
Jebakan Sang Mantan Istri
Bab 3
Pagi itu, di rumah sewa yang tersembunyi, Calista menghadap cermin. Di tangannya, sepasang gunting tajam yang ia beli di pasar terdekat. Ini bukan cuma potong rambut; ini ritual.
Rambut hitam lurus, yang dulu sering dibelai Pradipta dengan mesra, harus hilang. Rambut itu terlalu identik dengan Akira Geralda.
"Sudah siap, Tante Calista?" suara Satya terdengar dari belakang. Satya datang pagi-pagi membawa peralatan tempur lengkap: cat rambut pirang, kontak lensa abu-abu, dan perlengkapan make-up profesional.
"Siap. Tapi ini terasa aneh, Satya. Aku harus membunuh diriku sendiri," jawab Calista, menatap bayangan dirinya. Matanya masih mata yang sama, penuh dendam.
"Justru itu. Akira sudah mati enam tahun lalu. Lana Videlia yang akan mengubur Akira Geralda," ujar Satya, mengambil alih gunting. "Aku tidak bisa membuatmu nyaman, Calista. Tapi aku bisa membuatmu aman. Dan sekarang, kau harus berubah total."
Satya memotong rambut Calista dengan cepat dan tanpa ampun. Potongan bob pendek yang modern, tajam, dan sama sekali tidak seperti gaya Calista yang konservatif. Kemudian, proses pewarnaan yang memakan waktu lama.
Saat Calista mencuci rambut, ia melihat gumpalan air yang mengalir ke lantai. Itu bukan hanya air, tapi warna hitam dari masa lalunya.
Setelah rambutnya kering dan dicat pirang pucat-warna yang menarik perhatian-Calista memasukkan kontak lensa abu-abu yang membuat matanya terlihat dingin, hampir seperti mata asing.
Satya menyodorkan cermin.
Calista menatap pantulan itu. Ia melihat seorang wanita yang berbeda: kuat, fierce, dan asing. Wajahnya yang lembut kini terlihat tegas dan sedikit sombong-persis citra Lana Videlia, investor minyak Timur Tengah.
"Ini... bukan aku," bisik Calista.
"Bagus. Karena 'aku' yang lama itu lemah. Wanita ini, Lana Videlia, tidak punya trauma. Lana Videlia cuma punya tujuan: uang dan kekuasaan," Satya mengingatkan.
Tiba-tiba, pintu kamar mandi terbuka. Zion berdiri di sana, mengucek matanya. Ia baru bangun.
"Ibu? Kenapa Ibu di kamar mandi? Kenapa Om Satya di sini?" tanya Zion. Lalu, matanya menatap tajam ke arah Calista. "Siapa... Tante ini?"
Calista sempat terdiam. Ini adalah tes pertama penyamarannya. Dan yang mengujinya adalah anaknya sendiri.
"Zion!" tegur Satya, mencoba menyelamatkan situasi. "Ini Tante Lana Videlia, teman Ibu. Dia... dia baru datang dari jauh."
Zion mengabaikan Satya. Matanya tetap terpaku pada Calista. Ia mendekat, matanya meneliti setiap detail: potongan rambut pendek, warna pirang, mata abu-abu. Ia memegang tangan Calista.
"Tapi bau Tante seperti bau Ibu," ujar Zion polos.
Napas Calista tercekat. Anak ini terlalu pintar.
Calista dengan cepat berjongkok, berbisik pelan, hanya agar Zion yang mendengar. "Ini Ibu, Sayang. Ibu harus seperti ini untuk misi kita. Ingat? Kita sedang main mata-mata. Kalau kamu sayang Ibu, jangan pernah panggil Ibu 'Ibu' di depan siapa pun. Panggil 'Tante Lana'. Oke?"
Zion mengerutkan dahi, tapi mengangguk pelan. Anak itu tidak sepenuhnya mengerti, tapi ia percaya pada janji ibunya. "Baiklah. Tante Lana."
Calista tersenyum lega. Konflik internalnya mereda sedikit. Setidaknya, anaknya akan jadi sekutunya.
Tiga hari kemudian.
Lana Videlia lahir dan Calista Anindya terkunci rapat di rumah kontrakan.
Setiap hari, Calista berlatih di depan cermin. Ia berlatih cara bicara Lana yang angkuh, cara berjalan Lana yang sombong, dan bagaimana Lana memandang rendah lawan bicaranya. Ia bahkan harus belajar beberapa frasa Arab untuk menguatkan penyamarannya.
Hari ini, adalah hari pengintaian pertamanya. Misi 'menjajaki medan perang'.
"Aku harus pergi. Jangan buka pintu untuk siapa pun. Satya akan mengirim makanan lewat jendela belakang jam dua belas," Calista berpamitan pada kedua anaknya. Ia kini mengenakan blazer mahal palsu, celana kulit, dan high heels yang membuatnya lebih tinggi.
"Hati-hati, Tante Lana," kata Zion, duduk di meja dengan buku-bukunya. Ia sudah mulai terbiasa dengan sandiwara ini.
Calista mencium kening kedua anaknya. Perpisahan ini selalu terasa berat, seolah ia pergi untuk selamanya.
Ia menyewa taksi online dengan menggunakan akun palsu. Tujuannya: Gedung Mahendra Group, kantor pusat Pradipta Mahendra.
Saat taksi melaju di jalanan Jakarta yang macet, konflik kecemasan muncul. Calista berkeringat dingin. Setelah enam tahun hanya berinteraksi dengan orang asing yang tidak penting, ia akan kembali ke dunia lamanya.
Gedung Mahendra Group menjulang tinggi, penuh kaca yang memantulkan langit Jakarta. Lambang perusahaan itu, yang dulu ia ikut desain, kini terasa seperti lambang kekalahan pribadinya.
Calista meminta taksi berhenti dua blok dari gedung itu. Ia tidak mau ambil risiko terlihat terlalu dekat.
Ia turun, berdiri di seberang jalan. Ia menyalakan rokok (kebiasaan yang ia ambil demi mendalami karakter Lana) dan pura-pura menelepon, matanya memindai pintu masuk.
Di sana, ia melihatnya. Sosok Pradipta Mahendra.
Pradipta tampak lebih tua, tapi lebih karismatik. Setelan jas mahalnya terasa pas di tubuhnya. Ia sedang tertawa, dikelilingi beberapa eksekutif dan seorang wanita.
Wanita itu... Vania. Model yang dikabarkan akan dinikahinya. Vania tampak cantik, muda, dan memegang lengan Pradipta dengan mesra.
Dada Calista terasa sesak. Bukan karena cemburu-kebencian sudah membunuh semua rasa itu. Tapi karena marah. Marah melihat betapa santai dan bahagia Pradipta, sementara ia harus hidup seperti tikus di gang sempit.
Fokus, Calista. Bukan waktu untuk emosi. Ia mengingatkan dirinya.
Saat ia sedang mengamati, matanya menangkap sosok lain. Seorang wanita dengan tampilan profesional, rambut diikat rapi, berjalan sedikit di belakang Pradipta. Wanita itu memegang tablet dan terlihat sangat efisien.
Itu pasti Yumna, sekretaris setia yang diceritakan Satya. Anjing pelacak.
Yumna berhenti sebentar, matanya menyapu keramaian jalanan. Tatapannya sangat tajam dan profesional. Hampir saja pandangan mereka bertemu. Calista buru-buru membuang puntung rokoknya dan pura-pura mengikat tali sepatu.
Ketika ia mendongak lagi, Yumna sudah masuk ke dalam gedung, mengikuti Pradipta.
Calista menyadari betapa berbahayanya Pradipta sekarang. Ia tidak sendirian. Ia dikelilingi orang-orang yang loyal, atau setidaknya, orang-orang yang dibayar mahal untuk loyal. Yumna adalah dinding pertahanan pertama.
Ia menghabiskan waktu satu jam di sana, hanya mengamati pola keluar-masuk Pradipta. Setelah dirasa cukup, Calista kembali ke taksi yang sama.
Saat tiba di rumah sewa, Calista disambut oleh kekacauan kecil.
Alara menangis, Zion duduk di sudut, dan Satya sedang mencoba membersihkan noda tumpahan jus di karpet.
"Ada apa ini?" tanya Calista, buru-buru melepaskan blazernya, kembali ke mode ibu.
"Maaf, Lana," kata Satya, "Aku hanya sebentar di sini. Alara tidak sengaja menumpahkan jus, tapi Zion malah berteriak padanya."
"Zion! Kenapa kau berteriak pada adikmu?" Calista berlutut di depan Zion.
Zion menatapnya, matanya terlihat kesal. "Aku bilang jangan berisik! Aku dengar suara dari luar pagar. Seperti... ada yang memfoto kita. Aku takut kita ketahuan!"
Konflik baru. Ketegangan yang dialami Calista di luar kini menular pada anak-anaknya. Zion, karena rasa takutnya, menjadi agresif.
Calista langsung memeriksa jendela. Tidak ada siapa-siapa. Tapi pagar tinggi itu memang tidak bisa menjamin privasi total.
"Dengar, Sayang. Tidak ada yang memfoto kita. Om Satya akan pasang CCTV di sini besok. Kita akan aman," Calista mencoba menenangkan.
"Tidak! Aku benci ini! Aku benci sandiwara ini! Aku ingin Ibu kembali, bukan Tante Lana!" teriak Zion, akhirnya meledak. Ia berlari ke kamar dan membanting pintu.
Calista menoleh ke Satya, wajahnya terlihat putus asa. "Dia tidak tahan, Satya. Aku tidak bisa terus-terusan membohongi mereka."
"Kau harus kuat, Calista. Mereka satu-satunya alasanmu melakukan ini. Bukankah kau ingin mereka hidup tanpa dibayangi rasa takut lagi?" Satya mengingatkan, tangannya menepuk pundak Calista.
Calista mengangguk. Ia tahu ini adalah harga dari balas dendam. Kehilangan kepercayaan anaknya.
Ia masuk ke kamar Zion, yang kini gelap. Zion meringkuk di pojokan kasur.
Calista duduk di sebelahnya. "Ibu Lana minta maaf," bisiknya lembut.
"Aku merindukan Ayah," kata Zion, suaranya teredam.
"Ibu juga merindukan Ayahmu yang dulu, Sayang. Ayah yang baik, yang mencintai kita. Tapi Ayah yang sekarang, dia berbahaya. Dia yang membuat kita harus bersembunyi. Ibu berjanji, kalau misi ini berhasil, Ayah yang dulu akan kembali," Calista berbohong lagi. Ia tahu Ayah yang dulu sudah mati, tapi itu adalah satu-satunya harapan yang bisa ia berikan.
Akhirnya, Zion membalikkan badan dan memeluk Calista erat.
Setelah menenangkan Zion dan Alara, Calista kembali ke ruang tamu.
"Pertemuan sudah diatur, Lana," kata Satya, menyodorkan sebuah kartu nama mewah. "Lusa. Di restoran Italia yang baru buka. Pradipta menyambut baik minat investormu."
Calista mengambil kartu itu. Jantungnya berdebar. Lusa. Pertemuan yang akan menentukan segalanya.
"Satya, aku butuh sesuatu dari kantormu," kata Calista. "Aku butuh data-data properti yang sudah aku tangani enam tahun lalu. Aku harus memastikan bahwa Lana Videlia tidak membuat kesalahan data sekecil apa pun."
"Baik. Akan kusiapkan besok. Ingat, Calista. Mainkan peran Lana Videlia dengan sempurna. Dia tidak boleh melihat sekelebat pun Akira Geralda di matamu."
Calista menatap kartu nama Pradipta yang kini ada di tangannya. Ia menghirup napas dalam-dalam. Bau rokok, bau make-up mahal, bau dendam.
"Dia tidak akan melihat Akira. Dia hanya akan melihat Lana. Dan Lana Videlia akan menjadi mimpi buruk terburuknya," kata Calista, senyumnya kini benar-benar dingin dan tanpa emosi.
Malam itu, Calista tidak tidur. Ia menghabiskan malam dengan mempelajari laporan keuangan, menghafal nama-nama rekan bisnis Pradipta, dan berlatih menatap tajam di depan cermin. Ia harus memastikan, ketika bertemu Pradipta, yang muncul hanyalah Lana, dan bukan lagi Calista, ibu yang lemah dan ketakutan.
Anda Mungkin Juga Suka





