
Kakak Kelas Jahat itu Suamiku
Bab 3
Sekitar pukul 04.00 pagi
Seperti biasa Piona tertidur tapi akan berguling ke sana kemari. Ini kebiasaan buruknya yang selalu bergerak ketika tidur dan seketika itu Piona jatuh dari ranjang.
Namun, matanya tidak juga terbuka, tanganya meraih sesuatu disampingnya dan memeluknya seperti guling, gadis itu tidak sadar jika itu adalah Edwin. Pria bertubuh kekar yang juga tidur pulas sama sekali tidak membuka matanya bahkan dalam posisi nyaman dengan tidur terlentang, tangan kanannya tanpa sadar tertindih tubuh gadis cantik yang berpindah dengan cepat untuk meringkuk dilengannya.
Mereka tidak sadar gerakan itu saling memeluk dan Edwin yang merasa dingin dikakinya, ia menarik selimut sampai ke dadanya dan menutupi tubuh piona juga.
Pukul 06.00 pagi hari
Marta, mama Piona selesai memasak di dapur. Para bapak sedang membaca koran sambil minum kopi di teras belakang. Marta dan mama Piona mulai mebicarajan anak-anaknya itu dan berniat membangunkan mereka untuk sarapan.
"Piona ... Edwin ...! Bangun, sudah pagi Nak. Ayo sarapan!" Marta berteriak dari dapur.
"Jeng, kuncinya 'kan di kita?" Mama Piona memperlihatkan kuncinya.
"Astaga! Aku lupa, ayuk kita ke atas,Jeng!" Marta menarik sahabatnya untuk ke lantai atas.
Marta mengetuk pintu untuk membangunkan mereka berdua, tapi tidak ada satupun yang menjawab.
"Jeng, apa mungkin ..." Marta tersenyum dengan penuh berbagai bayangan. Mereka berdua akhirnya kesenangan karena rencana mereka kemungkinan berhasil.
Mereka berdua mengintip sebentar dan melihat anak mereka tidur dilantai sambil berpelukan.
"Yes, kita berhasil!" Marta mengangkat kelima jarinya dan di sambut ke lima jari sahabatnya-Eli.
"Mereka bisa semesra itu ya, Jeng?" kata li.
"Anak muda jaman sekarang, aku yakin mereka tidak akan bisa menolak untuk menikah. Setidaknya, yang mereka lakukan kali ini udah keluar batas dan hal itu bisa menjadi ancaman buat mereka." Marta tersenyum menyeringai seperti baru saja menang dalam sebuah pertandingan.
"Kamu benar-benar licik, tapi makasih kamu mau menerima anakku ya, Jeng." Eli memandang Marta sambil saling menggenggam.
"Sama-sama, Jeng." Marta pun ikut tersenyum.
Wanita setengah baya ini mengambil gawai di dalam kantong lalu mengabadikan momen manis anaknya.
Beberapa menit kemudian mereka berdua masuk ke dalam ruangan karena inilah waktu yang tepat untuk menyadarkan dua manusia berlainan jenis ini agar mereka sadar hari sudah pagi.
Pintunya dibuka perlahan dan Edwin sedikit demi sedikit menyeka matanya yang tidak mau terbuka, pria berambut hitam melihat kesamping kanan. Mengusap matanya sekali lagi, kali ini dia terdiam, ketika pintu yang satu dibuka lagi, barulah Piona membuka matanya dan mendapati rivalnya ada di sampingnya. Mereka berpandangan mata, heran, bingung dan bertanya-tanya.
Piona melihat ke arah pintu dan menatap Edwin lagi. Tanpa menunggu waktu, suara melengking terdengar memenuhi ruangan.
"Argh ...!" Teriakan ini membuat Edwin ikut berteriak juga, alhasil kedua wanita setengah baya menutup telinga mereka dengan kedua tangan.
"Apa yang kamu lakukan?" Piona menggertak sambil menyilangkan kedua tangannya di dada.
"Hei ... sadarlah kamu yang turun ke bawah, harusnya aku yang tanya begitu," jelas Edwin sambil mengernyitkan dahinya, tidak terima.
Piona tersadar dan mengacak-acak rambutnya, ia menyesali kebiasaan tidurnya yang buruk. Untuk mengalihkan keadaan yang bisa dilakukan gadis itu adalah melempar kesalahan ke orang lain.
"Dasar mesum, lalu kenapa kamu memeluku?"
"Siapa yang mesum? Jelas- jelas kamu duluan yang turun kebawah, aku pikir kamu guling."
Piona mengambil bantal dan melemparnya ke pria tampan di sampingnya.
"Enak aja bilang aku guling." Gadis manis itu terus melempari bantal ke arah pria berwajah bangun tidur.
"Mana aku tahu, berhenti melempariku!" Edwin yang tidak tahan ikut mengambil bantal dan membalas lemparan gadis yang disukainya ini.
"Dasar Edwin mesum, kamu cari kesempatan, 'kan?" Piona memukul Edwin dengan guling.
"Sakit, aku nggak mesum nggak nyari kesempatan juga. Berhenti nggak!" Pria tampan itu gagal menghentikan pukulan sang ratu kodok.
"Jangan mengelak, dasar cowok, mesum ya mesum. Otakmu di sapu dulu, biar bersih!"
"Eh ... sudah, sudah, jangan bertengkar!" Mereka akhirnya dilerai oleh kedua wanita cantik yang sedari tadi melihat pertengkaran mesra anak mereka.
"Sepertinya kalian udah melakukan ..." Marta mengisyaratkan hal- hal yang menjurus ke sana.
Keduanya yang sudah berhenti melempar bantal, sejenak saling menatap memikirkan maksud dan tujuan Marta.
Setelah menemukan jawaban yang dimaksud mereka berdua menghela napas bersamaan dan menggelengkan kepala.
"Yakin, nggak?"Marta mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan foto bahkan video yang dia rekam saat mengintip.
"Coba lihat sendiri, kalian masih bilang tidak melakukan apa-apa?"
Kedua orang mulai panik. "Ma, ini salah paham tadi aku--" Ucapan Edwin terputus.
"Apa?Mau mengelak, kira-kira kalau ini tersebar kalian gimana?" Ternyata ini senjata yang dimaksud oleh mama Edwin.
"Tante please, jangan tante!" Dengan spontan wanita yang berambut acak-acakkan ini mengatupkan tangannya dan memohon.
"Ma, tolong jangan melakukan hal diluar batas lagi, sini ma! Kasih ke Edwin." Pria itu ingin mengambil gawai yang di pegang mamanya tapi tidak berhasil.
"Oke, syaratnya cukup mudah. Kalian harus menikah dua hari lagi, aku tunggu kalian di bawah untuk sarapan, karena sebentar lagi desainer baju pernikahan dan cincin pernikahan akan datang." Wanita sang pemilik rumah dan Eli keluar dari kamar.
"Apa Tante? Aku 'kan masuk kuliah, Tante." Piona mengekori Marta sampai ke pintu.
"Kuliahmu sudah kubereskan, aku udah minta cuti dua minggu, lagian dosenmu bilang ke Tante kalau dua minggu ini banyak dosen yang cuti jadi tidak ada alasan lagi." Sepertinya Marta merencanakan dengan matang.
"Ih, Tante ..." Piona sangat kesal dan mengertakan kaki nya kelantai berkali- kali.
Edwin yang sedari tadi diam hanya memperhtikan Piona dari dalam kamar, ia terkikih kecil melihat tingkah calon istrinya.
Pria tampan itu mendekat ke samping Piona yang duduk di anak tangga.
"Apa kamu benar- benar sangat membenciku?Sampai- sampai kamu nggak mau menikah denganku?" Edwin berbicara sembari menatap lawan bicaranya.
Piona melirik ke arah rivalnya. "Nggak! Apa kata dunia kakak kelas tukang buli akhirnya nikah sama gadis yang di buli, aneh 'kan? Bukannya kamu nggak setuju sama pernikahan ini?"
"Hm ... kalau aku setuju menikah sama kamu gimana?"Edwin berkata sambil berdiri dan meninggalkan sang wanita di anak tangga. Piona terdiam baru menoleh menatap punggung pria yang meninggalkannya.
"Apa dia udah gila? Gawat, kalau dia sampai setuju. Siapa yang dukung aku buat nolak, dasar jahat!" Dengan perasaan yang masih kesal Piona naik lagi masuk ke dalam kamar untuk mandi.
***
Edwin selesai mandi mengenakan kaos dan setelan jas yang menutupi dada bidangnya itu, rambutnya yang masih basah di biarkan tanpa disisir. Aroma parfum sudah dipakainya diseluruh tubuh.
Edwin membayangkan setiap kejadian semalam dari balkon sampai ke dalam kamar. Ia tertawa sendiri di depan kaca.
"Apa aku jatuh cinta sama ratu kodok?" Pria bertubuh kekar ini berbicara sendiri masih dengan senyuman yang menghiasi wajahnya. Ia memutuskan untuk segera pergi ke ruang makan dan menemui seluruh keluarganya.
"Tante, aku pinjam baju yang ada di lemari boleh nggak? Piona nggak bawa ganti," tanya Piona ke tante Marta.
"Pakai saja semuanya, itu buat kamu kok Piona. Aku sengaja membeli baju wanita untukmu," jelas tante marta.
"Seriusan Tante. " Tiba-tiba muka gadis berparas menawan ini terlihat senang karena dapat pakaian baru.
"Serius dong, tapi kamu menikah dulu dengan Edwin, ya." Lanjut Marta sambil tertawa renyah.
Sedetik kemudian gadis cantik ini melipat wajahnya karena ujung-ujungnya adalah menikah yang ia dengar.
"Nak, menurutmu bagaimana dengan pernikahan ini, apa kamu setuju?" Tiba - tiba om Dodi-Papa Piona bertanya pada Edwin.
Mata Piona memberi isyarat tapi Edwin tidak peduli. "Aku udah bilang kok om, aku tidak keberatan dengan pernikahan ini."
Mendengar ucapan rivalnya, Piona seperti ingin melempar piring atau sendok sayur ke depan wajahnya, agar Pria itu sadar bahwa ini akan menjadi hal buruk untuk nasib keduanya.
Akhirnya, Piona hanya bisa menepuk jidat dan merutuki nasibnya.
"Baiklah jika sudah selesai kita ke ruang tengah karena para desainer sudah datang," ajak Marta yang sudah lebih dulu perni meninggalkan meja makan.
Hari itu semua persiapan diadakan dirumah, dari foto prawedding, baju pengantin bahkan cincin semua sudah siap. Piona dan Edwin yang sudah selesei makan langsung pergi ke ruang tengah.
Wajah Piona benar-benar tidak bersemangat, ia hanya menyodorkan senyum alakadarnya untuk menutupi kejengkelannya kepada Pria yang menyebalkan itu.
Akhirnya acara mencoba baju pengantin di mulai. Kedua belah pihak dari orang tua mereka duduk dan memberi pendapat ketika mereka keluar dari ruang ganti.
Sampai akhirnya pengantin pria yang tidak lain adalah Edwin sudah mendapatkan pilihanya. Kemudian dia menunggu baju yang akan dikenakan Piona kali ini.
Tirai akhirnya dibuka.
Semuanya mengacungkan jempol, mata Edwin tidak berkedip ketika Piona keluar dengan gaun panjang putih brokat yang terurai sampai ke lantai dilengkapi buket bunga dan segenap asesoris yang melekat ditubuhnya.
Pria itu terlihat fokus dan sangat terkesima. Jelas terlihat bahwa ia sangat mengagumi Piona.
Mama Edwin tiba-tiba mencuri pandang ke putra tunggalnya yang sedari tadi tidak berkedip memandang calon istrinya
"Ehemm ..."Marta berdehem sambil menyentuh lengan anaknya.
Spontan putranya menoleh, untuk melihat siapa yang mencolek tubuhnya.
"Bilang ke mama kalau kamu terpesona! " Goda wanita dewasa ini kepada anaknya.
"Nggak ma, biasa aja kok." Edwin mencoba menutupi kekagumanya.
Wajah Piona yang masih cemberut dipaksanya untuk tersenyum, walau hal ini sangat sulit, ia ingin sekali kabur dari tempat ini.
Para fotografer sudah siap, sang gadis cantik dan calon suaminya harus melakukan adegan mesra untuk foto pra-wedding.
Ada pengarah foto yang membuat mereka bingung sendiri saat menempatkan diri.
"Tangan Nona letakkan di dada Tuan!" Sang fotografer mencari posisi yang pas untuk mereka foto, saat meletakkan tangannya, Piona gemetar bahkan keringat dingin membasahi telapaknya. Edwin yang menikmati suasana ini, menatap wajah calon istrinya yang sangat terlihat gugup bahkan ragu untuk meletakkan tangannya.
Dengan cekatan, pria tampan itu menggenggam satu tangan wanitanya lalu memembantunya untuk melakukan perintah fotografer. Piona yang terkejut menatap mata calon suaminya. Ia menyadari jantungnya sudah berlari maraton di sana.
"Posisinya udah bagus, sekarang tangan Tuan letakkan dipinggang Nona dua-duanya!" Fotografer kembali mencari posisi yang tepat.
Edwin pelan meletakkan kedua tangannya di pinggang calon istrinya, ....
mereka berdua terpaku sejenak dengan pikiran masing-masing ketika mata mereka bertemu lagi. Bayangan ciuman semalam juga menghiasi pikiran mereka masing-masing. Adegan yang mulai terlihat natural tidak sia-siakan oleh sang fotografer.
"Oke bagus, sudah selesai."Kata fotografernya .
Mereka menarik diri mereka masing- masing, tanpa menunggu wanita bergaun pengantin melesat pergi mencari minum, ia menahan kegugupannya sejak tadi yang membuat tenggorokannya terasa kering. Ia mengelus dadanya pelan agar lebih tenang. Dari kejauhan sang pria terkikih melihat Piona yang masih sangat gugup.
Waktunya memilih cincin pernikahan.
Disini Piona benar- benar tidak berselera untuk memilih. Karena hal itu calon mertuanya yang memilih cincin untuk mereka.
Akhirnya, persiapan pernikahan ini selesai. Terasa berat di benak Piona tak ada yang bisa terbayangkan dari pandangan masa depannya. Piona mengikuti arus yang ada, karena tidak bisa menolak perjodohan yang mendadak ini.
Anda Mungkin Juga Suka





