
Jebakan Sang Mantan Istri
Bab 2
Guncangan halus itu membangunkan Calista. Pelan, tapi cukup untuk membuatnya sadar bahwa sebentar lagi, ia akan menginjakkan kaki di tanah yang dulu membuatnya nyaris mati. Ia membuka mata. Langit Jakarta dari jendela pesawat tampak keemasan, disinari matahari pagi yang sebentar lagi akan berubah menjadi panas menyengat.
Di sebelahnya, Zion dan Alara sudah bangun. Alara langsung menempel di jendela, matanya berbinar.
"Ibu! Lautnya! Bagus sekali!" seru Alara, menunjuk ke bawah.
"Iya, Sayang. Indah, kan?" Calista tersenyum, meski hatinya terasa seperti tercekik. Keindahan ini adalah jebakan. Di balik keindahan Jakarta, ada predator yang menunggunya.
Zion hanya diam, kembali memasang kacamata hitamnya, padahal cahaya di dalam pesawat tidak terlalu silau. Ia menyandarkan kepala di bahu Calista.
"Aku takut," bisik Zion pelan, suaranya nyaris hilang ditelan dengung mesin pesawat.
Tangan Calista langsung merangkul pundak Zion. "Takut apa, Nak?"
"Takut... kita ketahuan. Takut kalau Ayah tahu kita ada di sini."
Pengakuan itu menusuk Calista. Anaknya yang paling cerdas ini sudah menyerap semua ketakutannya. Calista mengeratkan pelukannya. "Dengar Ibu. Tidak ada yang akan tahu. Kita sudah jadi hantu yang sempurna. Kita akan tinggal di tempat yang sangat tersembunyi. Dan kita di sini hanya sementara, sampai Ibu selesai dengan misinya. Oke?"
Zion mendongak. "Misi Ibu itu apa? Menghukum orang jahat?"
Calista tersenyum getir. "Ya. Menghukum orang jahat yang sudah membuat kita jauh dari rumah kita yang sesungguhnya."
Tuk. Pesawat mendarat. Begitu pintu terbuka, Calista merasakan gelombang udara panas dan lembap menerpa wajahnya. Bau Indonesia. Bau yang dirindukan, sekaligus bau yang membuatnya mual karena kenangan buruk.
Bandara Soekarno-Hatta ramai sekali. Calista berjalan cepat, menggandeng kedua anaknya di antara lautan manusia yang seolah tak peduli satu sama lain. Ia harus ekstra hati-hati. Di sini, Pradipta Mahendra punya mata di mana-mana.
"Kita tidak pakai taksi, Bu? Aku capek," rengek Alara.
"Tidak, Sweetheart. Kita akan dijemput teman lama Ibu. Namanya... Om Satya," kata Calista, mempercepat langkahnya menuju salah satu pintu keluar domestik yang sepi.
Satya adalah satu-satunya orang yang tahu bahwa Calista masih hidup. Satya adalah pengacara ulung, sahabat karibnya dari masa kuliah, dan juga orang yang dulu menangani kasus perceraiannya - yang tidak pernah selesai karena 'kematiannya'.
"Ingat ya, Alara, Zion. Kalian harus memanggil Ibu dengan sebutan 'Tante' kalau ada orang asing," Calista mengingatkan, menatap tajam kedua anaknya. "Kita harus sangat, sangat berhati-hati."
Mereka sampai di area parkir yang sepi. Calista melihat sebuah mobil SUV hitam legam terparkir di ujung. Jendela mobil itu terbuka sedikit, dan Calista melihat wajah seorang pria yang sudah lama ia rindukan. Wajah lelah, tapi mata yang tajam dan penuh kehangatan.
Satya.
Calista langsung bergegas, tangannya menekan pundak anak-anaknya agar berjalan lebih cepat.
"Satya!" bisik Calista begitu sampai di samping mobil, langsung memeluk sahabatnya itu erat.
Satya membalas pelukan Calista, pelukan yang sarat kerinduan dan keprihatinan. "Calista... Astaga. Kau benar-benar kembali. Kau gila! Kenapa kau tidak memberitahu lebih awal?"
"Tidak ada waktu. Aku harus bergerak cepat," kata Calista, melepaskan pelukan dan menoleh ke anak-anaknya. "Ini Zion, dan ini Alara. Kalian panggil dia Om Satya."
Zion mengangguk sopan. Alara tersenyum malu-malu.
"Hai, jagoan! Kalian sudah besar sekali," sapa Satya, mengusap kepala Zion, lalu menatap Calista dengan tatapan serius. "Masuk sekarang. Tempat ini terlalu terbuka."
Begitu mereka semua masuk dan mobil melaju, Calista langsung menoleh ke Satya.
"Bagaimana? Apakah dia sudah mulai curiga?" tanya Calista, suaranya mendesak.
Satya menghela napas panjang sambil menyetir. "Pradipta? Dia sibuk hidup enak. Dia sekarang tunangan dengan Vania, model majalah yang usianya dua puluh tahun lebih muda. Dia menikmati semua yang kau tinggalkan."
Mendengar nama Vania membuat Calista merasa mual. Itu wanita yang ia lihat bersama Pradipta beberapa hari sebelum kecelakaan.
"Bisnisnya?"
"Jaya, Calista. Bahkan lebih jaya. Dia berhasil 'memutihkan' semua aset kotor yang kalian punya, dan sekarang dia dianggap pahlawan bisnis muda. Dia menginvestasikan uang yang seharusnya jadi milikmu dan anak-anak ke properti dan tambang. Dia sangat kuat."
"Dia kuat, tapi dia juga arogan," Calista menyeringai dingin. "Itu kelemahannya."
"Tapi dia tidak bodoh, Calista. Dia tahu kau membawa rahasia yang bisa menghancurkannya. Kalau dia tahu kau masih hidup, dia akan mencari dan... dia tidak akan membuat kesalahan kedua." Satya menoleh sekilas, matanya penuh peringatan. "Rencana kita harus sempurna."
Calista mengangguk. "Aku tahu. Aku tidak akan bergerak sebagai Akira Geralda. Aku akan bergerak sebagai kliennya."
Satya membelalak. "Klien? Maksudmu..."
"Ya. Aku ingin kau memasukkanku ke dalam kantor hukumnya, Satya. Aku ingin mendekati Pradipta, tapi bukan sebagai istrinya, melainkan sebagai saingan yang sangat kaya dan berbahaya. Aku butuh data. Data yang hanya bisa kudapatkan dari dalam."
Satya menggeleng. "Itu gila! Kantornya seperti benteng. Kau akan mempertaruhkan nyawamu lagi!"
"Aku tidak minta izin, Satya. Aku minta bantuanmu," potong Calista tajam.
Satya terdiam. Ia tahu, ketika Calista sudah mengambil keputusan, tidak ada yang bisa menghentikannya. Apalagi setelah semua yang ia lalui.
Calista dan anak-anaknya tidak dibawa ke apartemen mewah. Satya membawa mereka ke sebuah rumah sewa tua, tersembunyi di gang sempit Jakarta Selatan. Rumah itu kecil, dengan pagar tinggi yang tertutup tanaman rambat. Aman, tapi jauh dari kata nyaman.
Begitu sampai, konflik kembali muncul dari sisi Zion.
"Rumah ini... gelap," kata Zion, melepas kacamata hitamnya dan melihat sekeliling. "Kenapa kita tidak tinggal di tempat yang bagus? Seperti di London."
Calista berjongkok, merapikan baju Zion yang lusuh. "Karena di tempat yang bagus, banyak mata jahat, Nak. Rumah ini... rumah ini tempat kita membangun benteng. Kita harus jadi pejuang, oke?"
"Tapi aku tidak mau jadi pejuang. Aku mau sekolah di sekolah yang bagus. Sekolah yang tidak membuat orang-orang curiga kenapa aku selalu pakai nama belakang 'Anindya'," keluh Zion.
"Kau akan sekolah di sekolah yang bagus, Sayang. Tapi nanti. Setelah Ibu selesai dengan urusan ini," janji Calista.
Tapi janji itu tidak cukup bagi Zion. Anak itu kini berdiri di sudut ruangan, wajahnya murung.
Alara justru beradaptasi lebih cepat. Gadis kecil itu sudah lari ke halaman belakang, mencoba menangkap kadal.
"Aku akan siapkan makan malam. Kau istirahat saja," kata Satya, menyadari ketegangan antara ibu dan anak itu.
Setelah Satya pergi ke dapur, Calista mendekati Zion. "Ibu tahu kau marah. Tapi tolong, Nak. Kita harus melakukan ini."
"Aku tidak mengerti," Zion akhirnya bicara, suaranya bergetar. "Kenapa kita tidak bisa hidup normal? Kenapa Ibu selalu bilang 'hanya sebentar lagi' tapi 'sebentar' itu sudah enam tahun?"
Itu adalah pukulan telak. Calista menunduk. Ia tidak bisa menjawab.
"Ibu tidak berbohong, Nak. Tapi... musuh kita ini besar sekali. Sangat besar. Kalau Ibu tidak hati-hati, mereka bisa mengambilmu dan Alara," ujar Calista, mencoba menakut-nakuti sedikit demi keselamatan mereka.
Zion menatapnya, matanya yang tajam dan polos terlihat jelas tanpa kacamata. "Kenapa Ayah berbuat jahat, Bu? Bukannya Ayah itu pahlawan di koran?"
"Pahlawan bisa jadi penjahat di balik layar, Sayang. Ibu akan membuktikannya. Itu janji Calista padamu. Beri Ibu waktu sebentar lagi," kata Calista, menarik Zion ke pelukannya. Ia menangis tanpa suara di rambut anaknya.
Malam harinya, Calista bertemu Satya lagi di ruang tamu yang remang-remang. Anak-anak sudah tidur.
Satya menyodorkan sebuah flash drive kecil. "Ini semua data yang bisa kudapatkan. Pradipta sekarang bekerja sama dengan Kelompok Sanjaya. Orang-orang ini jauh lebih berbahaya dari suamimu. Mereka tidak akan segan melenyapkanmu jika kau mengganggu investasi mereka."
"Kelompok Sanjaya," ulang Calista. Nama itu asing, tapi ia tahu pasti itu adalah dalang yang lebih besar yang ia cari.
"Aku sudah siapkan identitasmu. Kau bukan lagi Calista Anindya. Kau adalah Lana Videlia. Investor asing dari perusahaan minyak di Timur Tengah. Kau akan pura-pura tertarik menanamkan modal besar di properti Pradipta. Aku sudah atur pertemuanmu dengan Pradipta minggu depan."
Mendengar detail rencana itu, perut Calista terasa dingin. Pertemuan tatap muka pertama setelah enam tahun.
"Lana Videlia," Calista mencoba mengucapkan nama barunya. "Bagaimana dengan penampilanku?"
"Aku sudah siapkan. Rambutmu yang hitam lurus harus diubah. Potong pendek, dan cat jadi pirang. Kontak lensa berwarna. Tidak ada yang boleh mengenali mata Akira Geralda yang dulu," jelas Satya.
Konflik baru muncul. Calista harus membunuh sisa-sisa dirinya yang lama. Bahkan, wajah dan penampilannya harus dibunuh.
"Aku siap," kata Calista, tangannya meraih flash drive itu, menggenggamnya erat seperti nyawanya sendiri.
"Ada satu hal lagi, Lana. Pradipta punya anjing pelacak, namanya Yumna. Dia adalah sekretaris pribadi yang sangat loyal, dan dia punya insting kuat. Dia sangat protektif pada Pradipta. Jangan pernah meremehkan dia."
"Aku akan hadapi Yumna. Aku akan hadapi siapa pun," jawab Calista, matanya berkilat penuh tekad. Dendamnya kini berwujud. Ia sudah kembali.
Malam itu, Calista duduk sendirian di lantai, membuka isi flash drive di laptop bututnya. Foto-foto, dokumen, laporan keuangan. Semua bukti yang akan ia gunakan untuk menjatuhkan Pradipta. Semuanya terasa nyata.
Ia menoleh ke arah kamar anak-anaknya. Malam ini, bau gosong dari mobil yang terbakar itu tidak terlalu kuat. Bau itu digantikan oleh aroma debu dan harapan. Harapan akan keadilan.
Calista Anindya, kini Lana Videlia, sang 'hantu', sudah siap berburu. Ia kembali ke neraka pribadinya, dan ia siap membakarnya hingga rata dengan tanah.
Anda Mungkin Juga Suka





