
Jodoh Pilihan Oma
Bab 2
Di sepanjang perjalanan menuju rumah, hujan mulai turun deras, menciptakan irama menenangkan di atas atap mobil. Kayla duduk di kursi belakang, sesekali mencuri pandang ke arah Dion yang mengemudi dengan tenang. Rasa gugup masih menyelimuti dirinya, tetapi kehadiran Dion dan Nenek Melati sedikit demi sedikit membuatnya merasa aman.
"Kayla," Nenek Melati memulai pembicaraan, suaranya lembut, "kalau boleh tahu, apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa kamu bisa berada di tempat itu?"
Kayla terdiam beberapa saat, menimbang-nimbang apakah ia harus menceritakan kebenaran. "Saya... saya baru saja kabur dari orang-orang yang mencoba memanfaatkan saya, Bu. Mereka ingin menjual saya..."
Kalimat itu terputus oleh suara tangisnya yang tertahan. Air mata mulai mengalir di pipinya, membuat Nenek Melati tertegun. Wanita tua itu meraih tangan Kayla, menggenggamnya erat.
"Ya ampun, Nak. Kamu pasti sudah melalui banyak hal," ujar Nenek Melati, matanya menunjukkan rasa iba yang mendalam. "Tapi percayalah, kamu tidak sendiri lagi. Kamu sekarang bersama kami."
Dion hanya diam mendengarkan. Ia tidak ingin mendesak Kayla untuk bercerita lebih banyak, tetapi hatinya merasa sesak mendengar apa yang dialami gadis itu.
Ketika mereka tiba di rumah, Nenek Melati langsung membawa Kayla masuk ke ruang tamu yang hangat dan nyaman. Dion, sementara itu, menyiapkan minuman hangat di dapur.
"Duduklah, Nak," ujar Nenek Melati sambil menunjuk sofa empuk di dekat perapian. "Kamu pasti lelah. Minumlah teh ini nanti, Dion sedang menyiapkannya."
Kayla hanya mengangguk. Matanya terus memandang ke sekeliling ruangan, melihat betapa megah tetapi bersahajanya rumah itu. Dindingnya dipenuhi foto-foto keluarga, salah satunya foto besar Dion bersama Nenek Melati.
"Rumah ini indah sekali," bisik Kayla tanpa sadar.
"Oh, ini hanya rumah tua," jawab Nenek Melati sambil tersenyum. "Tapi rumah ini selalu penuh kenangan. Aku harap kamu juga bisa merasa nyaman di sini."
Beberapa menit kemudian, Dion datang membawa nampan berisi dua cangkir teh dan beberapa biskuit. Ia meletakkannya di meja dan duduk di kursi seberang Kayla.
"Minumlah," ujar Dion singkat.
Kayla mengambil cangkir itu dengan tangan gemetar. "Terima kasih."
Mereka bertiga duduk dalam diam, hanya ditemani suara api yang berderak di perapian. Nenek Melati akhirnya memecah keheningan.
"Kayla, apakah kamu punya keluarga? Seseorang yang bisa kami hubungi?"
Pertanyaan itu membuat Kayla kembali menunduk. Wajahnya tampak murung. "Tidak ada, Bu. Saya... saya yatim piatu. Sejak kecil, saya tinggal di panti asuhan. Tapi beberapa tahun lalu, saya keluar untuk mencari pekerjaan. Dari situlah semuanya mulai kacau."
Nenek Melati menatapnya penuh simpati. Ia menepuk-nepuk bahu Kayla dengan lembut. "Kalau begitu, anggap saja kami keluargamu sekarang. Kamu bisa tinggal di sini selama yang kamu butuhkan."
Dion yang sedari tadi diam akhirnya angkat bicara. "Tapi, Nek... apakah aman bagi kita membawanya ke sini? Bagaimana jika orang-orang yang mengejarnya tadi masih mencarinya?"
Nenek Melati menoleh ke arah cucunya, matanya penuh keyakinan. "Dion, kadang kita harus mengambil risiko untuk membantu sesama. Lagipula, aku tidak bisa membiarkan gadis ini kembali ke jalan tanpa perlindungan."
Dion mengangguk pelan, meski hatinya masih diliputi keraguan. Namun, ia tidak bisa membantah neneknya. Ia tahu betapa besar hati wanita tua itu.
Kayla tersenyum tipis meski matanya masih berkaca-kaca. "Terima kasih. Saya tidak tahu bagaimana harus membalas kebaikan kalian."
"Kamu tidak perlu memikirkan itu sekarang," jawab Nenek Melati. "Yang penting, kamu harus pulih dulu. Besok, kita akan bicara lebih banyak."
Malam yang Mengubah Segalanya
Malam itu, Kayla diberi kamar di lantai atas. Kamarnya kecil tetapi nyaman, dengan jendela besar yang menghadap taman belakang rumah. Ketika Kayla akhirnya merebahkan diri di tempat tidur, ia merasa seolah berada di dunia lain. Setelah bertahun-tahun hidup dalam ketakutan, malam ini ia merasa sedikit tenang.
Namun, di lantai bawah, Dion dan Nenek Melati masih berbicara di ruang tamu.
"Nek," ujar Dion dengan nada serius, "apa yang sebenarnya Nek pikirkan? Kita tidak tahu apa-apa tentang dia. Bagaimana kalau dia membawa masalah besar ke rumah ini?"
Nenek Melati menatap cucunya dengan tatapan tajam. "Dion, kamu harus belajar untuk lebih percaya pada orang lain. Kayla adalah gadis baik. Aku bisa melihat itu dari matanya."
"Tapi, Nek..."
"Tidak ada tapi-tapian. Ingat, Dion, kita tidak bisa memilih siapa yang membutuhkan bantuan kita. Jika Tuhan menempatkan dia di jalan kita, pasti ada alasan untuk itu."
Dion terdiam. Ia tahu tidak ada gunanya berdebat dengan neneknya. Namun, dalam hati kecilnya, ia merasa ada sesuatu yang berbeda tentang Kayla.
Malam itu, meski tubuhnya lelah, Dion tidak bisa tidur. Pikirannya terus dipenuhi pertanyaan tentang Kayla. Siapa sebenarnya dia? Dan kenapa takdir seolah membawa mereka bertemu di tengah situasi yang begitu rumit?
Sementara itu, di kamar atas, Kayla juga tidak bisa memejamkan mata. Ia teringat peristiwa tadi sore, bagaimana Dion dengan berani melindunginya. Tanpa sadar, bibirnya membentuk senyuman kecil.
Malam yang sunyi itu menjadi awal dari perubahan besar dalam hidup mereka. Sebuah cerita yang baru saja dimulai, penuh dengan liku-liku, tantangan, dan-mungkin-cinta yang tak terduga.
Anda Mungkin Juga Suka





