
Kaka Iparku Brengsek
Bab 3
Pagi-pagi Ka Tasya sedikit berdebat dengan suaminya sambil menyiapkan keperluan kantornya, Nadia pikir topiknya bukan dirinya, namun langkah kakinya berhenti menuruni anak tangga saat mendengar nama Nadia yang disebut.
“Nadia itu adikmu, jadi tolonglah sedikit berkorban kau tidak bisa terlalu mementingkan pekerjaan, ini Jakarta Tasya, kasihan Nadia dia belum paham bagaimana bahayanya di sini.” Entah apa yang mereka debatkan Nadia pun tidak paham, tapi terlihat kakaknya tampak kesal pada suaminya.
“Kamu tidak paham posisiku, Aku hanya pegawai sementara kamu bos kamu bisa kapan saja berangkat sesukamu sementara Nadia harus tepat waktu, Ayolah Aldo kau harus paham itu, Nadia ingin tidak mengecewakan Nadia, kasihan jika dia harus pergi sendiri ke kampus sementara dia belum pernah ke sana.”
“Dan aku yang selalu harus mengalah, aku tidak bisa mengantarkan Nadia, besok-besok aku siapkan mobil dan sopir untuk Nadia!” ucap Aldo terlihat kesal, Nadia baru tahu jika perdebatan keduanya tidak sempat mengantar jemput Nadia, padahal sudah Nadia bilang semalam pada kak Tasya jika dirinya bukan anak kecil lagi.
“Aku tidak mau menambah pengeluaran lagi, hanya kali ini aku mohon lagian Nadia sama saja adik kamu.”
Aldo menghembuskan napas kasarnya, lagi-lagi dia tidak bisa menolak keinginan istrinya yang harus mengantarkan Nadia, Nadia mendekati keduanya di ruang makan lalu menggeserkan satu kursi untuk dirinya bergabung dengan mereka yang sudah rapi hendak ke kantor.
“Nadia tidak perlu kak Aldo antar, Kak Tasya. Nadia bisa naik taksi banyak juga ojek Online. Kalian tidak perlu merasa repot hanya karena ada Nadia.” Nadia sengaja mengatakan itu karena merasa tidak enak dengan kak Aldo, Nadia merasa kasihan karena kakak iparnya selalu disuruh oleh kak Tasya dan tidak mampu menolaknya.
“Kalian boleh kerja, Nadia bisa naik taksi ke kampus.”
“Tidak bisa, kamu tidak boleh sendiri ke kampus, lagian kamu belum tahu betul Jakarta Nadia, Kakak khawatir lagian Kak Aldo direktur dia bisa kapan saja masuk kantor tanpa berpatokan dengan waktu.”
Nadia melirik sedikit raut wajah Kakak iparnya, seketika pria itu mengangguk, Nadia yakin semua karena kecintaan dirinya pada kak Tasya dia begitu rela melakukan semuanya.
Setelah selesai sarapan, Kak Tasya mengambil kunci mobilnya lalu berpamitan pada Aldo, sedangkan Nadia pun bersiap-siap berangkat ke kampus.
“Nadia agak sedikit cepat ya, Kak Aldo ada meeting hari ini.”
“Loh kok Kak Aldo enggak bilang sih jika ada meeting, Nadia enggak bisa buru-buru.” Nadia naik ke atas untuk berganti pakaian, Nadia merasa tidak enak karena kak Aldo tetap memaksa untuk mengantarnya meski ternyata pria itu sangat sibuk dengan pekerjaan kantor.
Nadia tahu mungkin Aldo malas berdebat begitu panjang dengan istrinya sehingga memutuskan untuk memenuhi keinginan istrinya untuk mengantarkan Nadia padahal kenyataannya dirinya pun ternyata sedang buru-buru. Nadia memakai jeans dan kemeja kotak-kotak serta rambut di kucir kuda berdandan seadanya karena Nadia tidak begitu suka berdandan tebal. Karena melihat Aldo buru-buru Nadia pun tidak enak hati dan langsung menuruni anak tangga menghampirinya di kursi tamu.
“Lets go!”
Aldo melihat penampilannya dari atas sampai bawah, mungkin dalam hatinya Nadia tidak terlalu ribet sebagai seorang perempuan karena memang Nadia hanya membutuhkan waktu lima menit untuk berdandan beda halnya dengan mandi.
“Pakai sabuk pengamanmu.”
Aldo memperingati, Nadia mengangguk mulai memakai sabuk pengaman tersebut, Nadia diantar sampai depan gerbang kampus, wanita itu hendak keluar namun Aldo memanggilnya dan mengatakan jika dia akan menjemputnya kembali saat jam pulang kampus.
“Kak Aldo hanya bisa antar sampai sini, ini kampusmu, kamu bisa tanya ke Kakak senior jika kamu ingin bertanya-tanya tentang kampus ini, pulang ngampus nanti Kakak jemput lagi.”
Nadia mengangguk, dirinya memang belum memiliki teman di sini, dan Nadia senang jika Kakak iparnya akan menjemput setelah selesai kuliah.
Waktu sudah menunjukkan pukul empat sore, Nadia merasa lelah setelah seharian berada di kampus memperhatikan kakak senior yang memberikan materi ospek hari ini, Nadia mulai bingung karena baru memiliki beberapa teman saja dan mereka pun membawa kendaraan sendiri sementara Nadia menunggu kakak iparnya di halte depan gerbang kampus.
Beberapa catatan sudah Nadia tuliskan di buku untuk di bawa esok harinya, Nadia tidak tahu harus membeli di mana karena memang masih asing di Jakarta.
“Ayo masuk.”
Nadia melihat kak Aldo membuka kaca mobilnya dan menyuruh Nadia buru-buru masuk ke dalam mobilnya, dengan cepat Nadia masuk dan duduk di samping kemudi. Nadia melambaikan tangan pada Siska teman yang baru saja Nadia kenal hari ini, wanita itu sedang menunggu taksi Online.
“Besok-besok Kak Aldo tidak perlu mengantar jemputku, Nadia jadinya merepotkan kakak, Nadia tahu jika Kakak sangat sibuk.”
“Tidak apa-apa, Kakak sudah selesai bekerja, kamu mau ke mana dulu, apa mau langsung pulang?”
Nadia sampai tidak percaya jika Kakak iparnya memberikan penawaran, awalnya Nadia malu namun tidak ada lagi yang mengantarkan Nadia untuk membeli peralatan untuk besok selain Aldo.
“Nadia harus beli sesuatu untuk besok.” Nadia membuka tas untuk melihat catatan yang dirinya sudah catat lalu memberi tahu pada Kak Aldo. Pria itu langsung paham dan membawa Nadia ke sebuah Mal dan menunjukkan satu toko yang terdapat perlengkapan kain dan peralatan lainnya untuk besok ospek. Dia ikut masuk dan menemani Nadia belanja, dia juga tidak membolehkan Nadia untuk mengeluarkan sepeser pun dari uang sakunya, dia yang membayar semua keperluan, Mungkin Kak Tasya yang sudah menyuruhnya.
Setelah pergi ke beberapa toko untuk membeli keperluan untuk besok, kak Aldo mengajak Nadia berkeliling dia mengatakan ingin membeli kemeja baru untuk bekerja. Nadia hanya memperhatikan dengan seksama sambil berdiri memainkan ponselnya, namun tiba-tiba saja dia meminta pendapat dua kemeja yang berada di kedua tangannya.
“Nadia menurut kamu bagus yang mana?” Nadia sedikit terkejut karena Kak Aldo meminta pendapat pada Nadia, dan Nadia pun berpikir sejenak menimang mana yang menurutnya bagus.
“Nadia pikir bagus warna ini Kak, terlihat soft.” Nadia menunjuk warna kemeja biru muda yang berada di tangan kirinya, dia pun tersenyum lalu mengangguk memberikan ini pada pelayan toko.
“Ayo biar kamu sekalian?”
Nadia merasa tidak enak hati Kak Aldo menawarkan pakaian untuknya, dengan senang hati Nadia tidak menolaknya karena kebetulan Nadia sempat melirik celana jeans dan kemeja yang menarik perhatiannya sejak dari tadi. Nadia pun tidak segan meminta pendapat kak Aldo.
“Ini cocok gak Kak?” kata Nadia setelah keluar dari tempat ganti memperlihatkan pakaian yang Nadia coba.
“Eum, Nadia pikir kamu cocok pakai apa pun karena badanmu tinggi, itu bagus di tubuhmu.”
Aldo terlihat memegang ponselnya dan memotretnya, mengatakan jika akan dikirimkan pada kak Tasya jika kami sedang berada di Mal. Entah benar atau tidak Nadia pun tidak tahu.
Sebelum pulang kak Aldo pun mengajak Nadia makan bersama, Nadia senang karena begitu diperhatikan oleh kakak iparnya sendiri, Nadia juga ditawarkan beberapa makanan yang enak dan terasa asing di lidahnya maklum karena Nadia berasal dari desa. Setelah puas berbelanja dan makan akhirnya kami pun pulang.
Nadia melihat ada gurat kelelahan di wajah Kakak iparnya, dengan cepat Nadia mengambilkan minum air putih dingin untuknya saat dia duduk di kursi santai. Karena biar bagaimana pun dia sudah cukup banyak membantunya.
“Sebentar ya Kak, Nadia ambilkan air dingin dulu.”
Aldo mengangguk dia mengambil ponsel dari kantong celananya kemudian menjawab panggilan dari seseorang. Tidak lama Nadia pun kembali membawa satu gelas air dingin dan menghampiri Aldo, namun Nadia terkejut bukan main karena melihat kakak iparnya sedang mengamati gambar wajah di ponselnya ,sambil mengusap layar ponsel itu, foto itu foto tadi saat Nadia sedang berpose memperlihatkan baju pada dirinya.
Anda Mungkin Juga Suka





