
Karma Manis untuk Tuan yang Sombong
Bab 2
Hawa dingin kota Bandung di jam tiga pagi benar-benar menusuk tulang, tapi Kinanti nggak peduli. Dia duduk di pojokan bus antarkota yang membawanya menjauh dari Jakarta. Kepalanya bersandar di kaca jendela yang bergetar hebat, mengikuti laju bus yang ugal-ugalan. Setiap kali bus menghantam lubang, kepalanya terbentur, tapi rasa sakit itu nggak ada apa-apanya dibanding sesak di dadanya.
Dia terus meraba tas ranselnya yang ditaruh di pangkuan. Di dalamnya cuma ada beberapa potong baju, ijazah SMA, dan uang tabungan yang nggak seberapa. Uang itu rencananya mau dipakai buat beli laptop bekas buat keperluan kuliah semester depan, tapi sekarang? Kuliah cuma jadi mimpi yang harus dia kubur dalam-dalam.
"Nggak mungkin aku balik lagi," bisiknya pelan, hampir nggak kedengaran di antara suara mesin bus yang bising.
Kinanti memejamkan mata, dan bayangan wajah Arjuna langsung muncul. Bukan wajah Arjuna yang biasanya menyapa dia dengan senyum tipis kalau mereka papasan di meja makan, tapi wajah Arjuna yang merah padam karena murka. Tatapan mata pria itu tadi pagi benar-benar menghancurkan jiwanya. Arjuna menatapnya seolah-olah Kinanti adalah hama yang paling menjijikkan.
Dia ingat betul kata-kata Arjuna. Gugurkan atau buang saja.
Air mata Kinanti luruh lagi. Dia mengusap perutnya yang masih terasa datar. Ada rasa takut yang luar biasa kalau benar-benar ada sesuatu yang tumbuh di sana. Bagaimana mungkin dia bisa membesarkan anak dalam keadaan seperti ini? Dia nggak punya kerjaan, nggak punya rumah, dan sekarang dia jadi buronan keluarga Adiwangsa karena kabur.
Bus akhirnya sampai di terminal. Kinanti turun dengan langkah gontai. Dia nggak tahu mau ke mana. Dia punya bibi di sebuah desa kecil dekat Garut, tapi dia ragu. Kalau dia ke sana, apakah dia nggak akan makin mempermalukan keluarganya? Kabar kalau dia "tidur" sama anak majikan pasti bakal menyebar cepat kalau ada yang tahu.
Sementara itu, di Jakarta, rumah megah keluarga Adiwangsa kacau balau.
Arjuna baru saja pulang dengan keadaan berantakan. Bau alkohol masih tercium meski dia sudah mandi entah berapa kali. Dia masuk ke ruang tengah dan melihat ayahnya, Tuan Adiwangsa, sedang berdiri di depan jendela besar sambil memegang ponsel.
"Dia kabur," ucap Tuan Adiwangsa tanpa menoleh. Suaranya dingin, penuh kekecewaan.
Arjuna tertegun sejenak. "Siapa?"
"Kinanti. Dia lari lewat jendela kamarnya. Satpam baru sadar pas lihat jendelanya terbuka dan kamarnya kosong melongpong."
Arjuna mendengus kasar. Dia melempar kunci mobilnya ke atas meja kaca hingga menimbulkan suara denting yang keras. "Baguslah kalau dia tahu diri. Biar dia pergi. Itu kan yang dia mau? Main drama supaya kita kasihan, terus sekarang kabur biar kita yang merasa bersalah."
Tuan Adiwangsa berbalik, matanya menatap tajam putra tunggalnya itu. "Kamu pikir ini bercanda, Arjuna? Kalau dia kenapa-napa di jalan, atau kalau dia benar-benar hamil anak kamu, nama Adiwangsa bakal hancur di tangan media. Kamu tahu sendiri gimana saingan bisnis kita nunggu kita terpeleset."
"Ya terus aku harus gimana, Yah? Aku harus cari dia? Aku harus sujud di kakinya?" suara Arjuna meninggi. "Dia sudah ngerusak hidup aku! Valerie mutusin aku! Dia pergi ke London pagi ini tanpa mau dengerin penjelasan aku sedikit pun. Semua karena cewek kampung itu!"
"Cari dia, Arjuna," perintah ayahnya, tidak mau dibantah. "Cari dia sampai ketemu. Bukan karena aku sayang sama dia, tapi karena aku nggak mau ada masalah di masa depan. Seret dia balik, kita urus ini secara tertutup."
Arjuna mengepalkan tangannya sampai buku-buku jarinya memutih. Dia benci situasi ini. Dia benci harus berurusan lagi dengan Kinanti. Dalam kepalanya, Kinanti bukan lagi gadis polos yang dulu sering dia kasih tumpangan kalau mau ke kampus. Sekarang, Kinanti adalah monster yang sudah menghancurkan rencana masa depannya dengan Valerie.
"Oke, aku cari. Tapi jangan harap aku bakal baik sama dia," desis Arjuna sebelum melangkah pergi menuju kamarnya.
Di dalam kamar, Arjuna melihat ke arah ranjangnya. Seprai sudah diganti dengan yang baru, tapi bayangan kejadian semalam seolah menempel di dinding kamar itu. Dia mencoba mengingat-ingat. Dia ingat minum banyak di bar, lalu pulang diantar sopir. Dia ingat masuk kamar, dan ada Kinanti di sana. Tapi setelah itu? Semuanya kabur.
"Apa benar dia yang jebak aku?" gumam Arjuna.
Dia memeriksa ponselnya, mencoba menghubungi Valerie untuk kesekian kalinya, tapi nomornya sudah tidak aktif. Frustrasi, Arjuna menendang kursi kerjanya sampai terjungkal. Dia merasa terjebak dalam lubang hitam yang diciptakan oleh gadis yang selama ini dia anggap tidak berbahaya.
Kembali ke Kinanti.
Dia akhirnya memutuskan untuk pergi ke daerah pinggiran yang jauh dari jangkauan siapa pun yang mengenalnya. Dia menyewa sebuah kamar kos kecil yang pengap di dekat pasar. Dindingnya hanya triplek, dan kamar mandinya ada di luar, berbagi dengan penghuni lain. Jauh sekali dari kemewahan rumah Adiwangsa yang punya pemanas air dan kasur empuk.
Malam pertamanya di sana terasa seperti neraka. Suara nyamuk dan bisingnya orang-orang pasar yang mulai beraktivitas sejak tengah malam membuatnya tidak bisa tidur. Dia meringkuk di atas kasur tipis, memeluk tasnya.
"Ibu... Kinanti takut," isaknya pelan.
Dia merasa sangat kotor. Setiap kali dia memejamkan mata, dia merasakan sentuhan-sentuhan yang tidak dia inginkan dalam mimpinya. Dia merasa dikhianati oleh takdir. Dia hanya ingin sekolah, kerja bagus, dan memperbaiki nasib. Tapi kenapa jalannya harus sekejam ini?
Besok paginya, Kinanti mencoba mencari pekerjaan. Dia berjalan menyusuri ruko-ruko, menanyakan apakah ada yang butuh tenaga cuci piring atau pembantu toko. Banyak yang menolak karena penampilannya yang terlihat terlalu "lemah" dan pucat.
Sampai akhirnya, seorang pemilik warung makan kecil kasihan melihatnya. "Kamu bisa nyuci piring? Tapi di sini kerjanya berat, dari pagi sampai malam. Gajinya nggak seberapa," kata ibu pemilik warung.
"Bisa, Bu. Apa saja saya lakukan, yang penting bisa buat makan," jawab Kinanti cepat.
Hari-hari berikutnya adalah siksaan fisik bagi Kinanti. Dia harus jongkok berjam-jam di depan tumpukan piring kotor, dengan uap panas dari tungku nasi yang membuatnya makin pusing. Tapi rasa sakit di perutnya mulai terasa berbeda. Mualnya bukan lagi mual karena telat makan, tapi mual yang sangat hebat sampai dia sering harus lari ke kamar mandi belakang untuk muntah.
"Kamu sakit, Nduk?" tanya Bu Siti, pemilik warung, suatu siang.
Kinanti menggeleng, menyeka keringat di dahinya. "Cuma masuk angin, Bu."
"Masuk angin kok tiap pagi? Wajahmu pucat banget. Jangan-jangan kamu..." Bu Siti menggantung kalimatnya, menatap perut Kinanti dengan curiga.
Kinanti membeku. Dia langsung menunduk, pura-pura sibuk menggosok panci yang berkerak. "Nggak, Bu. Saya cuma kecapekan."
Ketakutan Kinanti semakin menjadi. Dia harus memastikan semuanya. Dengan uang sisa tabungannya, dia memberanikan diri pergi ke apotek kecil yang agak jauh dari warung agar tidak ada yang melihat. Dia membeli alat tes kehamilan paling murah.
Di kamar kosnya yang remang-remang, Kinanti menunggu dengan jantung yang berdegup kencang. Tangannya gemetar saat memegang plastik kecil itu. Dia memejamkan mata, berdoa dalam hati agar hasilnya cuma satu garis. Dia belum siap. Dia nggak akan pernah siap.
Perlahan, dia membuka matanya.
Dua garis merah. Jelas sekali.
Kinanti merasa dunianya seolah runtuh menimpanya. Dia jatuh terduduk di lantai semen yang dingin. Alat tes itu terlepas dari tangannya.
"Nggak... ini nggak boleh terjadi," tangisnya pecah.
Dia membayangkan wajah Arjuna lagi. Pria itu pasti akan menuduhnya macam-macam lagi kalau tahu. Pria itu pasti akan menganggapnya semakin licik. Tapi yang paling menyakitkan adalah kenyataan bahwa anak ini tidak diinginkan oleh ayahnya sendiri. Anak ini lahir dari sebuah kebencian dan skandal yang memuakkan.
Kinanti menangis sampai matanya bengkak. Dia merasa tidak punya pilihan. Haruskah dia menggugurkan kandungan ini seperti yang dikatakan Arjuna? Tapi dia tidak tega. Ini nyawa. Nyawa yang tidak berdosa yang terjepit di antara egonya dan kemarahan Arjuna.
Di sisi lain kota, Arjuna tidak berhenti mencari. Dia sudah mengerahkan orang-orangnya, bahkan mendatangi kampus Kinanti, tapi tidak ada hasil. Teman-teman Kinanti juga tidak tahu di mana gadis itu berada.
Suatu sore, Arjuna duduk di dalam mobilnya, memandangi foto Kinanti yang ada di file data mahasiswanya. Di foto itu, Kinanti terlihat tersenyum malu-malu, sangat lugu dengan rambut yang dikuncir kuda.
"Kenapa kamu harus lari, hah? Kalau kamu lari, semua orang makin anggap kamu salah," gumam Arjuna.
Ada perasaan aneh yang mulai mengusik hati Arjuna. Rasa marah itu masih ada, sangat besar bahkan. Tapi ada juga sedikit rasa bersalah yang dia tekan dalam-dalam. Dia ingat semalam sebelum kejadian itu, dia sempat melihat Kinanti sedang belajar di ruang perpustakaan rumahnya. Gadis itu terlihat sangat tekun.
"Nggak, dia pasti akting," Arjuna mencoba meyakinkan dirinya sendiri. "Semua orang miskin punya cara buat naik kasta, dan dia salah satunya."
Dia membanting ponselnya ke jok samping. Dia bersumpah, kalau dia menemukan Kinanti, dia tidak akan memberi ampun. Dia akan membuat gadis itu mengakui semua perbuatannya di depan Valerie, supaya Valerie mau kembali padanya.
Tapi Arjuna tidak tahu, bahwa di sebuah kamar kos sempit di pinggiran kota, Kinanti sedang meringkuk memegangi perutnya, berjanji pada janin yang belum berbentuk itu bahwa dia akan melindunginya, meski harus menghadapi seluruh kebencian dunia, terutama kebencian dari pria yang seharusnya melindunginya.
Kinanti tahu, pelariannya mungkin akan segera berakhir. Tapi dia tidak tahu bahwa saat dia ditemukan nanti, hidupnya tidak akan pernah sama lagi. Dia akan masuk ke dalam sangkar emas yang lebih menyiksa daripada kemiskinan mana pun.
Anda Mungkin Juga Suka





