
Kariermu Ada di Tanganku
Bab 3
Tiga hari sejak malam itu, dan aku belum mengeluarkan satu kata pun tentang perceraian. Rafa berpikir diamku adalah bentuk penyerahan. Dia terlalu bodoh untuk menyadari bahwa keheningan adalah bagian dari perhitungan.
Hari ini aku duduk di ruang kerja ayahku. Bangunan tinggi milik Devanka Corporation menjulang megah di jantung kota Jakarta, dan aku, sebagai Direktur Operasional, memegang kendali atas lebih dari yang Rafa bayangkan. Ayah mempercayakan hampir semua operasional perusahaan padaku setelah kesehatannya mulai menurun dua tahun lalu.
"Ayah masih belum tahu?" tanya Aurel, asisten pribadiku yang juga sahabatku sejak SMA.
Aku mengangguk. "Belum. Kalau Ayah tahu sekarang, dia bisa langsung menyuruh orang-orangnya menyapu bersih keluarga Firmansyah dari muka bumi."
Aurel menatapku khawatir. "Nay, kau yakin masih bisa mengendalikan semuanya sendiri?"
Aku menatap keluar jendela, menatap lalu lintas kota yang kacau. "Aku tidak akan menyerahkan kendali sebelum waktunya. Rafa masih berpikir aku akan diam dan menerima segalanya. Itu keunggulanku."
"Lalu rencanamu?" bisiknya.
Aku berbalik menghadapnya dan tersenyum samar. "Kita mulai dari akar. Dari tempat dia naik."
Rafa naik karena aku. Karena perusahaan ini. Aku yang memintanya ditempatkan di divisi pengembangan, dan aku yang memberinya kesempatan menangani klien-klien besar. Semua pengaruh yang dimilikinya hari ini adalah pantulan dari posisiku.
Dan aku akan memutus pantulan itu.
Pagi itu, aku menandatangani surat pemindahan Rafa ke kantor cabang di Surabaya, jauh dari jantung kekuasaan. Posisi itu hanya nama, tanpa pengaruh. Sebuah pengasingan diam-diam.
Aku tidak mengirim surat itu ke email pribadinya, tentu saja. Aku ingin melihat reaksinya langsung saat HR menyampaikan surat penempatan baru itu ke mejanya.
Dan aku tidak perlu menunggu lama.
Sore hari, saat aku sedang meninjau laporan bulanan, pintu ruanganku terbuka keras. Rafa berdiri di sana, wajahnya merah padam. Aku menatapnya tanpa ekspresi.
"Apa maksud semua ini, Nay?" katanya marah.
Aku meletakkan pena dengan tenang. "Kau diangkat menjadi Direktur Cabang di Surabaya. Selamat. Kinerjamu selama ini layak mendapat posisi itu."
"Kau pikir aku bodoh? Ini pengasingan!"
Aku mencondongkan tubuh, suaraku rendah namun tajam. "Kau pikir aku tidak tahu kau menggunakan akses proyek perusahaan untuk menyuap ayah Mira agar menikahkan kalian?"
Rafa terdiam. Matanya melebar. Dia tidak menduga aku tahu sampai sedalam itu.
"Kau pikir aku tidak bisa membuktikannya? Kau lupa siapa yang punya semua catatan transaksi internal? Siapa yang duduk di dewan komisaris?"
Dia menggertakkan gigi. "Kau tak bisa menghancurkan karierku hanya karena urusan pribadi."
Aku berdiri. "Kau salah besar. Ini bukan hanya urusan pribadi. Ini pengkhianatan. Dan kau harus membayar."
Rafa menatapku dengan penuh kebencian, tapi juga ketakutan. Untuk pertama kalinya, dia melihatku bukan sebagai istrinya-tapi sebagai pewaris Devanka yang bisa membuat atau menghancurkan siapa pun.
"Dan satu lagi," tambahku pelan, "aku sudah bicara dengan pengacara. Gugatan perceraian akan diajukan dalam waktu dekat."
Malam itu, aku pulang ke rumah lebih awal. Aku memandangi Isolde yang sedang bermain dengan boneka kelincinya. Aku mencintai anak ini lebih dari apa pun, dan aku tidak akan membiarkannya tumbuh dalam kebohongan.
Aku mendekatinya dan mengangkat tubuh mungilnya ke pangkuanku.
"Sayang..." bisikku pelan, "Mama akan melindungimu. Apa pun yang terjadi."
Isolde mengangguk pelan meski belum sepenuhnya mengerti. Tapi pelukannya cukup untuk menguatkanku.
Setelah menidurkannya, aku membuka laptopku. Aku mulai membuka catatan lama-semua yang pernah kulakukan untuk keluarga Rafa. Rumah mereka yang kubangun di kampung. Biaya rumah sakit ibunya. Adik-adiknya yang kutitipkan pekerjaan di perusahaan. Semua akan kucabut. Satu per satu. Mereka akan tahu bahwa menyakitiku berarti menyentuh seluruh pondasi hidup mereka.
Ponselku bergetar. Sebuah pesan dari nomor tak dikenal masuk:
"Aku ingin bicara. Aku Mira."
Aku memandang layar dengan mata menyipit. Kuketik balasan singkat.
"Besok. Hotel Santika, jam dua siang. Datang sendiri."
Aku ingin melihat wajah wanita yang merebut suamiku. Aku ingin tahu, apakah dia cukup kuat untuk berdiri di hadapanku setelah menghancurkan keluargaku. Atau apakah dia hanya pengecut yang berselimut kebohongan.
Dan jika dia pikir pernikahannya dengan Rafa akan berlangsung damai, maka dia sedang menari di atas bara yang belum menyala penuh.
Aku Nayara Devanka. Dan ini belum permulaan. Ini baru pembuka.
Anda Mungkin Juga Suka





