Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Jerat Cinta Mafia Kejam

Jerat Cinta Mafia Kejam

Kinanti terusir dari rumahnya sendiri akibat ulah kerabatnya yang serakah. Ia pun memulai hidup baru di Amerika demi mencari ketenangan. Namun, takdir mempertemukannya kembali dengan Brian, seorang ketua mafia kejam yang terobsesi padanya sejak lama. Dulu Kinanti bisa menghindar, tapi kini ia terjebak dalam kekuasaan Brian yang mutlak. Di tengah tekanan keluarga pamannya yang kembali mengusik, mampukah Kinanti bertahan dari jerat cinta sang mafia?
Bab
Bagikan

Bab 3

Malam itu, Clara dan Aina membawa Kinanti ke sebuah klub malam. Mereka memperkenalkan Kinanti kepada seorang pria tua kaya raya yang tertarik membelinya. Pria itu tersenyum licik melihat Kinanti yang tampak ketakutan.

"Sebelum kita bicara lebih lanjut, aku perlu ke kamar mandi." Kinanti berpura-pura sakit perut, berusaha mencari celah untuk kabur.

Aina, yang curiga Kinanti akan mencoba melarikan diri, segera memerintahkan Clara untuk mengawasi. "Clara, ikuti dia! Jangan biarkan dia kabur."

Kinanti tahu itu mungkin satu-satunya kesempatan untuk melarikan diri. Di tengah pengawasan Clara, dia bergegas ke kamar mandi. Namun, saat masuk ke sana, dia dengan cepat bersembunyi di balik pintu ruangan lain yang terhubung dengan kamar mandi. Tanpa melihat siapa yang ada di dalamnya, Kinanti coba mencari jalan keluar dan saat dia berbalik, matanya terbelalak karena melihat Brian duduk di sebuah sofa tengah berbicara dengan seseorang. Di ruangan itu ada beberapa wanita cantik berpakaian seksi, tampaknya mereka adalah wanita-wanita yang ditawarkan Brian kepada seorang pria kaya.

Brian terkejut melihat Kinanti berdiri di sana tengah ketakutan. "Kinanti? Apa yang kamu lakukan di sini?" Brian bangkit dan segera menghampiri Kinanti. Raut wajahnya menunjukkan kekhawatiran.

"Apa yang terjadi? Kamu kenapa?" Brian bertanya lagi. Namun, Kinanti terlalu takut. Dia tahu Brian adalah bagian dari dunia kelam yang selama ini selalu dia hindari.

"Jangan dekati aku!" seru Kinanti dengan suara yang bergetar.

Kinanti pun berlari keluar dari ruangan itu sebelum Brian sempat menahannya. Dia berlari secepat mungkin, tapi tidak tahu ke mana harus kabur. Di depan, Aina dan Clara sedang menunggunya. Di belakang, ada Brian yang mungkin mengejarnya.

Hatinya berpacu, dan tanpa pilihan lain, Kinanti memutuskan untuk mengambil jalan lain yang lebih gelap, berharap bisa menghindari semua orang yang mengejarnya. Namun, Brian tak tinggal diam. Dia melihat sekilas Aina dan Clara yang tampak gelisah di pintu klub malam dan dari tatapan mereka, Brian mulai menyadari sesuatu yang lebih besar sedang terjadi. Dengan cepat, dia berlari mengejar Kinanti, menahan lengannya sebelum dia berhasil kabur.

"Ayo ikut aku. Akan kubawa kamu ke tempat yang aman!" kata Brian dengan nada tegas.

"Lepaskan aku!" Kinanti tidak begitu saja percaya pada Brian. Dia tidak ingin bernasib sama dengan wanita-wanita yang ada di ruangan tadi yang tampak seperti dijual oleh Brian.

Tanpa pikir panjang, Kinanti menggigit tangan Brian sekuat tenaga dan segera berlari lagi, kali ini menuju jalan raya. Hampir saja Kinanti terserempet sebuah mobil yang melaju cepat. Ternyata, mobil itu dikemudikan oleh Aslan–pamannya.

"Kinanti! Apa yang kamu lakukan di sini?" Aslan menghentikan mobilnya dan turun.

Kinanti, dengan air mata yang tak lagi bisa ditahan, langsung menceritakan segalanya kepada Aslan. Tentang rencana jahat Aina dan Clara yang ingin menjualnya dan ancaman Aina yang akan membunuh Aslan jika Kinanti tidak menurut.

Mendengar itu, Aslan begitu murka pada istrinya. Mau bagaimanapun, Kinanti adalah keponakan yang tidak patut diperlakukan seperti itu. "Tenang, Kinanti! Hal itu tidak akan terjadi. Paman akan melindungimu," katanya sambil memeluk Kinanti erat-erat.

Brian yang mendekat untuk melihat kondisi Kinanti, terpaksa menghentikan langkahnya ketika salah satu anak buahnya datang memanggil saat pandangannya tertuju pada Kinanti. "Maaf, Pak, di dalam Pak Alex masih menunggu, Pak."

Brian hampir lupa dengan rekan bisnisnya di ruangan itu sebelum Kinanti datang. "Aku harap kamu baik-baik saja, Kinanti. Dan, aku akan secepatnya menolongmu dari kejahatan paman dan bibimu. Aku janji Kinanti?" ujar Brian dalam hati yang begitu mencemaskan Kinanti.

***

Kinanti masih terisak-isak saat mobil yang dikendarai pamannya, Aslan, berhenti di depan rumah. Sesaat sebelum keluar dari mobil, ia mencoba menenangkan diri, tapi perasaannya masih berkecamuk. Bagaimana mungkin bibinya dan Clara begitu kejam, dan sekarang ia harus berhadapan dengan mereka lagi? Sementara itu, Aslan terdiam, memikirkan kata-kata Kinanti di sepanjang perjalanan tadi. Ada sesuatu yang mengganjal di hatinya, tapi dia tidak bisa langsung mempercayai semuanya tanpa bukti.

Saat mereka masuk ke dalam rumah, Kinanti terkejut. Di ruang tamu, Aina, bibinya, dan Clara sudah duduk dengan santai, berpakaian piyama, seolah tidak ada hal buruk yang terjadi. Wajah mereka tampak begitu tenang, tanpa sedikit pun menunjukkan rasa bersalah atau keterlibatan dalam sesuatu yang jahat.

"Kamu dari mana, Kinanti? Kenapa pakaianmu seperti itu?" tanya Aina dengan nada yang terdengar lembut, tapi penuh tipu daya.

Kinanti terdiam sejenak. Jantungnya berdegup kencang. Clara yang duduk di sebelah Aina menatapnya dengan pandangan sinis, bibirnya melengkung dalam senyum mengejek. "Jangan bilang kalau kamu habis jadi pelacur di luar, Kinanti. Aku nggak nyangka, ya. Kelihatannya baik-baik saja, tapi ternyata nakal juga!" Clara menambahkan dengan nada penuh cemoohan.

Kinanti merasa darahnya mendidih. "Paman, aku tidak bohong!" serunya, berusaha menahan air mata yang ingin kembali mengalir. "Tadi bibi dan Clara yang mengajakku ke klub malam. Mereka ingin menjualku ke pria kaya, Paman. Tolong percaya padaku!"

Aslan menatap Kinanti dengan bingung. Ada keraguan dalam matanya. Dia mengenal Aina selama bertahun-tahun, sulit baginya membayangkan istrinya akan melakukan hal sekejam itu pada keponakannya sendiri. Namun, ada juga perasaan di hatinya yang mengatakan bahwa Kinanti tidak mungkin berbohong tentang hal sebesar ini.

Namun, sebelum Aslan bisa merespons, Aina berdiri dengan wajah marah. "Kurang ajar kamu, Kinanti! Berani-beraninya kamu memfitnahku seperti itu! Dari tadi aku dan Clara cuma di rumah, tidak kemana-mana. Aku bahkan tidak melihatmu keluar rumah. Jangan-jangan kamu yang diam-diam kabur lewat jendela kamar, ya?" bentak Aina sambil menarik rambut Kinanti dengan kasar.

Kinanti menjerit kesakitan, mencoba melepaskan diri dari cengkeraman bibinya. "Aku tidak bohong! Aku bicara jujur! Tadi kalian berdua yang membawaku ke sana!" isaknya, mencoba melindungi kepalanya dari cengkraman Aina yang semakin kuat.

Clara tertawa kecil sambil menggelengkan kepala. "Tampangnya aja polos, tapi ternyata liar juga, ya. Kamu memang nggak tahu malu, Kinanti. Jangan pikir kita nggak tahu apa yang kamu lakukan di luar sana."

Kinanti merasa semakin terdesak. Ia melihat ke arah pamannya, berharap Aslan bisa melihat kebenaran dari raut wajahnya yang penuh dengan kejujuran. "Paman, tolong! Aku tidak berbohong. Aku tidak melakukan apa yang mereka tuduhkan! Tolong percayalah padaku!" suara Kinanti bergetar, nyaris putus asa.

Aslan terdiam, masih bergelut dengan pikirannya sendiri. "Aina, Kinanti bilang kamu dan Clara yang membawanya ke klub malam. Apa itu benar?" tanyanya, mencoba tetap tenang meskipun hatinya penuh kecurigaan.

Aina langsung mendengus, matanya memicing tajam ke arah Kinanti. "Benar-benar mengada-ada, Mas! Aku nggak tahu dia dapet ide gila dari mana. Tadi siang aku sama Clara cuma di rumah, istirahat. Kinanti yang nggak kelihatan dari sore, nggak tahu ke mana. Sekarang malah pulang dengan pakaian seperti itu dan menuduh kita yang macam-macam!"

Clara ikut angkat bicara, menguatkan kebohongan Aina. "Ya, Pa. Dari tadi aku sama mama di rumah. Mungkin Kinanti yang diam-diam kabur buat ngelakuin hal-hal nggak benar di luar sana. Tapi, aku beneran nggak nyangka dia bakal nuduh kita kayak gini."

Kinanti menangis semakin keras. Semua kata-katanya terasa sia-sia, seolah-olah tidak ada yang mendengarnya. "Paman, aku mohon! Tolong percaya padaku! Aku tidak berbohong!"

Aina melepaskan cengkeramannya pada rambut Kinanti dan menepuk-nepuk bajunya, seolah ingin membersihkan tangan dari kotoran. "Sudah cukup, Kinanti. Tidak usah membuat drama seperti ini. Aku tahu kamu cuma mencari alasan untuk menutupi apa yang sebenarnya kamu lakukan."

Aslan menatap Kinanti dengan wajah bingung. Hatinya ingin mempercayai keponakannya, tapi situasinya begitu sulit. Dengan dua orang melawan satu, apa yang bisa dia lakukan?

"Kinanti, kenapa kamu tidak jujur saja? Kalau memang ada sesuatu yang kamu sembunyikan, lebih baik kamu katakan sekarang," ucap Aslan dengan nada lembut, tapi jelas-jelas mengandung keraguan.

Mendengar itu, hati Kinanti terasa hancur. Pamannya, satu-satunya harapan yang ia miliki, tampak mulai meragukannya. Air matanya semakin deras mengalir, dan tubuhnya gemetar karena ketakutan dan kekecewaan.

"Paman... Aku... Aku benar-benar tidak bohong," katanya dengan suara nyaris tidak terdengar. "Tolong percayalah padaku..."

Namun, Aina segera menyela. "Sudahlah, Mas. Tidak usah diperpanjang. Kinanti mungkin sedang mencari perhatian atau punya masalah lain yang nggak mau dia akui. Kita semua tahu bagaimana anak-anak muda zaman sekarang."

Kinanti merasa seluruh dunianya runtuh. Semua yang ia katakan dibelokkan dan dijadikan senjata untuk melawannya. Tidak ada yang berpihak padanya, bahkan pamannya yang selama ini ia percayai.

Aslan hanya bisa menatap Kinanti dengan wajah bingung, tidak tahu harus berkata apa. Sementara itu, Clara dan Aina saling bertukar senyum licik, senang karena berhasil memanipulasi situasi.

"Ayo, Kinanti. Mungkin kamu butuh istirahat. Kita bicara lagi besok pagi," kata Aina dengan nada lembut tapi penuh tipu daya, menarik lengan Kinanti menuju kamarnya.

Kinanti tidak bisa berkata apa-apa lagi. Dengan langkah lemas, ia mengikuti bibinya ke kamar, merasa seluruh harapannya telah pupus. Bagaimana ia bisa keluar dari cengkeraman bibinya dan Clara? Dan bagaimana ia bisa membuktikan kebenarannya?

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Ayahku, Penjahat Terbesarku
8.1
Zayden Alaric Veyra adalah pengusaha sukses sekaligus pemimpin organisasi Raven yang ditakuti. Meski dikelilingi wanita, hatinya tetap hampa hingga ia terpikat oleh Kaela Seraphine di sebuah pesta. Namun, Kaela bukanlah gadis biasa; ia memiliki misi rahasia untuk memburu sosok Raven. Saat takdir mempertemukan mereka dalam misi berbahaya, ketertarikan pun muncul. Kini mereka terjebak antara perasaan cinta yang tumbuh atau tuntutan dunia gelap untuk saling menghabisi.
Sampul Novel DI ATAS RANJANG MAFIA
9.7
Michele Lazzaro Riciteli adalah pemimpin mafia Roma yang kejam dan memiliki kondisi medis langka. Dirinya kebal terhadap rasa sakit fisik, namun ia juga tidak mampu merasakan kepuasan seksual. Hidupnya berubah drastis setelah terlibat cinta satu malam dengan Meghan Crafson, wanita yang secara ajaib bisa menyembuhkan disfungsinya. Demi mempertahankan sensasi yang selama ini hilang, Michele nekat memerintahkan penculikan Meghan. Apa rahasia di balik identitas Meghan sebenarnya?
Sampul Novel Dipaksa Menikahi Mafia Kejam
9.1
Niat tulus Grazella Elnara Wesley menolong pria asing justru menyeretnya ke dalam neraka. Gabriel Leonard Mattew, pemimpin mafia kejam asal Italia, terobsesi menjadikannya istri karena kemiripan fisik dengan masa lalunya. Meski dipaksa menikah, mahasiswi psikologi ini tetap teguh menjaga hatinya dari dominasi sang mafia. Di tengah perjuangan menyembuhkan adiknya, Grazella harus bertahan menghadapi kekejaman Leon yang menganggap dirinya tuhan.
Sampul Novel Guru Tampan Seorang Yakuza
8.1
Akeno Taoka, anggota Yakuza dari klan Barakujaga, menyamar menjadi guru SMA di Tatsuno demi misi rahasia. Targetnya adalah Reina Akinara, putri pemimpin klan musuh, Tuan Kudesai. Akeno bertekad menjadikan Reina alat balas dendam atas kematian orang tuanya yang dibunuh secara licik. Namun, sebuah fakta mengejutkan mengenai identitas asli Reina terungkap di tengah rencana tersebut. Akankah dendam Akeno tetap membara, atau justru ia akan luluh oleh pesona Reina?
Sampul Novel Ibu Sambung Anak Mafia
9.2
Natalia Smith tak pernah menyangka tabrakan tidak sengaja di mall akan mengubah hidupnya. Jenifer Audey, gadis remaja berusia 17 tahun, tiba-tiba memintanya menjadi ibu sambung sebagai bentuk permohonan maaf. Natalia yang baru 23 tahun kini terjebak dalam misi Jenifer untuk menjodohkannya dengan sang ayah, Aaron Audey. Aaron adalah bos mafia asal Inggris berusia 30 tahun yang sangat ditakuti. Akankah rencana Jenifer menyatukan mereka berhasil?
Sampul Novel Keturunan Terakhir!
9.5
Zha, ketua mafia Legion Of Death yang dijuluki Gadis Pecinta Asap, berambisi memburu keturunan terakhir Klan Jangkar Perak demi membalas dendam kematian ayahnya. Pencariannya hanya berbekal petunjuk tato jangkar misterius. Namun, sebuah insiden peluru mengungkap keberadaan chip manipulasi yang tertanam di tubuhnya sejak bayi. Saat chip itu diangkat, tato jangkar justru muncul di kulit Zha sendiri. Siapakah pewaris sejati yang ia cari? Zha kini harus menghadapi kenyataan pahit.