
Jerat CEO Tunangan Paksa
Bab 2
Melinda duduk diam di kursi mobil mewah milik Reyhan, tangan menggenggam tas tangan dengan erat seolah itu adalah satu-satunya hal yang bisa menahan dirinya dari ambruk. Setiap kata yang keluar dari mulut Reyhan masih terngiang di telinganya: "Aku ingin kamu menjadi tunanganku." Kalimat itu begitu asing, begitu tak masuk akal, dan pada saat yang sama, begitu nyata. Ia merasakan jantungnya berdebar kencang, setiap detak terasa semakin menekan dadanya.
Mobil melaju dengan kecepatan yang cukup tinggi, namun dalam pikirannya, dunia seperti berjalan lebih lambat. Seolah ia terjebak dalam sebuah labirin yang tidak tahu arah keluarnya. Bagaimana mungkin? Bagaimana mungkin Reyhan yang baru saja ia kenal, yang bahkan hanya membantunya karena kecelakaan di toilet, kini meminta hal sebesar itu? Mungkin Reyhan menganggapnya lemah, mudah dimanipulasi. Mungkin, pria itu hanya bermain-main dengannya-tapi mengapa ia merasa seperti ada sesuatu yang lebih besar yang sedang terjadi?
"Kenapa?" kata Melinda akhirnya, dengan suara hampir berbisik, tapi cukup jelas untuk memecah keheningan yang menekan di antara mereka. "Kenapa aku? Apa yang sebenarnya kamu inginkan dariku?"
Reyhan tidak segera menjawab. Ia tetap fokus pada jalan di depan, matanya yang tajam melihat ke depan seakan bisa menembus segala halangan. Hening yang menyelimuti mobil itu terasa sangat berat, bagaikan sebuah beban yang tidak bisa diterima begitu saja.
"Karena kamu berbeda," jawab Reyhan akhirnya, suara rendah dan penuh makna. "Aku bisa melihatnya. Kamu bukan wanita yang mudah digoyahkan, bukan wanita yang akan dengan mudah tunduk pada tekanan. Kamu punya kekuatan dalam dirimu, Melinda. Itu yang aku butuhkan."
Melinda terdiam mendengar jawabannya. Sesuatu yang ia anggap sebagai kelemahan, sesuatu yang membuatnya merasa hancur beberapa waktu lalu, kini disebut sebagai kekuatan. Dia tidak tahu harus merasa terhina atau merasa terhormat.
"Dan kalau aku menolak?" tanya Melinda, mencoba untuk tidak menunjukkan betapa kacau hatinya. "Apa yang akan kamu lakukan padaku?"
Reyhan menoleh sejenak, dan ada tatapan aneh di matanya-sebuah tatapan yang sulit untuk dijelaskan. "Aku tidak akan melakukan apa pun padamu, Melinda. Aku hanya akan memberi waktu. Waktu untuk berpikir. Tapi aku tidak akan membiarkanmu pergi begitu saja."
Melinda merasa ada rasa panas yang tiba-tiba menjalar di tubuhnya. Sakit. Dia merasa seperti dikepung oleh dinding yang semakin menyempit, tidak ada jalan keluar, tidak ada pilihan yang tersisa.
"Apa yang kamu inginkan dariku, Reyhan?" kali ini suara Melinda hampir pecah, menahan rasa amarah yang berkecamuk di dadanya. "Aku bukan mainanmu! Aku bukan sesuatu yang bisa kau tarik atau lepaskan sesuka hati!"
Reyhan menatapnya dengan penuh perhatian, seakan mencoba memahami emosi yang meluap dalam diri Melinda. Namun, ia tidak menarik kata-katanya. "Aku tahu kamu marah. Aku tahu ini tidak mudah untukmu. Tapi ingat, ini bukan hanya tentang kamu dan aku. Ini tentang apa yang terjadi setelah kamu menolak, apa yang akan terjadi pada hidupmu setelah ini."
Melinda merasa seolah dia terjepit di antara dua pilihan yang tidak bisa ia pilih. Di satu sisi, ia ingin menolak semuanya, ingin melupakan pria ini dan kembali ke hidup yang ia kenal sebelum semua kekacauan ini datang. Namun, di sisi lain, ada rasa takut yang tiba-tiba muncul, ketakutan akan konsekuensi dari penolakan itu, ketakutan bahwa Reyhan yang begitu kuat dan berpengaruh bisa membuat hidupnya semakin sulit.
"Apa yang akan terjadi pada hidupku?" tanya Melinda, matanya tajam menatap Reyhan. "Apa yang kamu lakukan? Apa yang bisa kamu lakukan padaku?"
Reyhan menghela napas panjang, seolah menarik sesuatu yang lebih dalam dari dalam dirinya sebelum berbicara. "Aku tidak akan membuat hidupmu lebih sulit, Melinda, tapi aku ingin kamu mengerti. Ini adalah kesempatan yang tidak akan datang dua kali. Jika kamu menolak, kamu akan kehilangan lebih banyak daripada yang bisa kamu bayangkan. Ada banyak orang yang menginginkan kamu dalam posisi ini. Posisi yang akan mengubah segalanya."
Melinda merasa sebuah kekhawatiran yang tak terlukiskan merayapi hatinya. Apakah Reyhan benar? Apakah ia akan terjerat dalam masalah yang lebih besar jika menolak? Sudah cukup ia terjatuh dalam pengkhianatan Raka dan Nadia. Kini, ia harus memilih-terima tawaran yang aneh ini atau melawan segala ketakutan yang ada dalam dirinya?
Namun, sesaat kemudian, Melinda tersadar. *Apa yang sedang aku pikirkan? Kenapa aku harus memikirkan ini?* pikirnya dalam hati. Ia tidak ingin menjadi wanita yang hanya menyerah pada situasi, apalagi pada seseorang seperti Reyhan. Tidak! Ia tidak akan membiarkan dirinya terjebak dalam jerat yang tidak ia inginkan.
"Tidak," kata Melinda, suara tegas meskipun hatinya bergejolak. "Aku tidak akan menjadi tunanganmu, Reyhan. Aku tidak akan terlibat dalam permainanmu ini."
Reyhan menatapnya dengan wajah datar, tidak terkejut, namun juga tidak terlihat marah. Ia hanya mengangguk pelan, seolah sudah memperkirakan jawaban itu. Namun, ada sedikit kerutan di dahi dan matanya yang tajam menatap Melinda dengan cara yang sangat intens.
"Kalau itu yang kamu pilih, Melinda, maka kamu harus siap menghadapi segala akibatnya," kata Reyhan, suaranya semakin rendah dan penuh tekanan. "Aku tidak akan membiarkanmu pergi begitu saja tanpa memperhitungkan apa yang terjadi setelah ini. Keputusanmu akan membawamu ke arah yang tak terduga."
Melinda merasa tubuhnya semakin dingin. Kata-kata Reyhan tidak pernah terasa begitu berat, begitu menekan. Setiap kata itu seperti belati yang menancap dalam-dalam ke dalam hatinya. Namun, ia tahu bahwa apapun yang terjadi, ia tidak bisa mundur. Ia harus bertahan. Ia harus berjuang.
Reyhan kembali menoleh ke jalan, mengalihkan pandangannya dari Melinda yang terdiam, menatap ke luar jendela. Mobil terus melaju dalam keheningan yang penuh ketegangan. Namun, dalam benak Melinda, pikirannya tidak bisa berhenti berputar. Apakah ia benar-benar siap menghadapi apa yang akan datang? Apa yang akan terjadi jika ia menolak tawaran Reyhan? Apa yang akan terjadi jika ia menerima?
Dan saat itu juga, Melinda tahu, hidupnya sudah tidak akan pernah sama lagi.
Anda Mungkin Juga Suka





