
Jerat Cinta Saudara Tiri
Bab 3
Arjun membukakan pintu mobil untuk Gea. Tangannya terulur ke arah sang adik. Kembali Gea dibuat tercenung dengan sikap kakaknya. Tanpa ba bi bu, Gea pun menyambut uluran tangan kakaknya.
Kedua kakak beradik itu, berjalan perlahan menuju ke dalam kafe kekinian itu, sambil bergandengan tangan. Sepintas orang cuek saja melihat kedekatan mereka. Wajah mereka yang sama sekali tidak mirip, mematahkan anggapan orang jika mereka adalah saudara.
Memang tidak ada orang yang tahu, jika mereka adalah saudara. Ya, meskipun hanya saudara tiri. Orang melihat mereka berdua layaknya seperti pasangan kekasih, seperti beberapa pasangan yang sedang nongkrong di sana.
Arjun memilih tempat di pojok ruangan. Dari sana dia dapat melihat view kafe itu dengan leluasa. Gea yang masih membawa bunga pemberian Arjun, wajahnya terlihat menghangat saat Arjun menatap lekat ke arahnya. Pemuda tampan itu segera melambaikan tangannya ke arah pelayan kafe.
“Selamat sore, Mas, Mbak. Ini menu di kafe kami, silakan pilih dulu,” ucapnya sopan.
Sejenak Arjun meneliti satu per satu menu yang ada di list menu, yang disodorkan oleh pelayan itu. Sedangkan Gea hanya duduk mematung menatap wajah tampan kakaknya.
“Ge ... buruan! Kamu mau makan apa? Mas capek, ingin segera terbang ke pulau kapuk,” ucapnya.
“Sama Mas aja. Toh, di rumah makanan apa pun Gea sikat. Tak perlu pilih-pilih.”
Arjun hanya geleng-geleng kepala. Memang benar adanya. Gea bagaikan omnivora yang memakan segala. Apa pun di meja makan yang disediakan oleh Bu Amanda, selalu habis tak bersisa. Anehnya, tubuhnya tetap langsing dan ideal.
Usai mencatat pesanan Arjun dan Gea, pelayan itu berjalan ke arah dapur di mana menu masakan kafe itu diolah. Tak berapa lama kemudian, pelayan itu kembali membawa pesanan Arjun dan Gea.
“Silakan menikmati, Mas, Mbak,” ucap pelayan kafe tersebut sopan.
“Terima kasih,” ucap Arjun dan Gea bersamaan.
Arjun gegas menyantap apa yang ada di depan matanya. Rasa lapar, capek, dan kantuk yang mendera membuatnya ingin cepat-cepat menghabiskan makanannya.
“Mas ....”
“Hemm ....”
Mendengar jawaban Arjun yang hanya berdehem saja, Gea urung ingin menanyakan sesuatu kepadanya. Segera Gea melahap makanan yang sama dengan kakaknya itu. Melihat Arjun hanya cuek bebek, Gea pun lelah berharap.
Tanpa berlama-lama, makanan dan minuman yang ada di hadapan mereka tandas tak bersisa. Arjun terlonjak kaget saat sendok dan garpu Gea telah tengkurep lebih awal darinya, padahal Arjun lebih dahulu yang mulai memakan makanan pesanan mereka. Gelas jus Gea pun telah kosong tak bersisa.
“Secepat itu?” gumam Arjun.
Gea hanya diam mematung tanpa ekspresi apa-apa.
‘Perempuan itu kalau sedang bete bisa menghabiskan apa pun di depannya. Termasuk kamu. Pingin makan kamu hingga ke tulang-tulangnya rasanya, Mas,’ batin Gea berkecamuk.
Arjun mengambil tisu, lalu mengelap sudut bibir Gea yang sedikit kena saus. Gea masih tetap mematung, mendapatkan perlakuan seperti itu dari kakaknya. Meskipun, jujur! Jantungnya gedabag gedebug bagai genderang mau perang.
“Pulang, yuk! Mas capek banget.”
Gea hanya mampu mengangguk perlahan, lalu mengikuti langkah kaki Arjun menuju ke meja kasir untuk membayar makanannya.
“Bisa bayar pakai ATM, Mbak?” tanya Arjun.
“Bisa, Mas,” ucap sang kasir.
Setelah menerima kartu ATM-nya kembali, Arjun kembali menggandeng tangan Gea.
“Ini perlakuan macam apa, sih? Dia sayang dan cinta kepadaku sebagai adiknya atau sebagai lawan jenisnya. Bingung aku memahami sikapnya,” gumam Gea saat Arjun melepaskan gandengannya.
***
Nut! Nut!
Bunyi remote otomatis mobil yang dikemudikan Arjun. Arjun membukakan pintu mobilnya untuk Gea seraya berucap, “Silakan masuk, Sayang.”
Gubraak!
Kembali dada Gea berdebar lebih kencang. Sebutan yang selama empat tahun kebersamaan mereka tak pernah dia dengar dari mulut kakaknya.
“Sayang? Apakah itu artinya ....”
Kembali pikiran Gea mengembara entah ke mana. Sejak satu tahun terakhir, tepatnya sejak dia menolak satu teman sekelasnya hingga temannya itu frustasi dan ngebut di jalanan. Hingga menyebabkan kecelakaan maut yang merenggut nyawanya di penghujung masa SMA-nya dulu.
Gea merasa bersalah dan didera penyesalan yang masih selalu terbayang-bayang dalam ingatannya. Hingga gadis tomboy itu susah sekali jatuh cinta kepada lawan jenisnya.
Sejak saat itu, kebiasaannya yang banyak bicara dan paling cerewet sedunia, tiba-tiba berubah seratus delapan puluh derajat. Gea lebih banyak mengurung diri di kamar dan menghabiskan waktu untuk membaca di kamar.
Menyadari ada hal yang berbeda dengan adik sambungnya itu, Arjun sering mengajak sang adik untuk sekadar outbound, rekreasi, nonton film, atau main game dengan play station untuk seru-seruan saja di rumah.
Seiring berjalannya waktu, sikap Arjun yang demikian itu membuat Gea nyaman. Padahal, di luar itu Arjun adalah seorang laki-laki dingin yang sama sekali tidak romantis. Entah, dia pernah punya cewek atau tidak.
Atau sekadar teman dekat pun Gea tidak pernah mengetahuinya. Bahkan, informasi dari teman dekatnya yaitu Putra, Reno, Dika, Gustaf, dan Baron pun mengatakan hal yang sama, jika Arjun tidak mempunyai teman dekat saat mereka kuliah.
Entah, jika dulu saat SMA. Yang jelas, selama empat tahun mereka bersama Gea belum pernah melihat sang kakak jalan bareng dengan seorang cewek manapun.
“Mas ....”
“Ya, ada apa, Ge? Masih mau ngajak mampir ke mana gitu?”
“Nggak. Cuma mau emm ... ngobrol sebentar dulu, tepikan mobilnya di depan ada taman. Boleh, ya?”
“Baiklah!” ucap Arjun yang matanya terlihat memerah. Terlihat beberapa kali pemuda tampan itu menguap.
Arjun mengurangi kecepatan mobilnya, lalu berhenti di pinggir taman. Azan Magrib sebentar lagi segera berkumandang. Jam di tangan Gea telah menunjukkan pukul 17.30 WIB. Gea segera menarik tangan sang kakak di salah satu bangku di taman kota itu.
Bangku panjang yang terletak di pinggir taman, tidak jauh dari mobil mereka terparkir. Di taman itu tampak masih banyak anak-anak berkeliaran di situ, tentunya bersama orang tua mereka, juga masih banyak anak remaja yang sedang duduk-duduk di situ.
“Maaf, Mas. Dari tadi Gea perhatikan ada yang berubah banyak dari Mas, setelah pulang dari acara Mapala. Perlakuan Mas, cara menyebut Mas ke Gea, tapi ... hanya ada satu yang tidak berubah."
“Apa itu?” tanya Arjun tanpa ekspresi.
“Dinginnya masih seperti kutup utara.”
Pletak!
Arjun menjitak pelan kening Gea. Gea membalas menoyor lengan sang kakak.
“Gea penasaran. Sebenarnya apa maksud, Mas? Udah nyebut sayang juga. Jangan buat Gea kepedean tingkat dewa, hingga melambung ke atas awan, setelah itu Mas banting ke dasar jurang.”
“Ini tentang rasa. Rasa yang Mas sendiri tak tahu apa artinya. Sejak meninggalkanmu satu mingu yang lalu, entah mengapa Mas sangat merindukanmu. Semakin Mas berusaha menepisnya, jelas terlihat nyata bahwa Mas memang menyukaimu. Mas sayang padamu, Gea. Mas cinta sama kamu.”
Cup!
Tanpa basa basi Arjun mencium kening adiknya. Bahkan tanpa mau tahu tentang perasaan Gea kepadanya. Baginya itu tidak penting. Yang terpenting, dia mencintainya. Titik tanpa koma.
“Pulang, yuk! Mas ngantuk berat, nih!” ucap Arjun seraya mengulurkan kunci mobilnya kepada Gea.
“Ih! Nyebelin banget! Dasar manusia kulkas! Nggak ada romantis-romantisnya sedikit pun! Emang dia doang yang butuh ngungkapin isi hatinya. Dia tak butuh pengakuanku apa?” gerutu Gea di sepanjang perjalanannya pulang.
***
Anda Mungkin Juga Suka





