
Jerat Cinta Tunangan Kejam
Bab 2
“Aku tahu selama ini hanya beban di mata mama sama papa, tapi it’s okay, aku akan menerima perjodohan itu demi kalian. Entah ke depannya aku bisa bertahan atau tidak, kalian jangan menyalahkan aku jika ternyata hatiku bukan untuk dia."
“Cinta itu tidak bisa dipaksa, Pa, Ma,” imbuh Elvan.
David dan Laras terdiam, mereka tidak lagi berbicara ketika Elvan sudah beranjak pergi meninggalkan ruang tamu dan menaiki anak tangga menuju kamarnya. David menghela napas panjang, sementara Laras mendengkus kasar melihat sifat putranya yang sedari dulu tidak pernah berubah.
“Anak itu benar-benar tidak mengerti balas budi. Aku cemas kita tidak bisa bekerja sama dengan perusahaan Antonio." Laras memijit pelipisnya yang pening.
“Tenang saja. Kita sudah melakukan yang terbaik. Aku akan memastikan dia tidak bisa kabur." Sebelah sudut bibir David tertarik ke atas.
***
Ruangan bernuansa gelap itu menjadi tempat yang Elvan tuju. Ia menutup pintu, lalu menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang dengan helaan napas panjang. "Di zaman modern begini kenapa harus ada perjodohan, sih?"
Masalah bertambah saat Elvan mengetahui bahwa calon tunangannya adalah Nayla, si mahasiswi semester pertama yang terkenal dengan sifat manjanya di kampus. Tidak hanya itu, kata teman-temannya seangkatan yang ia dengar Nayla itu perempuan yang cerewet dan over PD.
“Benar-benar nasib buruk. Dari sekian banyaknya perempuan, kenapa harus dia yang bakal jadi tunanganku? Sialan." Elvan terus menggerutu sambil menutupi wajah dengan lengan.
Sayang, kekesalannya itu percuma karena ujung-ujungnya ia tetap tidak bisa menolak, apalagi kabur. Bisa-bisa semua fasilitas yang selama ini ia terima akan disita oleh kedua orang tuanya.
Sebelum Elvan hendak memejamkan mata, ia mengumpat kesal saat mendengar suara sang mama dari arah luar kamarnya sembari mengetuk pintu. Elvan turun dari kasur untuk membukanya dengan malas.
Laras segera masuk setelah pintu terbuka. Ia menatap putranya dengan serius. “Hari ini kamu dengan Nayla harus fitting baju dan cincin pertunangan. Mama ingin kamu bersikap baik dengan Nayla di pertemuan pertama ini. Mengerti?”
“Kenapa mendadak banget? Bukannya besok bisa, ya? Acaranya, kan, masih lama, Ma," decak Elvan. Ia sejujurnya malas bertemu dengan gadis itu. Benar. Sangat malas.
Laras menggeleng kuat-kuat, ia membenci bantahan. “Kamu tahu mama tidak suka penolakan. Mau tidak mau, kamu tidak bisa protes. Cepat siap-siap, kamu harus menjemput Nayla di rumahnya. Nanti mama kirim lokasinya lewat chat. Paham?”
Jika sudah begini, tidak ada cara lagi untuk Elvan mengatakan ‘tidak’. Kenyataannya ia tidak bisa membantah perintah sang mama bagaimana pun caranya. Elvan akhirnya membuang napas panjang dengan ogah-ogahan.
“Paham.”
“Cepat turun dan berangkat, kamu pasti tahu Nayla itu gadis yang tidak suka menunggu lama,” perintah Laras yang dibalas anggukan malas oleh Elvan.
Laras keluar dari kamar, sementara Elvan menyusul di belakang dan menutup pintu. Sebelum menuruni anak tangga, ia menarik napas dalam-dalam untuk menetralkan rasa kesalnya yang tertahan. Ia berulang kali menahan diri untuk tidak mengeluarkan umpatan.
“Aku berharap perempuan itu membenciku." Elvan bergegas turun dan berjalan menuju ke garasi mobil. Ia memukul setir mobil kemudian menghela napas kasar.
“Aku pasti akan membuat dia menyesal karena menerima perjodohan ini." Tangan Elvan terkepal kuat sambil memegang setir, lalu sesaat memejamkan mata sebelum menancap gas mobil.
Anda Mungkin Juga Suka





