
Kakakku Mencuri Tunanganku, Kini Aku Menggoda Bosnya
Bab 3
Hari-hari berlalu lebih cepat daripada yang kuduga. Setiap pagi dimulai dengan tawa Kirana, setiap malam diakhiri dengan suara dongeng yang kubacakan sampai ia terlelap. Aku tidak pernah membayangkan bahwa hidupku yang semula penuh rencana gelap bisa terasa... hangat seperti ini.
Namun, semakin dalam aku masuk ke dunia mereka, semakin kabur garis antara kebencian dan kasih sayang.
Suatu siang, saat Kirana sedang tidur siang, aku berjalan ke dapur untuk minum. Tak sengaja, kudengar suara Raditya dari ruang kerjanya yang pintunya sedikit terbuka.
"...saya tidak peduli dengan investasi itu. Kalau mereka tidak menghormati batas waktu, kita batalkan kerja sama," ucapnya tegas.
Ada jeda. Mungkin lawan bicaranya sedang memberi alasan.
Raditya menyahut lagi, "Saya tidak akan korbankan waktu saya bersama putri saya hanya untuk menuruti orang yang tidak disiplin. Ini bukan cuma tentang bisnis."
Aku tak sadar berdiri terlalu lama, hingga lantai berderit di bawah kakiku.
Pintu terbuka lebih lebar. "Anya?" Raditya menatapku.
"Maaf, saya tidak sengaja dengar," kataku buru-buru. "Saya hanya... lewat mau ambil air."
Dia menutup laptopnya dan berdiri, menghampiriku. "Tak apa. Kamu sering begitu tenang, kadang saya lupa kamu di rumah ini."
Aku tertawa kecil. "Saya memang lebih suka tak terlihat. Kecuali kalau Kirana minta peluk atau es krim."
Raditya tertawa juga-ringan dan lepas. Itu pertama kalinya aku mendengarnya tertawa begitu. Dan jujur, itu menyesakkan. Karena dalam pikiranku, suara tawa itu menyenangkan... terlalu menyenangkan untuk seseorang yang seharusnya kubenci.
"Ngomong-ngomong," katanya sambil mengambil gelas air juga, "aku rencana libur akhir pekan ini. Kirana sudah lama minta main di luar kota."
"Ayah dan anak quality time?" tanyaku.
"Kalau kamu tidak keberatan, ikutlah," katanya tiba-tiba.
Aku membeku.
"Apa?"
"Sekadar membantu jaga Kirana. Aku tahu kamu bisa pegang situasi. Dan dia akan senang sekali kalau kamu ikut."
Aku pura-pura ragu, padahal hatiku langsung melonjak.
"Baik, Pak. Kalau memang dibutuhkan."
Dia tersenyum. "Terima kasih, Anya."
Anya. Bukan sekadar pengasuh. Bukan sekadar alat balas dendam.
Sabtu pagi, kami berangkat. Tujuan: vila pribadi milik keluarga Raditya di Puncak. Rumah kayu dengan halaman luas, pohon pinus tinggi menjulang, dan udara segar yang berbeda dari polusi kota.
"Ayah, kita nginap di sini?" Kirana berseru kegirangan begitu mobil berhenti.
Raditya mengangguk. "Tiga hari dua malam."
"Aku mau bikin istana dari daun!"
Aku menggenggam tangan Kirana, membantunya turun dari mobil. Ia melompat-lompat bahagia, dan aku... entah kenapa, ikut tertawa.
Suasana vila sangat nyaman. Setelah menaruh barang di kamar, aku duduk di balkon, menatap hijaunya pemandangan. Tak lama kemudian, Raditya ikut duduk di kursi sebelahku.
"Kirana sedang main puzzle di dalam," katanya.
Aku hanya mengangguk, menikmati udara sejuk.
"Dulu, aku sering ke sini dengan istri. Tapi sejak dia pergi, tempat ini jadi kosong."
Aku menoleh, terkejut dia menyebut istrinya lagi.
"Maaf kalau saya lancang. Apa Bapak... masih sering mengingat beliau?"
Dia terdiam cukup lama sebelum menjawab.
"Setiap hari. Tapi sekarang, aku lebih fokus ke Kirana. Dia... warisan terakhir dari masa itu. Aku tidak bisa larut terlalu lama."
Aku mengangguk. "Kirana sangat beruntung punya Bapak."
"Dan aku beruntung kamu ada untuk bantu jagain dia."
Hati ini mulai tak terkendali. Kalimat itu, cara dia memandangku... terlalu tulus.
Dan aku takut. Takut bahwa aku tidak lagi berperan. Tapi benar-benar terlibat.
Malam harinya, setelah Kirana tidur, Raditya mengajakku duduk di dekat perapian. Hanya kami berdua. Hanya cahaya api dan suara jangkrik yang menemani.
"Aku selalu penasaran," katanya sambil memutar cangkir teh di tangannya. "Apa yang membuatmu ingin jadi pengasuh anak? Latar belakangmu... tidak biasa."
Aku menegang.
Itu pertanyaan yang kubenci. Karena latar belakangku penuh kebohongan.
"Saya... ingin menjauh dari masa lalu. Mengurus anak membuat saya merasa dibutuhkan, dan itu... menyembuhkan," jawabku hati-hati.
Dia menatapku lama, lalu mengangguk. "Aku paham. Kita semua punya luka yang tak ingin diceritakan."
Diam-diam aku menghela napas lega. Ia tidak menggali lebih jauh.
Tapi malam itu, saat aku kembali ke kamar, aku menangis. Menangis karena aku tidak tahu lagi siapa diriku sebenarnya. Anya si pengasuh? Atau Anya si pendendam?
Dan untuk pertama kalinya, aku bertanya pada diri sendiri, apa yang sebenarnya aku cari dari semua ini?
Hari kedua di vila, kami menghabiskan waktu di sungai kecil tak jauh dari belakang vila. Kirana bermain air, tertawa-tawa memercikkan kami berdua. Raditya menatapku sambil tertawa, bajunya setengah basah karena ulah putrinya.
"Kamu tahu, kamu berbeda dari pengasuh-pengasuh sebelumnya," katanya pelan, saat Kirana sedang memetik bunga liar.
"Beda bagaimana?" tanyaku, pura-pura tidak paham.
"Kamu... tidak merasa ini hanya pekerjaan. Kamu benar-benar hadir. Kirana tahu itu. Aku juga tahu."
Aku terdiam. Kalau saja dia tahu niat asliku saat pertama datang...
Namun kalimat berikutnya membuatku kaget.
"Aku ingin kamu tetap tinggal bersama kami. Bukan hanya sebagai pengasuh Kirana. Tapi... sebagai bagian dari keluarga ini."
Deg.
Aku ingin menjawab. Tapi kata-kata tercekat di tenggorokan.
Bagian dari keluarga?
Dia... serius?
Sebelum aku bisa berkata apa-apa, Kirana berlari ke arah kami, memeluk kami berdua bersamaan. "Aku suka kita main bareng!"
Raditya tertawa. "Ayo kita buat piknik kecil!"
Kami menggelar tikar, membuka bekal, dan makan bersama seperti keluarga kecil. Rasanya terlalu nyaman. Terlalu damai.
Dan sekali lagi, aku lupa bahwa aku datang untuk menghancurkan.
Namun damai itu tidak bertahan lama.
Malam ketiga, ponselku berbunyi.
Nomor tak dikenal.
"Anya? Ini aku, Devan."
Aku hampir menjatuhkan ponselku.
"Apa maumu?"
"Aku tahu kamu kerja di rumah Raditya. Kamu pikir kamu bisa membalas dendam begitu saja?"
Nafasku memburu. "Aku tidak tahu kamu bicara apa."
"Aku tahu kamu menyusup ke hidupnya. Tapi dengar baik-baik, Anya. Kalau kamu berani macam-macam, aku akan pastikan Raditya tahu siapa kamu sebenarnya."
Aku menggigit bibir. "Apa yang kamu takutkan? Kehilangan pekerjaan? Atau takut Raditya berpihak padaku setelah tahu kamu dan Siska menghancurkan hidupku?"
"Aku tidak datang untuk bertengkar. Aku cuma mau bilang... berhenti. Sebelum kamu hancur lagi. Ini bukan permintaan."
Sambungan terputus.
Aku terduduk di tepi ranjang. Nafas berat, tubuh gemetar.
Bagaimana jika dia benar-benar membongkar penyamaranku?
Pagi keempat di vila, aku lebih banyak diam. Raditya sempat bertanya, tapi aku hanya bilang kelelahan.
Kirana memelukku sebelum kami pulang. "Aku nggak mau kita pulang. Aku suka Kak Anya, suka Ayah, suka rumah ini."
Aku memeluknya erat. "Kita masih akan bersama, Sayang."
Tapi dalam hatiku, aku tidak yakin.
Karena benih kebohongan yang kutanam, mungkin akan tumbuh menjadi badai.
Dan saat badai itu datang... apakah Raditya dan Kirana masih akan memandangku dengan cara yang sama?
Malam harinya, kembali di rumah, aku membuka kotak kecil di bawah tempat tidur. Di dalamnya ada foto lama. Aku, Devan, dan... Siska. Tersenyum, bahagia. Foto yang sekarang terasa seperti mimpi buruk.
Aku mengambil korek api, menyalakannya. Kertas foto itu terbakar pelan. Namun rasa sakit di dalam dada justru semakin menjadi-jadi.
Samar, aku mendengar suara langkah kaki di luar kamarku.
Tok tok.
"Anya?" suara Raditya. "Kirana mimpi buruk. Dia nyari kamu."
Aku buru-buru padamkan api, menyimpan sisa foto yang gosong.
Saat membuka pintu, aku kembali mengenakan topengku.
"Baik, Pak. Saya akan temani dia."
Tapi di balik senyumku, hatiku... mulai berkhianat pada rencana yang dulu kupegang erat.
Anda Mungkin Juga Suka





