
Jejak Masa Lalu
Bab 3
Pagi ini kabut tebal menyelimuti langit Jakarta. Dika yang baru saja Nindi bangunkan enggan beranjak dari ranjang karena udara dingin yang menusuk kulit. Laki-laki yang hanya mengenakan celana pendek itu justru menarik tubuh istrinya agar ikut berbaring dan mengurung tubuh mereka di bawah selimut tebal.
"Sayang, ini sudah siang. Kamu tidak takut terlambat?" ucap Nindi pelan.
Dika tak menggubris ucapan Nindi. Ia sedang sibuk mendekap tubuh istrinya dan menghirup aroma segar dari tengkuk wanita itu.
"Ihh sayang, geli." Nindi berusaha berkelit dari bibir Dika yang berada di lehernya. "Ayo cepat mandi, Bapak Andika Mahendra! Anda bau."
"Jangan berisik, Sayang. Ini masih dingin. Biarkan aku panas dulu, baru setelah itu kita mandi sama-sama." Dika menurunkan baju yang menutupi bahu istrinya dan membuat tanda kemerahan di sana.
"Kamu kenapa akhir-akhir ini jadi pemalas seperti ini, sih, Sayang? Kasihan Kak Bimo kalau restorannya rugi gara-gara salah satu chef-nya malas seperti kamu."
Dika mendongak dan memandang Nindi sengit. "Berisik!" katanya tajam "Kalau kamu tidak mau diam nanti aku cium sampai napasmu habis. Mau?"
Nindi mendelik dan tanpa aba-aba ia melayangkan sebuah cubitan di perut Dika yang tak tertutup sehelai benang pun.
"Aduh Sayang, lepas. Sakit! Sakit!" Dika melepaskan cubitan istrinya dan memandang wanita itu dengan tatapan memelas. "Kamu kenapa jadi sadis seperti ini, sih, Sayang? Kamu tidak tahu kalau melakukan kekerasan itu ada hukum pidananya? Kamu mau masuk penjara?"
"Biar saja. Aku kesal denganmu. Kenapa, sih, otakmu mesum sekali?"
"Mesum-mesum begini juga suamimu."
"Terpaksa," balas Nindi ketus.
"Jangan bilang terpaksa, Sayang. Nanti kalau aku diambil perempuan lain baru kamu menangis meraung-raung."
Nindi tersentak mendengar ucapan Dika. Matanya yang bulat memandang laki-laki itu tajam, membuat Dika yang menyadari perubahan raut wajah Nindi menjadi khawatir.
"Sayang, kenapa menatapku begitu? Horor." Dika tersenyum kikuk.
"Jaga ucapanmu!" ujar Nindi tajam. Dengan kasar dilepaskannya pelukan Dika dan ia bergegas berdiri.
Dika tak tinggal diam. Ia menarik Nindi hingga perempuan itu terduduk di ranjang dengan tangan yang ia genggam erat.
"Kamu marah, Sayang? Aku hanya bercanda," ujar Dika yang merasa cemas melihat perubahan ekspresi wajah istrinya.
Nindi tersenyum sinis. "Apa arti bercanda sudah berubah? Bukankah tujuan bercanda adalah untuk membuat orang lain tertawa? Lalu menurut kamu, apa ucapanmu tadi bisa membuat tertawa?"
Dika menatap istrinya yang tengah diliputi amarah dengan pandangan bersalah. Ia tak menyangka ucapan spontannya dapat menyulut emosi Nindi.
"Sayang, aku benar-benar minta maaf. Aku tidak bermaksud membuatmu marah. Aku mohon maafkan aku, ya."
Nindi menghela nafas kasar. "Sudah, lupakan saja. Lebih baik kamu cepat mandi, setelah itu kita sarapan. Jangan sampai kamu terlambat masuk kerja."
Dika mendekap tubuh Nindi sebelum wanita itu berdiri lagi. "Maafkan aku dulu, baru aku akan melakukan seperti yang kamu bilang."
Nindi berusaha melepaskan pelukan Dika, tetapi karena tenaga laki-laki itu lebih besar darinya membuat posisis mereka tak berubah.
"Tidak akan aku lepas sebelum kamu memaafkanku," ujar Dika.
Nindi tak kehilangan akal. Ia mencubit perut Dika dengan keras hingga laki-laki itu memekik kesakitan dan melepaskan pelukannya.
Kesempatan itu dimanfaatkan Nindi untuk kabur. Namun, sebelum tubuhnya mencapai pintu, Dika sudah berhasil mendekapnya dari belakang. Laki-laki itu juga menahan kedua tangan Nindi di perut wanita itu. Ia tak ingin Nindi menyarangnya lagi dengan cubitan yang menyakitkan. Benar kata orang, kecemburuan seorang perempuan bisa meluluh lantahkan dunia. Ia bahkan yakin perutnya akan memiliki jejak keunguan yang tak akan hilang dalam waktu dekat.
"Kalau kamu seperti ini terus, aku tidak akan segan-segan berbuat kasar hingga kamu menjerit kesakitan,"
"Dika!" Nindi membentak suaminya dan mendelik ke arah laki-laki yang sering bicara semaunya sendiri.
Dika menyambar bibir Nindi kilat, mengundang delikan tajam dari wanita itu.
"Jangan panggil namaku tanpa embel-embel sayang di belakangnya."
"Lepas, Andika Mahendra! Lepas!" Nindi meronta, tapi Dika sama sekali tak peduli. Laki-laki itu justru menciumi tengkuk Nindi halus.
"Jadi kamu tatap mau marah denganku? Baik, kalau ini maumu, Sayang. Jangan menangis kalau sakit." Dika menarik Nindi menuju ranjang. Tubuh mungil wanita itu dihempaskannya pelan dan ia kungkung di bawah tubuh tingginya.
"Apa yang mau kamu lakukan?" Nindi memandang suaminya ngeri.
Kejadian ini persis seperti dua tahun yang lalu. Saat itu mereka tengah makan malam di luar. Tanpa diundang, seorang perempuan ikut duduk di meja mereka. Dika bilang itu rekan sesama chefnya dan mereka terlibat obrolan seru. Iya, mereka, Dika dan perempuan itu. Nindi yang merasa keberadaannya diabaikan jelas marah. Ia mendiamkan Dika selama dua hari. Akibatnya, seperti hari ini, Dika menggaulinya dengan kasar.
Nindi masih ingat dengan jelas semua rasa sakit dari perbuatan kasar Dika. Ia bahkan menangis sepanjang malam itu dan tidak bisa bangun keesokan harinya.
'Rasanya sakit sekali melihatmu mengacuhkanku seperti itu. Jadi jangan salahkan aku kalau aku membagi rasa sakit ini padamu.' ujar Dika kala itu.
Setelah hari itu, Nindi tak pernah lagi marah berkepanjangan dengan Dika. Mereka selalu menyelesaikan semua masalah dengan cepat tanpa harus saling mendiamkan dalam waktu lama.
"Menurutmu apa yang mau aku lakukan?" Dika menyeringai, membuat Nindi bergidik ngeri. Tanpa aba-aba laki-laki itu menyelusupkan kepalanya ke leher Nindi.
"Aaaa! Sayang, lepas! Sakit, Sayang, sakit." Nindi menitikkan air mata begitu merasakan gigi Dika melukai lehernya. Ia mencoba berkelit, tetapi cengkeraman Dika di tangannya begitu erat.
Dika sendiri sama sekali tak peduli dengan Nindi yang meronta. Jika wanita itu bisa meninggalkan jejak keunguan di perutnya, ia juga bisa melakukan hal yang sama di leher Nindi dengan jumlah yang lebih banyak.
"Sudah, Sayang. Aku menyerah. Aku mau memaafkanmu."
Dika mengangkat kepalanya dan mendapati wajah Nindi yang meringis kesakitan. Dika melepaskan cengkeramannya pada tangan Nindi, lantas mengusap air mata wanita dengan lembut. Tak lupa sebuah kecupan ia daratkan di kening wanita kesayangannya.
"Apa seperti ini cara meminta maaf? Aku yakin hanya kamu manusia di dunia ini yang meminta maaf dengan cara menyakiti," keluh Nindi kesal.
"Oh, jadi kamu tidak benar-benar memaafkanku?"
Nindi yang melihat pergerakan Dika segera menutup mulut laki-laki itu. Tak akan ia biarkan gigi-gigi Dika menancap lagi di lehernya. Secepat kilat wanita itu memberikan ciuman di pipi suaminya.
"Andika Mahendra-ku Sayang, aku sudah memaafkanmu. Sudah ya, kamu harus siap-siap berangkat kerja. Jangan sampai kamu terlambat dan Kak Bimo memotong gajimu. Kasihan istrimu ini kalau jatah beli bedaknya dikurangi."
Dika terkekeh dalam bekapan tangan Nindi. Istrinya itu memang sering kali mengeluarkan kata-kata ajaib yang dapat mengubah suasana hatinya yang buruk menjadi lebih baik.
Disingkirkannya tangan Nindi dari mulutnya dan satu kecupan singkat mendarat di bibir perempuan itu.
"Aku lebih suka ciuman di situ." Dika menggulingkan tubuhnya hingga berbaring di samping Nindi.
"Maaf ya, Sayang, tadi aku membuatmu marah," ujar Dika ketika melihat Nindi sudah duduk dan merapikan bajunya yang sedikit berantakan.
Nindi mengangguk dan tersenyum ke arah Dika. "Asal jangan diulangi. Aku benci kalau kamu memiliki perempuan lain meski dia hanya ada dalam candaan."
Dika bangkit, duduk di sebelah Nindi dan menggenggam tangan perempuan itu penuh perasaan.
"Kamu satu-satunya perempuan yang aku cintai. Kalaupun ada perempuan lain, itu hanya mama dan Kak Gita. Kamu juga tahu mereka punya tempat yang berbeda dari kamu di hatiku," ujar Dika meyakinkan.
Mata Nindi berkaca-kaca mendengar ucapan Dika. "Iya, aku percaya," katanya. "Maaf tadi aku terbawa emosi. Aku benar-benar cinta padamu, Sayang. Karena rasa cinta itu juga, aku jadi sangat takut kehilangan kamu. Aku takut tidak bisa menjadi istri yang baik dan akhirnya kamu berpaling pada perempuan lain."
"Siapa bilang kamu bukan istri yang baik?" Dika berkata tidak terima. "Aku pernah berada di posisi yang paling rendah dan kamu tetap setia di sisiku. Kamu yang paling bisa menghiburku, perempuan yang paling penurut dan pengertian, kamu juga selalu melayaniku dengan baik. Jadi, dengan semua kelebihanmu itu, siapa yang berani bilang kamu bukan istri yang baik?" tutur Dika tulus.
Nindi memandang Dika dengan haru, bahkan air matanya sampai berjatuhan saking bahagianya. Ia selalu merasa menjadi perempuan paling hebat ketika Dika memujinya.
"Hey Sayang, jangan menangis. Nanti bedakmu luntur." Dika terkekeh dan menghapus air mata Nindi dengan ibu jarinya.
Nindi membalas perlakuan Dika dengan pelukan erat di tubuh laki-laki itu.
"Aku cinta kamu, Sayang. Jangan pernah tinggalkan aku." Tangis Nindi semakin keras.
Entah kenapa akhir-akhir ini perasaan Nindi sering tak tenang. Ia merasa berat ketika melepas Dika pergi bekerja. Apalagi dengan laki-laki itu yang akhir-akhir ini sering pulang terlambat, membuatnya sering berpikir buruk.
"Aku janji tidak akan pernah meninggalkan kamu, Sayang," Dika berkata sungguh-sungguh.
Laki-laki itu melepaskan pelukannya dan tersenyum pada Nindi yang tengah menyeka air mata.
"Sudah selesai menangisnya?"
Nindi mengangguk. Ia tersenyum manis pada Dika. "Sekarang kamu mandi ya, Sayang. Sudah panas, 'kan?" Nindi terkekeh di akhir kalimat. Tentu saja hati Dika panas setelah tadi mereka mengeluarkan amarah.
Dika mendengus. Padahal bukan panas seperti itu yang ia harapkan. "Aku mau mandi kalau kamu temani," rajuk Dika manja.
"Tapi aku sudah mandi, Sayang."
"Tidak masalah. Tambah cantik nanti kalau kamu mandi lagi."
Nindi mencebik. Ia hendak protes, tetapi sebelum bibirnya terbuka, Dika sudah terlebih dulu mengangkatnya dalam gendongan.
"Sayang, apa-apaan, sih. Nanti aku jatuh." Nindi yang terkejut memukul dada Dika pelan.
"Kamu tidak akan jatuh kalau diam. Tapi kalau kamu mau mesra-mesraan dengan lantai, ya, tidak masalah. Dengan senang hati aku akan melepaskanmu."
Nindi memajukan bibir mendengar ucapan Dika. Suaminya memang kadang semenyebalkan ini. Jadi, dari pada ia benar-benar mencium lantai, lebih baik ia pasrah dengan apa yang Dika lakukan. Dikalungkan tangannya pada leher belakang Dika dan mencari posisi nyaman dengan bersandar pada dada bidang laki-laki itu.
Dika tersenyum atas perbuatan istrinya. "Anak pintar," pujinya.
***
Setelah acara mandi yang cukup memakan waktu, pasangan suami istri itu duduk di meja makan panjang dengan kursi tinggi yang ditata sejajar, hingga tampak seperti mini bar.
Mereka sarapan dengan khidmat, hingga beberapa saat kemudian suara Dika terdengar.
"Oh, ya, Sayang, hari ini aku gajian," katanya, menoleh ke arah Nindi. "Sesuai jadwal kencan kita, hari Jumat nanti kamu mau ke mana?" tanyanya.
Seperti restoran kebanyakan, tempat kerja Dika tidak memilik hari libur, kecuali di hari-hari besar. Namun, khusus di hari Jumat, jam kerja karyawan lebih pendek. Mereka yang biasanya pulang jam sembilan malam, bisa pulang jam tiga sore ketika hari Jumat. Maka dari itu, Nindi dan Dika selalu menetapkan hari itu sebagai hari kencan mereka. Entah sekedar jalan-jalan, menginap di hotel, atau makan di luar, yang penting mereka bisa menghabiskan waktu berdua tanpa terbebani dengan pekerjaan dan tugas rumah.
Nindi tampak berpikir untuk menjawab pertanyaan Dika. "Mau ke mana, ya? Aku bingung. Kita sudah sering menginap di hotel. Kita juga sudah sering mencoba makanan di sana-sini. Bosan kalau hanya begitu-begitu terus."
"Kalau menonton di bioskop bagaimana?" Dika memberi saran.
"Dari pada di bioskop lebih baik menonton di rumah saja. Lebih murah, lebih nyaman, dan pastinya lebih bebas kalau mau melakukan apa saja."
Sebelah alis Dika terangkat mendengar ucapan Nindi. "Memang kalau di bioskop kamu tidak bebas melakukan apa?" tanyanya. "Oh, aku tahu. Di bioskop kamu pasti tidak bebas kalau mau melakukan hal yang tidak-tidak denganku, 'kan?" Dika menaik turunkan alisnya, menggoda.
Nindi mendengus. Tahu sekali maksud dari kata 'tidak-tidak' itu.
"Aku bukan kamu yang punya otak mesum."
Dika tertawa melihat wajah jengkel Nindi.
"Ya sudah," ujar Dika setelah menghentikan tawanya. "Bagaimana kalau kita dinner romantis? Teman SMA-ku baru saja membuka restoran Jepang. Katanya makanan di sana enak-enak. Kita coba, ya?"
"Kamu kan tahu, Sayang, aku tidak terlalu suka makan di restoran. Porsinya sedikit. Sudah mahal, tidak membuat kenyang pula," katanya.
"Lalu kita mau ke mana? Tidak mau kencan?"
"Nanti aku pikirkan lagi. Masih empat hari lagi, 'kan?" ujar Nindi. "Oh ya, Sayang, sebenarnya aku sudah memikirkan ini dari lama. Bagaimana kalau gajian bulan ini kita membeli hadiah untuk mama?"
"Hadiah?"
"Iya. Mama, kan, sering tersinggung kalau kita memberi uang. Bagaimana kalau kita membelikan mama sesuatu? Siapa tahu mama suka."
Dika menghela napas. Disuapkan nasi ke dalam mulutnya tanpa memandang Nindi. "Mama itu sudah kaya, Sayang. Apalagi yang mau kita berikan? Pasti mama sudah punya semua."
"Tapi mama belum punya barang yang diberi oleh anak laki-laki tampannya ini." Nindi mengusap pipi Dika dan tersenyum manis.
"Apa bedanya?"
"Jelas beda, Sayang. Aku saja lebih suka memakai barang yang kamu belikan dari pada barang yang aku beli sendiri. Padahal yang kamu beli belum tentu lebih bagus dan mahal. Tapi, setiap memakai pemberianmu, aku selalu merasa istimewa. Aku merasa kamu begitu menghargaiku dan seolah tengah berterima kasih atas apa yang sudah aku lakukan untukmu. Aku yakin mama akan merasakan itu juga saat kamu memberinya sesuatu."
Dika memandang wajah Nindi yang berseri-seri. Ia turut membenarkan apa yang istrinya ucapkan.
Dulu, ketika kehidupan ekonomi mereka masih susah, Dika pernah menghadiahkan Nindi sebuah gaun tidur berwarna merah. Tidak mahal, tapi Nindi sangat senang saat menerimanya. Perempuan itu bahkan sering sekali memakai baju itu padahal bajunya yang lain juga banyak yang lebih bagus. Nindi bilang ia senang memakai pemberian Dika. Sejak saat itu, Dika sering sekali membelikan barang-barang untuk Nindi agar perempuan itu senang.
"Ya sudah nanti kita belikan baju atau tas untuk mama. Tapi kamu yang pilih, ya?"
Nindi mengangguk antusias. "Asal kamu yang mengantar ke rumah mama."
Dika mengangguk, paham sekali maksud Nindi. Istrinya itu enggan ke rumah mamanya. Bukan karena tidak suka pada wanita yang telah melahirkannya itu, justru sebaliknya, mamanya tidak pernah suka dengan Nindi. Perbedaan status sosial mereka yang menjadi alasannya.
"Terima kasih, ya, Sayang." Dika berujar tulus. "Padahal mama sering berlaku buruk padamu, tapi kamu justru membalas mama dengan kebaikan. Aku benar-benar beruntung memiliki istri sepertimu."
"Kamu tahu kenapa aku memperlakukan mama begitu?" tanya Nindi dan mendapat gelengan dari Dika. "Jelas karena Bu Dewi sudah melahirkan Bapak Andika Mahendra yang penyayang dan perhatian ini. Anggap saja ini bentuk terima kasihku pada Bu Dewi karena anaknya selalu memanjakanku."
Dika terkekeh mendengar penuturan Nindi.
"Coba saja kedua orang tuamu masih hidup, pasti aku akan memperlakukan mereka dengan baik," ujar Dika.
"Kamu bisa melakukannya pada Bang Gany." Nindi memberi saran.
"Bang Gany?" Dika tampak keberatan. "Aku rasa sulit kalau melakukannya ke Bang Gany. Kamu tahu, 'kan, Sayang, Bang Gany tidak pernah suka padaku," katanya.
Dika masih ingat betul bagaimana pertemuan pertamanya dengan saudara laki-laki Nindi itu. Empat tahun yang lalu, saat ia menikahi Nindi dan Gany datang sebagai wali adiknya, laki-laki itu terus menunjukkan wajah garangnya pada Dika. Jika kebanyakan orang tua atau wali akan memberikan nasihat pada mempelai, Gany justru memberi Dika ancaman. Laki-laki itu terang-terangan mengatakan akan melakukan hal yang buruk apabila Dika berani menyakiti Nindi.
"Bang Gany bukannya tidak suka padamu, Sayang. Sikap ketus Bang Gany padamu itu hanya karena dia terlalu sayang padaku. Jadi maklum saja kalau dia sedikit protektif. Bang Gany hanya belum terima jika adiknya ini sudah jadi istri orang."
Dika tak begitu percaya pada ucapan Nindi. Ia rasa sikap dingin Gany terjadi karena laki-laki itu tidak percaya jika ia mampu membahagiakan Nindi.
"Kalau kamu memperlakukan Bang Gany dengan baik, lama-lama Bang Gany pasti luluh. Aslinya Bang Gany itu baik dan penyayang."
Dika mengangkat bahu, tak menjawab lagi ucapan istrinya. Ia sudah kehabisan ide untuk meluluhkan hati abang iparnya. Dari pada ia bersusah payah mengambil hati Gany yang ketus dan dingin, lebih baik ia mengambil hati adiknya saja. Jika Gany melihat Nindi bahagia bersamanya, lambat laun Gany pasti akan mengakui bahwa ia memang pantas untuk Nindi.
"Bicara tentang gaji, Kak Bimo tidak memotong gajimu, 'kan, Sayang?" Nindi bertanya ketika mereka selesai sarapan. Dengan cekatan wanita itu membereskan piring kotor dan membawanya ke wastafel.
Alis Dika terangkat mendengar pertanyaan Nindi. "Kenapa harus dipotong? Memangnya aku melakukan kesalahan apa?"
Nindi berbalik, tubuhnya ia sandarkan pada pinggiran wastafel. Ia menatap Dika dengan pandangan serius.
"Kamu sering terlambat akhir-akhir ini, Sayang. Jangan-jangan Kak Bimo sudah memotong gajimu tanpa kamu tahu," ujar Nindi. "Memangnya Kak Bimo tidak pernah menegur? Atau gara-gara adik ipar sendiri, jadi Kak Bimo sungkan kalau mau menegur, ya?"
Dika mendengus. Ia kira kesalahan apa yang Nindi maksud.
"Kak Bimo itu profesional, Sayang, makanya restorannya bisa sesukses sekarang. Kalau gajiku tidak dipotong meski sering terlambat, berarti kesalahanku tidak fatal, dan yang terpenting kinerjaku tetap memuaskan, bukan karena aku ada hubungan keluarga dengannya." Dika membela diri. "Lagi pula aku sering terlambat juga gara-gara kamu," lanjutnya, membuat dahi Nindi mengernyit.
"Gara-gara aku? Tidak salah?" Nindi berkata keberatan. "Aku bahkan sudah membangunkanmu pagi-pagi sekali, sudah tepat waktu menyiapkan keperluanmu. Kamu saja yang malas. Kenapa justru menjadikan aku kambing hitam?"
"Memang gara-gara kamu, Sayang. Kamu tidak sadar? Kamu membangunkanku dengan penampilan cantik dan badan harum seperti itu, siapa yang tahan? Ya, jadi salah kamu kalau aku maunya mesra-mesraan denganmu di kamar sampai aku terlambat."
Nindi benar-benar tak habis pikir dengan jawaban Dika. Karena kesal, ia memercikkan air dari wastafel ke arah laki-laki itu.
"Hey!" Dika berseru tidak terima. "Jangan cari gara-gara, ya, Ibu Nindia Putri. Kalau sampai aku terlambat lagi, kamu yang akan menanggung akibatnya."
Nindi tersenyum dan kembali memercikkan air ke arah Dika. "Biar saja kamu terlambat. Aku mau tahu bagaimana Kak Bimo memarahimu."
"Oke kalau maumu begitu." Dika berdiri dari kursi dan mencekal tubuh Nindi untuk ia gelitiki pinggangnya.
"Hahahaha Sayang, ampun, geli haha." Nindi meronta, tapi Dika masih tetap pada aksinya. Bahkan hingga Nindi jatuh terduduk, Dika tak juga berhenti.
"Sayang, sudah, itu ada tamu." Nindi berujar lemas di sela gelitikan suaminya.
Dika yang juga mendengar suara bel, akhirnya melepaskan Nindi.
"Siapa yang bertamu pagi-pagi seperti ini? Mengganggu kesenangan orang saja," gerutu Dika.
"Biar aku lihat." Nindi merapikan bajunya yang kusut karena ulah Dika dan segera bergegas ke ruang depan.
"Erin?"
Nindi mendapati sosok tetangganya ketika ia membuka pintu. Wanita itu tersenyum, terlihat lebih segar dari kemarin yang kuyu dan wajah dipenuhi air mata. Ah, jangan lupakan perempuan muda di sampingnya yang tengah menggendong Rafif.
Siapa perempuan di samping Erin itu?
Bersambung..
Anda Mungkin Juga Suka





