Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Jika Hidupmu Tinggal 72 Jam

Jika Hidupmu Tinggal 72 Jam

Divonis kanker otak dengan sisa hidup 72 jam, protagonis novel modern misteri Jika Hidupmu Tinggal 72 Jam ini harus menyaksikan suaminya, Zafran, dan keluarganya merebut kesempatan hidupnya demi adik angkatnya, Halida. Di sisa waktunya, ia melepaskan naskah novelnya, menandatangani surat cerai, bahkan merelakan putrinya memanggil Halida ibu. Namun, saat kebohongan kejam Halida akhirnya terbongkar, mereka semua kembali bersujud memohon pengampunannya di saat semuanya sudah terlambat.
Bab
Bagikan

Bab 2

"Kita harus bercerai dulu," kata Zafran, suaranya dingin tanpa kehangatan.

Dering tajam memenuhi telingaku, seolah-olah jiwaku sedang dicabik keluar dari tubuh.

Butuh waktu lama sebelum akhirnya aku bisa menemukan kembali suaraku.

"Jadi... itu yang ingin kamu sampaikan padaku?"

Zafran tidak berani menatap mataku. Dia hanya menghela napas panjang.

"Clara, aku tahu Halida bukan saudara kandungmu, tapi ayahmu sudah mengadopsinya. Dia sudah hidup bersamamu sejak lama. Dia bagian dari keluarga."

"Ini cuma formalitas. Memenuhi permintaan terakhirnya adalah hal yang benar untuk dilakukan."

"Lagipula, bahkan dengan uji klinis itu, waktunya tidak banyak. Setelah dia pergi, aku tetap akan jadi suamimu."

Sebelum aku sempat bereaksi, Olivia menghampiri dan menarik ujung lenganku. "Anggap saja ini seperti sebuah sandiwara, oke? Demi mimpinya Tante Halida."

Suara polos anak kecil itu menusuk hatiku bagai pisau.

Aku menatap ayah dan anak yang ada di depanku.

Pria ini, yang dulu pernah memelukku erat dan bersumpah akan mencintaiku selamanya.

Anak ini, yang dulu selalu meringkuk di pelukanku dan memanggilku Ibu.

Aku tidak pernah mengkhianati siapa pun. Tidak pernah menyakiti siapa pun.

Aku sudah berusaha sekuat tenaga jadi anak yang baik, adik yang baik, istri yang baik, ibu yang baik. Aku sudah memberikan segalanya untuk keluarga ini. Tidak ada yang perlu aku sesali.

Dan sekarang, orang-orang terdekatku justru bersatu untuk merampas segalanya dariku.

Cinta, keluarga, bagi mereka semua itu hanya sesuatu yang bisa diinjak sesuka hati.

Tapi saat ini, kalau Halida mau semuanya, biarlah.

Aku sudah tidak menginginkan apa pun lagi.

Bibirku kering pecah-pecah, tenggorokanku tercekat, tapi aku hanya mengangguk.

"Baiklah."

Zafran jelas tidak menyangka aku akan setuju begitu mudah. Sekilas ada bayangan terkejut, bahkan sedikit lega di matanya.

"Kamu serius?"

Tanpa membuang waktu, dia menarik sebuah map dari tas kerjanya dan menaruhnya di meja ruang tamu.

Dia memang sudah menyiapkan surat cerai dari awal.

Aku tertawa dengan nada mengejek.

Dokter Zafran Pratama, ahli bedah terbaik di kota ini...

Begitu tergesa ingin bercerai sampai tidak repot-repot lagi untuk berpura-pura.

Tanda tanganku untuk terakhir kalinya menggores kertas dan berhenti di samping miliknya.

Zafran menatapku menandatangani, wajahnya campuran rumit antara lega, rasa bersalah, dan secuil kebebasan yang tak bisa ia sembunyikan.

"Clara," katanya dengan suara jernih. "Sayang, begitu Halida tiada, kita akan menikah lagi. Aku bersumpah akan menebus semuanya."

"Kamu sudah berubah. Kamu sekarang jauh lebih pengertian. Aku dulu terlalu egois, terlalu sibuk kerja, tidak pernah benar-benar menjagamu."

"Setelah semua ini selesai, aku akan memperbaikinya."

Olivia bertepuk tangan riang. "Ibu, kamu yang terbaik! Jadi sekarang aku boleh panggil Tante Halida Ibu juga, kan?"

Kalimat itu menghancurkan sisa tipis harapanku.

Aku tidak lagi punya ekspektasi apa pun pada keluarga ini.

Sekarang, yang tersisa hanyalah menunggu kematian dengan tenang.

Aku berdiri, berharap menemukan sedikit kedamaian dengan mencuci piring di dapur.

Tepat ketika aku menyalakan keran, setetes hangat jatuh di punggung tanganku.

Itu darah. Merah terang.

Aku menyentuh hidungku, dan jariku berlumur merah.

Dunia berputar. Gelombang pusing menghantamku, dan lantai menyambut tubuhku sebelum aku sempat meraih pegangan apa pun.

Dalam detik terakhir kesadaranku, wajah panik Zafran terlihat kabur di pandanganku.

Saat aku sadar kembali, bau debu menusuk hidung.

Aku masih terbaring di lantai dingin.

Alis Zafran berkerut, matanya berkilat jengkel.

"Clara, kamu melakukan ini lagi?"

"Mimisan, pingsan... bisakah kamu berhenti kekanak-kanakan? Kamu tidak perlu begini hanya untuk menghindari pekerjaan rumah."

Olivia mundur sambil mencubit hidungnya. "Ibu, kita semua tahu kamu pura-pura! Norak banget kamu niru-niru Tante Halida."

Zafran berlutut, sorot matanya penuh kekecewaan.

"Clara, menandatangani berkas-berkas ini tidak berarti aku tidak mencintaimu. Kamu tidak perlu membuat drama kecil seperti ini hanya untuk mengujiku."

Aku hanya diam, menyeka hidung dengan tisu.

Darah cepat berhenti.

Dan saat itu aku mengerti.

Obat penghilang rasa sakit tidak hanya menahan perih, tapi juga menghapusnya, membuatku terlihat sehat di luar.

Selama tiga hari ini, aku tampak seperti orang normal.

Bahkan jika gejala sesekali muncul, mereka akan menganggapnya sekadar ledakan emosional.

Obat ini jauh lebih manjur dari perkiraanku.

Begitu manjur, sampai mereka sama sekali tidak akan curiga.

"Aku sudah lihat hasil patologi kamu. Kamu baik-baik saja. Ayahmu dan kakakmu lagi bawa Halida jalan-jalan, aku mau jemput mereka sekarang."

Sekilas ekspresi Zafran sempat berubah, tapi lenyap secepat kilat.

Aku berusaha bangkit, lututku lemah tapi masih bisa menopang.

"Mungkin karena gula darah rendah. Aku baik-baik saja."

Aku membersihkan tanganku dan menatap Zafran.

"Kalau Halida sudah kembali..." ucapku dengan senyum dingin di bibir. "Aku akan memberikan vila ini padanya. Biar dia mati dengan bahagia."

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Astaga, Gairahku Diketahuinya
8.1
Mengalami penurunan kondisi fisik dan suasana hati yang buruk, seorang wanita didesak temannya untuk berkonsultasi dengan tabib tradisional. Namun, ia dilingkupi ketakutan mendalam karena menyembunyikan kecanduan seksual yang ekstrem, khawatir rahasia sensitif itu terdeteksi melalui pemeriksaan fisik. Saat tubuhnya makin melemah, ia akhirnya memberanikan diri datang ke klinik. Di sana, sang dokter menyadari kondisinya, mengubah tatapan matanya, lalu melakukan tindakan nekat di atas meja periksa.
Sampul Novel Crazy Woman
8.3
Ria Ananta menyembunyikan statusnya sebagai putri konglomerat meski gaya hidupnya selalu mewah. Ia memilih hidup normal, namun ketenangannya terusik sejak menjalin asmara dengan Christian, seorang idola terkenal. Tekanan dari keluarga Christian yang tidak merestuinya memicu depresi dan sisi gelap dalam diri Ria yang tak terduga. Di balik tumpukan harta, Ria berjuang melawan kehancuran mental dan pikiran bunuh diri akibat konflik hubungan yang penuh kekerasan.
Sampul Novel Dendam Ayahku & Takdir Cinta
9.7
Bagi Liana, cinta hanyalah kontrak fisik sementara. Sinisme ini mendorongnya mengejar kekayaan demi kemandirian mutlak. Namun, rencana hidupnya berubah saat Prabu, putra atasan yang ia benci, bertunangan. Liana berniat menghancurkan momen bahagia Prabu dengan Kinar sebagai ajang balas dendam. Tak disangka, sebuah insiden di hari pernikahan justru memaksa Liana memakai gaun pengantin. Kini ia terikat sebagai istri pengganti pria yang ingin ia hancurkan.
Sampul Novel Dinara - Ganti Suami
8.1
Ditinggal kabur oleh pasangannya di hari pernikahan membuat Dinara justru merasa girang, apalagi saat bertemu seorang pria yang bernasib serupa. Alih-alih meratapi kesedihan, sebuah ide gila muncul di benak Dinara demi menyelamatkan persiapan pesta yang sudah matang. Tanpa ragu, ia mengajak pria asing itu untuk menggantikan posisi mempelainya. Meski sempat terkejut, tawaran nekat Dinara menjadi satu-satunya solusi agar paket pernikahan mereka tidak terbuang sia-sia.
Sampul Novel Jatah Malam Untuk Mertua
9.0
Leo terjebak dalam dilema besar saat calon ibu mertuanya yang menjanda mengajukan syarat hubungan intim sebelum pernikahan. Di sisi lain, Dinda terkejut mendapati ayah kandungnya, Pak Bram, menaruh hasrat padanya dan memberikan tuntutan serupa. Terjebak dalam nafsu dan tuntutan orang tua, akankah Leo dan Dinda saling mengkhianati komitmen mereka demi memenuhi syarat gila tersebut? Ikuti kisah penuh intrik dan pengkhianatan yang menguji kesetiaan cinta mereka.
Sampul Novel Keputusasaan Wanita Desa
9.5
Kehidupan seorang janda muda berubah menjadi penuh siksaan batin sejak kepergian mendiang suaminya. Di tengah kesunyian malam, ia terus didera oleh hasrat fisik yang membara dan sulit dikendalikan. Karena tidak tahan lagi menghadapi kecanduan tubuh yang menyiksa ini, ia akhirnya memberanikan diri menemui seorang dokter desa untuk mencari pengobatan medis. Namun, keputusan berkonsultasi tersebut justru berujung pada sebuah peristiwa tak terduga yang dilakukan oleh sang dokter.