Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Kakakku, Pengkhianatku

Kakakku, Pengkhianatku

Raya hancur setelah dikhianati keempat kakak laki-lakinya yang kini lebih menyayangi Luna, gadis asing yang menggantikan posisinya. Meski Raya berupaya membuktikan diri di tengah intrik licik Luna yang haus perhatian, perjuangannya sia-sia. Ketidakadilan yang terus berulang akhirnya memadamkan rasa cinta Raya kepada saudara kandungnya. Di titik nadir, ia memilih menyerah dan pergi demi meninggalkan luka mendalam yang telah menghancurkan hidupnya selama ini.
Bab
Bagikan

Bab 3

Musim dingin yang panjang akhirnya berlalu, digantikan oleh musim semi London yang basah namun menjanjikan. Raya sudah menghabiskan hampir setahun di kota ini, dan setiap hari adalah bukti nyata dari keputusannya untuk pergi. Ia telah melewati fase paling sulit dalam beradaptasi, dan kini London terasa seperti rumah kedua. Kamarnya di asrama, meskipun kecil, telah menjadi bentengnya, tempat ia bisa merenung, berkreasi, dan merasakan kedamaian.

Pagi itu, aroma hujan yang baru saja turun dan bunga-bunga daffodil yang mulai bermekaran di taman kota mengisi udara. Raya sedang menyelesaikan sarapannya, secangkir teh hangat dan roti bakar, sambil memeriksa jadwal kuliahnya untuk hari itu. Proyek desainnya semakin kompleks, menuntut kreativitas dan dedikasi yang lebih besar. Ia berhasil mempertahankan IPK yang tinggi, menjadi salah satu mahasiswa paling menonjol di jurusannya. Dosen-dosennya sering memujinya karena keuletan dan keunikan ide-idenya.

Pekerjaannya di kafe Mrs. Davis juga berkembang pesat. Raya tidak hanya sekadar mendesain menu, tetapi juga membantu Mrs. Davis mengembangkan strategi pemasaran digital untuk kafe tersebut. Ia menciptakan akun media sosial yang menarik, mengambil foto-foto makanan yang estetik, dan berinterinteraksi dengan pelanggan secara daring. Hasilnya, kafe tersebut mengalami peningkatan jumlah pelanggan yang signifikan. Mrs. Davis bahkan memberikan bonus dan menjanjikan posisi yang lebih permanen setelah Raya lulus nanti. Pengakuan ini, yang datang dari pihak luar, terasa jauh lebih berharga daripada apa pun yang pernah ia dapatkan dari keluarganya.

Hubungannya dengan Liam dan Aisha semakin erat. Mereka tidak hanya teman kuliah, tetapi sudah menjadi seperti keluarga. Liam, dengan selera humornya yang cerdas, sering membuat Raya tertawa hingga perutnya sakit. Aisha, dengan kebijaksanaannya yang tenang, adalah pendengar yang baik dan sering memberikan nasihat yang menenangkan. Bersama mereka, Raya bisa menjadi dirinya sendiri, tanpa beban, tanpa perlu menyembunyikan luka. Ia bahkan mulai berani menceritakan beberapa pengalaman pahitnya di masa lalu, meskipun masih tanpa menyebutkan nama atau detail yang terlalu spesifik. Respons mereka selalu penuh empati, tanpa menghakimi. Ini adalah ikatan persahabatan sejati yang ia impikan.

Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama. Beberapa minggu setelah menerima email dari ayahnya, sebuah pesan masuk di akun media sosialnya. Dari sebuah akun dengan nama "Arjun. W". Jantung Raya mencelos. Ia tahu itu adalah kakaknya.

Raya, ini aku, Arjun. Aku tahu kamu tidak mau membalas telepon atau email kami. Tapi kami sangat mencemaskanmu. Tolong, bisakah kita bicara sebentar?

Raya membaca pesan itu berulang kali. Tangannya gemetar. Ia telah memblokir nomor telepon keluarganya, dan juga email mereka. Tapi ia lupa tentang media sosial. Bagaimana Arjun bisa menemukannya? Pasti dari teman lama atau kerabat yang masih terhubung dengannya. Rasa sakit dan marah kembali merayap di dadanya, mengancam untuk meruntuhkan dinding pertahanan yang sudah susah payah ia bangun.

Ia mengabaikan pesan itu. Namun, Arjun tidak menyerah. Setiap beberapa hari, pesan serupa akan muncul. Terkadang dari Arjun, terkadang dari akun lain yang kemungkinan milik Bima atau Candra. Mereka tidak menyebutkan Luna lagi, tetapi fokus pada kekhawatiran mereka, pada kerinduan ayah mereka.

Suatu malam, saat ia sedang scrolling lini masa media sosialnya, sebuah foto muncul di akun salah satu teman lamanya di Jakarta. Itu adalah foto keluarga mereka. Ayah, Arjun, Bima, Candra, dan Dito. Dan di samping mereka... tidak ada Luna. Wajah-wajah mereka terlihat murung, tidak ada senyum lebar seperti dulu. Bahkan Dito, si paling ceria, tampak lesu.

Hati Raya sedikit tersentuh. Mereka benar-benar terlihat berbeda. Ada kerinduan yang nyata terpancar dari wajah mereka. Tapi, apakah itu cukup? Apakah itu cukup untuk menghapus tahun-tahun pengabaian dan pengkhianatan?

Pertanyaan itu terus menghantuinya. Ia tahu ia tidak bisa terus menghindar. Cepat atau lambat, ia harus menghadapi ini. Namun, ia tidak siap untuk membuka kembali luka lama.

Beberapa hari kemudian, saat Raya sedang berjalan pulang dari kampus, ponselnya berdering. Ia melihat ke layar. Nomor Indonesia, tidak dikenal. Ia memutuskan untuk menjawab.

"Halo?" suaranya sedikit bergetar.

"Raya?" Suara itu. Suara yang sangat ia kenal. Bima. Kakak kedua yang dulu menjadi sahabat terbaiknya. Suara itu kini terdengar serak, ada kesedihan yang mendalam di dalamnya. "Ini aku, Bima."

Raya terdiam. Ia tidak tahu harus berkata apa. Ribuan kata ingin ia ucapkan, ribuan pertanyaan ingin ia lontarkan. Namun, suaranya tercekat di tenggorokan.

"Raya, kamu baik-baik saja? Kenapa kamu tidak pernah membalas kami?" tanya Bima, suaranya dipenuhi keputusasaan. "Kami semua sangat mencemaskanmu. Ayah bahkan sempat sakit karena terus memikirkanmu."

Air mata Raya mulai menetes. Sakit? Ayah sakit? Rasa bersalah menyusup. "Aku... aku baik-baik saja, Kak. Aku di London."

"Kami tahu kamu di London. Arjun sudah mencari tahu. Raya, kenapa kamu pergi begitu saja? Kenapa kamu tidak bilang apa-apa?" Suara Bima mulai terdengar lebih kuat, ada sedikit nada marah di sana.

"Kenapa? Kalian masih bertanya kenapa, Kak?" Suara Raya meninggi. "Kalian yang membuatku pergi! Kalian yang membuatku tidak punya tempat di rumah itu! Kalian yang melupakanku, mengabaikanku, seolah aku tidak pernah ada!" Emosi yang selama ini ia pendam meledak. Semua rasa sakit, kemarahan, dan kekecewaan yang ia simpan dalam-dalam, kini tumpah ruah.

Hening sejenak di ujung telepon. Lalu, Bima menjawab, suaranya pelan dan penuh penyesalan. "Raya, kami... kami tahu kami salah. Kami sangat menyesal. Kami tidak tahu apa yang kami lakukan. Luna... dia terlalu pandai memanipulasi kami. Dia membuat kami percaya bahwa kamu cemburu, bahwa kamu selalu ingin menjatuhkannya."

"Manipulasi?" Raya tertawa pahit. "Kalian begitu buta, Kak! Kalian begitu percaya pada orang asing dibandingkan adik kandung kalian sendiri! Apa yang dia lakukan pada kalian sehingga kalian begitu percaya padanya?"

"Dia... dia selalu membuat dirinya terlihat lemah, Raya. Dia selalu menceritakan kisah-kisah sedih, membuat kami merasa kasihan. Dan setiap kali kamu mencoba berbicara, dia selalu memutarbalikkan fakta, membuat seolah-olah kamu yang bermasalah. Kami terlalu bodoh untuk menyadarinya," jelas Bima, suaranya sarat penyesalan. "Setelah kamu pergi, semuanya mulai terlihat. Ada banyak hal aneh yang mulai terjadi. Barang-barang hilang, dokumen penting yang disembunyikan. Luna... dia bahkan mencoba menyingkirkan Ayah dari posisi penting di perusahaan dengan menyebarkan rumor buruk."

Raya tertegun. Luna sejauh itu? "Apa?"

"Ya. Untungnya Dito dan Candra berhasil membongkar semuanya. Luna... dia bukan gadis polos yang kami kira, Raya. Dia seorang penipu, dia memanfaatkan kebaikan keluarga kita. Dia bahkan tidak pernah sebatang kara seperti yang dia ceritakan. Dia punya keluarga, dan mereka terlibat dalam penipuan ini. Dia sengaja mendekati kita karena tahu keluarga kita punya banyak koneksi dan kekayaan."

Pikiran Raya berputar. Jadi, bukan hanya pengabaian, tetapi juga penipuan besar-besaran. Otaknya mencoba mencerna semua informasi ini. Ini menjelaskan mengapa Luna begitu lihai dalam memanipulasi, mengapa ia begitu cepat merebut hati para kakaknya.

"Jadi... Luna sudah tidak ada di sana?" tanya Raya pelan, suaranya masih diliputi ketidakpercayaan.

"Tidak. Dia dan keluarganya sudah dilaporkan ke polisi. Mereka sedang dalam proses hukum. Ayah... Ayah sangat terpukul, Raya. Dia merasa bersalah karena tidak melindungi kita, terutama kamu. Kami semua merasa bersalah. Kami telah menyia-nyiakanmu, melukai hatimu. Tidak ada hari yang berlalu tanpa kami memikirkanmu. Rumah terasa kosong, Raya. Tidak ada tawa, tidak ada canda. Kami seperti kehilangan arah."

Air mata Raya kini mengalir deras, bukan lagi air mata kepedihan, tetapi air mata kompleks dari campuran amarah, rasa lega, dan juga sedikit simpati. Mereka akhirnya sadar. Mereka akhirnya melihat kebenaran. Tapi, apakah terlambat?

"Kak, aku... aku tidak tahu harus berkata apa," Raya akhirnya berucap, suaranya serak. "Terlalu banyak yang terjadi. Terlalu banyak luka yang kalian torehkan."

"Kami tahu, Raya. Kami tidak meminta kamu untuk langsung memaafkan kami. Kami hanya ingin kamu tahu, kami menyesal. Sangat menyesal. Kami ingin memperbaikinya. Kami ingin kamu pulang. Rumah ini bukan rumah tanpa kamu." Suara Bima bergetar.

Hening kembali menyelimuti percakapan. Raya menatap langit London yang kelabu. Apakah ia harus pulang? Apakah ia bisa kembali ke rumah itu, ke kenangan-kenangan pahit yang tak terhapuskan? Ia sudah membangun hidup baru di sini. Ia sudah menemukan kedamaian, meskipun itu rapuh.

"Aku... aku tidak tahu, Kak. Aku butuh waktu," jawab Raya jujur.

"Baik, Raya. Kami akan memberimu waktu sebanyak yang kamu butuhkan. Tapi tolong, jangan menghilang lagi. Setidaknya biarkan kami tahu kamu baik-baik saja. Biarkan kami tahu kamu masih ada." Suara Bima terdengar memohon.

"Aku akan memikirkannya," Raya akhirnya berucap. "Aku harus pergi, Kak. Aku ada kuliah."

"Baik. Jaga dirimu, Raya," kata Bima, suaranya penuh harapan.

Raya menutup telepon. Ia berdiri di tengah jalan, terdiam. Pikiran-pikirannya berkejaran. Sebuah badai emosi melanda dirinya. Penyesalan. Itu adalah kata yang terus terngiang di benaknya. Penyesalan dari orang-orang yang telah ia cintai dan yang telah melukainya. Apakah penyesalan itu cukup untuk menyembuhkan semua luka?

Ia kembali ke asramanya dengan langkah gontai. Ia tidak bisa fokus pada kuliahnya hari itu. Pikirannya terus kembali ke percakapannya dengan Bima. Luna seorang penipu. Keluarganya menyesal. Ayahnya sakit. Semuanya terasa begitu nyata, dan begitu menyakitkan.

Malam harinya, ia menceritakan semuanya kepada Liam dan Aisha. Ia tidak lagi bisa menyembunyikannya. Mereka mendengarkan dengan sabar, tanpa interupsi, tanpa menghakimi. Saat Raya selesai bercerita, Aisha memeluknya erat. "Raya, itu pasti sangat berat. Aku turut prihatin."

Liam menatapnya dengan tatapan serius. "Ini keputusanmu, Raya. Kamu tidak berhutang apa pun pada mereka. Tapi kalau mereka benar-benar menyesal, dan sudah mengakui kesalahan mereka... mungkin ada baiknya kamu mempertimbangkan untuk bicara lagi."

"Aku tidak tahu, Liam. Aku sudah membangun hidup di sini. Aku sudah menemukan kedamaian," kata Raya, suaranya lirih. "Aku takut jika aku kembali, semua luka itu akan muncul lagi. Aku takut aku akan kembali menjadi Raya yang lemah, yang selalu mencari pengakuan mereka."

"Kamu tidak akan lemah lagi, Raya," kata Aisha lembut. "Kamu sudah melewati begitu banyak hal. Kamu sudah sangat kuat sekarang. Kamu tidak lagi membutuhkan pengakuan mereka untuk menjadi dirimu sendiri. Kamu sudah membuktikannya di sini, di London."

Kata-kata Aisha menghantamnya. Benar. Ia telah berubah. Ia bukan lagi gadis yang sama yang meninggalkan Jakarta dengan hati hancur. Ia telah tumbuh, belajar, dan menjadi lebih mandiri. Kekuatan itu ada di dalam dirinya, bukan tergantung pada orang lain.

Meskipun begitu, ide untuk kembali ke rumah, ke keluarga yang telah melukainya, masih terasa menakutkan. Ia tahu bahwa berdamai dengan masa lalu tidak berarti melupakan rasa sakitnya. Itu berarti menerima bahwa rasa sakit itu ada, dan kemudian belajar untuk hidup dengannya tanpa membiarkannya mengendalikan dirinya.

Beberapa hari berikutnya, Raya membalas email ayahnya. Ia menulis dengan hati-hati, menjelaskan bahwa ia baik-baik saja dan bahwa ia telah membangun hidup di London. Ia tidak langsung mengatakan ia akan kembali, tetapi ia juga tidak menutup pintu sepenuhnya. Ia mengatakan ia perlu waktu untuk memproses semua informasi ini. Ayahnya membalas dengan segera, menyatakan kelegaan dan harapan agar Raya mau memaafkan mereka.

Minggu-minggu berlalu. Raya tetap fokus pada studinya dan pekerjaannya, tetapi ada perubahan halus dalam dirinya. Ia mulai merasa sedikit lebih ringan, seolah beban berat yang selama ini ia pikul sedikit demi sedikit terangkat. Ia tidak lagi merasa perlu untuk lari. Ia menyadari bahwa ia bisa menghadapi masa lalu tanpa harus hancur olehnya.

Ia mulai menghubungi satu per satu kakaknya, melalui pesan singkat. Ia masih belum siap untuk berbicara langsung di telepon, tapi ini adalah permulaan. Dengan Arjun, ia berbicara tentang kuliahnya. Dengan Candra, ia membahas proyek desain terbarunya. Dengan Dito, ia bertukar lelucon ringan, mencoba mencari kembali ikatan persaudaraan yang dulu. Dan dengan Bima, ia membahas lebih dalam tentang perasaan mereka masing-masing, tentang kesalahan di masa lalu, dan tentang bagaimana mereka bisa memperbaikinya.

"Raya," kata Bima dalam sebuah pesan suara, "Aku tahu ini tidak akan mudah. Tapi kami benar-benar ingin menjadi keluarga lagi. Kami ingin kamu tahu, kamu selalu punya tempat di sini. Kami sangat merindukanmu."

Rasa bimbang masih menyelimutinya. Apakah ia harus kembali untuk berdamai secara langsung? Atau cukup sampai di sini saja, dengan komunikasi jarak jauh?

Suatu sore, saat ia sedang berjalan di sebuah taman, Raya melihat seorang anak kecil bermain dengan ayahnya. Tawa riang sang anak, pelukan hangat sang ayah. Pemandangan itu menusuk hatinya, mengingatkannya pada hubungan yang pernah ia miliki dengan ayahnya, dan dengan kakaknya. Ia merindukan kehangatan itu. Ia merindukan keutuhan keluarga, meskipun itu terasa mustahil.

Ia duduk di bangku taman, mengeluarkan ponselnya, dan membuka galeri foto. Ia melihat foto-foto dirinya di London, penuh tawa, penuh petualangan. Lalu ia melihat foto-foto lama keluarganya, foto-foto kebahagiaan yang kini terasa begitu jauh. Ia menyadari bahwa ia tidak ingin membenci mereka selamanya. Rasa benci hanya akan menggerogoti dirinya sendiri. Ia ingin damai.

Raya memutuskan. Ia akan kembali ke Jakarta. Tidak untuk kembali tinggal di rumah itu selamanya, setidaknya tidak untuk saat ini. Tetapi untuk menghadapi mereka, untuk berbicara, untuk mencoba mencari penutupan. Ini bukan tentang memaafkan dan melupakan begitu saja, tetapi tentang mencari cara untuk hidup dengan masa lalu itu.

Ia mengirim pesan ke Liam dan Aisha. Aku akan kembali ke Jakarta untuk liburan musim panas. Ada beberapa hal yang harus aku selesaikan.

Liam langsung membalas, Serius? Aku akan merindukanmu, Raya! Tapi aku senang kamu berani menghadapinya. Ingat, kamu kuat!

Aisha menambahkan, Kita akan selalu ada untukmu, Raya. Kamu tahu itu. Berhati-hatilah.

Dukungan dari teman-temannya memberinya kekuatan. Ia memesan tiket pesawat. Tanggal keberangkatannya sudah diatur.

Malam sebelum keberangkatan, Raya kembali merasakan gelombang emosi yang campur aduk. Ada rasa takut, tentu saja. Takut akan apa yang akan ia hadapi. Takut jika ia kembali hancur. Tetapi di samping rasa takut itu, ada juga rasa tekad yang membaja. Ia telah menempuh perjalanan jauh, tidak hanya secara fisik, tetapi juga secara emosional. Ia telah menemukan siapa dirinya di London. Ia telah belajar bahwa ia mampu berdiri sendiri.

Ia menulis sebuah surat lagi, kali ini untuk dirinya sendiri. Ia menulis tentang semua yang telah ia pelajari, tentang kekuatan yang telah ia temukan, tentang pentingnya memaafkan-bukan hanya orang lain, tetapi juga dirinya sendiri. Ia menulis tentang bagaimana ia akan mendekati ini dengan kepala tegak, sebagai Raya yang baru.

Ketika pesawatnya lepas landas dari Heathrow, langit London cerah, dan sinar matahari musim semi menerangi kota. Kali ini, Raya tidak melihat ke bawah dengan kesedihan. Ia menatap ke depan, menatap cakrawala. Perjalanan ini bukanlah pelarian lagi, melainkan sebuah langkah menuju penyelesaian. Ia kembali ke tempat di mana lukanya dimulai, bukan untuk dirobohkan, tetapi untuk menghadapi dan, mudah-mudahan, menyembuhkannya.

Badai mungkin telah terjadi, dan mungkin masih ada sisa-sisanya. Namun, Raya tahu ia kini memiliki kekuatan untuk menghadapinya. Ia telah melewati musim dingin yang panjang dalam jiwanya, dan kini, ia siap menyambut musim semi.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cinta & Obsesi SANG PSIKOPAT Cantik
9.5
Via terjebak dalam obsesi buta terhadap abangnya, Fatih. Namun, kehadiran Kenan yang telah memujanya sejak SMP mulai menggoyahkan hatinya. Di tengah dilema tersebut, Via menyadari bahwa perasaannya pada Fatih bukanlah cinta sejati. Akhirnya, ia memilih menerima Kenan tanpa menyadari bahwa mereka berbagi kegilaan dan obsesi yang serupa. Akankah ketulusan Kenan mampu menaklukkan sisi gelap Via yang ternyata menyimpan kepribadian seorang psikopat?
Sampul Novel Cinta Terlarang & Rahasia
9.4
Karina, gadis dari keluarga retak, terjebak asmara terlarang dengan Evan, kakak sahabatnya yang sudah beristri. Saat hubungan rahasia ini terungkap, ia pun dihujat dan dimusuhi Siska. Karina memilih pergi sambil mengandung buah hati mereka tanpa sepengetahuan siapa pun. Bertahun-tahun kemudian, ia kembali ke Jakarta membawa seorang putra. Kini, rahasia besar mengenai ayah biologis sang anak terancam terbongkar. Sanggupkah ia terus menutupi fakta dari masa lalunya?
Sampul Novel Dosen Duda Anak 1
9.2
Pertemuan tak terduga Alva dengan anak dari dosennya sendiri membawa perubahan besar dalam hidupnya. Ikatan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya mulai tumbuh, menghadirkan perasaan asing yang sulit untuk dihindari. Kini, Alva terjebak dalam dilema batin yang mendalam. Ia harus menentukan pilihan sulit, apakah ia sanggup menerima kehadiran seorang duda sebagai pendamping masa depannya di tengah keraguan yang terus menyelimuti hatinya.
Sampul Novel Ending Scene: Wanita Terakhir di Hati Presdir
8.6
Kirei Nakamoto bersedia menikahi River King Mountbatten, jutawan yang buta dan lumpuh, demi membalas dendam atas kehancuran keluarganya. Di sisi lain, River hidup dalam trauma setelah dikhianati kekasihnya dan berencana melawan ibu serta adik tirinya yang tamak. Meski awalnya hanya sekadar kerja sama demi tujuan masing-masing, luka yang sama justru menumbuhkan benih cinta di antara mereka. Akankah Kirei menjadi sosok wanita terakhir yang mampu menyembuhkan hati River?
Sampul Novel Hasrat Aneh Rahasiaku
9.4
Kehidupan normalku hancur setelah mengintip melalui jendela yang mengungkap rahasia gelap para tetangga. Aku menyaksikan Dela yang tomboy berubah menjadi sosok penggoda, Pak RW yang terhormat menunjukkan sisi liarnya, hingga Rifan yang tampak polos ikut terlibat dalam ritual penuh gairah itu. Meski hanya penonton, hasrat aneh mulai menghantuiku setiap malam. Terjebak dalam rasa ingin tahu dan ketegangan, aku terseret jauh ke dunia terlarang yang mereka sembunyikan.
Sampul Novel ISTRI KEDUA TUAN KAIRO
8.0
Farah Maharani, gadis desa berusia dua puluh lima tahun, terjebak situasi sulit hingga terpaksa menyewakan rahimnya kepada pengusaha bernama Kairo Juang. Keputusan ini bermula dari Salsa, istri Kairo, yang lelah dihina mandul oleh orang-orang di sekitarnya. Demi mendapatkan keturunan, Salsa merelakan suaminya menikahi wanita lain. Meski awalnya kesepakatan ini berjalan lancar tanpa kendala, sebuah malapetaka besar tiba-tiba datang mengancam kehidupan mereka.