
JODOH DEPAN RUMAH
Bab 3
BAB 3
APARTEMEN
"Kak Bagas, gue boleh tanya gak?"
"Tanya apaan?"
"Eeeee, itu. Tentang ...eeeee …."
"Mo tanya apa sih? A e a e. Gak jelas banget."
"Itu, mau tanya tentang kak Kirana. Memangnya dia gak ada hubungi kakak gitu?" tanya Naura hati-hati.
Bagas terdiam. Jujur, hatinya masih sakit menerima kenyataan ini. Seharusnya hari ini dia sedang berbahagia karena menikah dengan gadis yang dia cintai.
Tapi kenyataannya, gadis itu pergi tanpa sebab. Tanpa memberi kabar. Dia tidak tahu apa kesalahannya. Kenapa Kirana begitu tega melakukan semua itu.
"Maafin gue ya, Kak. Gue gak bermaksud menyinggung perasaan kakak," ujar Naura yang merasa tidak enak.
"Gue juga gak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Kalo memang gue melakukan kesalahan, seharusnya dia ngomong. Tidak seperti ini. Tiba-tiba menghilang tanpa kabar. Sudahlah, tidak usah dibahas. Gue mau tidur," ujar Bagas sembari beranjak ke kamarnya.
Naura yang merasa tidak enak pun, akhirnya masuk ke kamarnya juga.
************
Pagi ini Naura memulai hari pertamanya sebagai istri. Setelah bangun tidur, dia bergegas menuju dapur dan membuka kulkas.
"Di kulkas cuma ada telur doang. Bikin omelet dan sandwich ja deh. Ada roti juga di meja makan," katanya pada diri sendiri.
Tidak lama kemudian semua sudah siap. Dia juga menyeduh secangkir kopi hitam untuk suaminya dan teh hangat untuk dirinya sendiri.
"Wuih, nyonya Bagas jam segini sudah sibuk ja nih. Bikin apaan?" tanya Bagas yang tiba-tiba muncul.
"Iiiiih… Kak Bagas! Bikin kaget saja. Di kulkas cuma ada telur doang. Jadi gue cuma bikin omelet sama sandwich. Tuh, dah tak bikinin kopi juga. Yuk sarapan!" ajak Naura.
"Kamu gak masuk kuliah?" mereka sarapan sambil berbincang.
"Masuklah. Habis ini siap-siap. Kan, kemarin gak ada izin cuti. Orang dadakan."
"Ya udah, ntar gue anterin. Gue cuti 3 hari."
"Iya, Kak. Hari ini cuma ada satu mata kuliah ja kok. Pulangnya dijemput gak? Nanti sekalian mampir belanja, ya! Di kulkas g ada apa-apa."
"Emang elu bisa masak?"
"Bisalah. Enak saja. Mama pasti ngomel-ngomel kalo anak gadisnya gak mau bantuin di dapur. Kata mama, nanti kalo gue sudah nikah, gue harus bisa memanjakan suami dengan masakan gue. Biar makin lengket."
"Bener tuh. Oke ntar pulang gue jemput sekalian belanja."
"Sip."
*************
"Naura…! Sini!" teriak Prilly, sahabat dekat Naura.
"Tumben gak bawa mobil sendiri. Siapa tadi yang nganterin? Jangan bilang gebetan elo ya! Kasin ntar si Nico patah hati lagi," imbuhnya.
Naura hanya bisa nyengir.
"Itu tadi dianterin kak Bagas. Mobil gue masih di bengkel. Iya,di bengkel," ujar Naura. Dia tidak tahu harus mulai dari mana untuk menceritakan tentang pernikahannya.
"Ih … kok kak Bagasnya gak diajak turun, sih! Kan, gue mau mengagumi ketampanannya!" ujar Prilly.
"Idih … lebay!" cibir Naura.
"Halo, Cantik! Wuih, dah nongkrong ja nih! Ntar pulang kuliah jalan yuk! Ada pembukaan kafe baru di simpang lima," ujar Nico yang tiba-tiba nongol.
"Wah,boleh juga tuh. Daripada bete di rumah. Bagaimana, Ra?" tanya Prilly.
"Aduh, sori banget ya. Gue gak bisa. Ntar gue dijemput kak Bagas."
"Tumben elu mau-mau saja diantar jemput sama tuh orang. Biasanya paling ogah secara dia kan jahilnya 11 12 sama kak Marchel,"ujar Prilly curiga.
Prilly memang sahabat dekat Naura sejak SMA. Jadi, dia tau banyak tentang keluarganya.
"He……..," Naura hanya bisa nyengir kuda.
"Elu beneran gak bisa, Ra? Yach, gue kecewa dong," ujar Nico.
"He……. sori ya, Nic! Mungkin lain kali."
"Oke deh. Ya udah,yuk, masuk kelas! Tuh, pak Adnan sudah datang."
Mereka bertiga bergegas masuk kelas.
*************
"Udah? Itu doang belanjanya?" tanya Bagas. Sekarang mereka sedang belanja di mall dekat apartemen.
"Iya, gue rasa udah cukup."
"Elu gak pengen beli apa-apa? Baju, tas, sepatu?"
"Emang kak Bagas mau beliin?"
"Ya elah, Ra! Kan elu dah jadi istri gue. Jadi tanggung jawab gue. Ya pasti gue nafkahin lah. Meskipun gue belum bisa kasih nafkah batin, paling gak gue kasih elu nafkah lahir dulu."
"Ish, kak Bagas. Apaan sih," ujar Naura.
Wajahnya merah merona mendengar Bagas membahas masalah nafkah batin.
"Ngapain wajahnya malu-malu gitu? Mau, ya?" goda Bagas sambil menaikturunkan alis.
"Mana ada? Situ kali yang ngarep? Secara, setiap hari kan lihat kecantikan dan keanggunan gue," jawab Naura pongah untuk menutupi kegugupannya.
Bagas tertawa terbahak. Melihat itu, Naura memajukan bibirnya. Cemberut.
"Udah selesai belum ketawanya? Kalo udah, ayo pulang! Gue capek!"
"Beneran gak pengen beli apa-apa?"
"Gak. Udah, itu aja."
"Ya udah. Yuk, makan siang di food court ja sekalian! Keburu laper."
"Ayoklah!"
Tiba-tiba, ada yang menyapa Naura.
"Naura!"
"Uhuk …." Naura tersedak. Suaranya terdengar familiar.
"Ini, minumlah!" Mereka berdua menyodorkan minuman.
"Terimakasih, Kak!" Naura menerima minuman dari Bagas.
"Siapa dia?" tanya Bagas menunjuk pria yang ikut duduk di meja mereka.
"Kenalkan, gue Nico. Teman dekat Naura," ujar Nico sambil mengulurkan tangannya.
"Teman dekat?" tanya Bagas sambil mengernyitkan dahi.
"Bukan, Kak! Itu ….”
"Ayo kita pulang!" ujar Bagas sembari menarik tangan Naura.
********
"Maaf, Kak!" ujar Naura saat sudah di mobil.
"Jadi, elo sudah punya pacar?" tanya Bagas.
"Bukan, Kak! Nico itu hanya teman kuliah gue!"
"Sepertinya dia suka sama lo! Ya, kan?"
Naura tak menjawab.
"Gue gak akan menghalangi lo dekat dengan siapapun, cuma pesan gue, jangan sampai orang tua kita tahu."
Naura menunduk terdiam.
***********
Satu Minggu telah berlalu.
Hubungan mereka masih seperti sebelumnya.
"Kak, mulai besok, gue bawa mobil sendiri, ya!" ujar Nura saat makan malam.
"Memangnya kenapa? Biasanya, bareng gue!"
"Gue gak mau ngrepotin Kak Bagas terus-terusan!"
"Terserah lo, deh! Yang penting, hati-hati dan jangan keluyuran!"
"Siap, Bos! He …."
"Gue serius. Lo udah jadi tanggung jawab gue. Jadi, kalo ada apa-apa sama lo, pasti gue yang disalahin."
"Iya, iya! Bawel!" jawab Naura sambil ngedumel.
"Apa kamu bilang?"
"He … gak kok! Ayo, lanjut makannya!"
*********
"Ra, lo bawa mobil, gak?” tanya Prilly.
"Bawa. Kenapa?" tanya Naura.
"Makan di tempat biasa, yuk! Udah lama kita gak hang out bareng!" ujar Prilly.
"Ayo!" Mereka segera berangkat.
Tiba di lokasi,mereka memilih di pojokan. Lebih privasi. Prilly sibuk memilih menu.
"Mbak, saya pesan chicken steak, jus alpukat, sama spaghetti. Kamu apa, Ra?" tanya Prilly.
"Samain aja."
"Oke. Masing-masing dua porsi ya,Mbak!"
"Baik,Mbak. Silahkan ditunggu!"
"Ra, gue boleh tanya gak?"
"Tanya apaan? Biasanya lo kalo mau tanya,langsung jeplak saja."
"Sialan lo! Gini! Duh, gimana ya tanyanya!" ujar Prilly sambil garuk-garuk kepala.
"Mau tanya apa, sih? Kok kelihatannya serius banget."
"Gue … mau tanya soal … soal … kak Bagas."
"Ngapain kak Bagas?"
"Belakangan ini kan, lo sering diantar jemput sama kak Bagas. Trus, si Nico cerita, katanya kapan hari pernah ketemu lo jalan sama kak Bagas. Gue mau tanya. Lo ada hubungan apa sama kak Bagas? Secara, biasanya lo itu anti banget sama dia."
Naura terdiam, lalu menunduk. Dia bingung.
"Kenapa, Ra? Gue salah ngomong, ya?"
Naura mengangkat kepalanya.
"Gak kok. Lo gak salah. Mungkin, memang sudah saatnya lo tahu."
Lalu, Naura menceritakan semuanya. Dari rencana pernikahan Bagas, sang calon mempelai perempuan yang menghilang, hingga dia yang tiba-tiba menjadi pengantin pengganti.
"Ya Tuhan, Ra! Kenapa gak pernah cerita, sih? Lo anggap gue apa?" ujar Prilly marah.
"Maaf, Pril! Gue bingung mau mulai dari mana!" jawab Naura sambil menunduk.
"Trus, hubungan lo gimana sama kak Bagas?"
"Gimana apanya? Ya, gak gimana-gimana. Biasa aja."
"Lo udah ngapain aja sama dia? Jangan-jangan, lo sudah …," ujar Prilly menggantung sambil memainkan alisnya.
"Udah apaan? Jangan mikir yang aneh-aneh, deh! Kami gak ngapa-ngapain! Orang tidurnya aja pisah!" jawab Naura sewot.
"Yach … kok pisah! Kan gue kecewa jadinya! Sayang, dong, cowok cakep gitu dianggurin!"
"Sialan lo! Emang lo pikir gue cewek apaan?"
"Ha … ha… ha…." Prilly tertawa terbahak melihat muka temannya yang sudah memerah.
"Seru amat! Lagi cerita apaan, sih! Mau dong, gue diceritain!" ujar Nico yang tiba-tiba nongol.
Anda Mungkin Juga Suka





