
Jebakan Ibu Susu Bayiku
Bab 2
Elara menghabiskan beberapa hari berikutnya dalam kebingungan, berusaha menenangkan pikirannya yang kacau setelah membuat keputusan yang tak bisa diubah. Setiap kali ia mencoba menutup matanya, bayangan wajah ibunya yang lemah dan kesakitan menghantui, menyadarkannya bahwa ia tak bisa lagi mundur. Pekerjaan yang ia terima-meskipun tampak seperti solusi sementara-sebenarnya adalah perangkap yang sangat terencana.
Pagi itu, sebuah mobil hitam datang menjemputnya tepat waktu. Sopir yang mengenakan setelan hitam dan kacamata gelap tidak banyak berbicara, hanya memberi Elara sapaan singkat saat ia membuka pintu mobil. Tanpa banyak pilihan, Elara masuk dan duduk dengan tubuh yang tegang. Semua yang ada di dalam mobil terasa asing dan menyesakkan. Seperti berjalan menuju kehancuran, namun ia tak bisa berpaling.
Perjalanan menuju rumah Viktor Laxmere terasa jauh lebih panjang dari yang ia harapkan. Setiap detik yang berlalu terasa semakin membebaninya, dan semakin ia menatap ke luar jendela, semakin ia merasa dunia di luar sana tak lagi relevan. Ia sudah memutuskan untuk masuk ke dalam dunia yang berbeda-sebuah dunia di mana ia bukan lagi hanya Elara yang sederhana, melainkan seseorang yang memiliki harga dan nilai yang ditentukan oleh orang lain.
Sesampainya di rumah Viktor, Elara terperangkap dalam perasaan tercabik-cabik. Rumah besar itu, yang tampak seperti benteng yang tak bisa ditembus, berdiri megah di tengah kebun yang rimbun. Setiap inci dari rumah itu mencerminkan kekuatan, kemewahan, dan kekejaman yang bisa tersembunyi di balik dinding-dinding tebal.
"Saya akan menunjukkan jalan," kata sopir itu, membimbing Elara menuju pintu utama tanpa banyak bicara.
Viktor Laxmere adalah nama yang sudah ia dengar berkali-kali di media, seorang pria yang memiliki lebih banyak kekuasaan daripada yang bisa dipahami orang biasa. Namun, di balik semua itu, Elara merasa ada sesuatu yang jauh lebih gelap. Seperti predator yang menunggu mangsanya, Viktor adalah sosok yang tidak bisa dipahami dengan mudah. Dan Elara tahu, ia akan menjadi bagian dari permainan yang lebih besar.
Begitu melangkah ke dalam rumah, Elara disambut oleh seorang pelayan yang mengenakan seragam resmi. "Tuan Laxmere sedang menunggu Anda di ruang makan," kata pelayan itu dengan nada formal, tidak menunjukkan ekspresi apapun.
Ruang makan itu luas dan dikelilingi oleh lukisan-lukisan indah yang tampaknya bercerita tentang dunia yang tidak pernah ia kenal. Di meja panjang di tengah ruangan, Viktor duduk dengan tenang, wajahnya seperti patung yang diukir sempurna. Ada sesuatu dalam pandangannya yang tajam, yang membuat Elara merasa seperti ia sudah dievaluasi, dinilai dalam diam.
"Elara, akhirnya," kata Viktor dengan suara rendah namun penuh kekuatan. "Saya berharap kamu tidak menyesalinya."
Elara berdiri di depan meja, mencoba menahan rasa cemas yang semakin mengguncangnya. "Apa yang sebenarnya kamu inginkan dariku?" tanyanya, meskipun suara di dalam dirinya memperingatkan bahwa ini bukanlah pertanyaan yang aman.
Viktor tersenyum samar, senyum yang tak sepenuhnya menghangatkan. "Apa yang saya inginkan bukan hanya dari tubuhmu, Elara. Itu hanya bagian dari perjanjian. Yang lebih penting adalah komitmenmu terhadap keluarga saya, dan lebih penting lagi-terhadap anak saya. Seperti yang Nadine jelaskan, kamu akan memberikan hal yang sangat berharga bagi saya. Dan itu hanya awal dari segalanya."
Elara menelan ludah, merasa cemas dengan kata-kata Viktor. Ada banyak hal yang tak ia pahami, namun satu hal yang jelas-semua ini jauh lebih rumit dan berbahaya daripada yang ia kira. Dia bukan hanya seorang ibu susu untuk seorang bayi, tetapi bagian dari sesuatu yang jauh lebih besar dan lebih mengerikan. Bagaimana jika itu bukan hanya tentang uang? Bagaimana jika Viktor menyembunyikan rencana yang jauh lebih kelam di balik tawaran ini?
"Apakah kamu siap untuk semuanya?" Viktor melanjutkan, matanya menatap Elara dengan intensitas yang membuatnya merinding. "Karena jika kamu memilih untuk terlibat, tidak ada jalan kembali. Kamu akan menjadi bagian dari dunia saya-dunia yang tidak memiliki tempat untuk keraguan atau penyesalan."
Elara merasa darahnya berdesir, tubuhnya kaku karena ketakutan yang mendalam. Namun, ia tahu satu hal-ia sudah melangkah terlalu jauh untuk mundur. Tidak ada ruang lagi untuk mundur, tidak ada jalan keluar kecuali menerima apa yang ada di hadapannya.
"Saya siap," jawabnya, meskipun suara itu terdengar lebih seperti bisikan daripada sebuah keputusan pasti.
Viktor mengangguk, senyum samar terukir di wajahnya. "Bagus. Kamu akan mengerti apa yang saya maksud, Elara. Segala sesuatu yang saya lakukan, saya lakukan dengan tujuan. Dan sekarang, kamu adalah bagian dari tujuan itu."
Namun, saat ia melangkah lebih jauh ke dalam rumah itu, Elara merasakan sebuah sensasi yang aneh-sebuah perasaan yang mengatakan bahwa apa yang akan datang jauh lebih buruk daripada apa yang sudah ia bayangkan. Sebuah dunia yang dipenuhi dengan pengkhianatan, permainan kekuasaan, dan rahasia gelap yang menunggu untuk terungkap.
Elara tak tahu bahwa setiap langkah yang ia ambil menuju Viktor akan membawanya lebih dalam ke dalam permainan berbahaya yang tak hanya melibatkan dirinya-tetapi juga nasib orang yang ia cintai.
Anda Mungkin Juga Suka





