Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel "KALA" Buah Cinta Terlarang

"KALA" Buah Cinta Terlarang

Kayli dituduh meracuni mertuanya sendiri hingga membuat rumah tangganya bersama Gala hancur berantakan. Di tengah upaya membersihkan namanya, Kayli justru menemukan sisi gelap yang tersembunyi dalam dirinya. Berbagai kejanggalan muncul, membuatnya curiga bahwa ia terlibat dalam tragedi itu tanpa sadar. Apakah Kayli memiliki kepribadian ganda atau ada entitas lain di tubuhnya? Misteri kian pelik saat Zael, sahabat lamanya, memanggilnya dengan nama Kala.
Bab
Bagikan

Bab 2

"Argkh!"

Lengkingan sebuah suara yang ketakutan memekakkan telinga siapa pun yang mendengarnya. Pun Kayli yang tengah tertidur pulas, seketika ia terjaga. Lantas terduduk dalam keadaan ingatan yang belum terkumpul. Dikerjapkannya kedua manik mata legamnya, lantas ia melirik jam di dinding. Pukul satu malam.

Kembali ia tajamkan Indra pendengarnya, memastikan apa yang baru saja membangunkannya. Mungkin hanya sekedar mimpi. Pikirnya. Namun ternyata suara itu kembali terdengar. Perempuan berparas ayu itu pun sontak beringsut ke sudut ranjang.

"Argkh! Setan! Pergi! Pergi!" teriak suara itu lagi.

"Ibu?" gumam Kayli ragu.

"Benar. Itu suara mertuaku," tambahnya dengan ekspresi wajah panik.

Sementara itu, dari tempat suara, terlihat wanita paruh baya tengah menyeret tubuhnya sendiri ke sudut ranjang sembari meraung-raung mencakar-cakar udara. Tatapannya kosong namun dipenuhi kengerian. Di sampingnya terduduk seorang gadis yang tengah gemetar. Sambil mencoba meraih lengan wanita yang tak lain ibunya itu, Zara meringis ketakutan.

"Bu? sadarlah bu! ini aku, Zara!" lirihnya dengan suara gemetar.

Namun Didah seolah tak mendengar putrinya memanggil-manggil. Ia terus menjerit-jerit histeris hingga terdengar keseluruh ruangan. Bahkan membuat Kayli yang masih terduduk di kamarnya ikut merinding mendengarnya. Padahal jarak kamar mereka cukup jauh, terhalang tiga ruangan.

Suara Didah yang begitu melengking, terdengar mengerikan seperti ketakutan sekaligus kesakitan. Kayli yang khawatir mendengarnya pun segera bangkit. Diraihnya gawai terlebih dahulu lalu mengirim pesan singkat pada sang suami yang sedang bekerja di luar kota. Jemari lentiknya dengan gesit menggeser layar ponsel hingga berhenti di sebuah kontak whatsapp bernama Bang Gala, dengan emoji Love di ujungnya.

[Mas, Ibu kumat lagi. Sebaiknya besok pulang dulu. Aku takut dan khawatir]

Tak menunggu balasan sang suami, gawai kembali ditaruhnya di atas nakas, gegas ia menuju kamar sang mertua. Setibanya di kamar Didah, ia melihat Zara, sang ipar, tengah gemetaran ketakutan di sudut ranjang. Zara yang menyadari kehadiran Kayli pun, segera meloncat dari ranjang lalu menghampirinya.

"Kay! Ini Ibu kesurupan lagi! Cepat panggil Bah Sana kay!" seru Zara.

Zara terlihat lega saat melihat Kayli berdiri di bingkai pintu. Ia pun meminta Kayli untuk memanggil Bah Sana, salah satu orang pintar terpercaya di daerahnya itu. Namun Kayli malah tak bergeming sama sekali. Ditatapinya wajah mertuanya itu sebelum akhirnya mendekat dengan hati-hati.

Kulit wajah Didah yang mengkilap, kian memerah dibanjiri peluh yang terus mengalir dari pelipis dan dahinya. Dengan mata melotot ia menengadah menatap langit-langit kamar sambil meracau-racau. Sesekali tubuhnya mengejang seperti tengah terkejut oleh sesuatu. Sambil terus meracau, ia mengibas-ngibaskan tangannya seperti tengah mengusir kucing.

Hap!

Kayli menjatuhkan bokongnya di atas ranjang, tepat di hadapan Didah yang masih terus mencakar-cakar udara dengan netra mengerling seolah diluar kendalinya. Dengan kening mengkerut, Kayli seolah memastikan apa sebenarnya yang terjadi dengan sang ibu mertua. Sedangkan Zara, dengan ekspresi jengkel menunggu apa yang hendak Kayli lakukan.

"Apa Ibu mengenalku?" tanya Kayli.

Memiringkan wajahnya, Kayli mencoba mengambil perhatian Didah sambil hendak meraih pergelangan tangannya yang terlipat di dada. Jelas wanita paruh baya itu bahkan mungkin tak mendengar suara sang menantu.

"Tidak! Pergi! Pergi!" jeritnya saat hendak dihampiri Kayli.

"Kay! Panggil Bah Sana dong! Ngapain sih? Gak liat Ibu lagi kesurupan? Gak liat situasi banget! Malah nanya yang aneh-aneh!" bentak Zara sambil menatap Kayli dengan jengkel.

Terdengar nada kesal saat ia memprotes Kayli. Mendengar protes dari Zara, Kayli pun bangkit lalu beralih mendekat ke arahnya. Dengan wajah datar, dan tatapan menusuk, Kayli menekuk wajahnya tanda tak suka.

"Kenapa nggak kamu panggil aja sendiri?" ketus Kayli tak kalah jengkel.

Mendengar hal itu, Zara terbelalak keget melihat sikap sang Ipar yang tiba-tiba berbeda dari biasanya. Wajahnya memias seketika. Mulutnya yang terbuka, ia tutup dengan kedua tangannya. Dengan terheran-heran, ia menyadari bahwa kali ini, suasana hati Kayli sedang tak bagus.

'Dia yang sejak tadi ada di dekat ibunya, kenapa menyuruhku yang baru saja datang untuk memanggil dukun malam-malam begini? Tengah malam malahan, jangankan dia, aku sendiri pun takut,' batin Kayli. Bibirnya mengatup rapat, sesaat ia terlihat seperti ingin memaki Zara. Namun pada akhirnya, urung ia lakukan.

"Lagian yang Ibu butuh itu bukan Bah Sana. Tapi pergi ke Rumah sakit!" ujar Kayli dengan sedikit penekanan.

"Rumah sakit apanya? Ibu itu kesurupan Kay! Kena santet! Dibawa ke rumah sakit yang ada malah dimasukin Rumah sakit jiwa!" dengusnya sembari bangkit lalu meraih jaket.

Zara pun hendak pergi. "Dari pada ngandelin, mending gua pergi aja sendiri," ketusnya lantas melenggang.

Namun belum selangkah Zara beranjak, Didah menggeliat lalu terjatuh ke lantai sembari memegangi perutnya. Hingga tak lama kemudian ia memuntahkan cairan merah kental di lantai putih, terlihat jelas kekontrasannya. Seketika Kayli ikut memegangi perut lalu mulut, menahan gejolak yang mengaduk perutnya lantaran mual melihatnya.

"Ibu!" teriak Zara yang lalu berhambur merangkul sang Ibu yang masih mengejang hendak memuntahkan lagi isi perutnya.

Kayli yang berada di dekat pintu, ikut mendekat lalu hendak membantu Zara meraih Didah yang meringkuk di atas lantai. Namun secepat kilat Zara menepis tangan Kayli.

Plak!

"Liat kan? Apa lagi kalau bukan santet?" pekik Zara sambil menatap Kayli dengki, lalu berbalik menatapi wajah sang Ibu dengan penuh kekhawatiran disertai rasa takut, jijik dan ngeri.

"Percayalah Kak. Yang Ibu butuh itu rumah sakit. Ayo papah Ibu, biar Kayli yang bawa motor," lirih Kayli memelas.

Seolah mengetahui penyebab yang diderita sang mertua, Kayli kukuh meyakinkan Zara untuk segera membawa Didah ke rumah sakit. Tersirat jelas kekhawatiran dan kecemasan di wajah Kayli. Tanpa ia sadari, bulir basah yang hangat pun terjatuh di sudut matanya. Ia merasa tak sanggup lagi melihat wanita yang melahirkan suaminya itu tak berdaya merintih kesakitan.

"Tolong pergi aja kalo lu gak mau bantu! Biar gua minta tolong orang lain aja!" dengus Zara sembari meraih ponselnya lalu terlihat menelepon seseorang.

"Kak Zara, sudah kubilang dengan sangat jelas, bahwa Ibu membutuhkan pertolongan dokter! Turunkan ego dan gengsimu terhadapku dan ayo bawa Ibu ke rumah sakit!" ucap Kayli tak kalah tegas.

Memberanikan diri, Kayli pun meraih ponsel di genggaman Zara lalu melemparnya ke atas ranjang. Ia juga hendak meraih tubuh Didah dari rengkuhan Zara. Namun dengan cepat Zara mendorong tubuh ringkih Kayli hingga terjungkal. Matanya menyala penuh amarah, kebenciannya tersirat jelas tanpa ia tutup-tutupi lagi.

"Pergi dari rumah ini sekarang juga cewek gila! Jangan lupa lu cuma numpang! Saat Ibu sadar nanti, bakal gua buat lu bayar semuanya!" bentaknya sambil mengacungkan telunjuk ke arah Kayli dan ke arah pintu secara bergantian.

"Kita udah cukup muak ngadepin kebegoan lu! Dasar aneh! Gua bakal aduin sikap lu ini ke Gala!" bentak Zara lagi.

Namun sama halnya dengan Zara yang kukuh, Kayli pun tak kalah ngotot untuk tetap membawa sang mertua ke tempat yang berbeda dari keinginan Zara.

"Kumohon percayalah. Tak ada santet atau semacamnya yang menimpa Ibu. Ini akibat ulah Ibu sendiri, aku yakin itu," kata Kayli dengan suara melemah.

"Jangan bilang lu yang menyantet Ibu ya? Makanya kemaren minta hal yang aneh-aneh?" tuduh Zara.

Mendengar hal itu, Kayli menghela nafas panjang. Ia terlihat frustrasi hingga tak sempat untuk membuka mulut dan membiarkan Zara terus mengoceh memojokkan dirinya. Adu mulut pun tak terelakkan, hingga membuat mereka lupa akan kondisi Didah yang masih terkulai lemas dengan nafas tersengal-sengal.

"Benar kan? Lu kan emang benci Ibu!" tuduhnya lagi dengan jari telunjuk yang kini mengacung pada Kayli.

"Jangan bicara yang tidak-tidak Kak Zara. Yang membenci itu bukan aku, tapi kalian. Aku hanya ingin kalian tahu, aku merasa kalo Ibu sudah keracunan sesuatu. Makanya aku menyarankan sebaiknya ibu dibawa ke rumah sakit saja."

"Lu kemaren nyuruh Ibu buat minta maaf sama lu kan? Itu udah pasti karna lu punya niat mencelakai ibu!" teriak Zara.

Sambil berteriak, Zara mulai membrutal. Dengan emosi yang tetiba kian meluap, ia mencoba menjambak rambut Kayli, tanpa melepaskan rengkuhannya dari Didah. Namun dengan gesit Kayli mengelak.

"Zara. Kumohon jangan membuang waktu, ayo kita bawa Ibu sekarang juga," desak Kayli masih dengan kekukuhannya.

Sebagai seorang wanita, Kayli memiliki firasat yang lebih peka dibanding orang lain. ia merasa sangat yakin bahwa Didah, sang mertua mungkin saja tak akan tertolong jika tak segera diberi penanganan. Saat pikirannya berkutat mencari cara agar ia bisa membawa mertuanya segera untuk berobat, tiba-tiba gedoran pintu memburaikan pikirannya. Zara yang juga mendengar, segera bangkit lalu dengan tergesa berlari ke arah pintu.

"Paman! Syukurlah Paman akhirnya datang," ucap Zara penuh rasa syukur.

Zara berhambur ke arah seorang pria yang kini berada di bingkai pintu. Namun sang paman hanya terdiam dengan angkuhnya. Wajahnya yang kaku dan rahangnya yang tegas tak sedikit pun terlihat simpati atas sambutan ramah dari Zara.

"Ada apa kau menghubungiku malam-malam begini?" tanya Alan ketus.

Pria paruh baya itu tak lain adalah Paman Zara. Sekaligus adik dari Didah. Namun ia terlihat malas dan risih saat Zara menarik lengannya untuk mengajaknya melihat kondisi sang Ibu. Bahkan seolah enggan memijakkan kakinya di sana. Namun Zara tak peduli akan hal itu.

"Liat Paman! Kondisi Ibu sangat mengkhawatirkan!" tunjuk Zara pada sang Ibu.

Dengan penuh harapan, Zara mengira akan mendapatkan pertolongan dari Alan. Namun ternyata apa yang terjadi tidak sesuai harapannya. Alan menatap Didah dengan pandangan yang jijik dan merendahkan. Bahkan sudut bibirnya melengkung ke atas seolah ia merasa itu pantas didapatkan oleh sang kakak.

"Aku datang ke sini, bukan untuk menolongnya."

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel DON'T PLAY GAMES WITH ME. Part.2
8.2
Kehamilan pertama Adiba yang menginjak usia lima bulan justru dihantui teror mencekam di rumah baru mereka. Meski tetangga memperingatkan tentang kutukan kematian saat pembangunan kolam renang, Syden tetap mengabaikannya. Di tengah tekanan mistis yang makin gencar, mental Adiba kian terguncang oleh rumor perselingkuhan suaminya. Syden dikabarkan memiliki simpanan yang juga tengah mengandung lima bulan, memicu konflik batin hebat bagi sang istri sah.
Sampul Novel IPRIT
7.9
Di Kampung Keris, saat dunia persilatan dan hal mistis masih mendominasi, Wisaka bertekad membongkar misteri kematian tragis para pengantin baru. Para pria tewas usai malam pertama, sementara mempelai wanita diperkosa hingga membisu. Demi mengungkap kebenaran, Wisaka mempelajari ilmu kanuragan. Namun, perjalanannya penuh rintangan dari bandit, makhluk halus, hingga siluman yang menyamar jadi manusia. Mampukah ia menang, atau justru gugur di tangan iblis?
Sampul Novel JARAN GOYANG PENARI JAIPONG
8.3
Terbakar api cemburu melihat Abimanyu memadu kasih dengan sahabatnya sendiri, Kamila nekat menempuh jalan hitam. Ia mengamalkan Ajian Jaran Goyang pemberian Nyai Winarsih, sosok tua yang secara misterius tetap berparas jelita. Kamila tidak menyadari bahwa tindakannya menyeretnya ke dalam pusaran sumpah masa lalu sang nyai. Obsesi buta ini membangkitkan petaka kuno yang telah terkubur puluhan tahun, mengancam nyawa demi sebuah cinta yang dipaksakan.
Sampul Novel Mengejar Dosen Duren
9.4
Jelita terbangun dalam kondisi mengenaskan setelah tubuhnya dipinjamkan kepada Elizabeth, hantu istri dosennya sendiri, Daniel Danuarja. Tanpa diduga, Elizabeth justru memanfaatkan raga Jelita untuk berhubungan intim dengan sang suami hingga Jelita kehilangan kesuciannya. Saat kesadarannya kembali, Jelita mendapati arwah Elizabeth mulai memudar dan hampir lenyap. Di tengah kemarahan akibat dikhianati, Jelita kini terjebak dalam skandal rumit bersama Daniel.
Sampul Novel PEMBALUT SUAMIKU
9.3
Setelah menghilang tanpa jejak selama sepuluh tahun dan sempat dinyatakan wafat, suami Laksmi tiba-tiba kembali ke rumah. Namun, kepulangannya justru membawa suasana mencekam bagi sang istri. Laksmi menemukan sebuah kebiasaan mengerikan yang dilakukan suaminya, yakni mengumpulkan serta menyimpan pembalut bekas pakai secara sembunyi. Perilaku ganjil tersebut memicu kecurigaan besar di benak Laksmi tentang apa yang sebenarnya terjadi selama ini.
Sampul Novel SILUMAN HARIMAU
8.1
Zola tak pernah menyangka bahwa dalam nadinya mengalir darah siluman harimau yang mengerikan. Rahasia gelap ini berakar dari perjanjian mistis kakeknya di pedalaman Kalimantan Barat masa lalu. Kutukan itu bangkit setelah Zola melanggar pantangan bersenggama dengan orang luar, sebab keturunannya hanya boleh berpasangan dengan sesama sedarah. Kini, Zola dan kekasihnya, Arman, harus berjuang memutus ikatan gaib tersebut demi meraih hidup normal kembali.