
Kakakku, Pengkhianatku
Bab 2
Pesawat mendarat mulus di Bandara Heathrow, membelah awan London yang kelabu. Raya turun dari pesawat dengan langkah mantap, jantungnya berdegup kencang, bukan lagi karena rasa sakit, melainkan karena campuran gugup dan antisipasi. Udara dingin langsung memeluknya, menusuk kulit, namun entah mengapa terasa menyegarkan. Ini adalah awal yang ia impikan. Ini adalah London, kota yang akan menjadi rumah barunya, kota yang diharapkan dapat menyembuhkan luka-luka lama dan menumbuhkan harapan baru.
Ia melewati imigrasi dengan lancar, mengambil kopernya yang tidak terlalu besar, dan melangkah keluar menuju keramaian. Suara-suara asing, hiruk pikuk orang-orang dari berbagai belahan dunia, aroma kopi dan roti yang baru dipanggang dari kafe bandara-semuanya terasa seperti mimpi. Sebuah mimpi yang akhirnya menjadi kenyataan. Raya menarik napas dalam, membiarkan paru-parunya terisi udara London. Tidak ada lagi beban, tidak ada lagi bayang-bayang masa lalu yang menghantuinya. Setidaknya, itulah yang ia coba yakini.
Ia sudah memesan akomodasi sementara di sebuah asrama mahasiswa yang cukup sederhana di Camden Town, area yang terkenal dengan pasar dan nuansa seni alternatifnya. Dengan bantuan peta digital di ponselnya dan petunjuk arah yang sudah ia pelajari, Raya naik kereta bawah tanah, atau yang lebih dikenal dengan tube. Sensasi berdesakan dengan orang banyak, mendengarkan aksen-aksen Inggris yang berbeda, dan melihat grafiti warna-warni di stasiun bawah tanah, semuanya terasa seperti petualangan. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, Raya merasakan semangat hidup kembali mengalir dalam dirinya.
Setibanya di asrama, ia disambut oleh seorang staf yang ramah. Kamarnya kecil, hanya cukup untuk satu tempat tidur, meja belajar, dan sebuah lemari pakaian. Jendela kamarnya menghadap ke jalanan yang ramai, di mana bus tingkat merah melintas, dan orang-orang berlalu lalang dengan langkah cepat. Raya meletakkan kopernya, membuka jendela kecil itu, dan membiarkan udara dingin masuk. Ia tersenyum tipis. Ini adalah ruangannya, tempatnya sendiri, di mana ia bisa menjadi dirinya sendiri tanpa perlu berpura-pura atau merasa terbebani oleh ekspektasi siapa pun.
Malam pertama di London terasa panjang. Raya merasa lelah, tetapi otaknya terlalu sibuk untuk tidur. Ia menghabiskan waktu dengan menata barang-barangnya, membuat daftar hal yang perlu ia lakukan besok, dan menjelajahi internet untuk mencari informasi tentang kotanya. Ia menemukan beberapa grup mahasiswa Indonesia di London, dan memutuskan untuk bergabung dengan salah satunya, berharap bisa menemukan teman sebangsa di negeri asing ini. Rasa kesendirian yang dulu begitu membebani kini berubah menjadi semacam kemerdekaan. Ia bebas membentuk identitasnya sendiri, jauh dari label "Raya yang diabaikan" atau "Raya yang cemburu".
Keesokan harinya, ia terbangun oleh dering alarm. Ia melihat jam, masih pukul lima pagi waktu London, namun sinar matahari sudah mulai menembus tirai kamarnya. Musim panas di London berarti hari yang lebih panjang. Raya segera mandi dan bersiap-siap. Ia mengenakan jaket tebal dan syal, bersiap menghadapi suhu dingin.
Tujuan pertamanya adalah kampusnya, Universitas London College of Arts, tempat ia akan memulai studinya di bidang Desain Grafis. Kampus itu tidak terlalu jauh dari asramanya, sekitar dua puluh menit berjalan kaki. Sepanjang perjalanan, ia mengamati sekelilingnya: arsitektur klasik yang megah bercampur dengan bangunan modern, taman-taman kota yang hijau, dan gerai-gerai kecil yang menjual bunga atau kopi. Semua terasa begitu baru dan inspiratif.
Di kampus, ia menyelesaikan proses registrasi, mengambil kartu mahasiswanya, dan menghadiri sesi orientasi untuk mahasiswa baru. Raya merasa sedikit canggung pada awalnya, dikelilingi oleh begitu banyak wajah asing dari berbagai negara. Namun, ia memaksakan dirinya untuk tersenyum, untuk bertanya, untuk membuka diri. Ia tahu ini adalah kesempatan untuk membangun lingkaran sosial yang baru, yang tidak terkontaminasi oleh masa lalunya.
Ia bertemu dengan beberapa mahasiswa lain yang juga mengambil jurusan Desain Grafis. Ada Liam, seorang pemuda Inggris dengan rambut pirang acak-acakan dan tawa renyah, yang tampak ramah dan selalu siap membantu. Ada juga Aisha, seorang gadis dari Maroko dengan mata yang berbinar dan senyum hangat, yang juga terlihat sedikit gugup seperti Raya. Ketiganya menemukan kesamaan dalam minat mereka pada seni dan desain, dan mereka dengan cepat membentuk ikatan persahabatan awal. Mereka bertukar nomor telepon dan berjanji untuk bertemu lagi sebelum kelas dimulai minggu depan.
Kembali ke asrama, Raya merasa lelah, namun hatinya dipenuhi perasaan puas. Ia telah mengambil langkah pertama. Ia telah berhasil melewati hari pertamanya di London, dan itu terasa menjanjikan. Ia menghabiskan sisa sore itu untuk menjelajahi lingkungan sekitar asramanya. Ia menemukan sebuah supermarket kecil untuk membeli bahan makanan dasar, sebuah kedai kopi yang nyaman, dan sebuah toko buku bekas yang menarik perhatiannya. Ia bahkan mencoba beberapa makanan jalanan yang dijual di Camden Market, menikmati keramaian dan suasana yang unik.
Minggu-minggu pertama berlalu dengan cepat. Raya tenggelam dalam jadwal kuliahnya yang padat. Mata kuliah Desain Grafis ternyata jauh lebih menantang dan menarik dari yang ia bayangkan. Ia belajar tentang tipografi, layout, ilustrasi digital, dan berbagai perangkat lunak desain. Otaknya yang dulu selalu dipenuhi dengan bayang-bayang pengkhianatan, kini sibuk dengan ide-ide kreatif, proyek-proyek desain, dan deadline yang ketat. Fokus pada studinya menjadi bentuk terapi terbaik baginya. Ia tidak punya waktu untuk merenungkan masa lalu, atau memikirkan apa yang sedang dilakukan keluarganya di Jakarta.
Liam dan Aisha menjadi teman dekatnya. Mereka sering belajar bersama di perpustakaan kampus, berbagi ide untuk proyek, atau sekadar minum kopi di kafe terdekat. Liam sering bercerita tentang kehidupannya di Inggris, dan Aisha berbagi kisah-kisah menarik dari kampung halamannya. Raya pun, dengan hati-hati, mulai berbagi sedikit demi sedikit tentang dirinya, meskipun ia masih menjaga jarak dari detail-detail yang terlalu pribadi tentang keluarganya. Mereka tidak tahu tentang Luna, tentang pengkhianatan kakaknya, atau tentang rasa sakit yang pernah ia rasakan. Dan Raya ingin itu tetap begitu. Ia ingin memulai dengan lembaran bersih.
Suatu malam, saat mereka sedang mengerjakan proyek kelompok di perpustakaan, Liam bertanya, "Raya, kenapa kamu memilih datang ke London? Maksudku, Jakarta kan kota yang besar juga, banyak kampus bagus di sana."
Raya terdiam sejenak. Jantungnya berdesir. Ia memaksakan senyum. "Aku... aku hanya ingin pengalaman baru, Liam. Ingin melihat dunia di luar Indonesia. Lagipula, London punya reputasi bagus untuk desain grafis."
Aisha mengangguk setuju. "Iya, dan suasananya juga berbeda. Aku suka bagaimana orang-orang di sini terlihat begitu fokus dengan apa yang mereka kerjakan. Tidak ada terlalu banyak drama."
"Betul," timpal Raya, merasa sedikit lega karena percakapan beralih. "Tidak ada terlalu banyak drama." Kalimat itu terucap begitu saja, tetapi mengandung makna yang dalam baginya. Ia datang ke sini untuk melarikan diri dari drama, dari luka, dari semua beban yang menghancurkan dirinya.
Meskipun ia berusaha keras untuk melupakan, bayangan Luna dan keempat kakaknya terkadang muncul tanpa diundang. Terutama saat ia sedang sendirian di kamarnya, sebelum tidur. Ia akan teringat bagaimana Bima pernah membantunya mengerjakan PR matematika, atau bagaimana Arjun selalu menemaninya menonton kartun di hari Minggu. Kenangan-kenangan manis itu kini bercampur dengan rasa pahit pengkhianatan. Ia tahu ia harus membiarkannya pergi, namun proses itu tidak semudah membalikkan telapak tangan.
Raya juga mulai menjelajahi London lebih jauh di akhir pekan. Ia mengunjungi British Museum, National Gallery, Tower Bridge, dan Hyde Park. Setiap tempat baru yang ia kunjungi seolah mengisi kekosongan dalam dirinya. Ia membiarkan dirinya terhanyut dalam keindahan kota, dalam sejarahnya, dalam energinya yang tak pernah mati. Ia mengambil banyak foto, mengabadikan setiap momen kebebasan yang ia rasakan. Dalam setiap jepretan kameranya, ia mencoba menangkap esensi dirinya yang baru, yang sedang tumbuh.
Ia bahkan mulai menemukan bakat baru. Di sebuah toko buku bekas yang sering ia kunjungi, ia menemukan sebuah buku tentang kaligrafi modern. Tertarik, ia membeli peralatan dasarnya dan mulai berlatih di waktu luangnya. Gerakan pena di atas kertas, membentuk huruf-huruf dengan indah, terasa sangat menenangkan. Itu adalah bentuk meditasi baginya, sebuah cara untuk menyalurkan emosi yang belum bisa ia ungkapkan. Hasil karyanya tidak sempurna, tetapi prosesnya memberikan rasa damai yang ia rindukan.
Suatu sore, saat ia sedang makan siang di kantin kampus, ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal. Awalnya ia mengabaikannya, tetapi beberapa menit kemudian, pesan itu muncul lagi. Raya membuka pesan itu dengan ragu.
Hai Raya. Ini Arjun. Kamu di mana? Ayah mencemaskanmu.
Jantung Raya serasa berhenti berdetak. Arjun. Nama itu, yang dulu begitu berarti, kini terasa asing dan penuh duri. Sudah hampir tiga bulan sejak ia meninggalkan Jakarta. Mengapa baru sekarang mereka mencarinya? Mengapa tidak saat ia masih di sana, memohon perhatian mereka?
Ia tidak membalas pesan itu. Ia menatap layar ponselnya, tangannya sedikit gemetar. Air muka Raya berubah muram. Liam dan Aisha yang duduk di seberangnya menyadarinya.
"Ada apa, Raya? Kamu baik-baik saja?" tanya Aisha dengan nada khawatir.
Raya menggelengkan kepala. "Tidak apa-apa. Hanya... pesan yang salah kirim." Ia berbohong, sebuah kebohongan yang terasa pahit di lidahnya.
Namun, pesan dari Arjun itu memicu kembali ingatan-ingatan yang coba ia kubur dalam-dalam. Apakah mereka benar-benar mencemaskannya? Atau hanya basa-basi? Rasa sakit itu kembali merayap, mencoba menusuk pertahanan yang sudah susah payah ia bangun. Ia menghela napas panjang, mencoba menenangkan diri. Ia telah membuat keputusan. Ia tidak akan kembali ke masa lalu itu.
Setelah makan siang, Raya memutuskan untuk pergi ke studio desain kampus. Ia perlu mengalihkan perhatiannya. Ia menghabiskan beberapa jam mengerjakan proyek ilustrasi digital, membiarkan pikirannya sepenuhnya larut dalam warna dan bentuk. Itu berhasil. Sedikit demi sedikit, ketenangan kembali datang.
Malam harinya, ponselnya berdering. Nomor tak dikenal yang sama. Kali ini ia biarkan saja. Ponsel terus berdering. Akhirnya, ia melihat ke layar. Ada lima panggilan tak terjawab dari nomor itu, dan satu pesan suara. Dengan jantung berdegup kencang, ia mendengarkan pesan suara itu.
"Raya, ini Kak Arjun. Kami tahu kamu tidak ingin bicara, tapi setidaknya balas pesan kami. Ayah benar-benar khawatir. Kami... kami semua merindukanmu. Pulanglah, Raya. Kita bisa bicara baik-baik."
Suara Arjun terdengar lelah, bahkan sedikit putus asa. Merindukanmu? Raya merasakan campuran amarah dan kepedihan yang menusuk. Merindukan? Setelah semua yang mereka lakukan? Setelah mereka membuangnya begitu saja? Ia tidak bisa menerima itu. Kata-kata "pulanglah" terasa seperti jebakan, sebuah undangan untuk kembali ke neraka yang sudah ia tinggalkan.
Ia menghela napas, matanya menatap kosong ke luar jendela. Hujan mulai turun di London, membasahi kaca dengan jejak-jejak air. Setiap tetesnya terasa seperti air mata yang belum tumpah dari matanya. Ia merindukan keluarganya yang dulu. Ia merindukan tawa Bima, kejahilan Dito, perhatian Candra, dan kebaikan Arjun. Tapi keluarga itu sudah tidak ada. Yang ada hanyalah bayangan samar, terkontaminasi oleh keberadaan Luna.
Raya mematikan ponselnya. Ia tidak akan menjawab. Ia tidak akan membiarkan mereka menariknya kembali. Keputusannya sudah bulat. Ia harus fokus pada masa depannya, pada kesempatan yang telah ia dapatkan. Beasiswa ini bukan hanya tentang pendidikan, tapi tentang kesempatan kedua untuk dirinya sendiri.
Beberapa hari kemudian, saat Raya sedang berjalan pulang dari kampus, ia melihat sebuah kafe kecil yang sedang memasang papan pengumuman "Dibutuhkan Desainer Grafis Paruh Waktu". Matanya berbinar. Ini adalah kesempatan bagus untuk mendapatkan pengalaman kerja di London, dan juga menambah penghasilan. Tanpa ragu, ia masuk ke kafe itu.
Manajer kafe, seorang wanita paruh baya bernama Mrs. Davis, menyambutnya dengan ramah. Raya menunjukkan portofolio desain grafisnya yang sudah ia siapkan. Mrs. Davis terkesan dengan karya-karya Raya, terutama logo dan poster yang ia desain untuk proyek kampus. Raya diterima. Ini adalah langkah maju yang signifikan baginya. Ia tidak hanya akan belajar di kampus, tetapi juga akan mendapatkan pengalaman praktis di dunia nyata.
Pekerjaan di kafe itu memberinya perspektif baru. Ia belajar bagaimana mengaplikasikan desainnya untuk keperluan komersial, bagaimana berinteraksi dengan klien, dan bagaimana bekerja di bawah tekanan. Ia mendesain menu baru, poster promosi, bahkan logo khusus untuk acara musiman. Setiap kali melihat desainnya terpampang di kafe, Raya merasakan kebanggaan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Ini adalah hasil karyanya sendiri, buah dari usahanya, tanpa campur tangan siapa pun.
Waktu terus berjalan. Musim gugur berganti musim dingin. London diselimuti salju tipis, dan suasana Natal mulai terasa di mana-mana. Raya menghabiskan liburan musim dinginnya di London, memilih untuk tidak pulang ke Indonesia. Ia menghabiskan Natal bersama Liam dan Aisha, yang juga tidak pulang ke negara masing-masing. Mereka bertukar kado sederhana, memasak makanan khas negara masing-masing, dan menghabiskan malam dengan bercerita dan tertawa. Untuk pertama kalinya, Raya merasakan kebahagiaan yang tulus, kebahagiaan yang tidak bergantung pada pengakuan dari orang lain.
Meskipun ia telah jauh, ia tahu bahwa proses penyembuhan ini tidak instan. Ada saat-saat ia merasa sangat rindu pada ibunya, pada sosok ayah yang dulu. Ada saat-saat ia bertanya-tanya apakah ia membuat keputusan yang tepat. Namun, setiap kali keraguan itu muncul, ia akan melihat sekelilingnya: apartemen kecilnya yang nyaman, teman-teman barunya, kampus yang memberinya begitu banyak inspirasi, dan pekerjaan yang memberinya tujuan. Semua itu adalah bukti bahwa ia telah melangkah maju, bahwa ia sedang membangun kehidupan yang lebih baik untuk dirinya sendiri.
Suatu malam, saat ia sedang menyelesaikan sebuah proyek desain di kamarnya, ia menerima email. Dari Ayahnya. Kali ini, bukan pesan singkat, melainkan sebuah email yang panjang.
Ayahnya menulis tentang bagaimana ia merindukan Raya, bagaimana rumah terasa kosong tanpa kehadirannya. Ia mengakui bahwa mungkin ia terlalu sibuk dan tidak cukup memperhatikan Raya. Ia juga menulis bahwa Luna sudah pindah dari rumah mereka, kembali ke panti asuhan tempat ia berasal. Ayahnya tidak menjelaskan secara rinci mengapa Luna pergi, hanya menyebutkan bahwa ada "beberapa masalah yang harus diselesaikan". Ayahnya juga menyebutkan bahwa para kakaknya, terutama Arjun dan Bima, terlihat sangat menyesal dan sering membicarakan Raya.
Membaca email itu, Raya merasakan campuran emosi yang kompleks. Ada sedikit rasa lega mendengar Luna tidak lagi di sana. Ada juga rasa haru karena ayahnya akhirnya mengakui kesalahannya. Dan ada sedikit rasa aneh mendengar para kakaknya menyesal. Namun, luka itu masih ada. Tidak semudah itu untuk melupakan semua yang telah terjadi. Ia tahu bahwa penyesalan mereka mungkin tulus, tetapi itu tidak akan menghapus semua kepedihan yang telah ia alami.
Raya menutup laptopnya. Ia menatap langit-langit kamarnya yang putih. Sebuah pertanyaan muncul di benaknya: Apakah ia harus membalas? Apakah ia harus membuka kembali pintu yang sudah susah payah ia tutup?
Ia tahu, perjalanannya di London ini bukan hanya tentang belajar dan bekerja. Ini juga tentang proses menemukan jati diri dan menyembuhkan luka. Ia telah memilih untuk pergi, meninggalkan luka pengkhianatan keluarganya yang sudah menghancurkan cintanya. Namun, apa yang akan ia lakukan sekarang, setelah ada sedikit celah harapan untuk berdamai?
Raya belum tahu jawabannya. Tapi ia tahu satu hal: ia tidak lagi lemah. Ia adalah Raya yang baru, Raya yang kuat, yang telah menemukan jalannya sendiri di tanah asing ini. Dan kekuatan itu, adalah modal utamanya untuk menghadapi babak selanjutnya dalam hidupnya, apa pun yang akan terjadi. Ia akan terus melangkah maju, dengan setiap embusan embun pagi di London yang memberinya kekuatan dan harapan baru.
Anda Mungkin Juga Suka





