
Kambing Hitam Cinta, Pengkhianatan Tersembunyi
Bab 2
Alissa POV:
Dara berdiri di ambang pintu, dengan putrinya, Dinda, di sampingnya.
Mereka terlihat terkejut melihatku dengan koper.
"Ada apa ini?" tanya Dara, suaranya lembut, tapi matanya menatapku dengan tatapan tajam.
Aku menatap tangan Dara yang memegang kenop pintu.
Kenop pintu itu adalah pemindai sidik jari.
Dia bisa masuk kapan pun dia mau.
Aku ingat pernah mengatakan kepada Tristan bahwa aku tidak ingin Dara memiliki akses ke rumah kami.
Tristan hanya mengabaikanku.
Aku menatap Dara dengan tatapan penuh kebencian.
Wanita ini telah menghancurkan hidupku.
Dia telah mencuri segalanya dariku.
Dan sekarang, dia berdiri di sini, berakting sebagai korban.
Dara melihat tatapanku, dan ekspresi wajahnya berubah.
Dia mengerjap-ngerjap, seolah menahan air mata.
Dinda bersembunyi di belakang ibunya, menatapku dengan mata lebar.
"Tante Alissa, kenapa Tante marah-marah?" tanya Dinda, suaranya bergetar.
"Tante menyakiti Mama lagi?"
Aku hanya menatap Dinda dengan dingin.
Aku mengingat kejadian di rumah orang tuaku beberapa bulan yang lalu.
Aku sengaja datang untuk makan malam keluarga.
Aku berharap bisa memperbaiki hubunganku dengan Tristan, dengan Rehan, dan juga dengan orang tuaku.
Aku sudah mencoba segalanya.
Aku mencoba bersabar, mencoba mengalah.
Aku mencoba untuk menjadi ibu dan istri yang baik, meskipun itu berarti mengorbankan diriku.
Aku pikir, mungkin, dengan makan malam keluarga ini, semuanya bisa berubah.
Mungkin, mereka akan melihat usahaku.
Mungkin, mereka akan memberiku kesempatan kedua.
Aku salah.
Saat makan malam berlangsung, Dinda tiba-tiba mendorongku dari tangga.
Aku jatuh terguling.
Kakiku patah, tapi tidak ada yang peduli.
Semua orang panik, menghampiri Dinda.
"Dinda, kamu tidak apa-apa?" kata Tristan, memeluk Dinda.
"Dinda, sayang, kamu tidak terluka?" kata ibuku, membelai rambut Dinda.
Semua orang menatapku dengan tatapan menuduh.
"Alissa, kenapa kamu mendorong Dinda?" tanya ayahku, suaranya keras.
Aku mencoba menjelaskan, tapi tidak ada yang mendengarkanku.
"Aku tidak mendorongnya!" teriakku, air mata mengalir di pipiku.
"Dia yang mendorongku!"
Dara tidak mengatakan apa-apa.
Dia hanya menatapku dengan tatapan sedih, seolah-olah aku telah melakukan sesuatu yang sangat buruk.
Dinda mulai menangis.
"Tante Alissa jahat!" teriak Dinda.
"Dinda tidak mau makan malam di sini! Dinda tidak mau melihat Tante Alissa!"
"Dinda hanya tidak sengaja mendorongnya, Mama tidak menyuruh Dinda melakukan itu!"
"Dinda tidak mau disini! Dinda tidak suka Tante Alissa!"
Ibuku menamparku.
Pipiku terasa panas, tapi aku tidak merasakan sakit fisik.
Hanya sakit hati yang tak tertahankan.
"Alissa, kamu semakin kejam!" bentak ibuku.
"Kamu sudah seperti monster!"
"Ibu, aku tidak!" kataku, air mata mengalir deras.
"Apa yang kamu harapkan, Alissa?" kata ayahku, suaranya dingin.
"Kamu tidak pernah bisa dipercaya."
Tristan menatapku dengan tatapan kecewa.
"Aku tidak percaya kamu melakukan ini, Alissa," katanya, suaranya rendah.
"Aku sangat kecewa padamu."
Rehan tiba-tiba menendang kakiku yang patah.
Aku menjerit kesakitan.
Tapi tidak ada yang peduli.
Semua orang hanya menatapku dengan tatapan jijik.
"Mama memang pantas mendapatkannya!" teriak Rehan.
"Mama jahat! Mama sudah menghancurkan hidup Tante Dara! Mama sudah menghancurkan hidupku!"
Aku tidak bisa lagi menahan air mata.
Aku tertatih-tatih keluar dari rumah itu.
Meninggalkan semua orang yang kucintai.
Meninggalkan rumah yang seharusnya menjadi tempatku bernaung.
Aku tidak pernah kembali ke sana.
Aku mencoba untuk melupakan malam itu.
Tapi setiap kali aku melihat Rehan, aku mengingatnya.
Aku mencoba untuk tidak membenci Dara.
Tapi setiap kali aku melihatnya, aku mengingatnya.
Malam itu, aku tahu.
Aku harus pergi.
Meskipun Tristan merobek surat perjanjian perceraianku.
Setengah tahun yang lalu, dia melakukan hal yang sama.
Aku sangat takut saat itu.
Aku takut kehilangan Rehan.
Aku takut menjadi yatim piatu.
Dia memelukku, menatapku dengan mata penuh kasih.
"Kamu tidak akan ke mana-mana, Alissa," katanya, suaranya lembut.
"Aku tidak akan pernah melepaskanmu."
"Hanya aku yang akan mencintaimu, Alissa."
Aku tidak tahu apakah aku harus percaya padanya.
Aku tidak tahu apakah aku harus tetap tinggal.
Dia melihat keraguanku.
"Kamu tidak bisa pergi, Alissa."
"Kamu tahu kan, kamu pantas menerima semua ini."
"Kamu harus menebus kesalahanmu."
"Ibu dan ayahmu bahkan sudah menganggap Dara sebagai putri mereka."
"Kamu tidak punya siapa-siapa lagi."
"Kamu harus patuh kepadaku."
Aku melihat matanya.
Dia tidak mencintaiku.
Dia hanya ingin mengendalikanaku.
Tapi aku terlalu takut.
Aku takut sendirian.
Aku takut menjadi tidak punya siapa-siapa.
Aku tidak ingin menjadi seperti rumput liar yang diinjak-injak siapa saja.
Jadi, aku mengangguk.
Aku tinggal.
Aku berhenti membela diri.
Aku membiarkan mereka mengatakan apa pun yang mereka inginkan.
Aku membiarkan Tristan dan Rehan lebih menyayangi Dara.
Aku membiarkan mereka menganggap Dara sebagai pahlawan.
Aku membiarkan mereka menghina dan meremehkanku.
Aku pikir, mungkin, jika aku bersabar, jika aku diam, semuanya akan kembali seperti semula.
Aku salah.
Semuanya hanya semakin buruk.
Kini, suara Dinda membuyarkan lamunanku.
"Tante Alissa, jangan menyakiti Mama!" teriak Dinda.
Rehan mendorongku, lalu berlari ke arah Dinda.
"Dinda, kamu tidak apa-apa?" kata Rehan, memeluk Dinda.
"Tante Alissa jahat! Jangan dengarkan dia!"
Rehan menatapku dengan mata penuh kebencian.
"Jangan pernah berani menyakiti Tante Dara dan Dinda!" ancamnya.
"Kamu tidak pantas untuk mereka!"
Dara menatapku dengan mata sendu.
"Dinda tidak apa-apa, sayang," katanya, mengelus rambut Dinda.
"Biarkan saja Tante Alissa. Mungkin dia sedang tidak enak badan."
"Tapi Mama... Dinda takut," kata Dinda, memeluk erat ibunya.
"Dinda tidak mau Tante Alissa mengusir kita."
"Kita tidak punya apa-apa lagi, Mama."
"Dinda tidak mau kita diusir dari sini."
Aku tertawa.
"Usir? Memangnya kenapa?" kataku.
"Bukankah rumah ini pada akhirnya akan menjadi milikku? Atau kamu yang akan tinggal di sini selamanya?"
Dara terkejut.
Dia tidak menyangka aku akan mengatakan itu.
Anda Mungkin Juga Suka





