya penuh kewaspadaan.
"Kenapa kau di sini?" tanyanya dingin.
Adrian menatapnya lama, lalu tersenyum samar. "Kau benar-benar berbeda sekarang. Dulu kau akan langsung menyambutku dengan segelas teh hangat. Kini kau menatapku seakan aku musuh."
"Bukankah memang begitu adanya?" Laura membalas cepat, nadanya getir.
Adrian terkekeh pelan. "Kau selalu dramatis, Laura." Ia bersandar santai, menyilangkan kaki. "Aku hanya ingin memastikan satu hal. Apa kau masih percaya pada semua yang kau temukan di laptopku?"
Pertanyaan itu membuat jantung Laura melompat. Jadi benar, Adrian tahu.
"Apa maksudmu?" Laura berusaha terdengar tenang, meski suaranya hampir pecah.
Adrian mencondongkan tubuh, menatapnya tajam. "Jangan pura-pura. Aku tahu kau membuka laptopku sebelum pergi. Kau pikir aku bodoh? Kau pikir aku tidak sadar file-file itu disalin?"
Laura menggenggam tangannya erat. "Kalau begitu kenapa kau tidak langsung menyingkirkanku? Kenapa baru sekarang datang mencariku?"
Adrian tersenyum miring. "Karena aku masih memberi kesempatan padamu. Aku ingin tahu... seberapa jauh kau berani melawan aku."
Keheningan menekan ruangan. Laura merasakan keringat dingin di pelipisnya, tapi ia menolak tunduk. "Aku tidak takut padamu, Adrian."
"Oh?" alis pria itu terangkat. "Kau seharusnya takut. Kau tahu betapa mudahnya bagiku menghancurkan seseorang? Semua yang kau miliki bisa kuambil dalam sekejap."
Laura menggertakkan gigi. "Kau sudah menghancurkan hidupku sejak lama. Tidak ada lagi yang bisa kau ambil dariku."
Untuk sesaat, wajah Adrian berubah. Ada kilatan amarah di matanya, lalu ia berdiri dan mendekat. Langkahnya tenang, tapi setiap gerakannya membuat jantung Laura berdetak semakin cepat.
Ia berhenti tepat di hadapan Laura, menatap dalam seakan ingin menembus hatinya. "Kau pikir kau bisa melawanku? Kau pikir kau bisa mengungkap apa yang kulakukan? Jangan naif, Laura. Dunia ini tidak sesederhana benar dan salah. Ada hal-hal yang lebih besar dari itu."
Laura mendongak, menatapnya dengan keberanian yang ia kumpulkan sekuat tenaga. "Kalau memang benar yang kukira, maka suatu saat semua kebusukanmu akan terungkap. Dan aku akan memastikan hal itu terjadi."
Adrian tertawa kecil, tapi tawanya dingin. "Aku suka semangatmu. Sayang sekali semangat itu akan membawamu pada kehancuran." Ia meraih dagu Laura dengan kasar, memaksa wajahnya mendongak lebih tinggi. "Ingat baik-baik, Laura. Kau pernah kucintai, meski bukan dengan cara yang kau inginkan. Jangan buat aku berubah menjadi musuhmu."
Laura menepis tangannya dengan keras. "Kau tidak pernah mencintaiku! Jangan pernah berkata begitu lagi."
Adrian terdiam beberapa detik, lalu mundur selangkah. Senyum samar kembali terukir di wajahnya. "Baiklah. Jika itu yang kau mau. Tapi ingat, Laura, aku selalu tahu setiap gerak-gerikmu. Jangan coba-coba bermain api."
Tanpa menunggu jawaban, Adrian berbalik dan berjalan keluar. Pintu menutup keras di belakangnya, meninggalkan Laura dengan tubuh gemetar hebat.
Setelah kepergian Adrian, Laura jatuh terduduk di sofa. Air mata mengalir deras, bukan hanya karena takut, tapi juga karena marah.
Ia sadar, ancaman Adrian nyata. Mobil asing di depan rumah, telepon yang menekan, hingga tatapan penuh amarah tadi-semuanya pertanda bahwa ia sedang diawasi.
Namun, anehnya, tekad Laura justru semakin kuat. Ia tahu ia tak bisa berhenti sekarang. Jika ia mundur, maka Adrian akan menang, dan hidupnya akan selamanya berada di bawah bayangan pria itu.
Laura mengambil map dokumen dari kamar, membukanya lagi. Jemarinya menyusuri daftar transaksi yang terhubung dengan perusahaan-perusahaan asing. Ada satu nama yang terus berulang, sebuah perusahaan bernama Veridian Corp.
Hatinya berdebar. Itu bisa jadi kunci. Jika ia bisa melacak apa sebenarnya Veridian Corp, ia mungkin menemukan jalan untuk menjatuhkan Adrian.
Ponselnya bergetar. Pesan dari Dina.
"Kau baik-baik saja? Aku dengar Adrian mulai bergerak."
Laura menatap layar ponsel lama, lalu mengetik balasan. "Dia menemuiku. Dia tahu aku punya file itu. Kita harus lebih hati-hati."
Balasan masuk cepat. "Kalau begitu kita perlu langkah baru. Aku akan coba hubungi seseorang yang bisa dipercaya. Tapi risikonya besar."
Laura menarik napas panjang. Risiko besar. Kata-kata itu kini menjadi bagian hidupnya.
Ia memandang ke luar jendela, menatap gelapnya malam yang sunyi. Di hatinya, ia berjanji: ia tidak akan berhenti sampai kebenaran terbongkar.
Keesokan harinya, Laura berangkat ke sebuah perpustakaan universitas di kota. Ia butuh tempat aman untuk meneliti tanpa menarik perhatian. Dengan laptopnya, ia mencoba mencari informasi tentang Veridian Corp.
Namun, perusahaan itu nyaris tak meninggalkan jejak. Tidak ada situs resmi, tidak ada catatan publik, hanya beberapa artikel samar tentang perusahaan investasi asing yang bergerak di bidang energi. Semuanya terlalu bersih, terlalu rapi.
Laura menggigit bibirnya. Perusahaan bayangan... tentu saja.
Ketika ia hampir putus asa, seseorang menepuk bahunya. Laura terlonjak, menoleh cepat.
"Tenang, ini aku," Dina berbisik.
Laura menahan napas lega. "Kau hampir membuat jantungku berhenti."
Dina duduk di sampingnya, membuka tas, lalu mengeluarkan flashdisk. "Aku dapat ini dari seorang kenalan lama. Dia pernah bekerja sebagai akuntan di salah satu perusahaan cangkang Adrian. Katanya, semua jejak mengarah ke Veridian Corp."
Laura menerima flashdisk itu, jantungnya berdebar. "Apa isinya?"
"Laporan internal. Bukti-bukti yang tidak bisa dipalsukan. Tapi hati-hati, jika Adrian tahu kita punya ini, kita tamat."
Laura menatap Dina lekat-lekat. "Kenapa kau melakukan semua ini? Kenapa kau ambil risiko sebesar ini untukku?"
Dina terdiam sejenak, lalu tersenyum pahit. "Karena aku juga korban, Laura. Adrian bukan hanya mempermainkanmu. Dia mempermainkan banyak orang. Mungkin dengan membantumu, aku bisa menebus kesalahanku."
Hati Laura menghangat sejenak. Untuk pertama kalinya, ia merasa tidak sendirian.
Ia menyambungkan flashdisk itu ke laptop. File demi file terbuka, menampilkan catatan transaksi, laporan pajak palsu, dan bahkan dokumen tanda tangan Adrian.
Ini bukti nyata.
Air mata Laura menggenang. "Dengan ini... kita bisa menjatuhkannya."
Dina mengangguk. "Tapi jangan buru-buru. Kita butuh strategi. Jika langsung melapor, Adrian bisa menutup semua jejak. Kita harus memastikan dia tidak bisa lolos lagi."
Laura menatap layar laptop dengan tekad yang membara. Ia tahu, pertarungan baru saja dimulai. Adrian mungkin berpikir dirinya tak bisa disentuh, tapi Laura akan membuktikan bahwa kebenaran bisa menghancurkan apa pun, bahkan kekuasaan sebesar milik Adrian.
Dan malam itu, untuk pertama kalinya sejak pengkhianatan itu terungkap, Laura merasa ada cahaya kecil di ujung kegelapan. Cahaya harapan-dan juga perang yang akan datang.
Anda Mungkin Juga Suka





