Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Kakakku Mencuri Tunanganku, Kini Aku Menggoda Bosnya

Kakakku Mencuri Tunanganku, Kini Aku Menggoda Bosnya

Dikhianati oleh Devan dan Siska, aku bertekad membalas dendam dengan mendekati Raditya, atasan Devan yang kaya. Menggunakan identitas Anya, aku menyamar jadi pengasuh putri kecilnya, Kirana. Rencanaku berjalan lancar hingga kehangatan keluarga ini mulai meluluhkan hatiku. Sosok Raditya yang penyayang dan keceriaan Kirana membuat niat jahatku goyah. Di tengah kemewahan rumah itu, kebencianku perlahan sirna dan berganti menjadi perasaan cinta yang tak terduga.
Bab
Bagikan

Bab 2

Malam pertama di rumah Raditya berjalan lebih tenang dari yang kuduga. Kamar yang disediakan untukku berada di lantai dua, dekat dengan kamar Kirana. Ruangannya luas, dengan jendela besar menghadap taman belakang, lengkap dengan lemari pakaian, meja kecil, dan seprai yang masih wangi detergen. Aku berbaring di atas ranjang sambil menatap langit-langit, menarik napas panjang.

Semuanya berjalan mulus-terlalu mulus.

Aku sudah resmi diterima sebagai pengasuh Kirana. Tadi sore, Raditya memberitahuku langsung, dengan suara datarnya yang khas.

"Kirana terlihat nyaman denganmu. Mulai besok, kamu bisa tinggal di sini."

Aku pura-pura terkejut. Padahal, ini memang bagian dari rencana.

"Terima kasih, Pak. Saya akan jaga Kirana dengan baik," ucapku saat itu.

Kirana.

Gadis kecil itu... terlalu manis untuk dilibatkan dalam urusan dendam. Tapi aku tidak bisa membiarkan perasaanku mengaburkan tujuan. Aku tidak boleh lupa siapa musuhku. Aku tidak boleh lupa rasa sakit itu.

Pagi harinya, suara ketukan di pintu membangunkanku.

Tok tok tok.

"Kak Anya, bangun! Aku mau main sepeda!" teriak Kirana dari luar.

Aku melirik jam dinding. Baru pukul 06.45. Kupaksakan bangun, menarik rambut ke belakang, lalu membuka pintu dengan senyum mengantuk.

"Pagi, Sayang. Kamu sudah mandi?"

Kirana mengangguk cepat. "Sudah! Ayah masih di ruang kerja, katanya ada meeting. Jadi aku boleh main pagi-pagi asal sama Kak Anya."

Aku menahan tawa melihat ekspresi semangatnya. "Oke. Tapi kamu harus sarapan dulu."

Kami turun ke dapur bersama. Bude Lastri, asisten rumah tangga yang ramah itu, sudah menyiapkan roti panggang dan telur dadar. Kirana langsung duduk dan mulai makan, sambil bercerita panjang lebar soal sepeda barunya.

"Ayah beliin sepeda baru bulan lalu. Warna pink! Tapi ayah nggak bisa sering nemenin aku, soalnya sibuk kerja."

Nada suaranya mengandung sedikit kecewa, dan entah kenapa hatiku tergerak. Aku tahu bagaimana rasanya merasa sendirian.

"Sekarang Kak Anya ada. Kita bisa main bareng kapan saja," kataku.

Mata Kirana berbinar. "Beneran?"

Aku mengangguk. "Janji."

Kami menghabiskan pagi itu di taman kompleks. Kirana mengayuh sepedanya dengan semangat, sesekali berteriak, "Lihat, Kak Anya! Aku bisa lepas tangan!"

Aku berpura-pura khawatir dan berkata, "Jangan lepas tangan nanti jatuh!" Tapi dalam hati aku tertawa.

Di sela-sela tawa Kirana, pikiranku kembali ke Devan.

Pria itu pernah berjanji akan menikahiku. Kami telah memilih gedung, bahkan membahas nama anak. Tapi semua itu runtuh dalam semalam ketika aku melihatnya menggandeng Siska, kakakku sendiri.

Siska yang sempurna. Siska yang selalu menang. Dan kini, dia merebut Devan dariku, hanya karena bisa.

Kupikir aku sudah kuat. Tapi kenyataan itu masih menusuk seperti belati berkarat. Aku menatap Kirana yang sedang tertawa-anak polos yang tak tahu apa-apa tentang masa laluku.

"Aku sayang kamu, Kak Anya!" serunya tiba-tiba.

Aku tertegun.

"Apa?"

Kirana berhenti mengayuh sepedanya dan memeluk pinggangku. "Aku sayang kamu. Karena kamu baik dan nggak pernah marah kalau aku tumpahin susu."

Aku membalas pelukannya. "Kak Anya juga sayang kamu, Kirana..."

Dan saat itu juga, aku sadar: perasaanku mulai terguncang.

Malamnya, aku menyelesaikan laporan harian untuk Raditya. Ya, dia meminta aku menuliskan ringkasan aktivitas Kirana setiap malam. Katanya, agar dia tetap terlibat meskipun sibuk.

Aku mengetuk pintu ruang kerjanya, lalu masuk setelah dipersilakan.

"Ini laporan hari ini, Pak. Kirana main sepeda pagi, lalu menggambar dan belajar membaca siang tadi."

Raditya menerima map itu tanpa menoleh. Tangannya masih di atas keyboard, mengetik cepat.

"Terima kasih."

Aku berdiri di sana, ragu untuk pergi. Entah kenapa, aku ingin berbicara. Bukan sebagai babysitter, tapi sebagai... seseorang yang melihat sisi rapuh darinya.

"Apa Bapak selalu bekerja sampai malam?" tanyaku hati-hati.

Akhirnya dia menoleh. Tatapannya tetap tajam, tapi tidak sedingin biasanya.

"Biasanya, iya. Banyak yang harus saya urus. Perusahaan ini warisan dari orang tua saya. Dan setelah... istri saya meninggal, semuanya saya tangani sendiri."

Aku terkejut mendengar nada lembut dalam suaranya. Baru pertama kali dia menyebut mendiang istrinya. Aku menunduk, menyesal sudah bertanya.

"Maaf, saya tidak bermaksud-"

"Tidak apa-apa." Dia menghela napas. "Saya tahu Kirana butuh lebih banyak waktu bersama saya. Tapi kadang, hidup tidak memberi kita semua pilihan."

Aku diam. Lalu, tanpa sadar, aku berkata, "Dia sangat menyayangi Bapak."

Dia menatapku lama, lalu mengangguk pelan.

"Terima kasih, Anya. Kamu melakukan pekerjaan dengan sangat baik."

Jantungku berdebar. Itu... pujian?

"Senang bisa membantu," jawabku lirih.

Aku keluar dari ruang kerjanya dengan langkah ringan. Tapi juga bingung. Kenapa aku senang? Bukankah ini semua hanya permainan?

Hari-hari berikutnya berjalan cepat. Kirana makin lengket padaku, dan Raditya perlahan membuka diri. Kadang kami sarapan bersama, kadang dia duduk menemaniku membaca buku dongeng untuk Kirana. Semakin sering, aku lupa bahwa ini semua harusnya pura-pura.

Suatu malam, Kirana demam.

Aku menemukannya gelisah di tempat tidur, wajahnya merah dan keringat dingin membasahi dahinya. Panik, aku langsung menelepon Raditya yang masih di kantor.

"Pak, Kirana demam tinggi. Saya sudah kasih kompres, tapi... saya pikir Bapak harus tahu."

Kurang dari dua puluh menit, dia sudah sampai di rumah. Bahkan dasinya belum dilepas.

"Kirana!" serunya, menghampiri putrinya dengan panik.

"Aku sudah hubungi dokter, Pak. Akan datang sebentar lagi."

Raditya menatapku. Untuk pertama kalinya, aku melihat kekhawatiran tulus di wajahnya-dan juga... kepercayaan.

"Terima kasih, Anya."

Aku hanya mengangguk.

Kami menunggu dokter bersama. Duduk di tepi tempat tidur Kirana, menggenggam tangannya bergantian. Malam itu, aku dan Raditya seperti sepasang orang tua-meski kenyataannya sangat berbeda.

Setelah dokter datang dan memastikan bahwa demam Kirana hanya infeksi ringan, suasana kembali tenang. Aku mengantar Raditya ke ruang tamu, dan kami duduk berdua dalam keheningan.

"Aku takut kehilangan dia," katanya tiba-tiba.

Aku menoleh.

"Dia satu-satunya yang kumiliki sekarang."

Aku tak tahu harus berkata apa. Jadi aku hanya duduk di sana, menatap wajahnya yang lelah dan jujur.

Dan saat itu juga, aku sadar... aku berada di ambang. Ambang antara rencana dan kenyataan.

Keesokan harinya, aku menerima pesan dari orang yang tak ingin kuingat.

Siska.

"Hai, Anya. Aku dengar kamu kerja di rumah Raditya. Dia bos Devan, ya? Wah, cepat juga kamu move on. Hati-hati, dia duda anak satu. Jangan sampai baper, ya."

Tanganku bergetar saat membaca pesan itu. Ingin rasanya aku balas dengan caci maki. Tapi aku tahu dia hanya ingin memancing emosi.

Aku menaruh ponsel dan melihat ke luar jendela. Di taman, Kirana sedang bermain gelembung sabun. Raditya berdiri tak jauh darinya, memegang kamera, tertawa kecil saat putrinya mengejar gelembung-gelembung itu.

Mereka terlihat seperti keluarga.

Dan aku... berdiri di antara mereka. Tidak sebagai pengasuh. Tapi sebagai seseorang yang mulai peduli. Terlalu dalam.

"Anya, ayo ke sini!" teriak Kirana.

Aku melangkah, senyumku perlahan merekah. Tapi di dalam hati... aku tahu, rencana balas dendamku mulai retak.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Babu Kumal VS CEO Kutub Utara
8.4
Terryn dikirim ibunya untuk tinggal bersama sahabat lamanya, Ibu Imelda. Meski dididik menjadi wanita berpendidikan, Terryn justru diperlakukan bak pembantu oleh Deva, putra bungsu Imelda yang dingin dan angkuh. Konflik memuncak hingga sebuah peristiwa besar memaksa mereka menikah atas keinginan Imelda. Terryn yang mencintai Deva harus menghadapi kenyataan pahit bahwa suaminya tetap tak acuh. Namun, saat Deva mulai luluh, Terryn justru pergi menjauh darinya.
Sampul Novel Dendam Anak Tiri
9.1
Masa kecil yang penuh kemiskinan dan hinaan mengubah Alena dari gadis lembut menjadi sosok ambisius yang haus balas dendam. Ia bertekad menghancurkan keluarga ayah kandungnya yang kaya raya karena telah menelantarkannya. Di sisi lain, adik tirinya yang manja, Alyssa, tidak menyadari bahwa kehidupan mewahnya akan segera terusik. Pertemuan mereka memicu konflik besar saat rahasia persaudaraan terungkap. Akankah misi Alena berhasil atau justru berakhir duka bagi keduanya?
Sampul Novel Hari Pernikahannya, Pembalasan Dendam Sempurnanya
9.2
Dahulu aku menyelamatkan Arya Wicaksana, membangunnya menjadi raja bisnis, dan menikahinya secara rahasia. Namun, ia mengkhianatiku dengan menyebutku beban dan menghancurkan klinik kenangan putri kami demi kekasih barunya. Arya menyalahkan ambisiku atas kematian anak kami, berusaha menghapus jejak masa lalu kami sepenuhnya. Ia pikir ia telah menang, namun undangan pernikahannya justru menjadi awal kehancurannya yang akan aku eksekusi tepat di hari bahagianya.
Sampul Novel Istri Rahasia CEO Arogan
9.3
Evely gemetar ketakutan saat menolak pernikahan dengan Megantara, seorang CEO arogan yang terbiasa mendapatkan segalanya. Megantara yang murka merasa dihina oleh gadis miskin tersebut. Ia mencengkeram dagu Evely dan menekannya dengan ancaman keras untuk memberi pelajaran tentang kekuasaannya. Meski Evely mencoba melawan dan memohon agar dilepaskan, Megantara terus mendekat dengan senyum sinis, memojokkan gadis itu dalam situasi yang mencekam.
Sampul Novel Kawin Kontrak Sang Pewaris Tunggal
8.5
Maya Syaqilla merantau ke kota demi mengangkat derajat keluarganya. Awalnya ia mengira akan bekerja sebagai asisten rumah tangga, namun kesepakatan dengan Handoko justru menjadikannya istri kontrak sang majikan selama setahun. Meski caranya salah, kemakmuran kini menyelimuti keluarganya. Akankah benih cinta tumbuh antara Maya dan Boy hingga pernikahan mereka menjadi nyata? Ataukah rahasia besar ini akan terbongkar dan memicu kemarahan besar dari kedua keluarga besar mereka?
Sampul Novel Komodo Hijrah
9.6
Mahesa adalah pengusaha waralaba sukses yang selalu gagal dalam urusan asmara. Ia merasa dikutuk oleh rival bisnisnya karena tak pernah berhasil membawa hubungan ke jenjang pernikahan. Berbagai metode, dari yang logis hingga di luar nalar, ia coba demi menemukan pendamping hidup. Dalam pencarian itu, Gayatri, sahabat masa kecil yang kerap bertindak bak pengawal pribadinya, selalu setia mendampingi. Namun, mampukah persahabatan mereka bertahan saat perasaan baru mulai tumbuh?