
Kaka Iparku Brengsek
Bab 2
“Ada kecoak di kamar mandi, kak Aldo Nadia takut.”
Sumpah Nadia benci yang namanya kecoak, baru saja wanita masuk ke dalam kamar mandi dia muncul dari WC Nadia menjerit lalu kembali keluar dari kamar mandi, dan dia lebih terkejut karena kakak iparnya ternyata kembali ke kamar dalam keadaan tubuhnya yang hanya mengenakan sehelai handuk saja, Nadia malu dengan penampilannya namun rasa takut mengalahkan segalanya. Kak Aldo akhirnya membuka kamar mandi dan memeriksanya, Nadia pun mengikuti Aldo dari belakang.
“Mana kecoaknya?” tanya Aldo saat masuk memeriksa kamar mandi, sementara Nadia lihat kecoak tersebut seolah mempermainkannya, Nadia menggenggam tangan kak Aldo karena takut. Namun sosok makhluk menjijikkan itu tidak terlihat lagi.
“Tadi di WC, Kak, Nadia takut.”
Aldo melangkah menghampiri WC, dia menggeleng dan tidak menemukan kecoak.
“Tidak ada Nadia, kecoaknya tidak ada.”
“Tapi Kak.” Nadia bergelayut manja menggenggam tangan kanan Aldo karena memang Nadia sangat takut.
Aldo melirik tubuh Nadia dari atas sampai bawah seketika Nadia menjadi salah tingkah di buatnya, dia pun tersenyum dan menggeleng.
“Kamu mau mandi? Sekarang sudah aman tidak ada kecoak lagi.”
Aldo memegang kedua bahunya, meyakinkan agar Nadia tidak takut lagi, sebelum akhirnya dia keluar dari kamar mandi.
Nadia menghela napas sambil menatap dinding kamar mandi tersebut melihat apakah makhluk itu ada di sekitar kamar mandi atau memang sudah pergi. Nadia mulai menyalakan shower untuk membersihkan tubuhnya yang terasa lengket setelah selesai, dia langsung menjatuhkan diri di kasur untuk beristirahat.
Sore harinya setelah Nadia bangun dari tidur, Nadia mencium aroma bau makanan masuk ke indra penciumannya, sambil menguap Nadia menggeliat bebas, rasanya dirinya sudah tidur cukup lama, karena Nadia merasakan tubuhnya remuk, akibat lamanya perjalanan tadi dengan kak Aldo.
Nadia melihat jam di dinding kamar sudah menunjukkan pukul lima sore, namun belum tampak kehidupan terdengar, Nadia tidak melihat Ka Tasya masuk menemuinya. Nadia pun bangkit dengan malas kemudian membersihkan diri dan berniat akan turun ke lantai bawah untuk memastikan kak Tasya sudah pulang atau belum.
Seperti biasa saat mandi Nadia pasti bernyanyi dan memang paling lama, Nadia belum bisa mengubah kebiasaan buruk itu dan bisa jadi Nadia menghabiskan waktu lama bila di kamar mandi. Nadia mengenakan kaos santai dan celana panjang begitu menuruni anak tangga, mungkin saja kak Tasya memang sedang sibuk memasak di dapur sehingga belum sempat menemuinya ke lantai atas.
Nadia memeriksa dapur, namun Nadia mengerutkan kening saat melihat bukan kak Tasya melainkan kak Aldo Kakak iparnya sedang memakai celemek seperti koki dan seperti tengah sibuk.
Nadia menghela napas sebelum akhirnya menghampiri kakak iparnya.
“Kak, memang kak Tasya belum datang, Ini Kak Aldo masak apa?” tanya Nadia sambil mendekatinya. Kak Aldo hanya melirik sekilas kemudian menjawab pertanyaan itu.
“Kak Tasya mendadak bilang mau lembur, Kakak sudah beli bahan sebelumnya untuk biar dia masak supaya kita makan sore sama-sama tapi barusan dia kabari Kakak bakalan pulang malam.”
Nadia melihat Kak Aldo seperti sudah terbiasa masak, terlihat pria itu tampak tidak ragu lagi, bahkan dia seperti semangat memasak sesuatu, Nadia pun jadi tidak enak karena mungkin saja semua ini gara-gara kedatangannya, jika tidak ada Nadia, mungkin saja kak Aldo bisa makan di luar tanpa harus masak banyak.
“Boleh Nadia bantu, Kak.”
Nadia mulai mengambil pisau dan mengambil alih bawang yang berada di tangan kak Aldo, pria itu mengangguk dan membolehkan membantunya, sore ini ternyata kakak iparnya membuat gurami saus lada hitam dan ukurannya pun sangat besar, dia juga memasak cumi goreng kesukaan kak Tasya dan Nadia pun sangat menyukainya.
Semua terlihat istimewa dan kak Aldo terlihat senang saat menghidangkan hasil masakannya di meja makan, walau Nadia melihat ada bulir keringat di dahi kakak iparnya itu.
“Kak Maaf,” Nadia mengambil tisu dan mengelap keringat di dahi Kak Aldo, seketika pria itu terdiam dan kemudian mencegah untuk mengelap keringatnya.
“Terima kasih Kakak memang sangat gerah.”
Dirinya duduk di meja makan sambil melihat Kak Aldo merapikan dapur, Nadia suka dengan pria seperti kak Aldo yang seolah tidak gengsi mengerjakan apa pun dan bisa segalanya, padahal pria itu bukan pria pengangguran dia sama sibuknya jika hari kerja.
“Kamu sudah melihat kampusnya? Kapan mulai masuk Nadia.” Kak Aldo bertanya sambil membuka celemeknya. Dia ikut duduk sambil memegang gelas yang berisi air putih.
“Belum sih, Nadia baru saja ke sini, Kapan Nadia ke kampus, besok bilangnya sudah mulai ospek Kak, tapi Nadia sudah diberitahu lewat grup mahasiswa baru oleh pihak kampus.”
“Bagus, kalau begitu. Dari sini jaraknya memang tidak terlalu jauh tapi kayanya kak Tasya dan kak Aldo tidak bisa mengantar kamu.”
“Tidak masalah, Kak. Nadia bukan anak kecil lagi.”
Saat Nadia dan Aldo sedang mengobrol, tiba-tiba saja suara mobil terdengar berhenti di depan. Nadia pikir itu pasti kak Tasya, karena memang ini sudah mendekati magrib.
“Kayanya Kak Tasya datang,” ucap Aldo, pria itu bangkit dan menghampiri ke depan, dan Nadia pun mengikutinya dari belakang karena sudah tidak sabar bertemu dengan kakaknya.
Kak Tasya tersenyum sambil menutup pintu mobilnya, dia berjalan mendekat dan langsung memeluk suaminya.
“Maaf aku telat, Pak Burhan sedikit resek hari ini aku sangat lelah.” Tampak Aldo membalas pelukan erat kak Tasya, lagi-lagi bagi Nadia keduanya memang pasangan yang sangat serasi Nadia senang melihat kak Aldo terlihat begitu menyayangi kak Tasya.
“Aku buatkan makanan spesial sore ini untukmu.” Kak Tasya mengangguk terlihat senang dia menoleh ke arah adiknya dan langsung memeluknya, ada bulir air mata yang tumpah begitu saja, dia meminta maaf karena terlalu mementingkan pekerjaan dibandingkan pulang menjemput adiknya dan menemui Ibu.
"Ibu maklum kok, Kak. Kak Aldo sudah mengatakanya dan dia juga bilang jika ada waktu Ibu akan ke sini apa lagi Nadia sekarang sudah di sini.”
Aldo langsung mengajak kak Tasya ke meja makan, terlihat Kak Tasya sangat senang karena semua menu makanan adalah makanan kesukaannya.
“Begini Nadia, Kakak Iparmu ini memang telaten kalau di tinggal, dia tidak pernah mengeluh dan selalu banyak inisiatif.”
“Aku dibantu Nadia juga, ternyata dia sudah pandai masak.”
“Kamu sudah dewasa Nadia bukan anak SMA lagi, harus serba bisa apa lagi perempuan, bentar lagi kamu punya pacar dan menikah.”
“Nadia belum memikirkan itu, pacar aja belum punya.”
“Ibu masih melarang kamu pacaran?”
Nadia mengangguk, memang kenyataannya seperti itu. Kak Tasya tersenyum seolah menertawakan Nadia.
“Sekarang Kakak sudah boleh izinkan kamu pacaran, tapi kamu harus tahu batasan,” kata kak Tasya sambil tersenyum pada Nadia, dia mengatakan jika pacaran hal yang wajar.
“Tidak, Nadia masih ingin fokus kuliah, Kak.”
Mereka pun makan malam bersama, setelah selesai, Nadia duduk di sofa santai sambil menonton televisi sementara kak Tasya dia lihat masuk ke kamarnya bersama kak Aldo mungkin keduanya tengah beristirahat, dirinya pun tahu jika kak Tasya mungkin sangat lelah.
“Eum ….” Nadia mengerjapkan mata sebentar menahan kantuk saat tangan seseorang mengguncangkan tubuhnya, rupanya Nadia tertidur di ruang televisi. Dan kak Aldo membangunkannya.
“Bangun, Nadia pindah ke kamar sana.”
Nadia menghirup aroma kopi yang menyeruak ke hidung, Aldo memang menaruhnya tepat di meja dekat dengan wajahnya.
“Boleh Nadia tidur di sini, Kak. Nadia malas jika naik tangga Nadia sangat mengantuk,” jawabnya asal. Nadia bisa melihat samar-samar jika Aldo sedang mencari sesuatu dan dia mendekatinya lalu berjongkok Nadia tersentak kaget apa yang hendak Aldo lakukan pada Nadia, dia menghampiri tubuhnya lalu tangannya menyelinap di belakang tubuh Nadia.
Nadia menjerit ketakutan, dia pun membungkam mulut Nadia dengan tangan kanannya.
Anda Mungkin Juga Suka





