
Jerat Cinta Tunangan Kejam
Bab 3
“Permisi." Elvan mulai mengetuk pintu waktu tiba di depan rumah Nayla yang rupanya cukup mewah.
Tidak lama seseorang sudah membukanya dari dalam dan orang itu ia tebak adalah si gadis yang bernama Nayla. Elvan sempat terkejut beberapa detik saat melihat penampilan Nayla yang hanya mengenakan tank top di atas perut berwarna hitam dengan celana jins. Jangan lupakan bahwa perut gadis itu juga terlihat ramping dan mulus.
“Eh, k–kamu bukannya kakak tingkat yang famous di kampus, ya? Kak ... Elvan Ganendra, kan?" Nayla membelalak mata sambil menutup mulutnya yang terbuka dengan kedua tangan.
Elvan memejamkan mata, baru awal saja sudah seperti ini. Ia lalu mencoba untuk bersabar, dan kembali membuka matanya seraya menatap gadis di hadapannya itu dengan datar.
“Hem.”
Nayla mengernyit sebentar, sebelum matanya berbinar kembali setelah memorinya teringat sesuatu yang tadi malam telah dibahas papa dan mama tirinya. Nayla sungguh senang saat ini.
"Ya ampun? Jadi jodoh aku beneran Kak Elvan yang ini, yah? Astaga. Ternyata kalau dari deket jadi ganteng bangetttt! Pantesan fans kamu di kampus bejibun, Kak."
Elvan mendelik tajam dengan reaksi itu. Membuatnya terpaksa menghela napas pelan, ini sungguh di luar dugaan. Harapannya jika mungkin gadis itu akan membencinya—sudah pupus saat ini juga. Perempuan itu malah kegirangan melihat kedatangannya.
“Bisa kita berangkat sekarang? Di mana orang tuamu?” Elvan mengalihkan pembicaraan, berusaha menahan diri untuk tidak emosional.
“Eh, memangnya kita mau ke mana, Kak? Kenapa cari orang tua aku?” jawab Nayla dengan polos. Walau sebenarnya hanya pura-pura agar lebih lama berbincang dengan Elvan.
“Mau minta izin ke mereka. Kamu lupa kalau sekarang kita mau fitting baju sama cincin?” Elvan mendecak pelan dengan tangan mengepal di sisi celana.
“Oh, iya, lupa. Hehe.” Nayla menyengir kuda, hingga kedua matanya menyerupai bentuk bulan sabit. Aktingnya sungguh pro.
Elvan berdecak malas. “Mana mereka? Nanti aku dikira nyulik karena bawa anak orang sembarangan.”
“Eh, tidak usah izin, Kak. Mereka juga tidak ada di rumah, kok. Mending kita berangkat sekarang aja, Kak." Nayla berucap semangat sekali. Ia pun bergegas menutup pintu.
Nayla sudah menyukai Elvan sejak melihatnya tadi. Ah, lebih tepatnya ia memang salah satu fans Elvan saat di kampus. Jika biasanya ia hanya bisa memandang dari jauh, maka saat sekarang bisa berhadapan langsung, Nayla akan menobatkan hari ini menjadi hari yang paling bahagia seumur hidupnya.
Elvan menghela napas panjang lagi, kemudian menaikkan sebelah alisnya waktu memperhatikan penampilan Nayla dari atas hingga ke bawah. “Mau pamer tubuh? Apa tidak bisa ganti pakaian dulu?"
Nayla mengikuti arah pandang Elvan, lalu mengerutkan kening. “Hah? Aku pakai baju, kok. Memangnya ada yang salah?”
“Kamu bodoh, ya? Mau fitting baju harus pakai tank top gitu? Apa baju di lemarimu kekurangan bahan?" dengkus Elvan tajam.
Bibir Nayla mengerucut sebal. “Ihh, ini itu baju favorit aku, Kak. Terus tinggal dipakein jaket aja. Lagian nanti di sana juga bakalan disuruh lepas baju lagi. Mending sekalian pake ini.”
“Jadi kamu tidak mau ganti? Oke, terserah. Aku tidak tanggung jawab kalau terjadi sesuatu,” desis Elvan. Ia kemudian membalikkan badan hendak menuju mobilnya.
Anda Mungkin Juga Suka





